
Hubungan Sita dan Aditya kini menjadi buah bibir masyarakat Plaju, mereka menyebutnya adalah pasangan serasi karena sama-sama memiliki kecantikan dan ketampanan juga sifat dermawan keduanya. Rahmat dan Bu Tuti seringkali menjadi sasaran pertanyaan masyarakat yang merasa penasaran dengan hubungan mereka.
" Bu Tuti, apa benar kalau pak Aditya itu kekasihnya dokter Sita...?" tanya seseorang pada bu Tuti yang sedang membeli sesuatu di pasar.
" Saya tidak tau persis, maaf...!" jawab bu Tuti.
" Tapi kan dokter Sita itu mengontrak rumahnya bu Tuti, masa iya tidak tau...?"
" Iya bu Midah, tapi kan saya tidak berhak bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi pada dokter Sita...!" tukas bu Tuti.
" Ya barangkali saja bu, saya sih penasaran....!" ujar ibu-ibu bernama Midah itu. " Saya kan penggemar beratnya pak Aditya, selain tampan dia itu gimana ya....bikin degdeg ser kalu bertatapan...!" Midah berkata dengan wajah genitnya. Bu Tuti menghela nafasnya sambil menggelengkan kepala melihatnya.
" Belanjaannya mana bu...?" Rahmat yang sedari tadi berada di belakang ibunya segera mendekat karena tidak ingin perempuan bernama Midah itu semakin berlaga aneh menurutnya.
" Ini,...!" Bu Turi menyerahkan kantong keresk belanjaannya pada Rahmat. " Oiya bu Midah, kami pamit duluan, sudah siang...!"
" Iya ..!" jawab Midah.
Rahmat mengayuh sepedahnya perlahan sambil membonceng bu Tuti.
" Bu Midah itu aneh yo bu..?"
" Aneh apanya...?" tanya bu Tuti.
" Aneh pokoknya Rahmat juga nggak faham...!" jawabnya.
Bu Tuti tersenyum mendengar ucapan putranya itu.
PALEMBANG
Wajah Sultan Mahmud Mahsyur merah padam menahan marah manakala dirinya mendapatkan informasi dari orang suruhannya bahwa Sita menjalin hubungan dengan pria bernama Aditya. Foto-foto yang diberikan orang suruhannya itu menjadi bukti kedekatan mereka. Dengan geram Sultan Mahmud keluar dari ruang kerjanya.
" Zubaidah....!!!!!!" teriaknya kencang.
__ADS_1
Semua penghuni rumah tampak terkejut mendengar nada tinggi Sultan saat memanggil istrinya. Nyonya Zubaidah yang sedang di toko pakaian miliknya diberi tau bu Ruqoyah bahwa Sultan Mahmud memanggilnya. Nyonya Zubaidah pun segera beranjak menemui suaminya.
" Cik Mahmud panggil Zubaidah...?"
" Iyo, lihat ini...!" Sultan Mahmud memperlihatkan foto-foto tadi kepadanya. Nyonya Zubaidah pun terkejut karena suaminya kini mengetahui apa yang selama ini dirahasiaknnya bersama Ruqoyah.
" Berani sekali dia sekarang, pacaran dengan laki-laki lain, tidak tau malu..!" "Bagaimana kalao calon besan kita tau tentang semua ini, akan ditaruh dimana mukaku ini...!"
Nyonya Zubaidah terdiam seribu bahasa melihat kemarahan suaminya.
" Sekarang juga kita pergi temui anakmu itu Zubaidah...!"
" Untuk apa Cik, biarkanlah dia akan balik juga nanti...!" ujar nyonya Zubaidah.
" Heh, apa kau bilang Zubaidah...???!!!" Sultan Mahmud mendekatkan wajahnya. " Jangan bilang kalau kau tau tentang hubungan Sita dengan laki-laki ******** itu...!"
" T..tidak Cik, Zubaidah tidak tau...!" jawab nyonya Zubaidah. Wajahnya terlihat pucat pasi.
PLAJU
" Mm..dari baunya sepertinya kue ini enak sekali...!" ujar Aditya.
" Pastinya pak, Reni ini pintar buat kue dan kue nya ini paling enak sedunia...!" jawab Faizal. Reni yang dipuji tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan kekasihnya itu.
" Rayuan maut itu...!" Sita menambahkan sambil tersenyum melirik suster Reni.
" Jangan salah, calon istriku ini pintar memasak juga...!" Aditya menatap Sita. " Masakan yang paling lezatnya itu adalah gulai ikannya...mantap...!"
" Kalau begitu kita suruh mereka buka restaurant saja janga jadi perawat dan dokter biar kita jadi gendut...ha..ha..ha...!" Faizal berkata lalu tertawa kencang.
" Enak aja...!" tukas Reni sambil mencubit pinggang kekasihnya.
Usai menyantap kue bersama-sama dan ngobrol sebentar, Aditya memutuskan untuk pamit karena waktu menjelang magrib. Sita pun mengiyakannya. Diantarnya Aditya sampai pintu mobil.
__ADS_1
" Oiya besok aku jemput di Puskesmas saja, kita berangkat bersama pakai mobil ini, beri tau Reni dan Faizal agar motor nya mereka simpan saja..!"
" Paling juga disimpan di Puskesmas, aman kok,,,!"
" Iya..!" jawab Aditya. " Aku pamit...!"
" Iya mas, hati-hati di jalan..!" ujar Sita sambil melambaikan tangannya. Sita tak lantas masuk ke dalam rmah kontrakannya namun diperhatikannya laju mobil kekasihnya itu hingga menghilang dari pandangannya.
Pagi harinya Sita dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya yang datang tanpa membei tahunya dulu. Tanpa basa-basi, Sultan Mahmud menyuruh Harun untuk membereskan buku-buku dan pakaian Sita.
" Ada apa ini ayah...?!" Sita terkejut bukan kepalang. Wajahnya terlihat pucat pasi.
" Seharusnya ayah yang tanya sama kamu, Apa yang kau lakukan selama disini...?" ujar Sultan Mahmud sambil menatap tajam Sita.
" Maksud ayah apa...?" Sita kembali bertanya.
" Kau berani-beraninya berpacaran dengan laki-laki lain sedangkan kau tau kalau kau ini sudah aku jodohkan dengan Zaini, masih tidak mau ngaku...heh...?!!!"
Sita terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar ucapan ayahnya yang telah mengetahui hubungannya dengan Aditya. Sita nenatap ibunya yang tampak menitikan air mata.
" Bu...Sita minta tolong bu, Sita masih ingin menyelesaikan kuliah Sita...!" Sita bersimpuh di hadapan ibunya.
" Jangan mimpi, buang mimpimu itu, sekarang kau ikut kami pulang...tidak ada wisuda, tidak ada dokter...kamu jadi istri Zaini saja, cukup...!!!"
" Ayah, Sita mohon ayah...Sita masih ingin disini...!" Sita kini bersimpuh di kaki ayahnya dengan air matanya yang berderai. Namun Sultan Mahmud tak bergeming sedikitpun.
" Aku bilang, pulang...faham...!" Sultan Mahmud menjawabnya sambil menununjuk wajah Sita dengan telunjuknya.
" Cik, tenanglah dulu, jangan biarkan kemarahanmu itu mengusai, Sita pasti pulang tapi mungkin dia butuh waktu...!" Nyonya Zubaidah mencoba untuk menengahi.
" Aku beri waktu sepuluh menit saja...!" " Harun semua dibawa tanpan sisa...!"
" Baik tuan..!" jawab Harun.
__ADS_1
Sita menangis kencang, ingatannya pada Aditya membuat hatinya terasa sakit. Namun apa daya semua ini telah terjadi dan dirinya tidak ada pilihan lain selain ikut pulang.