
KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR
Seperti biasanya rutinitas Sultan Mahmud setiap pagi adalah membaca koran pagi dietmani secangkir wedang jahe kesukaannya. Nyonya Zubiadah sang istri sibuk menyiapkan sarapan pagi bersama Mak Qayah dan seorang pembantu. Sultan Mamhmud terkejut ketika membaca halaman depan koran yang dibacanya yang memberitakan tentang penangkapan Zaini yang tersandung masalah penipuan dan pemerkosaan yang dilakukannya pada seorang wanita kaya. Di koran tersebut jelas memperlihatkan wajah Zaini yang digelandang ke kantor polisi bersama satu orang asistennya.
" Ya Tuhanku...!" ucap Sultan Mahmud sambil melipat korannya. Dirinya sangat menyesal karena pernah menjodohkan putri kesayangannya dengan laki-laki itu walau berkali-kali putrinya itu memberi tahu tentang siapa Zaini namun dirinya telah dibutakan, Zaini dimatanya adalah pria baik dan alim. Kini semua itu begitu disesalinya.
" Cik..cik Mahmud...Cik baik-baik sajo...?" Nyonya Zubaidah tampak khawatir terjadi sesuatu pada suaminya melihat Sultan Mahmud yang duduk sambil menyenderkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam.
" Tidak ..tidak..aku tak apo, kau tak usah khawatir Zubaidah...!" ujar Sultan Mahmud sambil menatap istrinya itu.
" Aku khawatir dengan kesehatanmu Cik...!" ujar Nyonya Zubaidah. Sultan Mahmud tersenyum diusapnya bahu wanita yang telah setia mendampinginya selama hampir tiga puluh lima tahun. Rasa bersalah kini selalu menghantuinya, semua kesalahan yang pernah dilakukannya datang silih berganti dalam ingatannya.
" Assalamu'alaikum ayah..ibu...!"
" Sita...?!" keduanya tampak terkejut dengan kedatangan putri mereka yang tiba-tiba sudah berdiri dengan senyum nya yang khas. Sita segera menghampiri ayah dan ibunya untuk mencium tangannya sebagai tanda takdzim.
" Sepagi ini sudah disini, jam berapa dari Plaju...?" tanya ayahnya heran dan cemas.
" Jam tiga dini hari....!" jawab Sita.
" Apa...????!!!" tukas kedua orang tuanya bersamaan. Kedua bola mata mereka menatap tajam dirinya. " Dengan siapa..diantar siapa...?" Sultan Mahmud berkata dengan nada tinggi.
" Pakai ambulance ayah, kebetulan Sita lepas merujuk seorang pasien ke rumah sakit karena keterbatasan fasilitas di Plaju tapi supir yang biasa membawa ambulance nya sakit, jadinya Sita minta diantar mas Aditya ...!"
__ADS_1
" Kamu ini...!" ujar Nyonya Zubaidah.
" Mas Adit bilang sebelumnya kalau mau ke Palembang juga ada acara kantor, jadi Sita minta sekalian saja...!" tukas Sita sambil menyeringai.
Sultan Mahmud tertawa mendengar ucapan putrinya. " Mana sekarang Aditya nya, ayah mau bicara sama dia...?"
" Mas Aditya dikantor nya, kalau tak ada acara lain dia pun akan kemari...!" jawab Sita.
" Ya sudah kita sarapan dulu saja, ibu dan Mak Qayah sudah menyiapkan sarapannya...!" Nyonya Zubaidah berkata sambil mengajak putri dan suaminya.
Malam harinya di kediaman Sultan Mahmud. Aditya duduk di sebuah kursi menghadap kedua orang tua Sita. Wajahnya terlihat pucat pasi , debaran jantungnya berdegup ribuan kali lebih kencang, namun semua itu dicoba untuk dikendalikannya karena sebuah maksud hatinya.
Sultan Mahmud Mahsyur dan Nyimas Zubaidah duduk di hadapannya dengan wajah serius menatap dirinya.
" Bbaik pak...!" jawab Aditya gugup.
" Sita bilang tadi pagi katanya kau akan bertandang kemari selepas dari kantormu, selesai urusanmu sekarang..?"
" Sudah pak,...!" Aditya kembali menjawab apa yang ditanyakan Sultan Mahmud padanya.
Sita belum ingin keluar dari kamarnya, sebelum ada keberanian dari kekasihnya untuk mengatakan maksud kedatangannya. Walapun hubungan diantara Aditya dan Sultan Mahmud telah mencair namun semua itu tidak lantas mengurangi kecemasan hatinya.
" Pak..bu...saya minta maaf kalau saya..saya lancang untuk membicarakan sesuatu yang ingin saya sampaikan malam ini...!" tiba-tiba Aditya berkata sambi mengumpulkan keberaniannya. Sorot mata Sultan Mahmud yang tajam sealan menghujam jantungnya.
__ADS_1
" Katakan apa maksudmu...!" tukas Sultan Mahmud.
" Saya ...saya bermaksud...melamar Sita pak...!" ujar Aditya kemudian.
" Apa...???!!" Sultan Mahmud dibuat terkejut mendengar lamaran yang diajukan Aditya yang tiba-tiba.
Aditya merasa jantungnya berhenti berdetak melihat reaksi Sultan Mahmud. Sita menggigit bibirnya menahan sebuah rasa yang tidak dapat dia ungkapkan.
" Mana bisa kau melamar anakku malam ini...???" Sultan Mahmud kembali berkata.
" Maksud saya bukan malam ini pak, saya akan melamar secara resmi bulan depan...!" Aditya kembali menegaskan ucapannya.
" Ooh..iya...iya..aku kira malam ini, karena aku tak mau kau lamar anakku sendirian tanpa sanak saudaramu, nanti dikira orang kau bawa lari Sita tanpa restuku...!" tukas Sultan Mahmud sambil tersenyum.
Aditya menarik nasfanya lega, beban yang sedari tadi menghimpitnya kini mencair seketika. Senyumnya terlihat mengembang. Nyonya Zubaidah yang sedari tadi sama tegangnya kini terlihat sumringah.
" Trima kasih pak...!" ujar Aditya.
" Jangan senang dulu kau, aku tak akan menerima lamaran kau sebelum aku dengar sendiri dari mulut anakku...!" tukas Sultan Mahmud. " Zubaidah kau bawa anak kita kemari...!"
" Baik..!" tukas Nyonya Zubaidah.
Sita menangis haru di dalam kamar nya karena akhirnya Aditya dapat menundukkan kekerasan hati ayahnya.
__ADS_1
" Iya ayah...!" jawab Sita ketika Sultan Mahmud bertanya tentang kepastian jawaban lamaran dari Aditya. Aditya pun tersenyum. Malam ini semua orang tampak bahagia.