
Sudah lima hari pasca operasi, Sultan Mahmud sudah diperbolehkan pindah ke kamar perawatan. Semua orang tampak gembira melihat perkembangannya yang membaik.
" Kau tidak ke Palju Sita....?" tanya beliau melihat putrinya yang sedang berbenah merapihkan pakaian ke dalam lemari.
" Tidak ayah, Sita sudah minta ijin dokter Syarif, beliau sudah mengizinkan dan beliau sendiri yang mengantarkan Sita kemari...!" jawab Sita.
" Syukurlah...!" Sultan Mahmud mengucapkan rasa syukurnya.
" Cik, bagaimana keadaanmu sekarang...?" Nyonya Zubaidah segera menghampiri suaminya usai keluar dari kamar mandi.
" Baik Zubaidah, sudah sangat baik...!" jawabnya.
Nyonya Zubaidah pun tersenyum, dihampirinya Sultan Mahmud lalu duduk di sampingnya.
" Kau lelah, istirahtlah..nanti kau jatuh sakit...!"
" Tak apo Cik, aku baik-baik sajo...!" jawab Nyonya Zubaidah sambil mengusap wajah suaminya. " Aku akan sakit kalau Cik sakit tapi kalau Cik sehat, Zubaidah pun sehat pula...!"
Sultan Mahmud pun tersenyum mendengar jawaban istrinya.
" Ayah, makan dulu ya...Sita suapi...!" Sita menghampiri keduanya sambil membawakan nampan berisi bubur buatan rumah sakit yang menurut orang-orang tidak enak rasanya karena rendah garam dan tanpa penyedap rasa sehingga rasanya hambar.
" Ayah belum lapar, nanti sajo...!" ujar Sultan Mahmud.
" Ayah..pasca operasi itu banyak darah ayah yang keluar jadinya ayah harus banyak makan agar sel darah merahnya segera tergantikan dan cepat sembuh ya...?!" Sita keukeuh dengan pendiriannya, bagaimanapun dirinya seorang dokter sehingga memahami apa yang harus dilakukan oleh pasien pasca operasi. Nyonya Zubaidah nampak tersenyum melihat suaminya yang terpaksa memakan suapan putrinya tanpa mampu membantah.
" Rasanya hambar sekali...!" ujar Sultan Mahmud. " Aku mau masakan kau saj Zubaidah...!"
__ADS_1
" Itu nanti ayah kalau ayah sudah sembuh, sekarang makan ini saja, kalau sudah sehat ayah boleh makan nasi kebuli lagi atau makan sate kambing lagi kesukaan ayah...!" tukas Sita sambil menyapu bibir ayahnya yang terlihat penuh dengan bubur.
" Tok..tok...tok...!" tiba-tiba terdengar ketukan berulang di pintu kamar.
" Biar ibu saja yang membukanya, kamu teruskan suapi ayahmu itu..!" Nyonya Zubaidah berkata sambil melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang datang.
Sita kembali menyuapi ayahnya dengan telaten sambil berbincang-bincang ringan.
" Assalamu'alaikum...!" seorang pria muda dengan kemeja biru lengan panjangnya yang digulung sampai sikut mengucapkan salam sambil berdiri di samping Nyonya Zubaidah.
" Kau...?!" Sultan Mahmud terkejut melihat siapa yang datang, begitupun dengan Sita yang tidak menyangka jika dirinya akan kedatangan tamu istimewanya.
" Saya Aditya pak...saya minta maaf kalau saya sudah lancang kemari...!" Aditya berkata sambil mendekati Sultan Mahmud.
" Di tubuh Cik sekarang ada darahnya Aditya, dia yang menolong Cik ketika Cik sedang operasi dan kekurangan darah, kalau saja Aditya tak mendonorkan darahnya ..entah apa jadinya sekarang ini, kami semua bergolonga darah A dan O hanya anak pertama kita yang bergolongan darah B, setidaknya berterima kasihlah padanya...!" Nyonya Zubaidah berkata karena khawatir jika suaminya akan menolak kedatangan Aditya.
" Saya..saya hendak menengok anda pak...!" jawab Aditya.
" Bohong kau, kau mau bertemu aku atau dia...?" Sultan Mahmud berkata sambil menatap Sita yang berdiri dengan kecemasan yang tampak di wajahnya.
" Dua.duanhya...!" jawab Aditya walau dengan sejuta keraguan dalam menjawabnya.
" Kalau begitu tunggu apalagi..temui dia, ayo...!"
Aditya terdiam tanpa beranjak. Jantungnya berdebar kencang.
" Kalau begitu aku nikahkan saja kalian biar tak saling diam begini...!" Sultan Mahmud berkata sambil tertawa.
__ADS_1
" Alhamdulillah...!" seketika Aditya mengucapkan rasa syukurnya. Apa yang dikatakan Sultan Mahmud sungguh diluar perkiraannya. " Trima kasih pak...trima kasih...!" Aditya segera meraih tangan Sultan Mahmud lalu mencium punggung tangannya yang masih tertancap jarum infusan.
" Maafkan aku Aditya, aku telah berbuat jahat...!" kini kata-kata maaf keluar dari bibir seorang pria angkuh seorang Sultan bangsawan Palembang. Sita menangis haru melihat semua itu,
" Maukah kau memaafkan aku Aditya...?"
" Pak..saya tidak pernah menganggap semua itu adalah sebuah kesalahan yang harus dimaafkan, Saya dapat memahami yang anda rasakan saat itu...tidak ada seorang ayah di dunia ini yang menginginkan putrinya menderita dengan pernikahannya, justru saya berterima kasih pada anda karena saya bisa seperti sekarang ini karena anda dan saya berjanji..saya akan membahagiakan Sita dan menjadikan istri saya dunia dan akhirat...!"
" Trima kasih nak...trima kasih...!" untuk yang pertama kalinya Sita melihat ayahnya menangis. Rasa bahagianya semakin membuncah, dipeluknya sang bunda yang berdiri di sampingnya.
" Penghulunya sudah datang...!" tiba-tiba seorang laki-laki muda dengan jas army nya menghampiri mereka.
" Anakku, kapan sampai...?" Nyonya Zubaidah segera memeluk putra pertamanya yang baru kembali ke tanah air.
" Baru saja bu dan langsung kemari...!"
" Mana istrimu...?!"
" Dia tidak ikut, kebetulan Kevin sakit jadinya nggak bisa ikut pulang...!"
" Mas kenalkan ini abang sulungku...!" Sita berkata pada Aditya. Aditya pun menyodorkan tangannya yang segera diraih calon kakak iparnya itu.
" Sebagai abang Sita aku ingin kalian berdua segera menikah tanpa acara lamaran langsung nikah titik..!"
" Baik bang..!" jawab Aditya.
Sita tersipu malu, wajahnya merah padam seketika
__ADS_1