Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 16 ( Penderitaan )


__ADS_3

KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


Bu Ruqayah keluar dari kamar Sita sambil membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk yang masih terlihat utuh. Nyonya Zubaidah menghampirinya menanyakan keadaan putrinya yang sudah lima hari ini tidak mau makan sama sekali.


    " Masih tak mau kan ....?"


    Bu Ruqayah mengangukkan kepalanya.


    " Aku khawatir anakku akan jatuh sakit kalau terus-terusan seperti ini...!" Nyonya Zubaidah berkata dengan lirih.


    " Aku akan terus bujuk dia supaya mau makan walau sedikit sajo, kau tak usah khawatir nanti kau jatuh sakit pula, tambah kasihan dia nyo...!" tukas bu Ruqayah.


    " Aku bingun Qayah, disatu sisi dia anakku, di sisi lain Cik Sultan adalah suamiku, bagaimanalah aku mesti bersikap...!" Wajah nyonya Zubaidah nampak berair, di wajah nya terlihat kebingungan yang termat sangat. Suaminya berwatak keras dan sulit untuk diberi masukan.


    " Sebaiknya kau beristirahatlah dulu, biarkan aku yang beri masukan pada putrimu itu, aku yakin Tuhan akan beri dia jalan terbaik...!" Bu Ruqayah menepuk lembut bahu Nyonya Zubaidah. Mereka sudara dekat dan juga teman sepermainan, mereka saling tahu sifat masing-masing.Karena kesibukan Nyonya Zubaidah sebagai istri pejabat dan juga seorang pengusaha kain songket membuat Sita yang sering ditinggalkan sejak bayi pada akhirnya lebih dekat pada sosok bu Ruqayah dan memanggilnya Mak Qayah.


    Nyonya Zubaidah pun mengangukkan kepalanya menyetujui ucapan bu Qayah.


Sita termenung sendiri di dalam kamarnya yang luas. Tubuhnya telungkup diatas tempat tidur sambil menenggelamkan wajahnya ke atas bantal yang sudah basah oleh air matanya. Kerinduan Sita pada sang kekasih semakin hari semakin tak tertahankan lagi,


    " Mas Aditya...!" ucapnya lirih sambil menatap fotonya yang disimpannya di bawah bantal.


    Kebersamaan yang telah dilewatinya bersama pria berdarah Sunda bernama Aditya terbayang-bayang dalam ingatannya. Guncangan yang dilakukan Aditya pada saat pertama kalinya mereka bertemu seakan masih terasa, saat itulah dirinya merasakan jatuh cinta pada sosok nya, Aditya yang tampan dan pandai melucu membuatnya selalu merasa senang begitupun dengan kepribadiannya yang begitu melindungi dan perhatian. Selama mereka berjalan berdua tak pernah sekalipun Aditya lupa untuk tidak mengenggam jemari tangannya. Dekapan nya begitu hangat dan melindungi. Sita kembali menangis.


PLAJU

__ADS_1


Apa yang dirasakan Sita sama halnya dengan apa yang dialami Aditya. Foto dirinya dan Sita kini dipandanginya tanpa bosan, berhari-hari menjelang tidur malamnya. Semenjak kepergian Sita, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Rasa sakit yang dirasakannya kini tidak pernah sesakit yang pernah dialaminya dulu manakala harus memutuskan hubungannya dengan seorang gadis saat kuliah dulu. Sita begiti berbeda, sosok seperti Sita lah yang selama ini di dambakannya untuk menjadi teman hidupnya. Sita yang memiliki tatapan teduh selalu membuatnya nyaman menjadi kekasihnya. Bulu matanya lentik, hidungnya yang mancung serta bibir tipisnya yang menggelayut indah begitu mempesonakan dirinya sebagai seorang pria. Namun kini Sita tak lagi ada di sisinya, Sita telah pergi dan entah kapan kembali.


    " Dit....!"


    Aditya menolehkan tatapannya ke arah Hendra sahabatnya yang sedang berbaring di sebuah dipan di kamar yang mereka tempati bersama selama mereka di Plaju.


    " Sebaiknya kau ambil cuti dulu sejenak, pulang lah temui ibumu, minta doanya, bukankah doa ibu itu dikabulkan Tuhan...?"


    Aditya terdiam sejenak tanpa bersuara.


    " Kita bersahabat sudah bertahun-tahun Dit, aku sudah tau sifat kamu seperti apa, kamu kelihatan kacau sekali, kamu tidak fokus pada pekerjaan...!" " Aku hanya khawatir jika karier mu yang begitu cemerlang ..yang kamu raih dengan kerja keras, kini merosot...!" " Istirahat dulu barang sepekan di sana, nikmati kebersamaan dengan ibu dan saudara-saudaramu, setahun ini kamy tidak pulang...!" sebagai sahabat Hendra mencoba menasehati Aditya yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri.


    " Aku coba fikirkan Ndra..!" jawab Aditya sambil menatap langit-langit kamar.


    " Aku tidak pernah menemukan perempuan seperti Sita sebelumnya, wajah dan akhlak nya serta keyakinan yang sama, bersamanya aku merasa sangat nyaman, merasa dihargai sebagai seorang laki-laki. Aku merasa sangat kehilangan, separuh jiwaku terasa hilang manakala dia tidak ada disampingku...!" Aditya berkata dengan mata berkaca-kaca. " Aku sangat mencintainya Ndra, sangat mencintai Sita...aku harus bagaimana sekarang...?!!!" kini Aditya pun tak lagi mampu menahan tangisannya.


    Hendra menatap nya dengan iba, dirinya bisa merasakan kesedihan yang dialami Aditya. Kini dihampirinya sahabatnya itu.


    " Kamu selalu mengajarkan agar selalu mendekatkan diri pada Tuhan apabila kita mendapat cobaan, sekarang aku menyarankannya padamu....mintalah pentunjuk pada Nya...!"


    " Benar sekali apa yang kamu katakan Ndra....!" Adtya menarik nafasnya dalam-dalam. Dirinya pun beringsut.


    Hendra tersenyum senang mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi yang menandakan Aditya yang tengah berwudhu.


KEDIAMAN SULTAN MAHMUD

__ADS_1


Bu Ruqayah membuka pintu kamar Sita yang tidak terkunci. Dilihatnya Sita sedang duduk di balik jendela kamar sambil menatap kosong. Sita tampak kurus karena tak ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Bu Qayah yang melihatnya tampak menitikkan air mata.


    " Anakku sayang.....?" ucapnya.


    Sita menolehkan wajahnya seketika. Melihat wanita tua dihadapannya menangis dirinya pun terkejut.


    " Mak..kenapa Mak Qayah menangis...?"


    " Tidak apa-apa nak, Mak hanya kelilipan sajo...!" jawab bu Qayah berbohong. Sita pun tersenyum sambil mendekatinya.


    " Mak Qayah,,Mak selalu mengajarkan Sita untuk tidak pernah berbohong, sekarang kenapa Mak bohong pada Sita...?" tanya Sita lirih.


    " Anakku...!" Bu Qayah segera merangkul tubuh Sita. " Mak tidak tahan meliahat kamu seperti ini, kamu kurus ndak mau makan, kalau kamu sakit bagaimana dengan Mak, siapa yang akan merawat Mak mu ini...?" ujar nya.


    Sita dibuat terdiam mendengar penuturan wanita yang disayanginya.


    " Maafkan Sita, Mak....tapi akhir-akhir ini Sita memang belum ingin makan, jika dipaksakan perut ini rasanya sakit, mungkin maag ku kambuh....!" jawab Sita.


    " Itulah yang membuat Mak khawatir nak, kamu kurus, wajahmu pucat, kamu tak karuan sekali...!"


    " Biarlah Sita seperti ini Mak, rasanya tak ada lagi harapan untuk Sita bisa bertemu dengan mas Aditya, kalaupun Sita jatuh sakit setidaknya ayah tau kalau memisahkan dua orang yang saling mencintai itu akan sangat menyakitkan...!"


    " Sst...tak baik kau bercakap seperti itu Sita, Mak tak pernah mengajarkan seperti itu padamu, kita punya sang Maha segalanya, pasrahkan pada Nya...janga pernah berputus asa...ingat...!!" Bu Ruqayah semakin cemas dengan apa yang diucapkan Sita yang tak lagi memiliki semangat hidup.


    " Mak...!" Sita kembali memeluk erat wanita yang disayanginya itu.

__ADS_1


__ADS_2