Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 21


__ADS_3

        PALEMBANG


        Sita diantar Harun orang kepercayaan Sultan Mahmud Mahsur kemana dirinya pergi, kuliah atau sekedar mencari hiburan dengan mencai kaset-kaset lagu di sebuah pusat perbelanjaan. Sita mencoba menjalaninya dengan harapan komunikasinya dengan Aditya masih dapat terwujud walau hanya melalui surat dan diam-diam menerima telpon. Namun semua itu dicoba dijalaninya dengan ikhlas agar mimpi indahnya bersama Aditya dapat terwujud.   Begitupun dengan Aditya yang merasakan sedikit kebahagiaan karena kerinduannya kepada Sita dapat terobati dengan hanya bersua melalui surat. Bagi Aditya semua itu sudah merupakan motivasi dalam menjalani hidupnya.


        Sayang kebahagiaan yang mereka rasakan kini harus kembali mendapat sandungan. Tiba-tiba keluarga Zaini bertandang ke kediaman Sultan Mahmud Mahsyur sambil membawakan sebuah hantaran dan bermaksud segera meminangnya.


    " Apa...?" Sita sangat terkejut, wajahnya pucat pasi mendengar ayahnya Zaini menceritakan maksud kedatangannya.


    " Begini nak Sita, kami berdua ini akan segera melamarmu dan tidak menunggumu sampai selesai kuliah karena Zaini bulan depan harus segera pergi ke Amerika untuk urus pekerjaannya di sana, Zaini ingin agar kamu dibawanya pergi kesana, dan tentu saja harus sudah halal toh...?!" ujar ayahnya.


    " Benar apa yang ayah katakan Sita, aku minta maaf karena aku terpaksa tidak menepati janjiku karena aku akan pergi dalam waktu lama, mungkin satu tahun lamanyo disana...!" ujar Zaini.


    Sita merasa dunia seakan berhenti berputar, wajah Aditya terbayang-bayang dalam ingatannya. Secercah harapan yang telah dilewati hari-hari nya ini kembali terasa gelap seketika. Dadanya terasa sangat sesak.


    " Sita...?!" Sultan Mahmud berkata padanya.


    " Sita mohon maaf jika harus menerima lamaran malam ini, Sita tidak dapat menerimanya karena tadi siang Sita sudah pula memperpanang kontrak mata kuliah untuk ujian sidang, yang kedua Sita harus pula menyiapkan mental Sita sendiri karena ...mm...maksudnya begini, Sita ingin acara lamarannya dilaksanakan sesuai dengan adat nagari kita ayah...!" tiba-tib,a Sita berkata sambil menatap ayahnya. " Sita ini anak ayah satu-satunya perempuan, manalah ayah tau kalau Sita ini ingin acara lamaran yang seperti ayah dan ibu dulu tidak acara yang tiba-tiba seperti ini...!"


    Sultan Mahmud tertawa mendengar ucapan Sita. " Begini tuan, anakku ini ingin acara lamaran yang dulu aku janjikan padanyo, meriah sama seprerti aku dan ibunya dulu, kami menggelar acara lamaran yang sesuai adat nagari....jadi memang tak mungkinlah kalau harus malam ini, bukankah kepergian nak Zaini ini bulan depan bukan...?"


    " Betul Sultan..!" jawab Zaini.


    " Kalau begitu, pekan depan sajo kita adakan lamarannya Zaini, sekarang biarkan nak Sita untuk bersiap-siap sajo dulu agar terlihat mangling dan semakin cantik saa kau sunting nanti...!"


    " Benar tuan,..!" tukas Sultan Mahmud sambil tersenyum.

__ADS_1


    " Kalau begitu, kita makan malam saja dulu sekarang, kamu sudah buatkan masakan yang lezat untuk makan malam kito ini, silahkan...!" ujar Nyonya Zubaidah mempersilahkan tamunya.


    Semuanya pun tersenyum senang, Zaini menatap Sita yang duduk dan terdiam.


    " Yuk..!" Zaini hendak menggamit lengannya namun Sita menepisnya.


    " Kenapa, selau saja seperti ini, heran aku...!" tukas  Zaini dengan wajah memerah. Sita tidak mempedulikannya, hatinya merasa sangat sakit.


    " Bawa Sita pergi mas, Sita sudah tak tahan lagi...!"


    " Sabar sayang..sabar...!"


    " Sudah hilang kesabaran Sita ini mas, Sita muak dengan janji palsunya Zaini, Sita tidak ingin jadi istrinya mas...bawa Sita pergi..!"


    " Sita harus bagaimana mas Aditya, hari lamaran Zaini semakin dekat...!"


    " Iya...kita akan pikirkan caranya, besok aku akan ada acara di kantor cabang...kita ketemu di sana...!"


    " Maksud mas, mas Aditya akan pergi ke Palembang...?"


    " Iya, acara kantor...!"


    " Besok Sita akan coba cari cara agar Sita bisa keluar rumah, Sita akan minta ijin ayah kalau Sita ada kuliah...!"


    " Bagus, kita akan bertemu besok...!"

__ADS_1


    " Iya mas, Sita sudah tak sabar...!"


    " Hati-hati, pastikan semuanya berjalan dengan baik...!" ujar Aditya.


    " Baik mas...!" jawab Sita.


    Keduanya pun mengakhiri pembicaraan mereka di telpon


    KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


    Sultan Mahmud sedang duduk membaca sebuah surat kabar saat Sita mendekatinya.


    " Ayah...?!"


    " Mmm..!" jawab Sultan Mahmud tanpa menolehkan tatapannya.


    " Ayah, besok Sita harus pergi ke kampus...!" ujar Sita dengan terbata-bata karena takut dengan reaksi ayahnya.


    " Untuk apa lagi, kau bisa urusi selepas acara lamaran kau itu ...!" tukas Sultan Mahmud sambil melepas kaca matanya. Dipandanginya wajah Sita dihadapannya.


    " Zaini sempat bilang kalau Sita masih bisa melanjutkan kuliah Sita lagi selepas lamaran, tapi Sita sudah terlanjur pula tandatangan kontrak ujian, Sita harus membatalkannya dan menggantinya di waktu lain ..!" " Apa tidak akan malu jika orang kampus tau Sita putri Sultan Mahmud dan tidak menyelesaikan administrasinya...!" ujar Sita kemudian,


    " Oiya,,,iya, baiklah kalau begitu...besok kau diantar Harun pergi ke kampus, selepas itu kau balik kembali cepat...!"


    " Baik ayah...!" jawab Sita senang karena ayahnya telah mengizinkannya yang berarti untuk bertemu Adutya akan cepat terwujud.

__ADS_1


__ADS_2