
PUSKESMAS PLAJU
Setiap hari Senin Puskesmas selalu dipadati pasien seperti biasanya, Sita dan dokter Syarif begitu sibuk menangani pasien sehingga tanpa sadar mereka melupakan jam siangnya. Aditya yang baru saja kembali dari kantor cabang bermaksud mampir ke Puskesmas karena ingin bertemu dengan Sita dan mengajaknya makan siang. Semua orang menatap dirinya ketika melangkah memasuki ruangan pendaftaran pasien dimana seorang perawat menyambut kedatangannya.
" Selamat siang pak Aditya, ada yang bisa saya bantu..?"
" Mm...dokter Sita nya ada....?" Aditya berkata.
" Ada pak, silahkan bapak mengambil nomor antriannya dulu, kebetulan hari ini pasien dokter Sita banyak sekali...!" jawab si perawat.
" Baik, tidak apa-apa...!" jawab Aditya.
Aditya duduk di sebuah bangku panjang berjejer dengan pasien-pasien lainnya yang sedang menunggu pemeriksaan. Sebuah kartu bertuliskan angka ditatapnya lalu kemudian dimasukannya ke dalam saku kemejanya.
" Ssst..itu kan pak Aditya...tampan sekali ya...?"
" Iya, badannya tegap wajahnya tampam...wangi lagi, baru saja dia lewat kemari, wanginya masih tercium sampai sekarang...!"
" Iya ya...hi..hi..hi....!"
Ibu-ibu muda yang duduk tak jauh dari Aditya tampak saling berbisik-bisik sambil menatap nya. Aditya tau itu namun semua itu dibiarkannya.
" Pak Aditya...?!"
Aditya menolehkan kepalanya ke samping. Seorang bapak-bapak berusia lanjut bertanya padanya.
" Iya pak, saya Aditya...!" jawabnya ramah.
__ADS_1
" Pak Aditya sakit apa...?"
" Saya...?! " Mm...saya sakit..kepala...!" jawab Aditya sambil menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Sejujurnya dirinya berbohong pada bapak tua disampingnya.
" Bapak sendiri sakit apa...?"
" Saya sudah lama tidak bisa berjalan pak, bu dokter bilang saya kena radang sendi, tapi sejak diberi obat oleh dokter Sita ,saya bisa jalan lagi walaupun belum lepas dari tongkat ini...!"
" Oiya, syukurlah pak....saya ikut senang mendengarnya...!" ujar Aditya sambil tersenyum.
Suster Reni keluar dari ruangan pemeriksaan dokter Sita terkejut melihat sosok Aditya tengah duduk bersama paisen lain.
" Pak Aditya...?"
" Eh i.iiya...suter Reni...!" jawab Aditya.
" Ada kan...?" ujar Aditya.
" Ada, tapi di dalam masih ada pasien, sebentar ya...!"
" Baik, tapi kira-kira selesai jam berapa...?" Aditya melirik jam tangannya.
" Mm...kurang tau sih pak, tapi bu dokter juga belum sempat makan siang karena banyaknya pasien hari ini..!" " Biar saya tanyakan bu dokternya dulu saja...!"
" Eh..jangan..kasihan...nanti saya malah menganggu, biar saya menunggu saja ...!" tukas Aditya cepat karena suster Reni sudah hendak melangkah.
" Tenang saja pak, saya pastikan bapak tidak akan lama menunggu tapi paisen dokter Sita tetap pula bisa diperiksa...!" tukas suster Reni sambil tersenyum.
__ADS_1
Aditya tertawa kecil mendengar ucapan asisten nya Sita itu. Aditya kembali duduk lalu mengajak si bapak tua tadi mengobrol. Selang beberapa menit kemudian, suster Reni memanggil dirinya. Aditya terkejut dan merasa tidak enak hati pada pasien lain yang sudah menunggu, namun apa daya suster Reni sudah memaggilnya berkali-kali.
" Maaf pak, saya masuk dulu...!"
" Silahkan pak Aditya...!" jawab si bapak tua.
Sita sedang menundukkan kepalanya menulis sesuatu di atas meja kerjanya. Dirinya tidak menyadari jika psien berikutnya adalah Aditya karena suster Reni tidak memberi tahunya sama sekai.
" Silahkan pak...!" suster Reni mempersilahkan Aditya. Aditya memberi kode agar dirinya diam karena Sita belum juga menyadari kedatangannya.
" Baik silahkan duduk pak...." Sita tercekat melihat seorang pria berwajah tampan berdiri di hadapannya dengan senyum manis tersungging di bibirnya. " Mas Aditya....?!"
" Saya sakit dok.....!" ujar Aditya lalu duduk di hadapan Sita.
Suster Reni tertawa lebar melihat keduanya. " Saya beri waktu lima menit saja ya..karena di luar masih banyak pasien...!"
" Siap sus...laksanakan...!" jawab Aditya sambil memberikan sikap hormat.
Reni tertawa terpingkal-pingkal melihat kelucuan Aditya, begitupun dengan Sita senyumnya terlihat mengembang sambil menatap Aditya.
" Mas sakit apa...?" tanya Sita kemudian.
" Oh saya,...ini...!" tiba-tiba Aditya menarik tangan Sita lalu membawanya ke dadanya. " Malarindu...!" jawabnya kemudian.
" Mas ini..!" ujar Sita, wajah cantiknya tersipu-sipu.
" Adik cantik sekali hari ini...!" Sita semakin salah tingkah karena kini Aditya menyentuh pipinya sambil membelainya dengan penuh kelembutan. " Saya tunggu di luar karena pasienmu masih banyak,selepas itu kita akan makan siang bersama...!" ujar Aditya.
__ADS_1
" Mas Aditya....!!!" Sita terpekik kencang karena tiba-tiba Aditya mengecup pipinya hingga membuat wajahnya merah padam dengan seketika. Aditya tertawa sambil beranjak.