
Sita yang merupakan seorang putri bangsawan Palembang diharuskan menggunakan tradisi adat Palembang untuk semua rangkaian acara pernikahannya. Aditya tidak merasa keberatan karena bu Fatma pun menyetujuinya karena bagi beliau apa yang disepakati oleh Aditya dan Sita adalah bagian dari impian mereka.
Aditya menyiapkan sebuah rumah yang ditinggali keluarganya selama proses menuju pernikahannya. Rumah itu sengaja di sewanya agar seluruh keluarganya dapat leluasa ikut membantu persiapannya.
" Bu...istirahatlah dulu...!" Aditya menghampiri ibunya yang sedang menghias hantaraan yang akan dibawanya di acara Menyengguk, sebuah acara bagian dari prosesi lamaran adat Palembang dimana keluarga calon mempelai pria akan memberikan hantaran berupa tenong atau sangkek serupa wadah yang terbuat dari bambu bersulam emas di dalamnya berupa makanan sebagai tanda bahwa Sita sudah resmi dilamar Aditya sehingga tidak ada seorang laki-lakipun yang bisa mendekatinya kembali.
" Sebentar lagi Dit, tanggung hanya tinggal ini saja...!" jawab Bu Fatma.
Aditya mengusap bahu wanita yang selama ini begitu disayangi dan dihormatinya. Dipandanginya kedua tangan ibunya yang sudah mulai keriput. Tangan itulah yang selama ini merawat dan membesarkan dirinya tanpa pernah meminta balas jasa.
" Bu...!"
Bu Fatma membalikan tubuhnya menghadap Aditya dan seketika terkejut karena tiba-tiba Aditya memeluknya.
" Maafkan Aditya bu jika selama ini Aditya belum bisa membahagiakan ibu bahkan sampai saat ini, kedua tangan ini masih belum juga berhenti, sekali lagi Aditya minta maaf...!" Aditya berkata sambil menangis di bahu bu Fatma.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan Adityaku, kamu kebangaan ayah dan ibu, besok lusa kau akan akan mejadi seorang pemimpin bukan lagi menjadi seorang pemimpi, jadilah pemimpin yang bisa membawa keluargamu menuju Jannah-Nya...!"
" Aaamiin bu, Aditya tak akan pernah berhenti meminta doamu bu karena Aditya tau doa ibulah yang di dengar langit hingga ArrasNya...!" jawab Aditya.
Bu Fatma mengelus punggung putra tercintanya dan memeluknya erat.
KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR
Keluarga besar Sultan Mahmud Mahsyur dan Nyimas Zubaidah menyambut kedatangan keluarga calon besannya dengan penuh suka cita. Aneka makanan telah disediakan dengan melimpah. Sultan Mahmud tak henti-hentinya menebarkan senyuman pada seluruh tamu yang datang.
" Silahkan masuk..mari -mari...!" ucapnya mempersilahkan keluarga Aditya untuk segera masuk ke dalam rumah kediamannya.
" Trima kasih ...!" jawab Bu Fatma sambil tersenyum senang dengan penyambutan keluarga Sita.
Aditya duduk diapit ibu dan pamannya yang beristrikan orang Palembang namun tinggal di Bandung. Aditya sengaja membawa serta Mang Faqih karena sedikit banyak sudah mengetahui tentang adat pernikahan Palembang.
Seperti halnya adat Palembang, acara ini pun dimulai dengan sebuah pantun dan syair yang menyatakan sebuah isi dan maksud kedatangan mereka yang juga disambut dengan balasan pantun dan syair sebagai penerimaannya.
Keluarga Aditya :
Batang ramai suka memanjat
Melilit sampai pohon menanti
Datang kami mempunyai hajat
Ingin menyampaikan hasrat hati
Balasan keluarga Sita :
Sirih sekapur pinang keratin
Dimakan oleh muda jejaka
Kalau tuan tidak keberatan
Dengan kamilah tuan berseloka
Keluarga Aditya :
Kain puteri sulaman pelangi
Cantik dan molek jadi idaman
Dahulu kami pernah berjanji
Memetik bunga kembang di taman
__ADS_1
Sebelum hajat kami kemukakan
Titipan salam kami sampaikan
Dari Bapak Ahmad Zaki Nugraha ( Almarhum )
Untuk keluarga Bapak Sultan Mahmud Mahsur
Dibalas pula oleh keluarga Sita :
Buah kemang rasanya kelat
Jangan disimpan di dalam peti
Jika memang ada dihajat
Jangan disimpan di dalam hati
Jati tuan jati melayu
Jati kami orang bahari
Janji tuan masa yang lalu
Kami nantikan setiap hari
Keluarga besar Aditya merasa takjub dengan adat Palembang yang baru diketahuinya saat ini. Mereka tersenyum bahagia menikmati semua proses acara lamaran Aditya dan Sita.
Acara dilanjutkan dengan acara tepak sirih dimana kedua keluarga calon mempelai saling bertukar sirih. Keluarga Sultan Mahmud diwakilkan oleh adik dari Sultan Mahmud yaitu Sultan Bashar memberikan sirih kepada keluarga Aditya yang diterima paman Faqih. Lalu kemudian membagikannya kepada seluruh anggota keluarga yang hadir disana untuk kemudian dimakan bersama-sama.
Paman Faqih melanjutkan kembali pantunnya
Daun selasih kami larutkan
Sedikit antaran kami sertakan
Lengkap dengan semua persyaratan
Kini gendang kami tingkahkan
Mengiring lagu pelipur hati
Ini semuanya kami serahkan
Untuk ananda di rumah ini
Baju kurang teluk belanga
Terbuat dari kain cita
Yang kami antarkan tidak seberapa
Terimalah dengan sukacita
Aditya yang sedari tadi menikmati acaranya kali ini mencari-cari sosok kekasihnya namun tak jua terlihat sejak tadi. Satu bulan sudah dirinya tidak dapat bertemu dengan kekasih hatinya, semua itu sungguh membuatnya tersiksa dilanda kerinduan yang teramat sangat.
" Yang terhormat Sultan Mahmud Mahsyur rupanya keponakan a ini sudah tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya namun apalah daya, hanya hantaran kami yang dapat bersua....!"
Sontak semua pun tertawa, Aditya tersipu malu.
Hantaran yang disiapkan keluarga Aditya kini satu persatu diberikan pada keluarga Sita yang diberikan langsung oleh Bu Fatma dan diterima oleh Nyimas Zubaidah. Keduanya saling bersalaman dan berpelukan erat. Juru foto segera mengabadikan moment ini.
Sultan Bashar kembali mengambil acara dengan pantun balasan.
__ADS_1
Tabir gulung kami labuhkan
Melati sunting kami tatahkan
Terima kasih kami ucapkan
Kecil tangan nyiru ditadahkan
Putra raja duduk digeta
Memakai mahkota kebesarannya
Seperti pesan yang tuan minta
Kami sampaikan kepada yang punya
Buah pauh di tepi pantai
Diambil anak yang sedang mandi
Tidak harta yang kami nilai
Budi baik pengikat hati
Pasir putih di pinggir kali
Tempat mainan ayam berlaga
Kasih tak boleh dijual beli
Bukannya benda buat berniaga
Acara demi acara telah dilalui, aneka hantaran dan uang belanja untuk persiapan hajat pernikahan telah pula diberikan, Aditya terus dibuat penasaran kapan dirinya akan dipertemukan dengan kekasihnya.
" Siapa yang kau cari nak...?" Mak Qayah menghampirinya saat acara makan-makan dimulai.
Aditya tersenyum malu.
" Untuk kali ini mak tidak bisa mengabulkan permintaan mu untuk bertemu anakku, sabarlah..lusa dia akan jadi milikmu...!" ujar Mak Qayah sambil tersenyum.
Bu Fatma dan keluargnya kini berbincang-bincang dengan keluarga Sultan Mahmud sambil menyantap hidangan. Dari pembicaraan itu pula kini Sultan Mahmud mengetahui jika Aditya dibesarkan oleh ibu yang seorang janda namun berhasil mencapai cita-citanya. Rasa bangganya pada calon menantunya itu semakin bertambah.
" Yang mana kedua adik Aditya itu bu Fatma...?" tanya Nyonya Zubaidah.
" Ini bu, yang ini Nida dan yang ini Sofa, perempuan dua-duanya...!" jawab bu Fatma. Nida dan Sofa menghampiri Nyonya Zubaidah dan Sultan Mahmud lalu mencium tangan mereka dengan takzim.
" Masya alloh..cantik-cantik sekali, sekolah kau nak...?"
" Iya bu, saya sedang kuliah dan adik saya masih sekolah...!" jawab Nida.
" Luar biasa bu Fatma ini...!" ujar Sultan Mahmud.
" Tidak pak, saya berusaha ikhitiar saja...!" ujar Bu Fatma merendah.
" Salut saya bu, ibu bisa memiliki anak-anak yang berakhlak baik...!" Nyony Zubaidah menambahkan ucapan kekagumannya pada keluarga calon besannya.
Aditya kembali menghampiri keluarga besarnya usai berbincang-bincang sebentar denga kedua kakak Sita dan Mak Qayah.
" Tidak ada yang kau cari Aditya...?" tanya Sultan Mahmud sambil terkekeh-kekeh menatap calon mantunya yang tersipu malu.
" Sita tak boleh ketemu kau dulu, sabar lah, ini tradisi kami...!" tukas Nyonya Zubaidah.
" Iya bu...!" jawab Aditya.
__ADS_1
Kedua adiknya tampak tersenyum melihat kakaknya yang dibuat salah tingkah karena godaan calon mertuanya.