Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 39 ( Lamaran )


__ADS_3

Sita yang merupakan seorang putri bangsawan Palembang diharuskan menggunakan tradisi adat Palembang untuk semua rangkaian acara pernikahannya. Aditya tidak merasa keberatan karena bu Fatma pun menyetujuinya karena bagi beliau apa yang disepakati oleh Aditya dan Sita adalah bagian dari impian mereka.


Aditya menyiapkan sebuah rumah yang ditinggali keluarganya selama proses menuju pernikahannya. Rumah itu sengaja di sewanya agar seluruh keluarganya dapat leluasa ikut membantu persiapannya.


" Bu...istirahatlah dulu...!" Aditya menghampiri ibunya yang sedang menghias hantaraan yang akan dibawanya di acara Menyengguk, sebuah acara bagian dari prosesi lamaran adat Palembang dimana keluarga calon mempelai pria akan memberikan hantaran berupa tenong atau sangkek serupa wadah yang terbuat dari bambu bersulam emas di dalamnya berupa makanan sebagai tanda bahwa Sita sudah resmi dilamar Aditya sehingga tidak ada seorang laki-lakipun yang bisa mendekatinya kembali.


" Sebentar lagi Dit, tanggung hanya tinggal ini saja...!" jawab Bu Fatma.


Aditya mengusap bahu wanita yang selama ini begitu disayangi dan dihormatinya. Dipandanginya kedua tangan ibunya yang sudah mulai keriput. Tangan itulah yang selama ini merawat dan membesarkan dirinya tanpa pernah meminta balas jasa.


" Bu...!"


Bu Fatma membalikan tubuhnya menghadap Aditya dan seketika terkejut karena tiba-tiba Aditya memeluknya.


" Maafkan Aditya bu jika selama ini Aditya belum bisa membahagiakan ibu bahkan sampai saat ini, kedua tangan ini masih belum juga berhenti, sekali lagi Aditya minta maaf...!" Aditya berkata sambil menangis di bahu bu Fatma.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan Adityaku, kamu kebangaan ayah dan ibu, besok lusa kau akan akan mejadi seorang pemimpin bukan lagi menjadi seorang pemimpi, jadilah pemimpin yang bisa membawa keluargamu menuju Jannah-Nya...!"


" Aaamiin bu, Aditya tak akan pernah berhenti meminta doamu bu karena Aditya tau doa ibulah yang di dengar langit hingga ArrasNya...!" jawab Aditya.


Bu Fatma mengelus punggung putra tercintanya dan memeluknya erat.


KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


Keluarga besar Sultan Mahmud Mahsyur dan Nyimas Zubaidah menyambut kedatangan keluarga calon besannya dengan penuh suka cita. Aneka makanan telah disediakan dengan melimpah. Sultan Mahmud tak henti-hentinya menebarkan senyuman pada seluruh tamu yang datang.


" Silahkan masuk..mari -mari...!" ucapnya mempersilahkan keluarga Aditya untuk segera masuk ke dalam rumah kediamannya.


" Trima kasih ...!" jawab Bu Fatma sambil tersenyum senang dengan penyambutan keluarga Sita.


Aditya duduk diapit ibu dan pamannya yang beristrikan orang Palembang namun tinggal di Bandung. Aditya sengaja membawa serta Mang Faqih karena sedikit banyak sudah mengetahui tentang adat pernikahan Palembang.


Seperti halnya adat Palembang, acara ini pun dimulai dengan sebuah pantun dan syair yang menyatakan sebuah isi dan maksud kedatangan mereka yang juga disambut dengan balasan pantun dan syair sebagai penerimaannya.


Keluarga Aditya :


Batang ramai suka memanjat


Melilit sampai pohon menanti


Datang kami mempunyai hajat


Ingin menyampaikan hasrat hati


Balasan keluarga Sita :


Sirih sekapur pinang keratin


Dimakan oleh muda jejaka


Kalau tuan tidak keberatan


Dengan kamilah tuan berseloka


Keluarga Aditya :


Kain puteri sulaman pelangi


Cantik dan molek jadi idaman


Dahulu kami pernah berjanji


Memetik bunga kembang di taman

__ADS_1


Sebelum hajat kami kemukakan


Titipan salam kami sampaikan


Dari Bapak Ahmad Zaki Nugraha ( Almarhum )


Untuk keluarga Bapak Sultan Mahmud Mahsur


Dibalas pula oleh keluarga Sita :


Buah kemang rasanya kelat


Jangan disimpan di dalam peti


Jika memang ada dihajat


Jangan disimpan di dalam hati


Jati tuan jati melayu


Jati kami orang bahari


Janji tuan masa yang lalu


Kami nantikan setiap hari


Keluarga besar Aditya merasa takjub dengan adat Palembang yang baru diketahuinya saat ini. Mereka tersenyum bahagia menikmati semua proses acara lamaran Aditya dan Sita.


Acara dilanjutkan dengan acara tepak  sirih dimana kedua keluarga calon mempelai saling bertukar sirih. Keluarga Sultan Mahmud diwakilkan oleh adik dari Sultan Mahmud yaitu Sultan Bashar memberikan sirih kepada keluarga Aditya yang diterima paman  Faqih. Lalu kemudian membagikannya kepada seluruh anggota keluarga yang hadir disana untuk kemudian dimakan bersama-sama.


Paman Faqih melanjutkan kembali pantunnya


Daun selasih kami larutkan


Sedikit antaran kami sertakan


Lengkap dengan semua persyaratan


Kini gendang kami tingkahkan


Mengiring lagu pelipur hati


Ini semuanya kami serahkan


Untuk ananda di rumah ini


Baju kurang teluk belanga


Terbuat dari kain cita


Yang kami antarkan tidak seberapa


Terimalah dengan sukacita


Aditya yang sedari tadi menikmati acaranya kali ini mencari-cari sosok kekasihnya namun tak jua terlihat sejak tadi. Satu bulan sudah dirinya tidak dapat bertemu dengan kekasih hatinya, semua itu sungguh membuatnya tersiksa dilanda kerinduan yang teramat sangat.


" Yang terhormat Sultan Mahmud Mahsyur rupanya keponakan a ini sudah tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya namun apalah daya, hanya hantaran kami yang dapat bersua....!"


Sontak semua pun tertawa, Aditya tersipu malu.


Hantaran yang disiapkan keluarga Aditya kini satu persatu diberikan pada keluarga Sita yang diberikan langsung oleh Bu Fatma dan diterima oleh Nyimas Zubaidah. Keduanya saling bersalaman dan berpelukan erat. Juru foto segera mengabadikan moment ini.


Sultan Bashar kembali mengambil acara dengan pantun balasan.

__ADS_1


Tabir gulung kami labuhkan


Melati sunting kami tatahkan


Terima kasih kami ucapkan


Kecil tangan nyiru ditadahkan


Putra raja duduk digeta


Memakai mahkota kebesarannya


Seperti pesan yang tuan minta


Kami sampaikan kepada yang punya


Buah pauh di tepi pantai


Diambil anak yang sedang mandi


Tidak harta yang kami nilai


Budi baik pengikat hati


Pasir putih di pinggir kali


Tempat mainan ayam berlaga


Kasih tak boleh dijual beli


Bukannya benda buat berniaga


Acara demi acara telah dilalui, aneka hantaran dan uang belanja untuk persiapan hajat pernikahan telah pula diberikan, Aditya terus dibuat penasaran kapan dirinya akan dipertemukan dengan kekasihnya.


" Siapa yang kau cari nak...?" Mak Qayah menghampirinya saat acara makan-makan dimulai.


Aditya tersenyum malu.


" Untuk kali ini mak tidak bisa mengabulkan permintaan mu untuk bertemu anakku, sabarlah..lusa dia akan jadi milikmu...!" ujar Mak Qayah sambil tersenyum.


Bu Fatma dan keluargnya kini berbincang-bincang dengan keluarga Sultan Mahmud sambil menyantap hidangan. Dari pembicaraan itu pula kini Sultan Mahmud mengetahui jika Aditya dibesarkan oleh ibu yang seorang janda namun berhasil mencapai cita-citanya. Rasa bangganya pada calon menantunya itu semakin bertambah.


" Yang mana kedua adik Aditya itu bu Fatma...?" tanya Nyonya Zubaidah.


" Ini bu, yang ini Nida dan yang ini Sofa, perempuan dua-duanya...!" jawab bu Fatma. Nida dan Sofa menghampiri Nyonya Zubaidah dan Sultan Mahmud lalu mencium tangan mereka dengan takzim.


" Masya alloh..cantik-cantik sekali, sekolah kau nak...?"


" Iya bu, saya sedang kuliah dan adik saya masih sekolah...!" jawab Nida.


" Luar biasa bu Fatma ini...!" ujar Sultan Mahmud.


" Tidak pak, saya berusaha ikhitiar saja...!" ujar Bu Fatma merendah.


" Salut saya bu, ibu bisa memiliki anak-anak yang berakhlak baik...!" Nyony Zubaidah menambahkan ucapan kekagumannya pada keluarga calon besannya.


Aditya kembali menghampiri keluarga besarnya usai berbincang-bincang sebentar denga kedua kakak Sita dan Mak Qayah.


" Tidak ada yang kau cari Aditya...?" tanya Sultan Mahmud sambil terkekeh-kekeh menatap calon mantunya yang tersipu malu.


" Sita tak boleh ketemu kau dulu, sabar lah, ini tradisi kami...!" tukas Nyonya Zubaidah.


" Iya bu...!" jawab Aditya.

__ADS_1


Kedua adiknya tampak tersenyum melihat kakaknya yang dibuat salah tingkah karena godaan calon mertuanya.


__ADS_2