Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 29 ( Kuasa Tuhan )


__ADS_3

KOTA PALEMBANG


    Mobil sedan hitam metalic terlihat berhenti di sebuah pelataran gedung. Seorang pria bersafari keluar dari dalam mobil tersebut setelah seorang supir dan beberapa pengawalnya membukakan pintu untuknya. Dengan penuh percaya diri pria bersafari tersebut melangkah menuju gedung sebuah perusahaan terkenal di kota Palembang.


    " Slamat siang pak, ada yang bisa saya bantu...?" seorang resepsionist menyapanya dengan sebuah senyuman.


    " Saya mau ketemu dengan pemilik perusahaan ini..!"


    Resepsionist itu mengedarkan pandangannya, melihat tampilan tamunya yang mendapat pengawalan dirinya    bisa menebak kalau tamu dihadapannya adalah orang penting.


    " Oh silahkan pak, ruangan beliau ada di lantai tiga gedung ini...!" jawabnya.


    Pria bersafari itu pun segera melangkahkan kakinya diikuti dua orang pengawalnya yang setia berada di sampingnya.


    Seorang perempuan muda dengan pakaian jas nya tengah duduk di sebuah meja, melihat kedatangan pria bersafari yang sudah dikenalnya, seketika membuat wajah manisnya tampak pucat pasi.


    " Maaf pak...ada yang bisa saya bantu...?" tanyanya gugup.


    " Rasanya anda sudah tau kedatangan saya kemari untuk bertemu siapa...!" tukas pria bersafari itu dengan suaranya yang tegas.


    " Tapi pak...atasan saya tidak bisa diganggu, karena sedang meeting, saya mohon maaf..!" ujar perempuan muda yang ternyata adalah seorang sekretaris. Kegelisahan tampak di wajahnya.

__ADS_1


    " Baik, tapi ini urusan penting, saya akan menunggu di dalam ruangannya saja...!" pria bersafari tersebut berkata sambil melangkah menuju sebuah ruangan yang sudah dihafalnya dengan benar.


    " Pak...sebentar...bapak....." sekretaris itu berjalan cepat mengikuti langkahnya. Namun dirinya kalah cepat.


    " Zaini.....!!!!!!!" pria bersafari itu berdiri dengan mulut ternganga karena terkesima melihat apa yang dilakukan calon menantunya.


    " Ayah...!!!!" Zaini sangat terkejut  melihat kedatangan Sultan Mahmud yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu dahulu, sehingga apa yang dilakukannya bersama seorang terlihat jelas dan tak lagi mampu untuk di tutup-tutupi. Wajah Zaini tampak pucat pasi, dengan terburu-buru dipakaikannya kembali celana panjangnya yang sudah teronggok begitu saja diatas lantai. Sementara si gadis muda sama terkejutnya dengan Zaini, tubuh nya yang telanjang bulat terlihat gemetar dan perlahan beringsut memungut pakaian nya dan mengenakannya kembali dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat merah padam menahan rasa malunya yang tak terhingga.


    " Kita batalkan acara pernikahan kamu dan putriku Zaini, aku tak sudi punya mantu seperti kau...!" tiba-tiba Sultan Mahmud berkata dengan suara lantang dan menggema ke seluruh ruangan. Tanpa banyak kata lagi dihampirinya Zaini lalu di tamparnya berkali-kali dengan sangat kencang pipi pria yang selama ini digadang-gadangkan sebagai calon menantu terbaiknya. Zaini hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Tak lama kemudian Sultan Mahmud pun pergi setelah puas menampar dan mencaci maki Zaini. Semua orang melihat peristiwa tersebut, Zaini tampak berang.


    " Pergi...pergi kalian semua, awas kalau ada yang berani membicarakan kejadian ini diluaran sana, aku nggak akan segan-segan memecat atau membunuh kalian semua, faham...!!!!" Zaini berteriak kencang pada semua orang yang melihat dirinya tadi.


    " Sultan...apa yang terjadi pak...?!" dua orang pengawal beliau tampak sangat panik melihat majikannya yang terjatuh seketika. Wajahnya kini terlihat membiru dan tak sadarkan diri.


    " Panggil ambulance...cepat...!!!" ucap salah seorang pengawal sang Sultan dengan histeris.


   Semua orang tampak berkerumun melihat apa yang terjadi.


    RUMAH SAKIT MUSI

__ADS_1


    Nyonya Zubaidah dan Sita melangkah cepat menuju ruang Instalasi Gawat Darurat dimana Sultan kini sedang ditangani secara intsnsif oleh tim medis rumah sakit.


    " Apa kata dokter Bang...?" tanya Sita pada kakak tertuanya yang tampak sudah ada di ruangan tersebut.


    " Belum ada kabar, hanya saja tadi salah seorang dokter bilang kalau ayah kena serangan jantung...!"


    " Cik Mahmud...!" Nyonya Zubaidah menangis kencang mendengar jawaban putranya  itu.


    " Bu...sabar bu, ibu duduk disini biar Sita cari tau dulu ke ruangan, kebetulan dokter disini banyak yang Sita kenal...!" ujar Sita sambil menghampiri ibunya.


    " Pergilah sana, biar ibu bersama abang...!" jawab sang kakak pada Sita.


    Sita pun mengangukkan kepalanya.


    " Benar, ayahmu kena serangan jantung Ta...!" ucap dokter Darius kakak tingkatnya di kampus mereka yang kini menjadi seorang dokter di rumah sakit ini.


    " Ya Tuhan....!" Sita berkata dengan suara lirih. Kesedihan kini terlihat di wajah cantiknya.


    " Tenangkan hatimu Ta, ayahmu kini ditangani dokter ahli jantung, dokter Moheda yang baru saja pulang dari Singapura...!"


    " Iya, trima kasih...!" jawab Sita.

__ADS_1


    " Berdo'alah supaya ayahmu selamat...!" ucap dokter Darius sambil memeluk Sita.


 


__ADS_2