Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 53 ( Kabar Kehamilan )


__ADS_3

" Sayang..sayang...nggak usah..biar mas saja ya...?" Aditya segera menghampiri Sita yang hendak menyapu. Sita merasa heran dengan sikap suaminya saat tau dirinya tengah hamil. Aditya cenderung lebih cerewet dan melarangnya melakukan semua pekerjaan yang rutin dilakukan olehnya.


" Kamu kan sedang hamil sayang, kamu jangan mengerjakan pekerjaan yang berat-berat...!" Aditya berkata sambil meraih sapu di tangan Sita. " Kamu rebahan saja di kamar, biar mas yang menyapu...!"


" Mas Aditya...Sita ini hamil bukan sedang sakit, jadinya biarkan Sita beres-beres rumah...!" ujar Sita sambil menatap suaminya.


" Mas tau, di rahimmu ini ada anakku ...anak kita..jadi...tugasmu hanya menjaga anak kita dan menjaga kesehatanmu juga, bukan yang lain...!" Aditya berkata sambil mengecup kening Sita dengan mesra.


" Mas ...?!" Sita menatap Aditya.


" Tidak ada tapi-tapian...!" tukas Aditya dengan tegas.


Sita akhirnya mengalah, direbahkannya kembali tubuhnya ke atas ranjang tidur mereka.


Aditya mengabarkan kehamilan Sita pada kedua orang tuanya. Bu Fatma tampak menangis bahagia saat diberi tahu lewat telpon, begitu juga dengan Sultan Mahmud yang langsung berteriak kencang memberi tahu Nyonya Zubaidah.


" Kita akan dapat cucu Cik ..?"


" Iyo Zubaidah, kita akan dapat cucu..!" Sultan Mahmud berjingkrak-jingkrak saking bahagianya. Kedua putra mereka yang laki-laki sudah memberikan mereka cucu perempuan tetapi dari putri bungsu mereka,baru kali ini mereka mendapatkan kembali cucu.


Aditya memberi tahu reaksi mereka pada Sita. Sita tertawa sambil membayangkan kedua orang tua dirinya dan Aditya saat mendengar kabar kehamilan cucu-cucu mereka semua.


" Mereka semua sangat bahagia sayang...kamu hadir memberikan kami semua kebahagiaan yang tak ternilai anakku sayang..baik-baiklah di rahim ibumu ini...!" Aditya berkata sambil mengusap perut Sita yang masih rata.


" Ooekh...!!!" tiba-tiba Sita merasa mual saat menghirup parfum yang menempel di kemeja yang dipakai Aditya. Dengan cepat dilangkahkannya kakinya menuju kamar mandi lalu menumpahkan isi perutnya disana.


" Sayang...!" Aditya memijit tengkuk Sita dengan harapan jika Sita merasa lebih baik saat menerima pijitannya. Namun Sita kembali muntah-muntah.


" Kita ke dokter Syarif ya sayang...?" Aditya kembali berkata sambil menatap istrinya dengan sangat iba. Wajah cantik Sita kini terlihat sangat pucat pasi.


" Nggak perlu mas, di trimeseter awal memang akan seperti ini karena perubahan hormon...tapi semua normal kok...mas nggak perlu khawatir...!" jawab Sita. Aditya merangkul pinggang Sita dan bermaksud untuk membawanya kembali ke kamar mereka.  Sita refleks menutup hidungnya.


" Mas..parfum yang dikapai mas ini apa, rasanya pingin muntah mencium baunya...!"


" Masa sih, ini kan parfum yang sama dengan yang sering mas pakai setiap hari, malah kamu sendiri yang beli...!" jawab Aditya.

__ADS_1


" Tapi mas..baunya aneh, Sita nggak suka...!"


" Ok..ok...mas buka dulu kemeja mas nya ya...sebentar...!" Aditya melepaskan kemejanya lalu menaruhnya begitu saja ke atas kursi.


" Gimana, sudah hilang kan baunya...?" " Yuk..mas gendong...!"


Ketika Aditya hendak menggendongnya, Sita kembali mencium sisa parfum Aditya yang menempel.


" Baunya masih ada mas...!" Sita mendongakan wajahnya menatap Aditya yang sedang menatap dirinya dengan rasa heran.


" Ooh..iya..ini...!" Aditya baru menyadari jika kaos dalam yang dipakainya pasti terkena wangi parfumnya. Tanpa berfikir lagi dibukanya kaos yang dikenakannya hingga teronggok begitu saja di lantai. Selepas itu di angkatnya tubuh Sita lalu dibaringkannya perlahan ke atas tempat tidur mereka.


" Mas nggak akan pakai parfum itu lagi jika memang wanginya membuatmu mual...!"


Sita mengangukkan kepalanya. Aditya pun tersenyum menatap Sita yang sangat dicintainya itu.


PUSKESMAS PLAJU


" Bu..bu dokter baik-baik saja...?" tanya suster Hana saat melihat Sita yang sedang memijit-mijit pelipis wajahnya.


" Kalau begitu bu dokter istirahat saja, biar paisen-pasien nya di berikan pada dokter Syarif saja...!"


" Jangan..jangan...nanti juga baikan kok...!" Sita berkata sambil memasangkan stetsokopenya. Namun tiba-tiba pusing di kepalanya terasa sangat berat.


" Dok...jangan dipaksakan...!" suster Hana segera menghampiri Sita lalu mendudukannya di atas sebuah kursi.' Saya bawakan teh manis dulu...!"


Suster Hana keluar dari ruang pemeriksaan dengan tergesa-gesa. Kecemasan terlihat di wajahnya. Suster Pia dan suster Mina yang melihatnya tampak heran lalu kemudian menghampirinya.


" Ada apa...?"


" Saya minta buatkan teh manis hangat untuk dokter Sita...!" jawab suster Hana.


" Baik...!" jawab  suster Pia.


" Memangnya ada apa dengan dokter Sita mbak Hana...?" tanya suster Mina penasaran.

__ADS_1


" Sepertinya sakit kepala, wajahnya pucat pasi...!" jawab suster Hana.


" Kalau saya tidak salah lihat, belakangan ini dokter Sita terlihat lebih gemuk, jangan-jangan dokter Sita tenga berbadan dua mbak..?"


" Oiya, bisa jadi...!" tukas suster Hana. Dikerutkannya dahinya sambil mencoba mengingat-ngiat bentuk tubuh dokter Sita.


" Ini teh manisnya mbak...!" suster Pia kembali dengan teh manis hangat di tangannya.


" Yuk..temani saya...!" ujar suster Hana.


Semua pasien yang sedang duduk menunggu antrian pemeriksaan dibuat heran melihat suster-suster masuk kedalam ruang pemeriksaan dokter Sita dengan wajah tegang.


" Maaf, kalau boleh saya tau...ada apa ya...?" tanya seorang ibu-ibu pada seorang suster.


" Mm..begini bu, kami semua yang giliran jaga hari ini tidak tau kalau dokter Sita sekarang sedang hamil, beliau tadi mengeluh pusing-pusing...dan wajahnyapun pucat, kalau saja kami tau bu dokter sedang hamil, mungkin saya pribadi sebagai asistennya akan membatasi pasien yang diperiksanya. Kasihan sekali...ini kehamilan pertama dokter Sita, jadinya muntah-muntah terus ...!" " Saya mohon maaf ya bu kalau ibu diperiksa tidak oleh dokter Sita, sekarang saja bu dokter sedang dibaringkan dulu...!"


" Ooh...tidak apa-apa bu suster, saya bisa maklumi kok...!" jawab ibu itu.


" Lho dokter Sita ini memangnya sudah menikah...?" " Kok bisa hamil...?"


" Iya ya, dokter Sita kan masih gadis...!"


" Apa mungkin dokter Sita hamil oleh pacarnya...!"


" Maksudnya pak Aditya itu...?"


" Bisa jadi lha sering berdua begitu...!"


Suster Hana menarik nafasnya sambil menggeleng-geleng kepalanya mendengar ocehan pasien-pasien.


" Ya wajar dong bu..pak..kalau selalu berdua, namanya juga suami-istri...!"


" Maksud suster Hana...?" sela salah seorang dari mereka.


" Dokter Sita itu sudah menikah dengan Pak Aditya, sudah hampir setahun..hanya saja kita tidak diundang saat pesta pernikahannya itu makanya kita jadi berprasangka buruk pada dokter baik itu...!" Suster Hana berkata sambil menatap tajam mereka yang berani bergosip dihadapannya. Semua yang ada disana tampak duduk terdiam dengan wajah ditekuk karena malu.

__ADS_1


__ADS_2