Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 23 ( Kebersamaan )


__ADS_3

Aditya segera mengumpulkan berkas-berkas meetingnya yang tampak berserakan di atas meja. Pak Sunaryo pimpinan cabang perusahaan tampak menatap tajam ke arah Aditya yang terlihat terburu-buru tidak seperti biasanya.


    " Bisakah kita ngopi-ngopi dulu sebentar Pak Aditya...?" tanyanya.


    " Mm..maaf sekali pak, untuk kali ini saya tidak bisa menemani anda minum kopi, kebetulan saya sudah ada rencana lain...!" ujar Aditya.


    " Boleh saya tau mau kemana...?" Pak Sunaryo merasa heran.


    " Anu pak, saya ada janji dengan seseorang...!" jawab Aditya.


    " Istri atau kekasih...?"


    Aditya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut.


    " Saya harap sih calon istri pak...!" tukas Aditya.


    " Syukurlah kalau begitu, saya bisa maklumi..!" ujar Pak Sunaryo sambil tersenyum dan menepuk bahu Aditya.


    " Saya pamit pak..!"


    " Silahkan..!" jawab Pak Sunaryo.


JEMBATAN AMPERA


Aditya duduk di sebuah rumah makan tak jauh dari jembatan Ampera. Satu jam telah berlalu namun Sita yang ditunggunya tidak juga muncul. Aditya tampak sangat gelisah, keringat terlihat di wajahnya yang kini dibiarkannya


tumbuh cambang.


" Bang, biso lebih cepat lagi jalannyo...?" tanya Sita pada abang becak yang sedang mengayuh becaknya denga setengah berlari.


     " Maaf nona, tenaga sudah pula saya kerahkan ini agar lebih kencang...!" jawab si abang becak sambil mengelap lehernya yang sudah bermandikan keringat. Sita melihat jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 12 siang yang artinya dirinya sudah terlambat satu jam lamanya. Sita merasa khawatir jika Aditya menganggapnya tidak akan datang.


     Becak yang ditumpanginya berhenti di lampu setopan. Sita melihat sebuah taxi yang mangkal di pinggiran jalan.


    " Abang, saya berhenti sajo disini...!"


    " Wah kan masih jauh nona...?" ujar si abang becak.


    " Tak apalah, biar saya naik taxi sajo, kasian abang karena saya terburu-buru waktu...!" " Ini uangnya bang, nggak usah dikembalian...!"


    Tukang becak itu merasa heran karena uang yang diberikan penumpangnya itu sangat besar untuknya.


    " Terima kasih nona...!"


    " Sama-sama bang..!" jawab Sita lalu kemudian turun dari becak lalu menyetop taxi.


" Maaf tuan, anda mau pesan makanannya sekarang...?" tanya seorang pelayan yang menghampiri Aditya yang sedang berdiri menatap jalan.


    " Mmm..belum, tapi...." Aditya melihat jam, sudah hampir satu jam lebih dirinya menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang. " Apa mungkin Sita tidak bisa kelua rumah karena ketahuan ayahnya..?" " Atau mungkin dia jatuh sakit dan tidak bisa menemuiku...?" berbagai pertanyaan singgah di hatinya.


    " Begini saja bu, saya akan bayar minumannya sekarang, kapan-kapan lagi saya kemari untuk mencoba masakan rumah makan ini,...!" tukas Aditya sambil melangkahkan kakinya walau dengan berat hati. Kesedihan terlihat di raut wajahnya karena hari ini dirinya dan Sita gagal bertemu. Setelah membayar minumannya, Aditya pun  segera menuju mobil taf miliknya yang terparkir di pelataran rumah makan.


    " Mas Aditya...!!!!" sebuah suara mengagetkan dirinya. Ditolehkannya wajahnya ke arah suara itu. Seketika senyumnya mengembang melihat wanita yang dicintainya itu kini sedang berdiri menatapnya.


    " Sayang...!" Aditya berucap dan bergegas menghampirinya.


    " Mas, ini tempat umum...!" Sita menahan wajah Aditya yang akan menciumnya.


    " He..he..he...!" Aditya pun tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Sita tertawa lebar melihatnya.


    " Adik lapar tentunya kita makan dulu yuk...!"


    Sita mengangukkan kepalanya menyetujui ajakan kekasihnya.


Pelayan tadi yang menawarkan makanan tampak tersenyum pada Aditya.


    " Jadi pesan masakannya...?"


    " Kalau sekarang baru jadi, perut kami sudah lapar...!" Aditya tersenyum menahan rasa malu.


    " Mas, sudah lama ya menunggu Sita...?"


    " Nggak juga, cuma hampir dua jam saja...!" jawab Aditya.


    Sita terkejut dan merasa tidak enak hati. " Sita minta maaf mas, Sita tidak mudah bisa kemari, setiap Sita pergi kemanapun pasti diantar supir, tadi juga begitu, pak Harun mengantar Sita ke kampus dan mungkin dia masih disana menunggu Sita...!"


    " Sudahlah tidak apa-apa, kan kita bisa bertemu lagi sekarang...!" tukas Aditya dengan bijak.


    Sita pun tersenyum senang, di gelayutkannya tangannya di lengan Aditya yang kokoh.


    " Jangan, ini tempat umum...!" Sita kembali menolak keinginan Aditya yang akan menciumnya.

__ADS_1


    " Baiklah...!" tukas Aditya sambil memeluk Sita dan membawanya ke dalam ruangan.


Rumah makan yang mereka singgahi sekarang ini bukanlah tempat baru bagi Aditya. Seringkali dirinya dan rekan-rekan nya di perusahaan makan-makan disini usai acara meeting, jadinya Aditya sudah hafal jika di rumah kana ini terdapat sebuah ruangan khusus untuk acara jamuan penting perusahaannya. Ruangan ini begitu privat, hanya diberikan si pemilik rumah makan untuk orang-orang tertentu dan yang sudah memesan tempat sebelumnya karena ruangan ini terpisah dan berada di dalam, terpisah dengan tamu lainnya.


    " Kamu kurusan sekarang dik Sita...?" Aditya menatap Sita yang duduk di sampingnya.


    " Masa sih mas...?" " Mas juga, kenapa mas brewokan begini...?" Sita balik bertanya pada kekasihnya itu. Diusapnya wajah Aditya yang terlihat berbeda namun terlihat lebih maskulin dimata Sita.


    " Lebih ganteng atau lebih cakep nih....?" ujar Aditya sambil mengedipkan sebelah matanya. Sita pun tertawa seketika. " Dua-duanya deh...!" ujar Sita.


    " Kamu ini yang...!" tiba-tiba Aditya mencubit manja dagu Sita yang lancip.


    " Mas Aditya...!" Sita berkata lalu memeluk Aditya dengan erat, Rasa bahagia kini dirasakannya setelah sekian lama berpisah dengan laki-laki yang dicintainya itu. Aditya pun membalas pelukan Sita dengan hangat, dibelainya rambut Sita yang tergerai.


    " Adakah kamu rindu aku mas...?" tanya Sita sambil merenggangkan pelukannya. Kini ditatapanya kedua bola mata Aditya.


    " Adik lihat saja dimataku ini, adakah kebohongan disana...?" " Aku sangat-sangat rindu kamu dan hampir membuatku gila menahan rasa rinduku padamu ...!" jawab Aditya.


    Sita memandang wajah Aditya tanpa bosa, wajah itulah yang selama ini membuatnya jatuh hati padanya.


    " Bawa Sita pergi dari sini mas, bawa Sita pergi jauh....!"


    " Tentu saja sayang, aku akan membawamu..!" jawab Aditya sambil mengecup kening Sita dengan mesra. Sita merasa terharu mendengar jawaban Aditya, Di pejamkannya kedua matanya merasakan ciuman Aditya di keningnya.


    " Tok..tok...!" sebuah ketukan di pintu membuat kemesraan yang mereka lakukan terhenti. Seorang pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan tadi. Sita dan Aditya pun kini bisa makan dengan lahap karena hati mereka yang sedang bahagia. Sambi menyantap makan siang, Sita pun menceritakan bagaimana dirinya bisa lari dari rumah hingga akhirnya mereka bisa bertemu. Aditya manggut-manggut sambil tersenyum mendengarnya.


Selepas makan siang, Sita dan Aditya memutuskan pergi ke sebuah tempat wisata Taman Kambang Iwak yang berjakar kurang lebih 7 kilo meter dari Jembatan Ampera. Sambil bergenggaman tangan keduanya berjalan-jalan menikmati panorama Taman Kambang Iwak yang merupakan peninggalan masa kolonial Belanda yang digunakan tempat rekreasi bangsa mereka. Wajah keduanya tampak berseri-seri menikmati semua keindahannya.


    Aditya menggulungkan lengan kemejanya sampai sikut, dimasukannya kedua tangannya di saku celana panjang hitam yang dikenakannya. Sita pun menggelayut manja di sampingnya, sesekali kepalanya merebah di pundak dirinya. Aditya pun merasa sangat bahagia.


    Tiba-tiba cuaca berubah mendung, tetesan air hujan mulai turun. Sita mengajak Aditya untuk berteduh di sebuah rumah papan yang dijadikan cafetaria.


KANTOR SULTAN MAHMUD MAHSYUR


" Apa kau bilang Harun.....????!!!!" suara Sultan Mahmud tampak menggelegar memantul di ruang kerjanya saat Harun memberi tahu jika putri beliau tidak ada di kampusnya,


    " Maaf tuan, saya sudah mencari tahu dan semuanya tidak ada yang tau kemana non Sita pergi...!" jawab Harun sambil menundukkan kepalanya karena takut melihat majikannya yang terlihat sangat murka.


    " Kamu tidak becus Harun....!!!!!!"


    Harun tampak meringis kesakitan saat menerima tamparan tangan Sultan Mahmud di wajahnya.


    Nyonya Zubaidah jatuh pingsan mendengar berita lewat telpon jika putri kesayangannya itu menghilang dari kampusnya. Begitupun dengan kedua putranya yang sama terkejutnya mendengar berita tersebut.


Aditya kembali menjalankan mobilnya, melihat Sita yang terlihat kedinginan, jaket yang dipakainya tadi dipasangkannya di tubuh Sita. Pakaian keduanya terlihat basah karena hujan semakin deras sehingga mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan Taman Kambang Iwak.


    Aditya menatap wajah Sita yang terlihat sangat pucat, dirinya merasa khawatir jika Sita akan jatuh sakit karena kedinginan dan harus segera mengganti pakaiannya dengan pakaian kering sedangkan untuk menggantinya di dalam mobil, tidak pula memungkinkan. Tanpa berfikir banyak lagi, Aditya pun membelokan kendaraannya menuju sebuah Hotel.


    " Tunggu dulu di lobi, aku akan bawakan dulu tas nya..!" ucap Aditya sambil memayungi tubuh Sita dari derasnya air hujan.


    Sita mengangukkan kepalanya.


    " Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu...?" tanya seorang resepsionist Hotel.


    " Saya mau pesan kamar...!"


    " Untuk satu atau dua orang...?" tanya si resepsionist.


    Aditya menatap Sita dari kejauhan. Dirinya merasa sangat iba dan mengkhawatirkannya.


    " Satu saja, deluxe...!" jawab Aditya sambil menyerahkan tanda pengenalnya lalu membayarnya.


Kamar Hotel yang dipesan Aditya cukup bagus dengan fasilitasnya yang lengkap. Keduanya saling bertatapan di dalam kamar hotel karena baru kali ini mereka berduaan seperti ini.


    " Adik ganti pakaiannya dulu, takutnya masuk angin...!" Aditya berkata pada Sita.


    " Iya mas...!" jawab Sita.


    Setelah mengambil pakaian dari dalam tas nya, Sita oun pergi ke kamar mandi. Aditya melepas kemaja dan kaso dalam yang dipakainya. Dibiarkannya dirinya bertelanjang dada karena tak ada lagi pakaian yang bisa dipakainya untuk sekarang ini.


    Aditya mengambil dua buah  gelas yang diisinya dengan coklat hangat yang diseduhnya dengan air panas dari poci yang disediakan hotel lalu mengaduknya. Aditya berharap jika coklat hangat yang dibuatnya dapat menghangatkan tubuh dirinya dan Sita.


    Sita keluar dari kamar mandi, seketika dirinya terkejut melihat Aditya yang bertelanjang dada. Wajah cantiknya tampak merah padam.  Aditya pun tersadar. " Maaf...aku tidak bawa pakaian lagi...jadinya harus seperti ini...!" tukas Aditya cepat.


    " T..tidak apa-apa...!" jawab Sita lirih sambl menundukkan kepalanya. Dilangkahkannya kakinya lalu kemudian duduk di tepian ranjang tidur sedangkan Aditya kini berdiri di samping jendela kamar yang menghadap jalanan ibu kota yang basah karena air hujan yang tak juga berhenti. Perlahan coklat hangat di tangannya diseruputnya.


    " Oiya sebentar,..!" Aditya lupa coklat hangat untuk Sita masih di simpannya di atas sebuah meja.


    " Apa ini mas...?" tanya Sita.


    " Coklat hangat, aku buatkan untukmu agar tubuhmu kembali hangat..!" jawab Aditya.

__ADS_1


    Sita pun menerimanya, aroma coklat yang khas tercium jelas dan membuatnya tergiur lalu kemudian menyeruputnya. Seketika tubuhnya terasa hangat, apa yang dikatakan Aditya benar adanya. Aditya tersenyum melihat guratan putih di bibir Sita bekas tepian gelas yang menyisakan susu di sana. Dengan cepat Aditya mengusapnya. Sita pun terkejut seketika, belaian jemari tangan Aditya membuat desiran hangat di tubuhnya. Aditya terpana melihat bibi ranum kekasihnya, ciuman yang pernah dilakukanya bersama Sita kini berkelebat dalam ingatannya dan membuatnya tergoda untuk kembali menikmatinya.


    Sita terperangah sesaat manakala bibir nya di ***** Aditya lalu dibawanya kedalam pagutan-pagutan lembut bibirnya, jantungnya berdebar lebih kencang merasakan ciuman Aditya yang begitu dirindukannya, perlahan dibalasnya pagutan bibir Aditya. Aroma tubuh Aditya yang khas dengan aroma mentholnya membuat Sita semakin mendekatkan tubuhnya. Akibatnya sangat luar biasa, Aditya semakin bergairah, ciumannya kini menuntut Sita untuk membalasanya lebih dalam.


    Di luar hujan semakin deras disertai sapuan angin yang kencang, petir pun menggelegar begitu membahana. Dua insan yang saling mecintai kini sudah mulai terpapar sebuah gairah yang membakar jiwa keduaya.


    Sita meremas rambut Aditya manakala kekasihnya itu menciumi leher jenjangnya yang mulus dan wangi karena semprotan parfum. Dengan nafas yang mulai tersenggal Aditya mencium cuping telinga Sita, jemari tangannya sudah tak lagi mampu ditahan untuk tidak membelai tubuh kekasihnya yang begitu sintal dan menggoda kaum pria dengan bentuk panggulnya yang indah.


    Aditya merebahkan tubuh Sita ke atas ranjang Hotel, tubuhnya indahnya tampak tergolek pasrah.  Bagaimanapun Aditya adalah sosok manusia biasa, pria dewasa dan normal manakala melihat kemolekan tubuh Sita, salivanya bergerak turun naik di dalam kerongkongannya, birahinya pun tersulut seketika.


    Sita memandang Aditya yang kini mulai mendekatinya. Aditya yang bertelanjang dada membuat Sita tersipu.


    Aditya pun tersenyum, dibelainya wajah kekasih yang dicintainya itu lalu kemudian menciumnya kembali.


    " Mas..ingat diri sayang...!" Sita berkata dengan suara lirih.


    " Tentu saja, aku tidak akan berbuat lebih...!" ujar Aditya dengan suaranya yang serak karena terpapar birahi.


    " Mas,...mas Adit sayang Sita kan...?"


    " Tentu saja...!" jawab Aditya.


    " Tolong jangan dilanjutkan apa yang kita lakukan ini, sepanas apapun gairah yang kita rasakan sekarang,...!"


    " Maksudmu...?" Aditya menghentikan aksinya. Ditatapnya wajah Sita yang cantik di hadapannya.


    " Sita akan menyerahkannya utuh untuk laki-laki yang kucintai ini, tapi tidak sekarang...Sita akan menyerahkannya di malam pertama kita sebagai suami istri...!" " Tapi jika memang mas Aditya menginginkannya sekarang, Sita pun pasrah karena Sita percaya pada mas Aditya,  asalkan saja kita yakin kalau  Tuhan tidak melihat apa yang kita lakukan...!" Sita berkata sambil menatap kekasihnya itu.


    " Astagfirullohhaladziiim...!" Aditya seketika tersadar dengan kesalahan yang dilakukannya. Diucapkannya kalimat ampunan pada Tuhannya. Dirinya benar-benar merasa tertampar karena terpengaruh oleh bujuk rayu syaitan.


    " Aku...aku minta maaf sayang...aku benar-benar minta maaf...aku khilaf...!" Aditya segera duduk dan terdiam di tepian tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat karena merasa malu dihadapan Sita atas kekhilafannya. Aditya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.  Sita pun tersenyum melihat kekasihnya yang tampak menyesali perbuatannya.


    " Mas tidak perlu merasa bersalah seperti ini, Sita juga salah...kita berdua khilaf dan hampir melakukan apa yang belum boleh kita lakukan, tapi sudahlah...toh tidak terjadi apa-apa bukan...?!" tukas Sita sambil membelai punggung Aditya.


    " Sini mas Aditya ku sayang, mari Sita peluk...merebahlah disini !" Sita melebarkan tangannya sambil menepuk bantal di sampingnya.


    Perlahan Aditya mendongakan kepalanya mendengar ucapan Sita. Dipandanginya  wajah cantik kekasihnya itu yang kini tersenyum padanya.


    " Sini mas...!" tukas Sita.


    Aditya tertegun beberapa saat. Sita tau apa yang dirasakan Aditya.


    " Sita percaya kalau mas Aditya tidak akan melakukannya lagi...!" tukasnya.


    Aditya pun menarik nafasnya dalam-dalam, perlahan di rebahkannya tubuhnya di samping kekasih yang begitu dicintainya dengan sepenuh hati. Sita pun menyampingkan badannya begitupun dengan Aditya, keduanya kini saling bertatapan di atas tempat tidur.


   " Kita akan terus seperti ini kan mas...?"


    " Tentu saja sayang, aku akan menikahimu, kita akan jadi suami istri lalu jadi ayah dan ibu, kita akan tua bersama menikmati hidup, jadi kakek dan nenek hingga maut memisahkan..!"


    Sita tertawa mendengar ucapan Aditya.


    " Lho kok malah tertawa...?" tukas Aditya heran. Di sentuhnya hidung Sita lalu dijentikannya pelan.


    Sita semakin tertawa. " Mas Aditya ini lucu sih...!"


    " Hei, memangnya aku badut...?!"


    " Bisa jadi, badut yang lucu tapi tampan kok...!"


    " Ha..ha...ha....!" Aditya tertawa mendengarnya. " Baru kali ini adik memujiku ...!"


    " Masa sih, nggak juga...!" tukas Sita.


    " Padahal di luar sana banyak perempuan-perempuan yang memuji ketampananku...!"


    " Ih mas Aditya, norak ah...!" tukas Sita. Dicubitnya bahu Aditya dengan kencang.


    Aditya semakin tertawa lebar.


    " Tapi kan yang aku cintai hanya kamu, sumpah demi Tuhan...aku cinta kamu...!" jawab Aditya sambil tersenyum.


    " Benarkah itu mas...?"


    " Kalau ada penghulu saja disini sekarang ini, sudah aku nikahi Dik Sita ini untuk membuktikan semua itu....!" tukas Aditya.


    Wajah cantik Sita pun kembali berseri dan tersenyum bahagia.


    Hujan belum pula memberikan tanda untuk berhenti. Dua insan yang saling mencinta itu pun tertidur dengan senyum kebahagiaan.


    Manusia diciptakan Tuhan dengan ketidaksempurnaan. Bukan malaikat yang selamanya taat, bukan pula iblis yang selalu lalai. Manusia tetaplah manusia dengan berjuta dosa tetapi Tuhanlah sang maha pemberi ampunan karena sejatinya cinta pun diciptakan oleh Nya agar hambanya saling memberikan kebahagiaan. Begitupun seorang Aditya dan Sita.

__ADS_1


__ADS_2