Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 33 ( Anfal )


__ADS_3

RUMAH SAKIT MUSI PALEMBANG


Seorang laki-laki tua tengah berbaring lemah di ruang Intensif Care Unit sebuah rumah sakit karena mengalami serangan jantung. Di sekujur tubuhnya terpasang berbagai macam alat untuk memonitor perkembangan kesehatannya yang belum stabil. Suasana di ruangan itu tampak hening yang terdengar hanyalah suara dari mesin-mesin dan ventilator udara ruangan.


" Kasihan Cik Mahmud biasanya dia selalu gagah sekarang lemah begini...!" Nyonya Zubaidah menangis di pelukan bu Qayah yang setia menemaninya.


" Sabarlah, ini sudah kehendak yang kuasa, kau harus sabar dan ikhlas...!" Bu Qayah mencoba menghiburnya sambil mengusap bahunya.


Dari balik sebuah kaca keduanya memandang tubuh Sultan Mahmud yang tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


" Bu..ini Sita bawakan makan siang, ibu dan mak makan yah..nanti kalian jatuh sakit...!" tiba-tiba Sita sudah berada di belakang mereka sambil membawa sebuah kantong plastik berisi makanan.


" Ibu belum lapar nak....!" jawab Nyonya Zubaidah.


" Bu..Sita khawatir ibu jatuh sakit, makanlah dulu, biar Sita yang nunggu ayah disini...!" Sita menghampiri ibunya.


" Betul apa yang dikatakan anakmu itu, kita makan dulu saja...!" tukas Mak Qayah. Dengan berat hati akhirnya nyonya Zubaidah itu pun mengikuti saran Sita. Di dampingi Mak Qayah dirinya pun pergi meninggalkan Sita sendirian berada di ruang tunggu ICU.


Sita menatap ayahnya, kesedihan menggelayut di wajahnya karena bagaimanapun kerasnya hati seorang Sultan Mahmud namun ayah tetaplah ayah, orang tua yang harus di hormatinya.


PLAJU


" Maaf pak Aditya, tadi subuh dokter Sita pulang ke Palembang, beliau mendapat kabar melalui dokter Syarif, kalau ayahnya Sultan Mahmud kena serangan jantung, beliau anfal dan sekarang dirawat di rumah sakit Musi...!" Aditya terkejut mendengar apa yang dikatakan suster Reni.


" Bu dokter pun menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menemui Pak Aditya terlebih dahulu karena motor Rahmah mogok dan masuk bengkel dan bu dokter pun berangkat tadi naik mobil ambulance bersama dokter Syarif...!" tukas suster Reni kemudian.


Aditya kembali terdiam. Dilihatnya arloji di tangannya yang menunjukkan pukul satu siang.


" Trima kasih Ren..slamat siang...!" tukas Aditya tanpa banyak tanya.

__ADS_1


Di dalam kendaraan yang dikemudikannya, Aditya berfikir keras bagaimana dirinya harus bersikap. Tidak mungkin Sita berpergian tanpa memberi tahunya terlebih dahulu kalau bukan pada kondisi darurat. Fikir Aditya.


RUMAH SAKIT MUSI PALEMBANG


Sita dan keluarganya sedang berkumpul di ruangan koridor rumah sakit, mereka tampak tegang karena mendengar kabar jika Sultan Mahmud Mahsyur kritis, Nyonya Zubaidah tak henti-hentinya menangis memikirkan nasib suaminya. Semua orang mencoba menghiburnya dan mengajaknya berdoa pada yang kuasa agar nyawa Sultan Mahamud dapat diselamatkan.Sama halnya dengan sang ibu, Sita pun merasakan kesedihan, ingatan masa kecilnya tiba-tiba muncul, ayahnya selalu menggendongnya dan tidak pernah membiarkan dirinya turun ke tanah karena khawatir jika kakinya akan kotor.


" Qayah..jangan biarkan kaki anakku itu menginjak tanah, aku tak mau kakinya kotor nanti...!"


" Baik Cik Mahmud...!" jawab Mak Qayah dan segera mengangkat tubuh mungil Sita ke dalam gendongannya.


Air mata Sita turun deras mengingat semua itu, kini sosok ayah nya terbaring lemah tak berdaya.


Aditya melangkah menuju ruang ICU sebuah rumah sakit, jantungnya berdebar kencang. Namun tekadnya sudah bulat. Tak lama kemudian sosok yang dicarinya itu telah ditemukan. Segera dirinya mendekat dan mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum..!" sapanya


Sita terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Aditya sudah  berdiri di hadapannya.


Nyonya Zubaidah, Mak Qayah serta putra kedua sang Sultan segera menatap ke arah Aditya sambil menjawab salamnya.


" Bu..ini...ini mas Aditya...!" ucap Sita lirih. Jantungnya bedebar kencang menunggu reaksi ibu dan keluarganya.


" Saya Aditya bu...!" Aditya menghampiri seorang wanita tua yang menatapnya dengan tajam. Kedua matanya terlihat sembab karena tangisannya. Perlahan Nyonya Zubaidah menrima uluran tangan Aditya. Aditya pun segera mencium punggung tangannya dengan khidmat.


" Kamu laki-laki yang berani mendekati putriku ini, iya...?" tanya Nyonya Zubaidah.


" I..iya bu..!" jawab Aditya sedikit gugup. Sorot mata nyonya Zubaidah membuat tubuhnya gemetar.


" Kemarilah nak...!" tiba-tiba Nyonya Zubaidah memeluk Aditya. Aditya kembali terkejut namun tak lama kemudian hatinya gembira karena ternyata dirinya diterima dengan hangat. " Maafkan ayahnya Sita yah nak...?" ucapnya lirih.

__ADS_1


" Tidak bu, tidak ada yang perlu dimaafkan, beliau tidak salah apa-apa...!" jawab Aditya.


" Bukankah kamu terluka karena dilukai orang suruhan ayahnya...?" tukas Nyonya Zubaidah.


" Tidak bu, saya kira semua orang tua menginginkan calon yang terbaik untuk anaknya, dan beliau pun sama...dan saya pun sudah melupakannya...!" jawab Aditya sambil tersenyum.


" Ya Tuhanku..trima kasih nak...!" Nyonya Zubaidah kembali memeluk erat laki-laki yang mencintai putrinya itu. Sita pun merasa senang melihat penerimaan ibunya pada Aditya.Perasaan cemasnya tadi seketika tergantikan oleh perasaan bahagianya.  Mak Qayah melirik Sita lalu kemudian memeluknya. " Tuhan tidak tidur bukan...?"


" Iya mak...!" jawab Sita sambil tersenyum.


" Maaf bisa saya bicara dengan keluarga Sultan Mahmud Mahsyur...?" tiba-tiba seorang dokter berjas putih keluar dari dalam ruangan ICU.


" Saya istrinya dok..!" jawab Nyonya Zubaidah.


" Nyonya ikut saya...!"


" Baik dok...!" ujar Nyonya Zubaidah.


" Mas, saya temani ibu dulu ya...?" Sita berkata sambil memandang Aditya.


" Iya, temanilah..biar saya menunggu disini...!" jawab Aditya.


Sepeninggal Sita seorang laki-laki muda berusia kurang lebih 36 tahun yang sedari tadi duduk dan memperhatikan tiba-tiba mendekatinya.


" Aku abang nya Sita, awas kalau berani menyakiti adikku, akan aku buat kau perhitungan...!"


" Oh..eh...iya bang, insya alloh saya tidak akan menyakitinya...!" Aditya berkata dengan terbata-bata melihat wajah laki-laki dihadapannya yang menatap dirinya tajam tanpa senyuman sama sekali.


Berbeda dengan mak Qayah, Aditya merasa senang mendapat perlakuan yang baik darinya. Mak Qayah mengajaknya bicara tentang Sita yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri sehingga diantara dirinya dan Sita tak ada rahasia termasuk dengan hubungan Sita dengan dirinya. Aditya tersenyum mendengar semua itu. Sita sendiri pernah bercerita tentang sosok Mak Qayah yang menyembunyikan surat mereka di tas belanjaan jika hendak pergi ke pasar, dan mak Qayah pula lah yang membawakan tas berisi pakaian ketika Sita memutuskan kabur dari rumah. Kini keduanya pun tertawa kecil. Dim-diam putra kedua Sultan mendengarkan apa yang mereka bicarakan untuk menyimpulkan sifat Aditya yang dicintai adik bungsnya itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2