
Sita tampak bahagia menjalani segala ritual menjelang pernikahannya dengan Aditya. Raut wajah cantiknya terlihat sumringah dengan menebar senyuman kepada semua orang. Kali ini dirinya tengah melakukan mandi uap yang di bantu oleh juru rias kepercayaan keluarga Mahsyur. Mandi Uap ini dikenal dengan nama Betangas. Sita duduk di sebuah kursi anglo lalu kemudian seluruh tubuhnya di tutupi kain yang sebelumnya telah di masukan ke dalam air hangat yang telah diisi rempah-rempah. Kain tersebut mengeluarkan uap yang menghangatkan tubuhnya serta mengeluarkan aroma rempah yang wangi.
" Wah beruntung sekali suami kau nanti Sita...!" Marwah sepupunya menghampiri dirinya sambil membawakan handuk. " Tubuh kau ini begitu mulus dan halus.." Sita tersenyum,
" Lihatlah ini, sudah mulus kau memiliki tubuh yang indah pula Sita, tubuh kau ini seperti kata pujanggo...bak gitar spanyol...!" Dinah yang juga sepupunya tetawa lebar sambil menggambarkan tubuh Sita dengan kedua tangannya. Marwah ikut tertawa.
"Aku bisa bayangkan, apa yang terjadi saat malam pengantin kau nanti...!" Dinah berkata sambil mengedipkan sebelah matanya pada Marwah.
" Masmu itu akan terbelalak takjub melihat bukit yang sekal ini....!" Ha...ha...ha...!"
" Dan kau sendiri akan mati kutu dibuatnya, kau tidak bisa berbuat apa-apa Sita selain menerima cumbuan suamimu nanti...!"
" Sakit sih memang mulanya,..tapi selepas itu kau akan ketagihan Sita...!" " Ha....ha..ha...!"
" Kalian itu ada-ada sajo...!" tukas Sita. Wajah cantiknya bersemu merah menahan malu karena digoda sepupu-sepupunya.
" Oiya Sita, pria berkulit coklat itu sanbat kuat di ranjang lho...!" kali ini Marwah berkata sambil berbisik di telinga Sita. Sita terperangah seketika. Darahnya terkesiap mendengar ucapan nya itu. " Kamu jamin kau akan kewalahan, percaya sama aku...!" tukas Marwah kembali. Dinah ikut pula menggoda Sita, mereka semua adalah saudara dekat dari kerabat ibunya. Mereka semua telah bersuami sehingga mereka berani berkata seronok pada Sita.
Mak Qayah dan bu Julaikha si juru rias tersenyum sambil berdiri di ambang pintu melihat Sita yang sudah merah padam karena digoda sepupunya.
" Sudah..sudah...apa kalian tak lihat wajah calon pengantin nya yang sudah seperti kepiting rebus begini, Sita kali ini kau akan mulai berpacar, bu Julaikha sudah menyiapkan inainya. Sekarang kau berpakaian dahulu sajo...!"
" Iya mak..!" jawab Sita sambil tersenyum lega karena berhasil keluar sejenak dari perangkap mereka.
Berbedak
__ADS_1
Ritual berikutnya yang harus dilakukan Sita adalah berbedak. Sita dibalurkan bedak ke wajahnya agar terlihat mangling.
Berpacar.
Calon mempelai wanita di haruskan untuk melakukan ritual berpacar. Bu Julaikha sudah memulai melukiskan inai di kuku tangan dan kaki serta di telapak tangan dan kaki. Konon tradisi ini bertujuan untuk mengusir roh jahat karena dipercaya memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat serta menjadi lambang kesuburan bagi seorang wanita.
Ketiga ritual yang sudah dilaksanakan Sita dilakukannya di dalam kamar gadisnya yang telah dihias menjadi kamar pengantin yang istimewa dengan ornamen khas Palembang.
Semua orang yang melihat Sita tampak takjub melihat kecantikan Sita yang semakin terlihat mempesona. Mereka tak henti-hentinya memuji kecantikannya.
Ritual terkahir dari seluruh rangkaian persiapan pra pernikahan adalah Mandi Bersih, jika di Jawa dikenal dengan ritual siraman. Mandi Bersih ini di pipimpin oleh juru rias dan didampingi oleh orang tua calon mempelai wanita. Nyonya Zubaidah menyeka air matanya yang menetes saat guyuran air mandi yang dibawanya menyiram tubuh putrinya terkasihnya. Peristiwa masa kecil Sita saat dilahirkan seakan masih terbayang jelas dalam ingatannya.Betapa bahagianya dirinya sebagai ibu yang melahirkan ketika mengetahui bayi yang dilahirkannya adalah seorang perempuan, bayi yang selama ini di tunggu-tunggunya setelah sebelumnya melahirkan dua anak laki-laki. Kini bayi kecil itu telah tumbuh dewasa dan besok akan jadi milik Aditya yang menjadi suaminya.Tuntaslah sudah kewajibannya sebagai orang tua.
" Ayah...!" panggil Sita pelan saat Sultan Mahmud mendekatinya. Sita menatap ayahnya yang tampak gemetar membawa gayung berisi air untuk disiramkan ke tubuhnya.
" Sita anakku...!!" tiba-tiba Sultan Mahmud memeluknya erat. Tangisan yang sejak tadi ditahannya kini pecah seketika. Kesalahan yang telah diperbuat nya membuat hatinya merasa sakit. Keegoisan dirinya sebagai seorang pria keturunan bangsawan telah membuatnya buta sehingga tidak tega berbuat kasar pada putrinya sendiri bahkan dengan melukai laki-laki yang dicintai putrinya. Dengan kekayaan yang dimilikinya dirinya tega merendahkan orang lain. Dirinya sangat menyesal.
" Tidak ayah, Sita yang seharusnya minta maaf...!" jawab Sita.
Semua orang yang melihat prosesi itu ikut merasakan kesedihan karena kegagalan Sita saat hendak menikah dengan Zaini, laki-laki yang selama ini dianggap Sultan Mahmud sebagai pria yang tepat untuk jadi suaminya. Kini Tuhan telah memperlihatkan kuasa Nya, kebusukan serapat apapun di tutupi maka baunya akan tercium oula dan kebaikan akan nampak dengan sendirinya. Itulah yang terjadi kini, Aditya pria suku Sunda yang akhirnya menjadi pendamping Sita yang bersuku Melayu.
Di tempat terpisah, Aditya pun melakukan ritual Mandi Bersih setelah sebelumnya bu Fatma mengajak seluruh anggota keluarganya bekumpul melakukan pengajian untuk memohon pada sang kuasa agar pernikahan Aditya dan Sita dapat berjalan dengan lancar. Nida dan Sofa memandang kakak tercintanya saat disiram oleh ibu mereka, Bu Fatma tampak menangis haru, bibirnya tak henti-hentinya memanjatkan doa. Bayangan almarhum suaminya dirasakannya hadir saat itu menyaksikan prosesi demi prosesi yang dilalui Aditya menjelang pernikahannya.
" Selamat bosqu semoga besok acaranya lancar..car..car...!" Bisma merangkul Aditya. Diiikuti dengan yang lainnya yang juga memeluk pimpinan mereka yang akan mengakhiri masa lajang dengan wanita yang dicintainya. Sebagai seorang rekan yang selalu melewati hari bersama, faham dengan apa yang pernah dialami Aditya untuk mendapatkan Sita.
" Kita semua ikut bahagia Dit...!" ucap Hendra sambil memeluknya. Aditya memeluk erat sahabat sejatinya itu. " Trima kasih Ndra, kamu selalu ada buatku...!" Aditya berkata sambil meneteskan air mata. Hendra pun memangis, persahabatnnya dengan Aditya menjadikan mereka sebagai seorang yang lenih dari saudara.
__ADS_1
" Lho kok malah melankolis begini, ayo kita makan, ibu sudah menyiapkan masakan untuk kalian semua...!" tukas Sofa kemudian.
" Sofa cantik, air mata kakakmu ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan karena besok akan belah duren...hi..hi...hi...!" gurau Joko sambil tertawa cekikikan. Sofa mengernyitkan dahinya karena belum memahami maksud yang diucapkan teman kakaknya itu.
" Jangan di dengar nona cantik, dia itu hanya boneka menekin tak berguna, dengarkan abang saja..ya..ya...!" Bisma berkata sambil mendekati Sofa, tubuh gempalnya terlihat lucu saat menggoda Sofa yang sontak mendapat cubitan dari Aditya.
" Puas lu...!" tukas Joko.
Malam harinya teman-teman Aditya pun menginap di rumah kontrakan Aditya. Mereka semua menggoda Aditya habis-habisa. Wajah Aditya sudah merah padam karena godaan teman-temannya itu tentang malam pengantin.
" Gua bisa bayangkan gimana reaksi bos kita ini, pastinya udah nggak sabar aja kali...!" ujar Joko yang memang pandai melucu dengan Bisma.
" Pastinya langsung tancap saja...iya kan padk...?" sahut Bisama sambil menatap Aditya yang duduk sambil menyenderkan tubuhnya di dinding ruanganan dimana mereka berkumpul.
" Pak Hendra, sudah dikasih bocoran belum nih tata cara belah durennya...!" Heryaman menimpali.
" Sepertinya nbgak usah diajarin, dia sudah pintar duluan...!" jawab Hendra sambil berkata-kata.
" Oiya pak...dengarkan saya, bapak adalah atasan saya..senior saya, tapi dalam hal ini bapak adalah junior saya...!" Andra tiba-tiba mendekati Aditya. " Biar mainnya bisa lama, saya sarankan dokter Sita untuk diposisi atas...!"
Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar apa yang dibicarakan teman-temannya dan membuatnya tertawa geli.
" Aku bisa bayangkan, suara nya dokter Sita itu kan empuk dan aluuuus banget...dan pasti suara rintihannya juga membuat....grrrh....!" Joko pura-pura teler membayangkan apa yang diucapkannya.
" Gendeng kamu Ko...nyebut lu nyebut...!" Bisma memukul kepala Joko seperti biasanya. Joko pun menyeringai.
__ADS_1
" Sudah-sudah..ini sudah malam, nggak baik kalai pengantin begadang, besok takutnya nggak kuat nahan ngantuk...!" tukas Hendra sambil tersenyum