Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 52 ( Kebahagiaan Sita dan Aditya )


__ADS_3

Sita merasa malu ketika datang terlambat ke Puskesmas sesiang ini. Karena tidak biasanya dia seperti ini. Itu semua terjadi karena Aditya yang baru kembali dari Palembang selama sepekan meminta jatahnya saat kembali di pagi hari saat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Aditya tidak memperdulikan waktu jika sudah memiliki keinginan yang satu itu dan Sita tak kuasa menolaknya jika memang tidak alasan kuat.


" Maaf bapak..ibu..saya datang terlambat karena ada sesuatu yang harus saya selesaikan dulu....!" Sita meminta maaf pada para pasien yang telah menunggunya di ruang tunggu Puskesmas.


" Tidak apa-apa bu dokter...!" jawab mereka sambil tersenyum.


" Siang dok...!" sapa suster Hana pengganti suster Reni yang masih cuti melahirkan.


" Eh..iya..siang...!" jawab Sita gugup.


" Maafkan saya dok, maksud saya...." suster Hana merasa bersalah dengan menyapa dokter Sita dengan ucapan selamat siang.


" Tidak apa-apa sus..memang sudah siang kok...!" jawab Sita sambil tersenyum menatap suster Hana. " Oiya suster Hana sendiri sudah berkeluarga...?"


" Sudah dok, anak saya sudah dua, yang satu kelas tiga SD dan yang kecil masih lima tahun...!" jawab suster Hana.


" Senang ya sudah punya anak, jadinya di rumah nggak sepi...!" tukas Sita.


" Iya dok, rasanya lengkap sudah kebahagiaan saya dan suami setelah menikah dan memilik anak. Dokter Sita sendiri sudah berapa lama menikah dengan pak Aditya...?" tanya suster Hana.


" Sudah sepuluh bulan...!" jawab Sita.


" Belum berencana punya anak dok...?"


" Saya dan suami tidak memakai perintang, hanya Tuhan belum mempercayakan kami untuk cepat jadi orang tua, jadinya masih berdua saja di rumah...!" ujar Sita.


" Tapi kan masih bisa honey moon terus bu dokter...kan cuma berdua saja tidak ada yang ganggu...!"


Sita terbatuk mendengar ucapan suster Hana yang benar adanya. Setelah kembali ke Plaju, Aditya selalu meminta haknya hampir setiap hari jika dirinya tidak kedatangan tamu bulanan atau jika mereka sedang berjauhan karena urusan dinas.


" Apa yang saya katakan itu benar kan dok...?" Suster Hana menyeringai.


Seketika Sita pun tersipu malu.


" Saya kan pernah merasakan hal yang sama dok...!" Suster Hana tertawa sambil menatap leher Sita yang terdapat tanda merah disana. Sita terkejut dan merasa malu yang teramat sangat dihadapan suster Hana.


" Suami saya baru saja pulang dari Palembang tadi pagi, jadinya ya..sesiang ini saya baru bisa kemari...!" ujar Sita dengan wajah memerah karena malu.


Suster Hana pun tertawa. " Kamu adam pastinya sama dok, kalau sudah kepingin susah untuk ditolak, kalau coba-coba bisa marah besar mereka...!"


" Iya nih, saya kira hanya suami saya saja sus..taunya sama ya...?" Sita berkata sambil tersenyum.


" Sama saja dok...walau bertahun-tahun menikah, untuk urusan yang satu itu mereka tidak pernah bisa ditolak...!"

__ADS_1


Sita dibuat tertawa terbahak-bahak dengan ucapan suster Hana yang kini menjadi bahan refersnsinya dalam menghadapi Aditya.


" Udah ah..kalau membahas para suami sepertinya tidak akan pernah selesai, ayo panggilkan pasien-pasiennya sus...!"


" Baik dok..!" jawab suster Hana.


Siang itu Sita diantar Rahmat mengunjungi pasiennya di sebuah desa. Sita merasa tenaganya terkuras habis karena menolong pasien yang melahirkan dengan cairan ketuban yang sudah mulai habis. Jika tidak dibantu bidan Elis istri dokter Syarif mungkin si pasien harus dirujuk ke rumah sakit. Walau dirinya adalah seorang dokter namun dirnya bukanlah Bidan yang spesialisasi menangani ibu melahirkan apalagi dirinya sendiri belum pernah merasakan itu semua.


" Cape ya dok..?" Bidan Elis tersenyum menatap dirinya yang merasa sangat lelah tidak seperti biasanya.


" Iya bu, tidak biasanya saya selemas ini...!" jawab Sita.


" Mungkin bu dokter tadi pagi banyak mengurusi banyak pasien jadinya kelelahan...!" ujar Bidan Elis.


" Sepertinya iya bu, hari ini kan hari Senin..!" jawab Sita sambil menyeka keringat yang membasahi wajah cantiknya.


" Oiya tadi bu dokter kemari dengan pak Aditya...?"


" Tidak bu, mas Aditya sedang ada acara di kota Kecamatan, saya kemari diantar Rahmat pakai motor...!" jawab Sita.


" Kalau begitu bu dokter harus cepat pulang karena cuaca mendung, takutnya bu dokter akan kehujanan nanti...!"


" Bu Bidan sendiri...? Sita balik bertanya.


" Oiya dokter Syarif kan sedang mengikuti acara yang sama dengan mas Aditya ya bu...?"


" Iya dok...!" jawab Bidan Elis.


" Kalau begitu saya pulang duluan ya...?" Sita beranjak dari duduknya lalu kemudian menghampiri si pasien yang terlihat lemah usai melahirkan.


" Saya pamit ya bu, disini masih ada bu Bidan yang akan menemani ibu...!"


" Iya bu dokter, terima kasih sudah menolong saya tadi...!" jawab si pasien.


" Sama-sama bu..!" jawab Sita sambil tersenyum tulus pada paisennya itu.


Rahmat segera menstater motornya manakala melihat dokter Sita yang sudah bersiap-siap untuk pulang Bidan Elis ikut mengantar Sita sampai ke halaman. Sita yang hendak melangkah tiba-tiba merasa kepalanya berputar-putar dan pusing sehingga semuanya terasa gelap seketika. Sita pun ambruk dan tak sadarkan diri.


" Dok...bu dokter...?!" Bidan Elis sangat terkejut melihat dokter Sita yang ambruk dihadapannya. Rahmat segera menghampiri dokter Sita dengan gugup karena khawatir dengan keadaannya.


" Tolong..tolong...!" Bidan Elis berteriak meminta tolong warga sekitar untuk membantu membawa Sita ke Puskesmas.


PUSKESMAS PLAJU

__ADS_1


" Sayang..kamu sudah bangun...?"


Sita membuka kedua matanya. Dilhatnya Aditya sudah ada dihadapannya dengan wajah cemas.


" Mas....?!"


" Ini aku sayang...!" jawab Aditya sambil mengecup kening Sita berkali-kali.


" Sita dimana mas...?" tanya Sita liirh.


" Kita ada di Puksesmas, kamu tadi pingsan selepas menolong pasien yang melahirkan. Kamu ingat...?"


" Iya mas, Sita ingat. Tetapi mengapa Sita ada disini...Sita hanya kecapean saja kok...!" Sita berkata sambil berusaha untuk duduk dari posisi tidurnya.


" Sst..sayang..sayang, kamu harus banyak istirahat. Tidurlah dulu...!" Aditya segera merebahkan tubuh Sita kembali ke atas bantal.


" Tidak mas, Sita hanya kecapean saja. Kita pulang saja...!"


" Ibu hamil harus banyak istirahat..jangan kecapean..kasihan janin anda dok...!" tiba-tiba dokter Syarif dan Bidan Elis menghampiri sambil tersenyum memperlihatkan hasil lab.


" Maksud anda....?" " Sita sedang hamil dok...?" Aditya yang baru mengetahui kabar kehamilan istrinya itu terbelalak tak percaya.


" Dokter Sita sedang mengandung buah hati kalian berdua...!" ujar dokter Syarif.


" Usia kehamilannya saya perkirakan baru lima minggu...!" Bidan Elis ikut menimpali ucapan suaminya.


" Sayang...kamu hamil...kamu mengandung anak kita...!" " Kita akan jadi ayah dan ibu sayang...kamu senang kan..kamu bahagia kan sayang...?" Aditya berkata sambil menghampiri Sita yang tersenyum melihat rekasi Aditya yang mengetahui kehamilan dirinya.


" Iya mas, Sita bahagia..teramat bahagia...!" jawab Sita.


" Sayang...!" Aditya segera memeluk erat wanita yang dicintainya itu. Diciumnya berkali-kali kening Sita untuk meluapkan kebahagiaannya karena akhirnya Sita mengandung benihnya.


" Mas...malu...lihat itu dokter Syarif dan Bidan Elis melihat kita...!" ujar Sita sambil menahan bibir Aditya agar berhenti mengecupnya.


" Biar saja...!" jawab Aditya.


" Wah...selamat ya...kalian akan jadi ayah dan ibu...!"


" Terima kasih dok..terima kasih bu bidan...!"


" Sama-sama dok...!" " Oiya obatnya tolong dimakan sekarang ya...dan kita pamit pulang karena hari sudah malam...!"


" Baik dok..trima kasih..!" Aditya menyalami keduanya dengan perasasaan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2