Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 51 ( Keterkejutan Aditya )


__ADS_3

Aditya menarik nafas panjang, dirinya benar-benar tak menyangka jika seseorang yang selama ini telah dianggap sebagai saudaranya sendiri berani melakukan tindak kejahatan yang merugikan perusahaan negara yang dipimpinnya. Setelah sekian lama mengumpulkan bukti-bukti akhirnya Aditya dapat menyimpulkan pelakunya berdasarkan bukti-bukti itu.


" Sayang....?!"


" Iya mas...!" Sita menjawab panggilannya.


Tak lama kemdian Sita muncul dihadapannya sambil memegang serok wajan karena sedang membuat cemilan di dapur. Aditya tersenyum melihatnya.


" Lho kok malah tersenyum, ada apa...?" Sita merasa heran melihat senyum Aditya.


" Kamu semakin cantik jika sedang memasak...!" Aditya berkata sambil mendekatinya. Sita yang menangkap gelagat suaminya segera mundur. " Jangan macam-macam Mas..nanti makanan Sita gosong nih..!"


" Siapa bilang macam-macam, paling juga satu macam..!" jawab Aditya sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Ih, nggak deh mas...!" sahut Sita sambil tersenyum geli melihat seringai suaminya.


Aditya semakin mendekati Sita, Sita pun setengah berlari menuju dapur, namun dirinya kalah cepat, pinggangnya telah berhasil diraih Aditya lalu membawanya kedalam pelukan hangatnya.


" Cup..!" Aditya mencium bibir Sita.


Sita terperangah, wajahnya merah padam dengan apa yang dilakukan Aditya sedangkan bu Tuti yang baru saja kembali dari pasar melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan, hanya tersenyum dan pura-pura tidak melihat.


" Mas...!!!" Sita melebarkan pupil matanya menolak keinginan Aditya yang hendak menciumnya kembali.


" Ok..ok...tidak sekarang juga...!" ujar Aditya sambil menyeringai.


" Baguslah...!" ujar Sita sambil membalikan pisang goreng di atas wajan.


" Yang...mas akan mengajak staf kemari, boleh kan...?" Aditya berkata kini dengan mimik serius.


" Maksud mas, teman kantor ...?" tukas Sita sambil menatap suaminya.


" Iya, tapi nggak banyak kok, hanya empat orang saja, gimana...boleh kan...?"


" Tentu saja mas, Sita tidak mempermasalahkan banyak orangnya hanya saja Sita kan harus menyiapkan makanan untuk staf mu itu !" ujar Sita sambil tersenyum.


" Wah keenakan mereka kalau disiapkan makanan, enggak..enggak..seadanya aja...!" tukas Aditya.


" Mas ini, memuliakan tamu itu sama saja dengan memuliakan kita sendir bukan...?" Sita berkata dengan tegas. Aditya tertohok seketika, dirinya tidak menyangka jika Sita menyikapinya dengan bijak. Sengaja dirinya tadi berkata seperti itu bukan maksud untuk menguji tetapi mengingat dirinya dan Sita berbeda suku sehingga perlu saling memahami jika terjadi perbedaan. Namun kedewasaan ternyata tidak terlihat dari usia, Sita yang masih muda tetapi memiliki pemikiran yang dewasa.


" Mas tidak salah memilihmu cantik...!" Aditya berkata sambil mengecup kening Sita dengan mesra. Sita terperangah mendapat kecupan Aditya yang tiba-tiba.


Bu Tuti tersenyum bahgaia melihat kemesraan Sita dan Aditya dari balik jendela dapur


Seperti yang dijanjikan, di sore hari kediaman mereka kedatangan Hendra, Joko, Heryaman dan Bisma. Mereka merasa senang dan nyaman melihat keramahan budi bahasa istri dari atasan mereka, Sita mempersilahkan mereka dengan begitu ramahnya.


" Trimakasih bu dokter cantik..!" Joko berkata sambil tersenyum menatap Sita.


" Heh..tau diri, pemilknya melotot tuh...!" ujar Heryaman.


Joko menyeringai melihat Aditya yang menatap dirinya dengan sorot mata tajam.


" Apa gua bilang...!" Heryaman menyenggolkan bahunya ke bahu Joko. Joko menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


" Eh elu Bis, kenapa dari tadi elu diem aja, biasanya elu bantuin gua...?" Joko merasa heran melihat Bisma yang tidak banyak bicara tidak seperti biasanya. Bisma menjawabnya dengan senyuman.

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang sebentar, Aditya akhirnya berbicara serius dihadapan stafnya itu.


" Teman-teman yang saya banggakan, sengaja saya mengundang kalian semua kemari untuk meminta bantuan kalian untuk memecahkan masalah perusahaan." Semua orang terdiam seketika mendengarkan apa yang dibicarakan pimpinan mereka. " Seperti yang kalian ketahui semua jika saya sebagai pimpinan disini sudah memberikan tiga kali surat permintaan pengadaan pipa baru ke kantor cabang di Palembang. namun hingga saat ini, tidak ada jawaban. Saya mengeceknya langsung ke kantor cabang dan ternyata mereka sudah membuat surat balasan bahwa mereka segera mengirmkan pipa. Sayangnya surat itu tidak pernah saya terima hingga hari ini. Saya cek di buku keluar masuk surat juga tidak ada. Pada mulanya saya kira surat itu terselip sehingga tidak terbaca oleh semuanya, tetapi ...saya menemukan ini...!"


Semua orang terlihat terkejut melihat berkas-berkas yang diperlihatkan Aditya yang berisi bukti-bukti adanya kecurangan yang diperbuat orang dalam perusahaan mereka sendiri.


" Bagaimana bisa..siapa pelakunya...?" tanya Heryaman sambil menatap tajam ke semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Mana gua tau...!" ujar Joko.


" Aku..aku juga tidak tau...!" jawab Bisma.


" Kita semua harus menyelidiki siapa pelakunya, jika dibiarkan karier kita sendiri akan hancur karena sebentar lagi pipa-pipa itu akan meledak, artinya kita semua sedang menunggu bom waktu saja...!" tuka Hendra dengan wajah serius.


Seketika suasana pun hening, semua terfokus pada fikiran mereka masing-masing.


" Saya sudah tau pelakunya, hanya saya minta bantuan kalian untuk menacari kebenarannya karena saya takut salah karena saya ini manusia biasa, saya tidak ingin menimbulkan fitnah....!"


" Tapi pak, dari bukti-bukti yang bapak dapatkan, saya kira pelakunya yang bapak duga itu memang orangnya...!" sahut Joko.


" Benar pak apa yang dikatakan Joko...!" Heryaman ikut menambahkan.


Aditya mengehela nafasnya dalam-dalam. " Kalian cari tau tentang kebenarannya secara menyeluruh nanti kalian laporkan pada saya hasil temuan kalian itu. Tapi ingat, jangan menyebar fitnah, saya percaya pada kalian semua kalau kalian adalah orang kepercayaan saya dan perusahaan. Karena saya yakin pelakunya memiliki alasan yang kuat melakukan itu semua ...!" ujar Aditya.


Sita yang menyimak pembicaraan suaminya dengan para stafnya merasa senang karena ternyata Aditya orang yang hati-hati danĀ  bijak dalam menghadapi persoalan padahal suaminya itu sudah mengetahui siapa pelakunya yang ada diantara mereka yang hadir di ruangan itu.


PUSKESMAS PLAJU


" Wah pengantin baru...apa kabar...?" sapa dokter Syarif saat melihat Sita dan Aditya di pelataran Puskesmas.


" Alhamdulillah baik...!" jawab dokter Syarif sambil tersenyum. " Oiya dokter Sita tidak diantar Rahmat sekarang...?"


" Tidak dok, kebetulan Rahmat ikut sekolah Kejar Paket B, jadinya saya diantar mas Aditya...!" jawab Sita.


" Jadi pak Aditya ini mengantar kemari lalu balik lagi ke tempat pengilangan...?" Dokter Syarif mengernyitkan dahinya.


" Iya dok, tapi tak apa, saya senang-senang saja kok mengantar istri cantik saya ini...!" tukas Aditya sambil melirik Sita yang tersipu karena pujian yang dilontarkan suaminya itu.


" Pastinya...!" jawab dokter Syarif sambil tertawa lebar melihat kerlingan Sita dan Aditya.


Semua orang yang berada di koridor Puskesmas tampak terkejut mendengar ucapan dokter Syarif mengenai status pernikahan dokter pujaan mereka dengan Aditya yang menjadi kebanggaan masyarakat Plaju.


" Sudah banyak pasien kita dok, mari...!"


" Oiya, saking asyiknya ngobrol...!" tukas dokter Syarif.


" Kalau begitu saya permisi dok...!"


" Iya pak Aditya..silahkan...!"


" Hati-hati mas...!" Sita berkata pada suaminya.


" Tentu saja..!' Aditya berkata sambil mengusap bahu Sita lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.


" Pak Aditya, bisa kita bicara sebentar...!"

__ADS_1


Aditya terkejut karena mendengar suara seseorang.


" Kamu Bisma, saya kira siapa...?"


" Iya pak, saya..saya ...ada perlu dengan bapak, bisa kita tidak bicara disini pak...?"


" Tentu, kita akan cari tempat lain...!" jawab Aditya.


WARUNG NASI MBAK DWI


" Duduklah, mau makan apa...?"


" Tidak pak, saya sudah sarapan tadi...!" jawab Bisma.


" Kalau begitu kita minum kopi saja, bagaimana...?"


" Iya pak...!" Bisma menyetujui usulan atasannya itu. Bisma tak dapat menyembunyikan kegugupannya saat bertatapan dengan Aditya. Namun niatnya sudah bulat.


" Ada apa Bisma...?" tanya Aditya. Bisma terkejut dari lamunan sesaatnya.


" Begini pak, saya..saya bermaksud untuk...." Bisma merasa lidahnya kelu untuk berkata-kata. Aditya menyorot tajam kedua bola mata Bisma. Bisma semakin gelisah dibuatnya.


" Maksudmu apa Bisma...?'


" Anu pak..saya..saya mau mengundurkan diri dari perusahaan pak...!" jawab Bisma sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


" Boleh saya tau alasannya...?" tukas Aditya.


" Mm...ibu saya sakit keras pak dan saya ..saya harus secepatnya pulang ke Jember dan saya tidak tau kapan saya bisa kembali kemari. Saya ini tulang punggung keluarga oleh karena itu saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi mengurusi ibu saya saja...!"


Aditya terdiam sambil mencoba mencerna jawaban yang diberikan Bisma.


" Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu Bisma, saya tidak bisa memaksa. Tapi satu hal, saya ingin itu adalah jawaban jujur kamu agar kamu tidak menyesalinya dikemudian hari. Dan satu hal lagi...saya kira kita berdua ini bukan hanya rekan kerja tapi lebih dari saudara, sahabat, sudah seharusnya kamu berbagi masalah dengan saya atau dengan yang lainnya. Tidak perlu kau tangani sendiri jika memang tidak sanggup. Saya dan yang lain sudah menganggapmu sebagai adik kita sendiri, kamu tau itu kan...?"


Bisma terduduk dan terdiam, apa yang dikatakan atasannya itu benar adanya. Dirinya merasa sangat malu dengan apa yang telah diperbuatnya.


" Saya minta maaf pak...!" Bisma berkata sambil menangis.


Aditya membiarkannya, membiarkan Bisma menangis untuk mengeluarkan masalahnya.


" Saya telah berbuat curang pak, saya minta maaf...saya melakukannya karena terpaksa, uang gajih saya selalu habis untuk dikirmkan pada ibu dan bapak di Jember,orang tua saya itu kena tipu orang pak, bapak saya seorang ...seorang penjudi, bapak menggadaikan rumah ke rentenir dan tidak mampu membayarnya hingga terpaksa diseret keluar dari rumah. Saya tidak tau harus berbuat apa saat mendengar semua itu, harus marah atau harus bersedih...bagaimanapun dia itu adalah bapak kandung saya sendiri, dan ibu juga tetap harus diselamatkan agar tidak jadi gelandangan karena tak sanggup pula membayar sewa kontrakan. Saya bingung pak, hingga saya terbujuk rayuan setan untuk menggelapkan data-data perusahaan. Pipa yang dikembalikan itu adalah pipa yang diberikan kantor cabang saya buat supaya bapak sebagai pimpinan menolak karena kualitasnya yang tidak sesuai padahal semua itu tidak benar. Saya menggunakan uang perusahaan untuk membeli pipa dari sebuah perusahaan swasta dengan harga yang lebih murah tetapi dihargakan sama dengan harga pipa dari kantor cabang. Saya memilki keuntungan tapi uang itu sudah saya pergunakan untuk membelikan rumah orang tua saya pak...!"


" Lalu dimana sekarang pipa yang kamu beli itu...?" tukas Aditya.


" Masih saya simpan di gudang pak, karena saya belum berani memasangnya karena Jiman dan yang lain akan tau karena kualitasnya yang lebih rendah dari yang ada, saya minta maaf pak...saya mengaku salah....saya akan menggantinya jika saya sudah memiliki pekerjaan baru...!" jawab Bisma.


Aditya kembali terdiam menatap tajam Bisma yang tak lagi mampu menahan derai air matanya yang mengucur deras.


" Bisma..kamu tidak perlu mengundurkan diri dari perusahaan. Kita semua bisa menyelesaikan masalahmu, Hendra akan memberikanmu pinjaman bukan dengan cara yang kamu lakukan itu. Kalau yang ada dalam fikiranmu hanya masalah kebocoran dan kerugian negara kamu salah, kamu bisa bayangkan nyawa kami saudara-saudara kamu sendiri. Apa kamu setega itu Bisma...?"


" Maafkan saya pak..maaf...saya memang tidak berfikir panjang..tolong maafkan saya...!" Bisma kembali menyesali perbuatannya itu dihadapan Aditya.


" Kembalilah ke ladang pekerjaan kita Bisma, kembalilah..kita selesaikan masalahmu...aku dan kita semua ada untukmu..selalu ada...karena kamu adikku...!"


" Pak Aditya...pak...!" Bisma segera menghambur ke pelukan Aditya sambil menangis kencang. Dirinya merasa malu sekaligus bahagia dengan keputusan atasannya itu. " Trima kasih pak..trima kasih...!"

__ADS_1


" Berterima kasihlah pada Tuhan Bisma, kita semua ada karena kuasa Tuhan...!" jawab Aditya sambil menepuk pundak Bisma.


__ADS_2