
" Sita....?"
" Iya bu..." Sita yang sedang melipat kemeja Aditya segera menghampiri bu Fatma yang memanggil dirinya. " Ada yang bisa Sita bantu bu....?"
Bu Fatma tersenyum pada menantunya itu. " Tidak nak, ibu memangil mu kemari untuk memberikan ini untukmu...!" tiba-tiba bu Fatma mengeluarkan sesuatu dari dompet kecil miliknya.
" Apa ini bu...?" Sita terkejut melihat sebuah cincin yang dikeluarkan ibu mertuanya itu.
" Ini adalah cincin pemberian ibu mertua ibu dulu, ketika ibu dan bapaknya Aditya menikah. Sekarang cincin ini ibu berikan untukmu, terimalah...!" bu Fatma meraih jemari tangan Sita lalu memakaikan cincinya itu di jari manis Sita.
" Bu..ini cincin ibu, kenapa ibu berikan pada Sita...?" tanya Sita sambil menatap tajam bu Fatma.
" Almarhum bapak pernah berpesan dulu ketika Aditya lahir, jika cincin ini harus diberikan pada istrinya kelak sebagai lambang kesetiaan. Terimalah nak...ibu tidak memiliki apa-apa untuk diberikan pada kalian berdua, hanya ini saja, tapi percayalah ibu akan selalu mendo'akan agar rumah tanggamu dan Aditya selalu bahagia dunia dan akhirat !" Bu Fatma berkata sambil mengusap wajah Sita.
" Bu...terima kasih, tidak ada yang lebih berharga du dunia ini selain doa ibu, karena Sita faham jika surga mas Aditya ada di telapak kaki ibu...!" Sita berkata sambil memeluk erat ibu mertuanya. Tangisannya pecah seketika karena merasa haru mendapat perlakuan sedemikan rupa dari bu Fatma.
" Sama-sama nak, ibu merasa bahagia karena Aditya tidak salah memlih istri...!" ujar bu Fatma. Sita tersenyum bahagia begitupun dengan bu Fatma.
" Bu..mobilnya sudah siap, bisa kita berangkat sekarang...?" Nida telah berada di ambang pintu kamar untuk memberi tahu kendaraan yang akan membawa mereka kembali ke Bandung telah siap berangkat.
" Tentu saja...!" jawab bu Fatma sambil menganggukkan kepalanya.
" Bu...!" Sita kembali memeluk ibu mertuanya. Walau belum lama saling mengenal tetapi dirinya sudah merasakan ikatan batin diantara mereka berdua.
" Kapan-kapan ibu kemari lagi...!"
" Kapan itu bu...?" tukas Sita.
" Nanti kalau cucu ibu sudah ada disini...!" jawab Bu Fatma sambil mengelus perut Sita. Sita pun tersenyum dan tersipu malu.
" Kak Sita cepat beri kami ponakan yah...?" ujar Nida.
" Aamiin...!" jawab Sita sambil tersenyum lebar.
Aditya memeluk erat ibu nya. Air mata tergenang di pelupuk matanya melepas kepergian ibu dan kedua adiknya serta keluarganya yang lain.
" Maaf Aditya tidak bisa mengantar ibu pulang...!"
" Tidak apa-apa, masa pengantin harus mengantar. Kamu dan Sita baik-baik disini, jaga kesehatan dan secepatnya beri ibu cucu..!" tukas bu Fatma.
" Siap bu...!" " Aditya akan berikan ibu cucu yang banyak...!" jawab Aditya sambil tersenyum melirik Sita yang berdiri di sampingnya. Sita merasa jenggah dengan jawaban Aditya, dengan cepat di cubitnya pinggangnya itu.
" Tuh bu, Sita minta lima malah...!" Aditya kembali menggoda Sita dengan ucapannya.
__ADS_1
" Enam saja kak biar sekalian bikin grup volly...!' tukas Sofa sambil menyeringai.
" Siap, akan dicoba lagi malam ini...!"
" Mas Aditya...!" kali ini Sita mencubit Aditya dengan kencang. Wajah cantiknya merah delima menahan rasa malu dihadapan banyak orang. Sofa dan Nida pun tertawa terbaha-bahak. Bu Fatma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kemesraan Aditya dan Sita.
" Mas ini bikin Sita malu saja di depan ibu...!" Sita berkata sambil menatap Aditya yang menanggapinya dengan santai dengan tersenyum.
" Ibu juga pernah muda sayang, tidak mas katakan pun ibu sudah tau kalau kita sudah melakukan hubungan suami istri tadi malam...!" tukas Aditya sambil menatap lurus ke depan.
" Mas ini ih..!" Sita merasa jengkel karena suaminya tidak merasa terganggu dengan ucapannya.
" Apa, mau lagi..ayo...!" Aditya mendekatkan telinganya, pura-pura mendengar sesuatu yang diucapkan Sita.
" Lihat jalan mas...!" Sita mendorong bahu Aditya.
Aditya tertawa terbahak-bahak. Seketika wajah Sita pun merah merona karena kecupan bibir Aditya di pipinya.
Keduanya kini sedang berada di perjalanan menuju Plaju. Harun yang diutus Sultan Mahmud mengantarkan mereka berada di depan dengan kendaraan yang berbeda karena Aditya membawa serta taft miliknya saat ke Palembang untuk persiapan pernikahannya.
Setelah lima jam perjalanan yang mereka tempuh akhirnya mereka pun tiba di sebuah kawasan tambang minyak di pedalaman Plaju dimana Aditya sudah menyiapkan sebuah rumah dinas yang akan ditempatinya bersama Sita.
" Itu Rahmat dan bu Tuti kan mas...?" Sita merasa heran melihat Rahmat dan bu Tuti sudah berdiri di halaman sebuah rumah sederhana berpagar bambu.
" Oiya...syukurlah...Sita sudah kangen mereka...!" ujar Sita sambil tersenyum.
Aditya membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya itu. Bu Tuti segera memeluknya begitupun dengan Rahmat
" Selamat datang kembali bu dokter...!"
" Iya bu..terima kasih...!" jawab Sita sambil tersenyum bahagia mendapat sambutan dari orang yang selama ini membantu dirinya.
Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan beberapa orang pria berhelm dan berpakaian yang sama dengan gambar kuda laut di saku kemeja mereka yang menghampiri dirinya dan Aditya sambil meniupkan terompet serempak sambil mengucapkan selamat.
" Ha...ha...ha....!" Aditya tertawa melihat kejutan yang diberikan sahabat-sahabatnya itu.
" Thank you kawan...!" Aditya berkata kencang. Sahabat-shabatnya itu pun segera menghampirnya sambil mengucapkan selamat.
" Selamat datang di kandang jurang kami dok...!" Joko yang pandai melucu segera menghampiri Sita.
" Tepatnya, kandang kaum Adam bu dokter...!" tukas Bisma sambil mnyeringai.
Sita tertawa melihat kelucuan mereka.
__ADS_1
" Selamat datang dokter Sita....!"
" Hai, apa kabar mas Hendra...?" sapa Sita melihat kedatangan Hendra yang sudah akrab dengannya.
" Baik-baik saja...!" jawab Hendra sambil tersenyum senang melihat Sita dan Aditya. " Gimana malam pertamanua sukses nggak Dit...?" tiba-tiba Hendra bertanya.
" Sukses bikin istriku ini kesakita bro...!" ujar Aditya. " Aduh...!" Aditya meringis karena mendapatkan cubitan kembali dari Sita di kulit pinggangnya.
" Waduh...!" Joko dan Bisma terkejut sekaligus senang mendengar apa yang dibicarakan Hendra dan Aditya. Disikutnya bahu Bisma. Bisma pun tersenyum.
" Jebol juga akhirnya pertahanan ibu kota ...!"
" Ha...ha..ha...!" Bisma ikut tertawa mendengar apa yang diucapkan Joko.
" Hei kalian berdua, kalian bergosip dibelakang kita...!" Aditya mendekati Joko dan Bisma.
" Ampun pak ampun...!" Joko dan Bisma meringis mendapat cubitan Aditya di bahu mereka. " Kita berdua cuma berkata sambil membayangkan apa yang bapak dan bu dokter lakukan tadi malam...!" Joko kembali iseng menjawab pertanyaan Aditya.
" ***** lu berdua...!" tukas Aditya
Joko dan Bisma nyengir. Hendra dan Aditya pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Sayang...?' Aditya melirik ke samping mencari sosok Sita yang tadi berdiri di sampingnya.
" Istrimu sudah masuk ke dalam, wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena digoda mereka semua...!" tukas Hendra.
" Ndra...!"
Hendra menghentikan langkahnya sejenak untuk menatap Aditya yang baru saja memanggilnya.
" Kamu pernah dengar bagaimana rasa sakit saat pertama kali melakukan hal itu..?" tanya Aditya tiba-tiba. Hendra seketika terkejut.
" Mana ku tau Dit, kamu tanya saja sama perempuan lain gimana sakitnya itu. Lha aku kan belum pernah juga, lha aku kan cowo...!"
" Masa iya sih Ndra...!" tukas Aditya.
" Terus maumu apa...?" tanya Hendra.
" Aku..aku mau lagi dong Ndra, tapi aku khawatir jika Sita akan kesakitan lagi, sampai susah jalan lho Ndra...!"
Hendra tertawa terbaha-bahak mendengar kepolosan jawaban sahabatnya itu.
" Elu malah ketawa ...!" Aditya mendengus kesal.
__ADS_1
Kamu coba lagi aja Dit, barangkali enggak...!" Hendra kembali tertawa sambil melangkah dan membiarkan Aditya menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal/