Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 25 ( Kesedihan )


__ADS_3

    KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


    " Sundal kau Sita....!!!" " Plakk....!!!!"


    Sita meringisn menahan sakit manakala sang ayah menampar wajahnya dengan kencang.


    " Apa maksud ayah, Sita dan mas Aditya tidak melakukan apa-apa, sumpah demi Tuhan ayah...!" Sita berkata sambil menangis kencang. Hatinya terasa sangat sakit melebihi rasa sakit di pipinya sekarang ini. Tamparan tangan ayahnya terlihat jelas di wajahnya. Nyonya Zubaidah dan Mak Qayah hanya bisa mengurut dada dan diam-diam menitikkan air mata melihat apa yang dilakukan Sultan Mahmud pada Sita.


    " Bagaimana kalau sampai Zaini tau kau tidur dengan pria lain, mau aku taruh dimana mukaku ini..heh...?!!!" Sultan Mahmud kembali berkata sambi menunjuk wajahnya. " Mulai hari ini dan seterusnya, aku haramkan keluargaku ini dari yang namanya Aditya itu...jika ada yang berani melawan atau memberi peluang dia ini ketemu dengannya kembali, aku tidak akan segan-segan menyuruh orang untuk memasukkan Aditya ke penjara dengan tuduhan melarikan orang lain tanpa izin...!"


    Sita kembali menangis kencang, bayangan wajah Aditya yang berusaha mengejarnya sambil menahan rasa sakit terbayang jelas dalam ingatannya. Dan kini jika ucapan ayahnya benar dilakukan, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana kekasihnya itu berada di balik jeruji sedangkan ibu dan kedua adiknya bergantung padanya. Kini dirinya pun berlari kencang menuju kamarnya lalu menumpahkan kesedihannya diatas bantal.


    KEDIAMAN ZAINI


    " Wa'alikumsalam Sultan...!" Zaini mendapat telpon dari calon mertuanya. Dirinya segera beranjak menuju balkon rumahnya dengan tubuh setengah telanjangnya. Seorang wanita cantik menatapnya dari atas ranjang sambil menghisap rokok putihnya.


    " Baik Sultan, tak apo, saya faham kalau memang Sita sakit, mana mungkin dapat dipaksakan pula, lagian saya pun masih di Amerika ini, mungkin pekan depan saya baru bisa bertandang ke rumah Sultan. Sampaikan salam saya untuk Sita, semoga lekas pulih sajo...!" Zaini berkata di telpon dengan seriusnya sambil memberikan alibi agar calon mertuanya itu yakin jika dirinya sedang di luar negeri.


    " Siapa yang menelponmu Zai...?"


    " Kawan,..!" jawab Zaini sambil memandang wanita cantik yang juga menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


    " Kau sebut nama Sita tadi, wanita mana lagi itu...?" tanya wanita itu dengan nada sinis. Hisapan rokoknya terlihat dalam.


    " Dia anak kawanku itu yang akan aku nikahi...!" jawab Zaini dengan santainya.


    " What...??!!!"


    " Ssst jangan marah dulu dong sayang...!" Zaini segera menghampiri wanita itu.


    " ******** kamu Zai....!"


    " Dengarkan aku Ran, kamu wanita yang aku cintai di dunia ini, bukan dia. Kamu jangan khawatir aku akan menduakan cintamu sayang...aku berani bersumpah...!" Zaini mencoba menghindari pukulan bantal dari wanita bernama Rani.


    " Hei...hei...jangan marah dulu...!" Zaini berkata sambil menarik lengan kekasihnya. Rani yang kalah tenaga akhirnya pasrah berada di bawah himpitan tubuh Zaini. " Aku bersumpah...!" ujar Zaini.


    " Kalau aku hamil anakmu sekarang ini, apa kau masih ingin melanjutkan pernikahan  kamu itu....?" tanya Rani kemudian. Dipandanginya wajah Zaini di hadapannya.


    " Itu pernikahan bisnis, aku lakukan itu demi kamu juga sayang, kamu tau sekarang bagaimana perusahaanku..kacau semua, kalau aku tak menikahi wanita itu, hancurlah semua bisnis ku tak bersisa..kamu faham kan sayang...?" Zaini berkata sambil mengecup kening Rani.


    " Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, bagaimana kalau aku hamil anakmu sekarang ini...?" Rani kembali berkata kini dengan suaranya  yang tegas,


    " Tapi kamu tidak hamil sungguhan kan...?" tukas Zaini kemudian.

__ADS_1


    " Aku hamil empat minggu, ini adalah benihmu Zaini...!!" ujar Rani.


    Seketika wajah Zaini pun pucat pasi mendengar pengakuan kekasihnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar semua itu.


    " Gugurkan...!"


    " Apa..??!!!" " Tidak Zai..aku tidak akan menggugurkannya...!" Rani tecengang mendengar jawaban Zaini yang menyuruhnya mengugurkan kandungannya. Diusapnya perutnya yang masih terlihat rata. " Aku tidak akan pernah melakukannya, kamu dengar itu...!"


    " Tapi aku akan menikah sebentar lagi, kamu tau itu kan Ren...?" Zaini terlihat gusar, keringat mulai membasahi wajahnya.


    " Kamu bilang itu adalah pernikahan bisnis, kamu yang kamu cintai hanya aku, jadi apa masalahnya kalau aku mempertahankan kandunganku ini..?"


    " Lalu apa maumu sekarang...?" tanya Zaini sambil menatapnya tajam.


    " Aku ingin anakku lahir memiliki ayah dan ibu lengkap. Kamu harus nikahi aku juga...!" jawab Reni tegas.


    " Nggak bisa dong Ren...kamu jangan gitu...!!" Zaini mencoba merayu kekasihnya.


    " Nggak, pokoknya kamu harus nikahi aku tuan Zaini, kalau tidak akan aku bongkar semua ini ke publik atau ke telinga kawanmu itu, Sultan Mahmud bukan....ha..ha..ha...?" Reni tertawa terbahak-bahak melihat Zaini tampak gelisah.


    " Jangan..jangan...aku akan nikahi kamu secepatnya, ok...?!" tukas Zaini. Reni pun tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2