Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 44 ( Hari pertama )


__ADS_3

Suara ayam jantan berkokok membangunkan Sita dari tidur nyenyaknya. Sita menggeliatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan linu di sekujur tubuhnya. Sita hampir menjerit kencang melihat seorang pria bertelanjang dada tidur di sampingnya. Untunglah kejadian semalam diingatnya kembali, Sita pun tersenyum seketika dan merasa malu sendiri. Dipandanginya wajah Aditya lalu diusapnya pelan. Tanpa terasa air mata Sita pun menetes, peristiwa demi peristiwa yang telah dilaluinya bersama Aditya membuatnya semakin mencintai sosoknya. Kini semua itu telah dilaluinya, cinta mereka telah bersatu di dalam mahligai pernikahan.


Aditya merasa terusik manakala pipinya dibelai seseorang. Dengan kedua mata yang masih kesat dilihatnya sosok wanita pujaan hatinya itu tengah memandangnya dengan senyum manisnya.


" Pagi mas...!"


" Pagi sayang, jam berapa ini...?" tanya Aditya.


" Bangunlah, kita mesti solat subuh bukan...?" tukas Sita.


" Mm..baiklah Nyonya Aditya...!" jawab Aditya sambil mengucek kedua matanya. Sita pun tersenyum geli mendengar suaminya menyebut Nyonya Aditya padanya.


" Lho kok malah tersenyum, benarkan kalau sekarang kamu adalah Nyonya Aditya Nugraha dokter Sita...?"


Sita kembali tertawa. " Iya mas...Sita sekarang milik mas Aditya...!" ujarnya.


" Semuanya ...?" tanya Aditya dengan wajah serius.


" Iya...!" jawab Sita.


" Tanpa terkecuali...?" tukas Aditya kembali.


" Iya mas Aditya...!" Sita merasa gemas dengan pertanyaan suaminya itu, Dicubitntnya perlahan pipi Aditya yang berhiaskan cambang.


" Kalau semua itu milikku, maka aku minta lagi sekarang...!" Aditya berkata sambil memeluk pinggang Sita. Sita pun menjerit kencang dan mencoba meronta dari pelukan Aditya.


" Mas..lepas...!!"


" Katanya semua ini milik suamimu ini, masa pemiliknya minta nggak boleh...!" ujar Aditya tanpa melepaskan pelukannya.


" Iya...iya, tapi nggak sekarang, kita kan harus mandi dan sholat subuh...!" tukas Sita cepat karena Aditya mencium bahunya yang terbuka karena belum sempat berpakaian kembali.


" Kapan dong...?" tanya Aditya.


" Besok malam...!" jawab Sita menyeringai.


" Kelamaan...!" ujar Aditya.


" Kok kelamaan, baru saja hitungan jam. Mas bilang lama...!"


" Masih mau nih...!" Aditya menyondongkan kepalanya. Sita pun segera menahannya.

__ADS_1


" Jangan sekarang...!" tukas Sita.


" Habis sholat subuh ya yang...?" Aditya merengek seperti anak kecil yang meminta mainan. Sita tertawa melihat kelucuan suaminya di pagi pertama mereka menjadi suami istri.


" Kok nggak dijawab...?"


" Iya..iya..!" jawab Sita sambil tersipu.


" Yes...!" Aditya segera duduk dan beranjak. Diraihnya kimono batik untuk menutupi tubuh telanjang bulatnya.


" Aduhh...!"


Aditya yang baru saja berjalan seketika menghentikan langkahnya menakala melihat Sita tampak meringis dan mengaduh. Bercak-bercak darah terlihat jelas di seprei putih ranjang pengantin mereka. Seketika Aditya pun tersenyum dan menyadari apa yang terjadi pada Sita. Wajah cantiknya terlihat kesakitan sambil menekan bawah perutnya. Aditya segera menghampirinya sambil menutupkan kimono ke tubuh Sita.


" Masih sakit ya...?" tanya Aditya sambil menatap Sita.


Sita mengangukkan kepalanya.


" Mas gendong saja ya ke kemar mandinya...?"


" Nggak mas, nggak usah...!" Sita menolak tawaran Aditya. " Sita bisa jalan kok...sana mas ke kamar mandi duluan...!"


" Iya mas, nggak apa-apa...!" Sita berusaha meyakinkan Aditya.


" Baiklah, mas mandi duluan ya..?"


" Iya..!" jawab Sita. Aditya pun tersenyum.


Sita mengenakan kimono pemberian Aditya lalu memakainya. Perlahan dirinya berdiri, rasa perih di selangkangannya makin terasa saat dirinya berjalan. Ketika hendak melipat selimbut, Sita terkejut melihat bercak darah di atas seprei yang baru dilihatnya. Namun tak lama kemudian dirinya pun tersenyum karena menyadari semua itu akibat dari apa yang dirinya lakukan bersama Aditya.


Mak Qayah tengah berkutat di dapur bersama seorang pembantu. Melihat kedatangan Sita, mak Qayah segera menyapanya.


" Pagi tuan putriku, ada yang bisa mak bantu....?"


Sita tersenyum sambil mendekati wanita kesayangannya itu lalu dipeluknya.


" Bagaimana semalam, sudah...?" tanya Mak Qayah sambil menatap Sita yang tersipu malu.


" Ah mak Qayah ni, Sita mau buatkan mas Aditya kopi...!" Sita melepaskan pelukannya agar menghindari pertanyaan mak Qayah yang membuatnya jenggah.


" Ini cangkirnya nona, dan ini kopi dan gulanya...!" ujar Inah pembantu mereka.

__ADS_1


" Trima kasih Inah...!"


" Sama-sama nona...!" " Oiya untuk kopi air panasnya di dalam thermos ini...!" ujar Inah sambil menunjukkan thermos yang dimaksud. Sita pun mengangukkan kepalanya.


" Apa yang mau kau sembunyikan Sita, wangi shampoo masih bisa mak cium dari balik rambutmu ini...!"


Sita kembali membalikan tubuhnya. Apa yang diucapkan mak Qayah benar adanya, dirinya tidak dapat menyembunyikan apapun dari matanya yang jeli.


" Mas Aditya telah meminta hak nya, Mak...!" ujarnya kemudian.


" Sudah Mak duga..!" ujar Mak Qayah sambil tersenyum. Bibirnya telihat lebar melihat rona merah terlihat di wajah cantik Sita. " Kau berikan...?!"


Sita menganggukkan kepalanya.


" Lantas apa yang kau sembunyikan, apa ada yang membuat kau atau Aditya kecewa....?"


" Tidak mak, hanya....." Sita tak meneruskan kata-katanya. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam.


" Hanya apa...?" Mak Qayah mencoba mengangkat dagu Sita agar melihat padanya.


" Sita tidak menyangka akan sesakit ini Mak...!" ujar Sita.


Seketika Mak Qayah pun tertawa mendengar kepolosan putrinya itu. Walapun Sita seorang dewasa dan seorang dokter, tetapi untuk urusan seperti itu, Sita belum memiliki pengalaman.


" Mak ini malah tertawa...?" Sita keherenan dibuatnya. Mak Qayah tertawa hingga mengucurkan air mata saking nikmatnya tertawa. Sita semakin heran dibuatnya.


" Bukankah waktu itu sepupumu Marwah pernah mengatakannya padamu kalau rasa sakit itu hanya di awal saja, selanjutnya kan tidak...!"


" Jadi itu benar Mak...?" tanya Sita kembali.


Mak Qayah kembali tertawa. " Iya, selanjutnya tidak dan kamu minta suamimu untuk pelan-pelan melakukannya agar rasa sakitmu tidak kau rasakan lagi...!"


" Itu juga sudah pelan Ma, Mas Aditya melakukannya pelan-pelan tetapi tetap saja sakit...!" ujar Sita lugu.


Mak Qayah menarik nafasnya. " Itu karena, suami kau itu sama sepertimu, dia masih perjaka dan belum berpengelaman, sering berjalannya waktu kalian akan merasakan kenyamanan sendiri...!" tukas Mak Qayah sambil membelai wajah Sita. " Sekarang kau buatkan dulu kopi untuk suami kau itu nak, jangan biarkan nak Aditya menunggu lama...!"


" Iya mak...!" tukas Sita dengan senyuman tersungging di bibirnya. Apa yang dikatakan Mak Qayah tadi mencoba untuk dicernanya, diingatnya kejadian semalam saat pertama kalinya Aditya menyatukan tubuh mereka. Dua kali Aditya tidak menemukannya hingga peluh membasahi tubuhnya dan baru yang ketiga kalinya Aditya mampu menemukannya.


" Itu karena suami kau itu sama sepertimu, dia masih perjaka dan belum berpengalaman...!"


ucapan Mak Qayah itu membuat Sita tersenyum dan bahagia karena ternyata dirinya dan Aditya telah mampu menjaga kehormatan mereka hingga waktunya tiba dan pada pasangan halalnya.

__ADS_1


__ADS_2