Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 47 ( Sita dan Aditya )


__ADS_3

PLAJU


Satu bulan sudah Sita dan Aditya tinggal di rumah dinas Aditya di kawasan pengilangan. Bu Tuti dan Rahmat ikut pula tinggal disana kecuali hari Sabtu dan Minggu mereka kembali ke rumah mereka. Bu Tuti mersa senang karena masih dapat membantu dokter Sita walaupun sudah menikah dengan pak Aditya. Bu Tuti membantu membersihkan rumah dan memasak sedangkan Rahmat membantu mengantarkan dokter Sita ke Puskesmas dengan motor pemberian pak Aditya. Sita dan Aditya sendiri merasa terbantu dengan kehadiran mereka berdua, selain mereka bekerja dengan baik juga kejujuran mereka yang tidak diragukan lagi.


" Pagi mas...!" Sita menyapa suaminya yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya.


" Pagi sayang, masak apa nih...?" Aditya mendekati Sita yang sedang berkutat di dapur menyiapkan sarapan mereka.


" Nasi goreng telur ceplok mas, maaf menu yang sama seperti pagi kemarin...!" tukas Sita sambil menatap Aditya.


" Tidak apa-apa, nasi gorengnya enak kok !" jawab Aditya sambil tersenyum. " Karena dibikinnya dengan penuh cinta jadinya enak sekali...!" Aditya berkata sambil mendekati Sita lalu memeluknya dari belakang. Sita tertawa geli mendengar ucapan suaminya itu.


" Maas...nanti dilihat bu Tuti...!" Sita mencoba melepaskan tangan Aditya yang kini melingkar di pinggangnya.


" Biar saja, kan sudah nggak aneh...!" jawab Aditya.


" Mas ih, nasi gorengnya udah siap..kita sarapan dulu...!"


Aditya tidak menghiraukan ucapan Sita, kembali diciumnya tengkuk Sita yang wangi. Seketika Sita pun merasa jenggah, bulu kuduknya berdiri tegang karena gesekan cambang Aditya di kulitnya.


" Mas Aditya, tadi malam kan sudah...masa sepagi ini sudah minta jatah lagi...?" ujar Sita.


" Ok...!" Aditya segera menghentikan cumbuannya. " Tidak sekarang tapi nanti malam lagi...!" tukasnya sambil menyeringai.


" Nggak janji ya...?" ujar Sita sambil mendelik lalu kemudian melangkah menuju ruang mak man.

__ADS_1


" Yah...?!" Aditya pura-pura cemberut. Sita pun tertawa melihatnya.


PUSKESMAS PLAJU


Seperti biasanya setiap hari Senin, Puskesmas Plaju selalu dipadati banyak pasien terutama ibu-ibu dan anak-anak balita karena merupakan jadwal imunisasi.


" Slamat pagi...!" Sita yang baru saja datang langsung menyapa pasien-pasiennya sambil tersenyum ramah pada mereka.


" Pagi bu dokter..!" jawab para pasiennya itu.


Suster Reni yang sudah menyiapkan ruangan pemeriksaan segera menghampirinya.


" Pagi dok...!" sapanya.


" Pagi Ren...!" " Oiya kehamilanmu sudah besar sekarang Ren, kamu ambil cuti saja...!" ujar Sita sambil menatap Reni yang tengah hamil besar.


" Iya, biar nanti saya mintakan asisten pengganti selama kamu cuti melahirkan pada dokter Syarif..!"


" Trima kasih dok..!" jawab Reni sambil tersenyum.


" Sama-sama...!" Sita tersenyum sambil mengusap perut suster Reni.


" Dokter Sita sendiri sudah isi belum nih, kan sudah satu bulan lebih sekarang...?" tanya suster Reni,


" Sepertinya belum...!" jawab Sita. Wajahnya tampak merah jambu.

__ADS_1


" Kalau prosesnya tetap dijalani kan dok....?" suster Reni berkata sambil mengedipkan sebelah matanya. " Biasanya kalau pengantin baru itu melakukannya seperti makan obat, sehari tiga kali...ha..ha...ha....!"ujar suster Reni sambil tertawa terbahak-bahak.


" Pengalaman ni ye...?" sahut Sita.


" Ha..ha...ha...!" Suster Reni kembali tertawa.


" Nggak juga, tapi tiap malam...!" tukas Sita sambil tersenyum lalu kemudian melangkah mengambil jas dokternya yang tergantung di sudut ruangan. Reni menyeringai mendengar jawaban dokter Sita.


Sita menjalani rutinitas kesehariannya sebagai seorang dokter yang berdinas di Puskemas Plaju dengan senang hati, karena baginya semua itu adalah sebuah pengabdian yang tidak ternilai dengan uang. Masyrakat di pedalaman Plaju merasa sangat terbantu dengan kehadirannya yang banyak menolong mereka bahkan seringkali tidak mau menerima uang pemberian mereka itu.


" Tidak usah bu, ibu gunakan saja uang ibu untuk membeli obat untuk anaknya ini, ya...?"


Sita menolak uang yang diberikan seorang ibu yang membawa anaknya berobat ke Puskemas.


" Tapi dok, saya sudah sering kemari untuk berobat tapi bu dokter tidak pernah mau menerima uang ini...!" tukas ibu itu. Dirinya merasa malu dihadapan dokter Sita yang begitu berhati mulia,


" Tidak apa-apa bu, do'akan saja saya agar tetap sehat dan bisa menolong masyarakat disini...!" jawab Sita sambil tersenyum menatap pasiennya yang terlihat sangat lusuh. Dirinya merasa tidak tega jika harus menerima uang pemberiannya karena tau perisis bagaimana kondisi ekonomi keluarganya.


" Saya pasti akan mendo'akan bu dokter, semoga bu dokter cepat menikah dengan pak Aditya!" ibu tersebut dengan polosnya berkata seperti itu. Sita pun tersenyum karena rupanya pasiennya itu belum mengetahui pernikahannya dengan Aditya. Suster Reni ikut tertawa geli sambil berdiri tak jauh dari mereka.


" Ibu sendiri memangnya kenal dengan pak Aditya...?" tanya Sita sejurus kemudian.


" Kenal bu, pak Aditya kan yang jadi orang tua asuh Syifa anak saya yang sekolah di SMP, pak Aditya membiayai anak saya sejak duduk di bangku SD kelas dua sampai sekarang, orangnya itu sama baiknya dengan bu dokter, mana tampan dan gagah lagi...!"


" Ehem...!" suster Reni pura-pura batuk melihat wajah dokter Sita yang sudah memerah karena pujian pasiennya yang ditujukan pada Aditya.

__ADS_1


" Oiya kata Pak Aditya kalau anak saya sudah lulus sekolah, katanya akan diberi pekerjaan juga di pengilangan tidak seperti bapaknya yang hanya seorang petani karet, biar bisa ikut membantu menyekolahkan keyia adik-adiknya ini...!" ibu tersebut kembali berkata tentang kebaikan Aditya. Sita menyimaknya dengan baik, dirinya merasa bahagia mendengar semua kebaikan Aditya pada orang banyak.


__ADS_2