Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 11 ( Terpaksa )


__ADS_3

Sita merebahkan tubuhnya di atas ranjang besi sederhana di rumah kontrakannya. Sejatinya tadi dirinya ingin memperlihatkan surat dari Nyonya Zubaidah kepada Aditya, namun dirinya merasa tidak enak hati karena kekasihnya itu akan pergi untuk beberapa hari kedepan, dirinya tidak ingin Aditya merasa khawatir dengan hubungan mereka. Sita menarik nafasnya sambil menatap langit-langit kamar.


***                                                                                                                    Teruntuk :***


***                                                                                                                  Sita anakku ***


***            Salam nak\, bagimana kabarmu...? ibu harap kau baik-baik saja. Surat ini sengaja ibu kirimkan padamu melalui pos\, ibu bermaksud memberitahu jika ayah dan keluarga Zaini telah membuat kesepakatan baru tentang perjodohan kalian. Ayah ingin kalian segera melakukan acara lamaran\, ibu sudah berusaha mengingatkan ayahmu tentang pembicaraan keluarga kita dulu tapi ayahmu tidak pedulikan itu. Entah apa dan dari siapa hingga ayahmu memilki rencana lain. Untuk itu kamu pulanglah dulu anakku...hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalahmu ini\, kamu bicara lagi dengan Zaini. Berikan ketegasan lagi padanya bahwa dia telah berjanji sebelumnya.***


***        Ibu kira hanya ini solusi untuk masalahmu ini\, pulanglah dulu..lusa Harun akan menjemputmu\, bersiaplah...***


***                                                                                                                    Salam sayang***


***                                                                                                                           Ibu***


    Sita melipat kembali surat yang diterimanya tadi pagi. Rahmat yang membawakannya untuknya. Rahmat begitu disayangi Aditya, sepeda baru pemberian Aditya membuatnya lebih bersemangat mengantar ibunya ke pasar.


PALEMBANG


Sultan Mahmud Mahsyur memiliki rumah yang sangat luas dengan ornamen-ornamen khas Pelmbang menghiasinya. Rumah besarnya itu terletak di pusat kota Palembang. Semua orang yang berkepentingan dengan beliau akan mudah mencari kediaman pribadinya itu karena letaknya yang strategis.


        Setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam lamanya akhirnya Sita tiba dikediaman kedua orang tuanya. Harun supir pribadi sang sultan membukakan pintu mobil lalu membawakan tas dan koper Sita lalu membawanya ke dalam. Sita berdiri beberapa saat menatap rumah megah dihadapannya, rumah yang tidak pernah membuatnya merasa bangga dan bahagia karena kebebasannya masa remajanya yang terkekang.


        " Kamu sudah datang nak...?" Bu Zubaidah keluar dari dalam rumahnya menyambut kedatangan putri bungsunya itu, wajah nya tampak berseri-seri. " Sehat-sehat kau di sana ...?"


    " Alhamdulillah baik bu, bagimana kabar ibu sendiri...?" tukas Sita.


    " Ya seperti inilah, ibumu ini mana bisa dikatakan baik jika hari demi hari hanya kau yang ibu ingat...!" jawab bu Zubaidah.


    " Maafkan Sita bu...!" Sita segera menghambur ke pelukan sang bunda. Keduanya berpelukan dengan erat, saling menumpahkan rasa rindu diantara mereka.


    " Ayo kita masuk, sebentar lagi ayah mu pulang...!"


    " Iya bu..!" jawab Sita.


    Sita melangkahkan kakinya menuju dapur, dicarinya sosok yang selama ini dirindukannya pula.


    " Assalamu'alaikum Mak Ruqayah...!" Sita mengucapkan salam pada sosok ibu tua setengah baya yang sedang asyik membuat masakan di dapur, Saking asyiknya memasak hingga kehadiran Sita tidak pula disadarinya. " Mak Qayah...ini Sita...!" Sita memeluk erat tubuh emban pengasuhnya itu dari belakang. Bu Ruqoyah tampak terkejut,


    " Wa'alaikumsalam,...oalah anak Mak...!"  Bu Ruqoyah segera memeluk Sita, diciumnya berkali-kali saking rindunya." Apa kabarnyo anak Mak ini...?"


    " Baik mak...!" jawab Sita sambil tersenyum.


    Nyonya Zubaidah menatap keduanya dan membiarkan putri bungsunya melepas rindu. Karena sejak Sita dalam kandungan, Mak Qayah ikut merawatnya dengan penuh kasih sayang, begitupun ketika Sita lahir, Mak Qayah begitu menyayanginya, karena mak Qayah sendiri ditakdirkan Tuhan tidak memiliki keturunan hingga usia pernikahannya dengan Cek Amat berakhir dengan perceraian karena alasan tak memiliki zuriat.

__ADS_1


    Mak Ruqayah begitu Sita memanggil emban pengasuhnya, Tubuh mak Qayah yang besar membuatnya merasa nyaman berada dalam pelukannya.


    " Perasaan anak mak ini semakin cantik dan berisi selama di Plaju sana...?


    " Iya  lah mak, Sita merasa senang disana, kawanku bertambah banyak, Sita merasa Sita benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat disana itu..!" " Oiya mask, pasienku juga banyak..setiap hari Sita praktek di Pukesmas sampai pukul dua siang selepas itu Sita baru pulang ke kontrakan..pokoknya Sita senang disana...!" jawab Sita.     Mak Qayah tampak senang mendengar pengakuan anak asuhnya itu, mata tuanya bisa melihat jika binar-binar kebahagiaan terpancar dari wajah cantiknya.


Menjelang petang Sultan Mahmud Mahsyur pulang dari kantornya, seperti biasanya nyonya Zubaidah menyambut kedatangan suaminya.


    " Sudah pulang anakmu itu Zubaidah...?"


    " Sudah Cik, dia sedang tidur di kamarnya, sepertinya dia kecapean sekali, Qayah memijitnya tadi dan langsung tidur pulas...!" jawab nyonya  Zubaidah.


    " Mmh..!" tukas Sultan Mahmud.


    " Cik mau makan dulu atau mau mandi dulu...?"


    " Antar aku ke kamar, aku mau mandu dulu saja..!" jawab Sultan Mahmud. Nyonya Zubaidah mengikutinya dari belakang, sebagai seorang istri beliau sudah faham dengan maksud dan suaminya.


Malam harinya Sultan Mahmud kembali menanyakan Sita, Sita yang dibangunkan nyonya Zubaidah segera menemui ayahnya yang sudah berada di ruang makan.


    " Assalamu'alaikum ayah...!" Sita mengucapkan salam.


    " Aalaikumsalam...!" Sultan Mahmud menjawab salam putrinya.


    Sita segera menghampiri beliau lalu mencium punggung tangannya dengan khidmat.


    " Baik ayah..!" jawab Sita sambil menundukkan kepalanya.


    " Gimana kuliahmu...?"


    " Baik..!" jawab Sita.


    " Kapan kau wisuda...?" tanya Sultan Mahmud kemudian sambil menatap Sita dengan sorot mata tajam.


    " Belum tau ayah, ko as Sita belum selesai...!"


    " Berapa lama lagi, jangan kau buat si Zaini menunggumu telalu lama...!"


    Sita yang sedang menyantap gulai kesukaannya tiba-tiba lidahnya terasa hambar mendengar nama Zaini diucapkan ayahnya.


    " Kau tidak menjawabnya Sita...?" Sultan Mahmud tampak mengernyitkan dahinya.


    " Iya ayah, Sita segera membereskannya...!"

__ADS_1


    " Bagus, besok ayah akan suruh Zaini kemari menemuimu, kamu dandan dan belilah perhiasan dengan ibumu, pelrihatkanlah kau pantas disebut putri ayahmu ini...!" tukas Sultan Mahmud. Seketika Sita pun terdiam seribu bahasa.


Usai makan malam, Sita kembali ke kemarnya. Letak kamarnya di belakang langsung menghadap sebuah taman dengan kolam renangnya yang luas. Sita membuka lebar-lebar daun jendela kamarnya dan membiarkan angin malam berhembus menyapa tubuhnya. Bayangan wajah Aditya kembali hadir, rasa rindu mulai menyergapnya, rasa rindu pada sosok Aditya yang penuh perhatian dan begitu melindungi dirinya.


    " Sita rindu kamu mas Aditya...!" gumam hatinya. Dipejamkannya kedua matanya mengingat semua yang telah dilewatinya bersama sang kekasih. Tiba-tiba darahnya mendesir kencang, ciuman Aditya seakan-akan masih dirasakannya.Aditya adalah pria pertama yang mencium bibirnya.


    " Hayoh, anak mak lagi melamunkan siapo...?"


    Sita terkejut dan langsung salah tingkah melihat mak Qayah sudah berdiri di balik jendela kamarnya.


    " Nggak ado mak, Sita hanya rindu suasana disana saja...!" Sita berbohong. Mak Qayah pun tersenyum, dirinya tau jika ada sesuatu yang disembunyikan Sita darinya.


    " Benar apa kamu ngak ingin cerita sama mak..?"


    Sita terdiam seketika.


    " Anak mak yang cantik ini tidak pandai berbohong, mak tau ada sesuatu disana yang membuatmu ingin segera kembali...!: ujar mak Ruqayah sambil mengusap wajah Sita.


    " Mak Qayah, masuklah ke kamar Sita, Sita ingin cerita sama mak...!" akhirnya Sita berkata sambil menatap kedua mata emban setianya itu. Hanya mak qayahnya yang bisa dipercayainya sekarang ini.


    " Baiklah. kau tutup dulu jendela kamarmu, biar mak kesana sekarang...!" jawab mak Qayah.


" Laki-laki itu bernama Aditya mak, dia berasal dari Bandung, orangnya lucu dan sangat perhatian...!"


    " Dia disana sedang apa...?"


    " Dia itu kepala proyek di perusahaan negara, perusahaan penghasil minyak bumi, menurutnya sudah setahun dia disana sebelumnya di pedalaman Kalimantan. Sita memanggilnya Mas Aditya, usianya tujuh tahun lebih tua dari Sita, dia dewasa dalam bersikap dan bertingkah laku. Masyarakat Plaju banyak yang dibantu oleh dia, dermawan mereka bilang....!"


    " Sudah berapa saling kenal...?"


    " Hampir empat bulan ini mak, Mas Aditya malah mengajak Sita menikah....!"


    " Cepat sekali dia menyimpulkan...!" tukas mak Qayah.


    " Entahlah mak, tapi dia bilang tidak baik berlama-lama pacaran karena agama melarangnya. Ibadahnya mak, dia muslim yang taat, banyak hal yang Sita tidak tau tapi mas Aditya ajarkan...!"


    " Kamu mau jadi istrinya...?"


    " Iya mak, tapi....Sita takut ayah murka...!" seketika wajah Sita pun berubah. Perjodohannya dengan Zaini membuatnya merasa sakih hati karena dirinya tidak mencintai Zaini yang dia tau suka bermain perempuan.


    " Berdoalah nak, hanya itu jalan keluarnya, minta pada gusti Allah, minta dicarikan jalan keluarnya, mak yakin Allah akan memberimu kemudahan secepatnya, mak do'akan...!" " Oiya coba mak lihat fotonya, ada..?"


    Sita mengangukkan kepalanya. Foto Aditya yang disimpannya di balik bantal segera diperlihatkannya pada embannya itu.

__ADS_1


    " Ya Alloh, tampan dan gagah sekali, pantas saja anak mak jatuh cinta padanya...!" Mak Qayah terbelalak melihat foto Aditya yang sedang berada di proyek dengan helm lapangan yang dipakainya. Sita pun tersenyum. Kini dirinya merasa lega karena menceritakan sosok Aditya pada mak Qayah. Tak lama kemudian Sita pun tertidur karena mak Qayah memainkan rambutnya dengan penuh kasih sayang.


    " Mak do'akan kamu dan Aditya agar bisa bersatu...!" ucap Mak Qayah pelan.


__ADS_2