
Semakin hari hubungan Sita dan Aditya semakin dekat, cinta diantara mereka pun semakin besar dan saling membutuhkan satu sama lain. Hari demi hari yang mereka lalui terasa indah walaupun sesekali Sita dibuat cemburu karena ternyata Aditya memiliki banyak penggemar terutama para gadis, begitupun dengan Aditya yang juga sering cemburu dengan adanya perhatian lebih yang di tampakkan seorang pengusaha muda yang tinggal di ibu kota kecamatan. Pria itu bernama Samsul, beberapa kali Aditya memergokinya menatap Sita jika kebetulan ada kegiatan di kantor kecamatan.
" Pria itu selalu saja mencuri pandang padamu dik...!"
" Siapa mas...?" Sita menatap Aditya yang duduk di sampingnya.
" Siapa lagi kalau bukan pria bernama Samsul itu...!" tukas Aditya kesal.
" Lho kok marah, Sita kan tidak membalasnya, Sita juga tidak pernah membalas tatapannya..!" Sita mencoba menenangkan perasaan cemburu Aditya. " Sita juga tidak marah ketika mas Aditya dikerubuti gadis-gadis saat acara Kelompencapir minggu lalu...!"
" Tidak marah...tapi nyubit kencang saat berdua...!" jawab Aditya sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Enak aja, itu kan bukan gara-gara itu..!" tukas Sita gemas melihat Aditya tertawa kencang.
" Lalu gara-gara apa hayoh...?!"
" Nggak tau...!" jawab Sita sambil menolehkan kepalanya ke jendela mobil. Tawa Aditya semakin mengencang.
Aditya menghentikan mobilnya ketika mereka tiba di rumah kontrakan Sita usai menghadiri kegiatan Kelompencapir di lapang kantor kecamatan.
" Mas Aditya, mas jadi besok berangkat ke Palembang....?"
" Iya..!" jawab Aditya.
__ADS_1
" Berapa lama mas disana...?"
" Tidak tentu juga, kalau laporannya tidak ada masalah dan langsung diterima mungkin cuma dua atau tiga hari disana, tapi kalau ada masalah, bisa jadi seminggu atau sepuluh harian...tergantung...!" jawab Aditya.
" Lumayan lama ya...?" tukas Sita pelan.
" Memangnya kenapa, ada masalah...?" tanya Aditya.
" Tidak mas...tidak apa-apa...!" jawab Sita lirih, ingin rasanya dirinya berkata jika dirinya tidak ingin berpisah seharipun dengan Aditya. Namun dirinya tidak ingin jika Aditya mengalami masalah dengan pekerjaannya.
" Dik Sita, kenapa...?" Aditya dibuat penasaran melihat tatapan kekasihnya berubah sendu.
" Jangan lama-lama ya mas, Sita tidak tau pada siapa Sita harus bergantung,,,!" akhirnya Sita menceritakan kegundahan hatinya.
" Tidak sayang, aku tidak akan lama-lama disana, kalau bisa diwakilkan tentu sudah aku wakilkan pada orang lain, tapi ini adalah laporan pertanggung jawaban kinerja perusahaan, hanya kepala proyek yang boleh melaporkan, aku haap adik bisa mengerti.....!" Aditya berkata sambil membelai kepala Sita lalu menciumnya berkali-kali.
" Iya mas, Sita faham kok...!" jawab Sita sambil berusaha tersenyum dihadapan Aditya.
" Tuhan akan selalu ada untuk kita, hanya Dia satu-satunya yang bisa kita pinta pertolongannya, aku sama halnya denganmu dik, sama-sama manusia yang terkadang berbuat khilaf, seperti halnya aku menciummu, itu sebuah dosa, benar kan..?"
Sita mengangukkan kepalanya sambil tertawa dengan suara sengau karena sisa tangisannya.
" Tapi aku melakukannya hanya padamu sayang, tidak dengan perempuan lain...!" ujar Aditya.
__ADS_1
" Masa sih...?!" Sita mendelik manja.
" Sungguh..!" jawab Aditya dengan wajah seriusnya menatap tajam Sita. " Nih seperti ini contohnya..!"
" Mas Aditya...!" Sita menjerit kecil karena Aditya tiba-tiba mengecup bibirnya.
Aditya pun tertawa.
" Udah ah sudah sore, Sita pulang dulu ya mas...?"
" Iya, istirahatlah...!" " Oiya, mau aku antar ke dalam...?"
" Tidak usah mas, nanti mas kemagriban mana besok mas harus berangkat, kan harus siap-siap juga...!" Sita menolak tawaran Aditya yang biasanya mengantar hingga pintu rumah kontrakannya.
" Baiklah tuan putri, selamat beristirahat...dan mimpi yang indah..!" ujar Aditya.
" Mas Aditya juga..!" jawab Sita.
Sita membuka pintu mobil taft Aditya lalu kemudian turun dan melangkah menuju pelataran.
" Hati-hati di jalan mas...!" Sita berkata sambil menatap Aditya.
Aditya pun mengangukkan kepalanya. Sita melangkah masuk ke dalam rumahnya. Aditya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan berlalu. Entah mengapa kepergiannya kali ini terasa sangat berat, kehadiran Sita membuatnya sulit menahan rindu di hatinya. Sita benar-benar telah menawan hatinya, membuatnya selalu merindukan perhatian dan kasih sayangnya.
__ADS_1