
Tak terasa satu bulan pun telah berlalu. Masyarakat Plaju kini semakin merasa kegerahan akibat musim panas tiba. Penyakit ISPA banyak diderita warga akhir-akhir ini karena kepulan asap dari tanah yang belum teraspal dan juga kepulan asap dari mesin-mesin pengilangan.
" Kamu sudah berikan ke kantor cabang kan surat pengajuan mesin baru yang aku buat itu Ko,,,?" tanya Aditya pada Joko salah seorang stafnya.
" Sudah pak, tanda terimanya pun saya bawa, ini...!" Joko menunjukkan sebuah surat invoice yang ditanda tangani seseorang di kantor cabang perusahaan minyak milik negara. Aditya memeriksanya dengan cermat. Apa yang dikatakan Joko benar adanya bahwa surat yang dikirim nya memang telah sampai di kantor cabang.
" Dugaan saya benar, sepertinya surat kita tidak disampaikan ke pusat karena ditahan di kantor cabang...!"
" Sepertinya begitu Pak...!" ujar Joko.
" Brengsek, selalu saja begitu, orang cabang tidak mau rugi jika harus meminta mesin baru karena masalah keuangan, aku tidak ingin ada sengketa dengan masyarakat, kasihan mereka sudah banyak menderita karena polusi...!" " Kita rapat sore ini Ko, beri tahu yang lain...!"
" Siap pak Aditya...!" jawab Joko cepat.
Aditya menyeringai menatap mesin-mesin di hadapannya, peluh membasahi wajahnya. Sengatan matahari terasa membakar kulitnya. Sebagai seorang pimpinan proyek dirinya merasa sangat bertanggung jawab, Perusahaan minyak milik negara ini memiliki keuntungan yang tidak sedikit untuk menambah devisa negara, pembangunan infrastruktur salah satunya didanai oleh keuntungan penjualan minyak mereka jadi sudah sepantasnya negara memberikan keuntungan pula pada masyarakat setempat. Begitu yang difikirkan Aditya sekarang ini.
" Pak..pak Aditya...?!" Jiman menghampirinya sambil berjalan terengah-engah.
" Iya Man, ada apa...?" Aditya heran meliha kedatangan Jiman yang terlihat terburu-buru.
" Syaiful pak...!"
" Ada apa dengan dia...?!" tukas Aditya cemas.
" Dia pingsan setelah seharian membetulkan mesin penyaringan...!" jawab Jiman.
" Dimana dia sekarang...?" tanya Aditya.
" Di barak Pak, pak Joko sedang berusaha menolongnya...!"
Aditya pun segera berlari kencang menuju barak. KIni dilihatnya Joko sedang berusaha menolong Syaiful yang terlihat pucat dan membiru karena sesak nafas.
" Kita harus membawanya ke Puskesmas pak ...saya khawatir melihat kondisinya...!" ujar Joko.
" Ok...Joko dan kamu Jiman pakai mobil saya, dan bawa Syaiful ke Puskesmas...!" " Saya akan menyiapkan berkas untuk rapat penting kita sore ini, nanti saya nyusul kesana pakai motormu Ko...!"
" Wah pak, saya tidak bisa setir mobil..!" tukas Joko.
" Hendra, mana Hendra...?" Aditya menatap ke sekeliling.
" Pak Hendra dan yang lain sedang ada kegiatan di Kecamatan pak, kan bapak tadi yang memberi ijin...!" sahut salah seorang pekerja.
" Disini ada yang bisa bawa mobil...?" tanya Aditya kembali.
Semua orang terdiam karena memang tidak ada yang bisa menyetir mobil.
" Kalau begitu biar saya yang antar..!" akhirnya Aditya yang memberi kesimpulan. Kalau boleh jujur, mendengar nama Puskesmas Plaju membuat hatinya teriris karena disanalah untuk pertama kalinya dirinya bertemu dengan sosok Sita. Dirinya berusaha melupakan semua tempat yang menjadi kenangan indahnya itu. Namun kali ini terpaksa dirinya kembali yang mengantar pekerja tambangnya kesana.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan setengah jam lamanya akhirnya mobil mereka pun sampai ke halaman Puskesmas. Joko dan Jiman segera membopong Syaiful menuju ruang periksa karena dokter Syarif sudah melihat mereka.
" Masuk saja ke dalam, bawa langsung ke ruang periksa...!" ujar dokter Syarif pada petugas perawat.
" Apa kabar dok..?" sapa Aditya.
" Baik pak Aditya, pak Aditta sendiri bagaimana...?" dokter Syarif balik bertanya.
" Ya..beginilah dok, saya berusaha untuk baik-baik saja...!" jawab Aditya.
Dokter Syarif pun tersenyum mendengar ucapannya.
" Oiya dok, Syaiful tidak dokter tangani langsung...?" tiba-tiba Aditya merasa heran karena dokter Syarif mengajaknya bicara tanpa menolong pasien yang biasa dilakukannya.
" Kebetulan dari pagi saya sudah menangani banyak pasien, rasanya lelah sekali. Untuk pasien mu kali ini biar dokter baru yang menangani..!" jawab dokter Syarif.
Aditya terkejut, rupanya sudah ada dokter pengganti Sita sekarang. Begitu ucapnya dalam hati.
" Dokter baru...?" tanya Aditya.
" Iya baru kemari ...kalau tidak salah baru dua hari yang lalu...!" jawab dokter Syarif.
" Masih baru sekali, mudah-mudahan bisa memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat di Palju ini ya dok...?!"
" Pastinya, dia dokter sekarang, bukan hanya calon dokter...!" tukas dokter Syarif cepat. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Aditya pun mencoba tersenyum mendengar ucapan dokter Syarif.
" Oiya dok, saya akan ke proyek lagi kebetulan saya harus menyiapkan berkas-berkas untuk rapat sore ini, dan saya akan segera kembali kesini jika sudah siap semuanya...!" Aditya beranjak sambil menatap dokter senior di Puskesmas Plaju ini.
" Tidak dok, lain kali saja...saya belum ada minat untuk dekat dengan perempuan lagi untuk sekarang ini...!" jawab Aditya dengan wajah seriusnya.
" Kenapa, apakah tidak ada wanita lain selain dokter Sita, pak Aditya...?"
" Saya rasa itu, cinta saya hanya untuk dia dok, walaupun saya sadar jika mencintai bukan pula harus memiliki...!" jawab Aditya.
" Bagaimana kalau takdir berkata lain...?" dokter Syarif berkata kemudian.
" Maksud anda dok...?" Aditya mengerutkan dahinya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah di koridor Puskesmas.
" Pasien Syaiful hanya kelelahan saja, dia punya riwayat asma...!"
Aditya segera menghentikan langkahnya mendengar suara yang di kenalinya.
" S.ssita....?!" Aditya terpukau beberapa saat lamanya melihat wajah cantik yang selama ini hadir di dalam hatinya. Aditya mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya ini bukan hayalan.
" Mas Aditya...?"
__ADS_1
" Ya Tuhanku, apa yang tejadi ini...?" Aditya berkata seakan tak percaya.
Dokter Syarif tersenyum melihat keduanya yang sama-sama saling terpaku.
" Dia dokter Sita mu bukan...?" dokter Syarif menepuk bahu Aditya.
" Dik Sita....!" Aditya segera menghampiri Sita yang tersenyum padanya. Diraihnya jemari tangan Sita lalu dibawanya kedalam genggamannya.
" Iya mas, ini Sita...!"
" Adik...bagaimana Adik bisa kemari lagi...apakah ini mimpiku di siang hari...?" tukas Aditya.
" Tidak mas, mas tidak sedang bermimpi, ini Sita, Sita kembali ke Palju demi kita...!" jawab Sita.
" Ya Robb...!" Aditya berkata sambil memeluk wanita yang dicintainya itu. Sita pun pasrah berada dalam pelukan Aditya. Kerinduan yang selama ini menggunung seketika tertumpah ruah dalam pelukan hangat mereka.
" Yakin, anda tidak mau berkenalan dengan dokter baru ini pak Aditya...?" tiba-tiba dokter Syarif berkata sambil tertawa. Seketika Aditya pun melepaskan pelukannya.
" Kenapa dokter tidak menceritakan kalau dokter penggantinya adalah kekasihku ini...?" tukas Aditya sambil tersenyum.
" Kan pak Aditya sudah menolaknya tadi...!" jawab dokter Syarif.
" Ha..ha...ha...!" semua pun tertawa bahagia.
Langiit Plaju kembali membiru, terik matahari kini mulai mereda tergantikan waktu senja.
" Bagaimana kamu bisa kemari lagi, ayo dong cerita...?"
" Besok saja, bukankah mas Aditya ada rapat sore ini...?"
" Nggak lah nggak penting lagi..!"
" Memangnya ada yang lebih penting...?"
" Ada...!"
" Apa..?"
" Kamu sayang...!"
" Mas, jangan...!"
" Kenapa, Sita milik orang lain sekarang...!"
" Maksudmu..?????" Aditya terkejut, Ciuman yang akan di layangkan di kening Sita pun segera dihentikan mendengar ucapan Sita barusan. Seketika hatinya merasa sakit.
" Aku milik ayah dan ibuku, karena mas Aditya belum halalin Sita bukan...?" Sita menyeringai sambil berlari.
__ADS_1
" Awas kamu yah...?!" Aditya berkata sambil mengejar Sita.
MAU TAU GIMANA CARANYA SITA BISA KEMBALI KE PALJU DAN BERTEMU ADITYA. IKUTI TERUS KISAHNYA DENGAN MEMBACA EPISODE SELANJUTNYA. SELAMAT MEMBACA UNTUK MENEMANI DAN MENGHIBUR KALIAN SELAMA " Di rumah aja ".. TERIMA KASIH SEMUANYA...