Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 8 ( Ningkuk )


__ADS_3

Hari Minggu sore langit begitu cerah, Sita ditemani suster Reni sedang asyik menyiram tanaman di pekrangan rumah bu Tuti. Sita begitu menyukai tanaman dan bunga, melihat pekarangan yang dibiarkan kosong membuatnya selalu ingin menanaminya dengan tanaman apotek hidup atau bunga-bunga.


    " Lihat bu dokter, bunga sepatu sudah mulai bermekaran...!" suster Reni menunjuk sebuah tanamanan bunga.


    " Oiya, indah sekali...!" Sita segera mendekati bunga yang dimaksud.


    " Cantik sekali bunganya, secantik orang yang menanamnya...!" suster Reni berkata sambil melirik dokter Sita yang tengah tersenyum padanya. " Kamu juga kurang apa Ren...!" ucapnya.


    " Ya kurang cantiklah bu dokter...!" tukas suster Reni sambil menyeringai. Sita pun tesenyum sambil menggelengkan kepala melihatnya.


    " Tid...tid....!" suara kelakson motor terdengar memasuki pekarangan.


    " Tuh bang Faizal mu sudah datang....!" Sita menggoda suster Reni yang kedatangan pacarnya. Reni pun tersenyum karena dokter Sita sudah bisa menebak siapa yang datang.


    " Slamat sore dok...!" seorang pria membuka helm yang dipakainya, senyumnya terlihat mengembang melihat dokter Sita dan Reni .


    " Sore...!" jawab Sita.


    " Ren...?" Faizal menatap ke arah Reni yang sejak tadi menatapnya dengan perasaan senang karena sang kekasih datang menemuinya.


    " Oiya, saya tinggal ke dalam dulu ya....!" ujar Sita sambil tersenyum meliriik Reni yang membalas senyumnya.


    Sita masuk ke dalam lalu kemudian mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat. Kamar mandi yang dimiliki bu Tuti terletak di belakang terpisah dari rumah inti, Kamar mandi tanpa atap dan dinding penghalang yang terbuat dari papan dan kain seadanya. Sita memutuskan untuk memperbaiki kamar mandi tersebut dengan memanggil tukang untuk membuat kamar mandi yang lebih laik digunakan dan tertutup walaupun masih dikatakan sederhana bila dibandingkan dengan kamar mandi di kediaman orang tuanya.


    Sita membuka pintu kamar mandi sembari mengeringkan rambut panjangnya usai keramas, dilihatnya Rahmat menghentikan sepeda motornya di teras dapur. Wajahnya terlihat gembira. Sita dibuat penasaran melihatnya.


    " Dari mana Mat, seharian ini saya tidak lihat kamu...?"


    " Rahmat tadi pagi disuruh ibu ke pasar bu dokter, di jalan ban sepeda rahmat gembos lagi, Rahmat bawa ke bengkel nya pak Jiun, eh disana ketemu pak Aditya, Pak Aditya mengajak Rahmat naik mobilnya, pak Aditya bilang mau mengantar Rahmat beli karet ban dalamnya di pasar, disana bukan beli ban karet tapi Rahmat malah dibelikan sepeda baru bu dokter...!" ujar Rahmat. Wajahnya tampek berseri-seri karena bahagianya. " Pak Aditya bilang kalau Rahmat akan dimasukan ke sekolah terbuka di kecamatan, gratis bu dokter...!"


    Sita tertegun mendengar penjelasan Rahmat, dirinya sungguh tidak menyangka jika Aditya yang dikenalnya ternyata sangat dermawan.


    " Lalu motor ini motor siapa...?"


    " Ini motornya pak Aditya, karena tadi pak Aditya meninggalkan mobilnya di rumah pak kades katanya mau dipakai pak kades membeli sesuatu untuk acara Ningkuk nanti malam...!"jawab Rahmat.


    " Kamu sendiri bagaimana nanti mengembalikan motor itu Mat, rumah dinas pegawai kilang itu kan jauh mana sudah mau magrib...!"


    " Kan pak Aditya antar Rahmat bu, tuh sekarang disana, di depan sedang ngobrol sama bang Ijal pacarnya suster Reni...!" jawab Rahmat.


    Sita terlonjak seketika.


    " Bu dokter...!"


    Sita menghentikan langkahnya menatap Rahmat yang memanggil namanya.


    " Bu dokter cocok dengan pak Aditya...!" ujarnya.


    Sita pun tersenyum.


Apa yang diucapkan Rahmat membuat Sita penasaran, ternyata benar adanya, Aditya sedang asyik berbincang-bincang dengan Faizal kekasihnya suster Reni. Mereka tampak serius membicarakan masalah yang terjadi di tempat pengilangan tadi siang. Sita baru tau jika kekasih suster Reni adalah seorang karyawan di bagian tehnik mesin di tempat pengilangan dimana Aditya menjadi pimpinannya.


    " Mas Aditya...?!"


    Aditya menghenyikan pembicaraannya dnegan Faizal melihat Sita datang menghampirinya.


    " Maaf Sita tidak tau kalau mas ada disini...!"


    " Tidak apa-apa..lagian belum lama kok...!" jawab Aditya.


     Faizal yang mendengar dokter Sita memanggil pak Aditya dengan panggilan mas, dirinya sudah bisa menebak bahwa ada hubungan spesial diantara keduanya. " Bu dokter, silahkan duduk...!"


    "  Tidak apa-apa silahkan saja, lagian sebentar lagi juga magrib...!" tukas Sita pada Faizal.


    Reni yang baru datang dengan aneka gorengan di tangannya ikut menghampiri.


    " Ini gorengannya bu Atik, silahkan...!"


    Akhirnya mereka berempat pun tampak asyik ngobrol kesana kemari membicarakan banyak hal hingga tak terasa waktu pun beranjak magrib ditandai dengan suara adzan di langgar.


    " Magrib Jal, kita sholat magrib di langgar di depan sana itu yuk...!" Aditya segera beranjak dari duduknya lalu diikuti oleh Faizal.


    " Baik Pak...!" jawab Faizal.


    Sita dan Reni saling bertatapan melihat rekasi Aditya saat mendengar suara adzan.


    " Kalau saya jadi bu dokter, saya akan bersedia menjadi istrinya, sudah tampan, mapan, taat beribadah pula..!" tukas suster Reni, Sita pun terdiam walau hatinya mengiyakan apa yang dikatakan asistennya itu.


Bu Tuti memberikan penjelasan tentang acara Ningkuk yang akan di selanggarakan selepas isya di balai desa. Aditya yang berasal dari tanah Sunda tersenyum mendengar budaya khas Plaju untuk ajang pencarian jodoh masyarakat khas Palembang itu. Sesekali wajahnya menatap Sita yang sudah berganti pakaian dengan terusan batik dengan warna dasar coklat dengan rmotif keemasan. Sita tampak sangat cantik dan mempesonakan dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai.


    " Bu dokter..pak Aditya...kita jadi ikut acara Ningkuknya...?" tanya suster Reni.


    " Boleh...!" jawab Aditya.


    " Kita mau jalan kaki atau mau pakai kendaraan...?" tanya suster Reni lagi.


    " Kalau saya sih inginnya jalan kaki saja sambil menikmati malam, tapi bagaimana dengan tuan putri ini...?" Aditya melirik ke arah Sita.


    " Saya ikut mas saja..!" jawab Sita.


    " Kalau begitu ayo kita berangkat saja biar tidak kemalaman...!" ujar Aditya.

__ADS_1


Langit malam di Plaju masih saja cerah tanpa turun hujan, cahaya rembulan bersinar terang ditemani kilauan bintang yang menghiasai langit gelap Dibawah cahaya bulan purnama mereka berjalan berpasangan, Faizal dan Reni berjalan di depan Sita dan Aditya yang berjalan di belakangnya.Reni dan Failzal tak segan mengumbar kemesraan mereka sebagai pasangan kekasih berbeda dengan Sita yang masih malu-malu, Aditya yang menggenggam tangannya selalu dikibaskan jika Reni atau Faizal melirik ke arah mereka. Aditya tersenyum memahaminya.


    Setelah hampir setangah jam berjalan, merekapun tiba di balai desa yang tampak sudah sangat ramai di padati pemuda-pemudi yang hendak mencari jodoh di acara Ningkuk. Sita yang orang Palembang sikit banyak tau tentang prosesi Ningkuk tersebut lalu memberi tahu Aditya. Aditya yang pintar cepat pula memahaminya.


    Pak Usman kepala desa disana tampak sibuk menyiapkan semuanya agar berjalan dengan lancar dan tertib. Pak Usman membungkuk tanpa hormat melihat kedatangan Aditya dan Sita yang dibalas Aditya dan Sita dengan mengatupkan kedua tangannya.


    Setelah membuka acara pak Kepala Desa menugaskan salah seorang untuk memimpin acara Ningkuk. Pemuda dan pemudi duduk bersebarangan. Sita duduk di samping Reni sedangkan Ijal duduk di sebarangnya. Pintarnya Aditya dirinya tidak langsung duduk melainkan berdiri disamping pak Usman sambil memperhatikan acara yang kini akan dimulai. Diam-diam Sita merasa gelisah melihat Aditya yang tidak mengikuti cara Ningkuk dirinya khawatir akan ada seorang pria yang akan memberikan selendang padanya yang menandakan pria itu bermaksud menaruh hati padanya,


    Sebuah lagu daerah kembali diperdendangkan,selendang pun kembali di putarkan, debaran jantung Sita semakin tak beraturan, lagu tak lama lagi akan berakhir dan selendang telah pula mendekati dirinya.


    " Dik Sita....!" Aditya tiba-tiba memanggilnya.


    Sita pun segera menolehkan wajahnya.


    " Sini...!"


    Sita pun langsung berdiri lalu mendekati Aditya.


    " Pak kades bilang akan membuat MCK di belakang balai desa, bagaimana meurutmu..?


    " Setuju sekali, karena masyarakat disini memang sudah membutuhkannya sejak lama..!" jawab Sita.


    " Tapi saya minta maaf bu dokter, karena ini swadaya masyarakat, dana yang dibutuhkan belum mencukupi, saya minta bantuan pak Aditya...!"


    " Oiya, silahkan pak..!" jawab Sita sambil tersenyum.


    " Syukur alhamdulillah...!" Pak Usman tampak senang mendengar Pak Aditya dan dokter Sita akan memberikan sumbangannya. Raut wajahnya terlihat berseri-seri.


    " Mm...tapi untuk sekarang, saya mohon maaf jika saya dan dokter Sita tidak dapat mengikuti acara Ningkuk ini sampai selesai, kami berdua pamit ...!"


    " Tidak makan dulu, disana ibu-ibu sudah menyiapkan gulai kambing...!" ujar Pak Usman.


    " Tidak pak, lain kali saja...!"


    " Baiklah pak, bu...!" ujar Pak Usman.


Sita memberi kode pada Reni bahwa dirinya dan Aditya akan pulang duluan. Reni mengangukkan kepalanya karena kini selendang Faizal telah melingkar di lehernya. Sita pun tersenyum melihatnya.


    Sita dan Aditya melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan balai desa. Suara riuh para pemuda dan pemudi di acara Ningkuk itu lama-lama terdengar sayup-sayup karena mereka berjalan semakin menjauh. Aditya segera meraih jemari tangan Sita lalu membawanya ke dalam genggaman. Sita membiarkan tubuh mereka saling berdekatan hingga membuat gemuruh di dadanya. Namun dirinya merasa sangat bahagia.


    Di sebuah rumah terdengar suara dawai gitar dipetik mendendangkan sebuah lagu daerah. Tiga orang pasangan remaja sedang duduk-duduk di halaman saling bersenda gurau dengan langgan khas daerah mereka, sesekali si pemuda duduk mendekat sambil merayu pasangannya dengan lagu yang di dendangkannya.


  " Apa artinya lagu yang mereka dendangkan itu dik...?"


    " Itu lagu daerah Palembang mas, isinya adalah sebuah rayuan seorang pria untuk wanita yang menjadi kekasihnya...!"


    " Oiya...?!" Aditya terkejut mendengarnya.


    " Saya tidak menyangka artinya itu, andai saja saya bisa dan faham lagunya akan saya dendangkan untukmu setiap hari setiap waktu hingga adik terbiasa dan akhirnya kita akan saling mencinta selamanya...!" jawab Aditya.


    " Hei...sejak kapan mas pandai merayu begini...?" tukas Sita heran.


    Aditya melingkarkan tangannya di bahu Sita lalu berbisik " Sejak dokter cantik ini menerima cintaku...!"


    Sita terkejut


    " Perasaan saya belum menyatakan bersedia...!" jawab Sita sambil tertawa dan berjalan cepat menuju pekarangan rumah bu Tuti yang tinggal beberapa langkah saja di depan mereka.


    " Mm..!" guman Aditya.


  Bu dokter, Rahmat dan ibu pergi ke rumah si mbah karena mbah sakit, kunci rumah ada di bawah keset..


                                                                    - Rahmat -


Sita membaca pesan yang tuliskan Rahmat di depan pintu rumah. Sita pun segera mengambil kunci rumah yang dimaksud surat itu.


    " Dik Sita...!" Aditya memanggilnya .


    Sita segera membalikan tubuhnya menatap Aditya.


    " Jam sepuluh, apa masih boleh saya masuk ke dalam...?" tanya Aditya. Sita segera melirik jam tangan yang dipakainya.


    " Disana masih banyak pemuda dan pemudi yang sedang bertandang, baiklah...!" jawab Sita sambil membukakan pintu rumahnya.


    " Mas duduk dulu, biar Sita ambilkan minum...!"


    " Ya..!" jawab Aditya.


    Tak lama kemudian Sita pun kembali sambil membawa nampan berisi teh hangat dan kue cemilan lalu mempersilahkan Aditya.


    " Trima kasih..!" jawab Aditya sambil meminum teh hangat pemberian Sita.


    Sita memilih duduk di sebuah kursi panjang dimana Aditya duduk di sana sambil membuka gordyn jendela hingga mereka dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan pemuda pemudi yang masih asyik bersenda gurau di luar sana.


    " Khas mereka disini seperti itu kalau malam minggu...!" ujar Sita.


    " Oiya...?"


    " Kalau di Bandung bagaimana mas...?" Sita bertanya.


    " Kalau orang Sunda bilang mojang dan jajaka, mojang untuk gadis dan jajaka untuk pemuda, mereka bersenda gurau sambil menumbuk padi di atas lumpang batu, si mojang menumbuk sekam padinya sehingga menjadi butiran beras sebagain lagi mojang yang lainnya membersihkan sekam yang terisasa dengan sebuah nampan bambu, ayam-ayam akan mendekat dan si pemuda akan mengikuti kemana ayam ayam itu berjalan hingga sampailah ke tampat dimana mojang-mojang itu berada, si pemuda merayu si mojang disana, namanya " Ngagondang "...!"

__ADS_1


Dina iuh-iuh tanjung..


    Dina parabot ku lingkung


    Ngagondang tatali buhun...


Aditya berdendang dengan suaranya yang merdu. Sita pun dibuat terkesima.


    " Indah sekali budaya sunda itu, andaikan saja Sita bisa sebebas itu...!" tanpa sadar Sita mengungkapkan kegelisahan hatinya dihadapan Aditya.


    Aditya pun terkejut, ditolehkannya wajahnya menghadap Sita.


    " Ada apa sebenarnya...?" tanya Aditya sambil menatap tajam kedua bola mata Sita.


    " Tidak ada apa-apa mas...!" jawab Sita.


    " Apa saya tidak berhak tau...?" Aditya kembali bertanya.


    " Entahlah ...!" jawab Sita lirih.


       Aditya menarik nafasnya dalam-dalam, Disentuhnya jemari tangan Sita.


    " Saya sungguh-sungguh mencintai kamu dokter Sita, sungguh-sungguh cinta,...!"


    " Sita tau mas..!" tukas Sita cepat.


    " Lalu mengapa adik masih meragukannya...?"


    " Tidak mas, tidak sama sekali...!"


    " Kalau begitu apa artinya semua ini..?" " Apa adik tidak mencintai saya...?"


    " Mas...tolong jangan salah faham...!" Sita terkejut dengan apa yang dtanyakan Aditya tentang perasaan hatinya.


    " Kalau adik tidak menerima, kenapa adik memberi harapan dengan apa yang telah adik lakukan, apa karena saya tidak satu suku dan tidak berkecukupan sehingga adik tega mempermainkan perasan saya...?!" Adutya berkata dengan rasa sakit di hatinya.


    " Mas Aditya...!" " Tidak mas...tolong jangan berprasangka buruk, Sita mencintai mas Aditya, sungguh...!!" Sita berkata sambil berurai air mata.


    " Sungguhkah itu sayang...?!" Aditya mendongakan kepalanya. " Sungguh...?"


    Sita mengangukkan kepalanya lalu tersenyum " Sita mencintaimu mas...!" Sita berkata sambil memberanikan diri mengusap wajah Aditya dihadapannya. " Hanya saja Sita takut...takut semua ini berakhir...!"


    " Maksudmu...?" tanya Aditya.


    " Bagiku mas Aditya adalah seorang kekasih yang Sita inginkan selama ini, sejak kita bertemu Sita tau kalau hati ini telah tertawan, tapi ...semua keindahan yang kita lakukan adalah sebuah mimpi indah dimana suatu saat akan terbangun dan tersadar akan kehidupan nya, Sita tidak ingin mimpi kita akan cepat berakhir, Sita masih ingin kita bersama mas  Aditya...!" Sita terdiam sesaat, tangis nya mulai mengencang. Aditya segera meraih kepala Sita lalu di bawanya kedalam dekapannya.


    Suasana berubah hening yang tersisa hanyalah tangisan.


    " Baiklah, sekarang akan Sita ceritakan semuanya, sekarang Sita siap mendengarkan keputusan mas Aditya apapun keputusannya...!" Sita mengusap air matanya, di tatapnya wajah Aditya lekat-lekat.


    " Katakanlah...!" ucap Aditya.


    " Sita telah dijodohkan oleh kedua orang tua...!"


    " Apa...??!!!" Aditya terkejut, wajahnya terlihat pucat seketika.


    " Zaini adalah putra dari sahabat karib ayah, mereka telah sepakat untuk menjodohkan saya dan Zaini, Sita menolaknya namun apa daya kuasa Ayah diatas segala-galanya, ayah orang yang sangat keras, tidak ada satu orang pun yang berani menentang keinginannya termasuk ibu dan kedua kaka Sita, mereka sangat takut dengan murka ayah begitupun dengan Sita mas...!"


    Aditya tertegun beberapa saat lamanya dan mencoba mengendalikan perasaannya.


    " Adik mencintai pria bernama Zaini itu...?"


    " Tidak mas, sungguh....Sita berada disini ini adalah sebuah cara Sita untuk mengulur waktu perjodohan Sita dan Zaini, Sita mencoba agar Zaini kesal dan bosan karena harus menunggu Sita dan akhirnya membatalkan perjodohan ini, Sita tau perisis siapa Zaini itu...dia sudah beristri, Sita tidak mau mas..tidak mau...tolong Sita bawa Sita  pergi mas Aditya...!" Sita berkata dengan tatap penuh harap pada pria dihadapannya.


    " Sita sayang...kita akan lewati semua ini bersama-sama, aku mencintai kamu dan ingin menikahimu..asal kamu yakin dengan hubungan kita ini, aku akan kuat dan terus berusaha mendapatkan restu ayahmu bagaimanapun rintangannya...percayalah...!" ujar Aditya dengan penuh keyakinan. Diusapnya wajah cantik Sita.


    " Benarkah apa yang Mas Adit katakan, benarkah mas ingin melanjutkan hubungan kita ini...?!" tanya Sita.


    " Demi Tuhan, ketika saya mengucapkan perasaan cinta padamu, saat itulah Tuhan menyaksikan bahwa tidak ada satu alasanpun untuk mundur..!" jawab Aditya.


    " Mas Aditya...!!!" Sita merasa sangat bahagia, dipeluknya Aditya dengan erat.


    Suara jangkrik terdengar jelas dari balik jendela, dua insan yang diciptakan Tuhan untuk saling mencintai kini merasa bahagia, kegelisahan yang dirasakan keduanya kini sirna sudah tergantikan dengan perasaan bahagia.


    Aditya menyentuhkan tangannya di dagu Sita yang lancip lalu dibawanya untuk saling berhadapan. Kedua alis Sita yang tebal tersusun rapih, bulu matanya sangat lentik, hidung mancung dan bibir ranumnya yang merah jambu diberi sapuan lipstik tipis membuat jantung Aditya berdegup kencang.


    Sita tak kusa menahan tatapan tajam Adutya, tanpa sadar dipejamkannya kedua matanya. Aditya semakin terkesima, di dekatkannya wajahnya. Sita merasakan hembusan nafas Aditya yang hangat menerpa wajahnya.


    Sita gelagapan mendapat sentuhan bibir Aditya di bibirnya. Aditya memagutkan bibirnya kembali, Sita semakin gugup dan salah tingkah mendapat ciuman pertamanya dari seorang pria. Seketika wajahnya memerah.


    Aditya pun tersenyum, didekatkannya kembali bibirnya lalu kemudian membawanya kedalam ciuman hangatnya. Sita gelagapan, namun dengan sabar Aditya menuntunya hingga pada akhirnya mampu membalasnya walau dengan tertatih-tatih.


    " Mas, sudah malam...!" Sita menahan Aditya yang ingin menciumnya kembali.


    " Iya sayang..!" jawab Aditya sambil tesenyum.


    " Ehem...!" suara batuk ditahan terdengar dari balik pintu rumah. Sita segera melepaskan tangan Aditya yang masih memeluk pinggangnya.


    " Bu dokter...!" suara suster Reni terdengar jelas.


    " Iya Ren, masuk..!" jawab Sita.

__ADS_1


    Aditya pun tersenyum.


__ADS_2