Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 26 ( Hampa )


__ADS_3

    ZAINI DISKOTIK


    " Shittt...!!!!" Zaini merasa kesal karena kedua orang tuanya selalu menanyakan keberadaannya. Tidak Sultan Mahmud tidak orang tuanya mereka semua menanyakan dirinya.


    " Cepatlah kau pulang nak, kita kan sudah berjanji dengan Sultan Mahmud untuk rencana lamaranmu itu...!"


    " Iyo bu...iyo...Zaini tau, lusa aku pulang...!" ujar Zaini sambil menutup telponnya.


    Suara musik di klub malam terdengar membahana ke seluruh ruangan. Zaini si pemilik klab tersebut turun dari dalam ruangannya menuju tempat disko yang sudah ramai dipadati pengunjung. Seorang bartender yang mengetahui kedatangan bosnya segera menghampiri dan menawarkan minuman.


    " Biasa...!" tukas Zaini.


    Selang beberapa menit kemudian bartender tersebut pun kembali menghampiri sambil membawakan Vodka untuk bosnya itu. Zaini segera menegaknya disertai hisapan rokok di bibirnya yang menghitam karena nikotin. Seorang wanita muda tengah di lantai dansa dengan teman perempuannya, mereka mendapat perhatian dari Zaini yang segera menyuruh salah seorang pengawalnya untuk menemui kedua perempuan muda itu.


    " Hallo saya Zaini...!" Zaini menyodorkan tangannya.

__ADS_1


    " Saya Frida..!"


    " Saya Nely..!"


    Kedua perempuan muda itu pun menerima uluran tangan Zaini lalu duudk di sampingnya. Tak lama kemudian mereka pun terlibat obrolan santai hingga waktu berjalan hingga larut malam.


    RUMAH SAKIT PEMERINTAH


    Aditya baru sadarkan diri setelah dua hari ini pingsan akibat pukulan yang mengenai ulu hatinya. Dirinya merasa sangat sedih melihat ke sekeliling ruangan yang hanya ada tembok dan tirai putih yang menemaninya. Bayangan wajah Sita kembali hadir dalam ingatannya. Peristiwa dua hari yang lalu masih terbayang jelas bagaimana ekspresi wajah kekasihnya saat dibawa pergi oleh Sultan Mahmud. Air matanya pun jatuh membasahi pipinya.


    " Slamat siang bosku...!" tiba-tiba Hendra datang dengan sahabat-sahabat Aditya yang lain. Aditya segera menghapus air matanya.


    " Jangan khawatir pak, Syaiful kita percayakan sebagai mandor disana, bapak tenang saja...!" tukas Joko.


    " Kamu itu Dit, yang penting kamu sehat dulu, baru bicara pekerjaan...!" ujar Hendra sambil duduk di samping Aditya. Sedangkan yang lain usai menemui dan menyalami Aditya segera duduk di sofa yang tersedia di ruang kamar VIP yang dipesan Aditya sesuai dengan jabatannya di perusahaan minyak negara

__ADS_1


    " Kamu mau laporkan kejadian ini pada pihak berwajib Dit...?" tanya Hendra.


    " Tidak Ndra, jangan...!" jawab Aditya.


    " Kenapa, kamu sudah babak belur begini, masih saja mau membiarkan Sultan Mahmud ongkang kaki tanpa merasa bersalah...?" tukas Hendra dengan mimik serius menatap atasan sekaligus sahabat karibnya itu.


    " Tidak apa-apa, aku nggak ingin masalah ini di besar-besarkan, kasihan Sita..nanti dia akan semakin terluka...!"


    " Terluka bagaimana maksudmu, justru dia akan senang karena kamu membalas perbuatan ayahnya yang keji itu...!" Hendra berkata dengan kesal karena Aditya masih saja mengalah walau dengan kondisi yang sekarang ini.


    " Tidak apa-apa, biar waktu yang menjawab semuanya, Tuhan tidak akan tidur, aku percaya itu..!" " Aku nggak ingin kejahatan dibalas dengan kejahatan, kita serahkan semuanya pada sang pencipta...!"


    Hendra terdiam mendengar penuturan Aditya. Dirinya sangat mengenal sifat sahabatnya itu bagaimana perjuangannya agar bisa melanjutkan kuliah hingga kini menduduki peran penting di perusahaan minyak negara. Aditya orang yang memiliki sikap dan integritas.


    " Termasuk nasib cintamu pada dokter Sita...?" tanya Hendra sejurus kemudian.

__ADS_1


    " Saya mencoba untuk mengikhlaskan dan menyerahkan segalanya pada sang maha pemilik kuasa, jika memang yang terbaik menurut Nya kita berpisah, apa mau dikata...saya saja kondisinya masih seperti ini, jangankan untuk kembali mengejar, berjalan pun saya masih sangat sulit, tapi kalau pun masih ada waktu dan kesempatan, saya akan mencoba memperjuangkannya kembali tapi kalaupun memang jodohnya adalah pria lain, ya itu sudah takdirnya, saya hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuknya. Toh cinta kami berdua tetap utuh dan suci walau tidak saling memiliki......!" tutur Aditya lirih.


    Hendra menarik nafasanya dalam-dalam. Semua orang yang berada di ruangan tersebut pun tak ada yang bersuara, mereka semua terdiam karena merasakan apa yang dirasakan seorang Aditya Nugraha.


__ADS_2