Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 7 ( Sultan Mahmud Mansyur )


__ADS_3

Sultan Mahmud Mahsyur sosok yang disegani di nagari Palembang, beliau seorang pejabat daerah sekaligus seorang pengusaha kaya raya. Istri beliau bernama Nyimas Zubaidah binti Sultan Baabulah yang masih memiliki kekerabatan dengan beliau berdarah bangsawan Palembang. Sifat keduanya bertolak belakang, Sultan Mahmud Mahsyur berwatak keras sedangkan istrinya lemah lembut, sifat itu lah yang diwariskannya pada Sita putri bungsunya yang kini sedang melanjutkan kuliah kedokterannya. Kedua kakak Sita adalah seorang laki-lak, Sita putri bungsu Sultan sekaligus perempuan satu-satunya. Nyimas Zubaidah sangat menyayangi putri bungsunya itu, apapun  dia berikan asalkan putri bungsunya bahagia, namun semua itu tidak lah mudah manakala menghadapi perjodohan yang dilakukan suaminya pada putri bungsunya itu, Sultan Mahmud Mahsyur telah menjodohkan Sita dengan putra sahabat karibnya Sultan Fatah yang bernama Zaini Husain bin Sultan Fata Husain yang juga seorang pengusaha muda yang berkecukupan.


    Sebagai seorang ibu dirinya bisa memahami jika Sita tidak menginginkan perjodohan itu namun sebagai istri dirinya harus patuh pada perintah suaminya Sultan Mahmud yang berperangai keras. Emosi suaminya meledak-ledak dan tidak dapat terkontrol jika keinginannya tidak terpenuhi.


    " Kasihan anak kita Cek, dia tidak suko dengan Zaini..dia tidak cinto, apa jadinya pernikahan tanpa cinto...?!"


    " Hah..cinto..macam mana itu, bicara cinto di zaman sekarang ini...kita ini juga dijodohkan dengan orang tuo kita tapi bisa seperi sekarang ini karena berkah doa mereka...ingat itu...!" jawab Sultan Mamud dengan nada kencang karena istrinya tidak mendukung keinginannya.


    Nyimas Zubaidah menundukkan kepalanya dalam-dalam, jika suaminya sudah marah tidak ada lagi yang bisa dia katakan selain diam dan menyetujuinya.


KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


Selepas magrib Sultan Mahmud memanggil istri dan putra-putrinya untuk berkumpul di sebuah ruangan besar di rumahnya yang luas dan mewah. Sita duduk di samping ibunya sedangkan kedua kakaknya duduk di samping istri-istrinya sedangkan Sultan Mahmud sendiri duduk di kursi nya sendiri.


    " Baiklah kita sudah kumpul semua, malam ini ayah akan mengumumkan tentang perjodohan Sita dengan Zaini putra kawan ayah Sultan Fatah...!"


    " Apa...?!" Sita terkejut, wajahnya pucat seketika.


    " Dengar, tadi siang ayah kedatangan Sultan Fatah dengan Zaini putranya, mereka sengaja bertandang dengan maksud baik untuk segera mempertemukan Zaini dengan kamu Sita, ayah beri tau semua orang disini supaya bersiap-siap barangkali pekan depan keluraga Sultan Fatah akan kemari bertandang ke rumah kita..!"


    " Ayah...Sita masih ingin menyelesaikan kuliah Sita dulu...tolong ayah...!"


    " Kamu beri tau calon suami dan keluarga nya nanti, kalau mereka tidak keberatan kamu lanjutkan jika tidak kamu terima saja langsung lamarannya...faham...!"


    " Ayah...!!!" Sita beranjak meninggalkan ruangan dimana seluruh keluarganya hadir dan menatap tajam padanya namun Sita tak menghiraukannya, dirinya terus berlari masuk ke dalam kamarnya dan menangis sejadi-jadinya,


    " Mau kemana kau Zubaidah....!!!!" Sultan Mahmud berteriak melihat istrinya ikut beranjak dan hendak menghampiri putrinya.

__ADS_1


    " Cek Mahmud, kita tidak bisa keras pada dia, dia itu perempuan tidak bisa sekeras cek Mahmud pada kedua putramu itu...!" jawab Nyimas Zubaidah.


    Semua orang pun terdiam tanpa mampu bersuara.


" Sita...sayang...!"


    " Bu...Sita tau persis siapa Zaini itu, Sita pernah lihat dengan kedua mata Sita sendiri kalau Zaini itu memiliki banyak perempuan...!"


    Sita menolehkan wajahnya menghadap ibunya. Kedua  matanya tidak berhenti mengeluarkan air tangisan. Nyimas Zainab merasa sangat iba, diusapnya kepala putri kesayangannya itu lalu diciumnya dengan penuh kasih.


    Keduanya saling berpelukan di atas ranjang  kamar Sita.


BUNGO JEUMPA RESTAURANT


Sita menghindari tatapan Zaini yang sejak tadi menatapnya. Ingin rasanya dirinya berlari dari ruangan ini dimana keluarganya dan keluarga Zaini sudah saling sepakat untuk menjodohkan mereka. Zaini tampak senang karena calon istrinya ini sangatlah cantik dibandingkan dengan fotonya. Acara dua keluarga kaya raya itu dilanjutkan dengan acara makan malam di restaurant mewah itu, Tawa canda tampak membahana laiknya sebuah pesta.


    " Tidak lapar...!" jawab Sita.


    " Jangan cemberut dong sayang, nanti cantikmu akan hilang...senyumlah...!" Zaini berkata sambil menyentuhkan tangannya di pinggang Sita. Sita terkejut bukan kepalang melihat kelakukan Zaini padanya.


    " Tolong lepaskan tangan anda pak Zaini...!" Sita merasa geram dan langsung melepaskan tangan Zaini.


    " Lho kenapa...aku kan calon suamimu sayang...!" bisik Zaini di telinga Sita.


    Sita semakin geram dengan perlakuan Zaini padanya. Sebagai seorang perempuan dirinya merasa terhina.


    " Tolong jaga sikap anda, diantara kita belum ada komitmen apa-apa, baru sekedar perjodohan orang tua, dan perlu juga anda fahami dan camkan, aku bersedia dengan perjodohan ini dengan satu syarat, jika kamu setuju aku akan bersedia tapi jika kamu tidak setuju ,aku akan menolak  untuk menikah dengan anda...!"

__ADS_1


    " Wis..galaknya...!" " Katakanlah apa syaratnya, aku akan penuhi apapun yang kamu minta asalkan kamu mau aku nikahi...!" jawab Zaini sambil mengusap dagu Sita.


    Sultan Fatah dan Sultan Mahmud tampak tersenyum melihat kemesraan Zaini pada Sita mereka mengira jika putra dan putri mereka saling suka.


    " Kalau sudah begitu, kita langsung lamaran saja Sultan Mahmud...!" ujar Sultan Fatah.


    " Kalau saya sih bagimana calon besan saja...!" jawab Sultan Mahmud.


    " Zaini..kemari nak...!" Sultan Fatah memanggil putra kesayangannya.


    Yang dipanggil segera menghampiri


    " Iya abah..!" jawab Zaini.


    " Mau kapan kamu melamar Sita...?"


    Sita yang merasa memiliki kesempatan segera menghampiri. " Maaf sebelumnya, tadi dan bang Zaini sudah berbicara empat mata dan bang Zaini sendiri sudah menyetujui jika kita tidak akan bertunangan tetapi kita akan langsung menikah saja!"


    " Oiya...syukurlah...!" ujar Sultan Mahmud dan Sultan Fatah berbarengan.


    " Tapi pernikahan kami ini akan dilaksanakan selepas saya menyelesaikan kuliah kedokteran saya, benar kan bang Zaini...?" Sita berkata sambil menatap Zaini yang terdiam sambil menundukkan kepalanya.


    " Bang Zaini...?" Sita kembali bertanya.


    " Oh..iya..iya...saya akan menunggu Sita selesaikan kuliahnya dulu..!" jawab Zaini.


    Nyimas Zubaidah yang duduk di samping suaminya tampak sangat lega mendengar keputusan Zaini yang tidak disangkanya. Akhirnya kedua keluarga kaya itu pun menyepakatinya tanpa bisa memaksa.

__ADS_1


    Sita tersenyum ketir.


__ADS_2