Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 3 ( Terbayang-bayang )


__ADS_3

MES PERUSAHAAN


Malam semakin larut namun tak sekejap pun Aditya dapat memejamkan matanya, suara jangkrik dan katak di luar terdengar jelas ditemani suara nyamuk yang berterbangan. Berkali-kali Hendra sahabatnya merasa terganggu dengan suara nyamuk itu dengan menepuknya dengan kedua tangannya namun tidak dengan Aditya, dirinya masih terlihat anteng menatap eternit plafon kamarnya yang sederhana disiapkan pemerintah sebagai tempat tinggalnya selama di Plaju ini.


    " Gua heran sama elu Dit, apa lu nggak keganggu dengan panas nya kamar ini...mana suara nyamuk bersuliweran kesana kemari buat suasana malam ini semakin kacau saja...!" ujar Hendra sambil menatap Aditya yang tidur di ranjang sebelahnya.


    Aditya tetap anteng dengan lamunannya, tak ada satu katapun yang keluar dari bibir Hendra yang di dengarnya.


    " Dasar gendeng...orang kalau lagi kasmaran yang begini ini...!" Hendra terlihat kesal karena tidak diperhatikan. Sebuah bantal dilemparnya ke atah Aditya.


    " Wei...apaan lu Ndra...?!" Aditya terkejut mendapat lemparan bantal dari sahabatnya itu.


    " Elu lagi ngapain bosqu...gua kepanasan begini mana nyamuk gigt-gigit gua nah elu sendiri malah asyik melamun...!" tukas Hendra. Aditya tersenyum lebar menatap sahabatnya.

__ADS_1


    " Santai bro...lu bawa tuh kipas angin sono tempelin ke jidat elu...beres kan...?!" ujar Aditya.


    " Tumben elu mau pakai kipas angin biasanya elu alergi banget dengan barang itu dan bilang...gua nggak bisa pake kipas angin Ndra..gua ganpang masuk angin...ntar elu yang repot harus kerokin gua...dan bla...bla....!" rutuh Hendra sambil merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur busa.


    Aditya tertawa mendengar rutukan Hendra, namun semua itu kembali dibiarkannya dan melanjutkan tatapannya kembali ke palfon kamar dimana wajah seorang perempuan bernama Sita tengah bersamanya di dalam lamunan.


    " Kalau tidak sakit, kenapa pak Aditya harus menemui saya...?"


    Kata-kata yang keluar dari bibir perempuan itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Senyum Aditya mengembang melihat raut wajah Sita yang cantik terlihat merah merona manakala dirinya menjawab malarindu sebagai jawabannya.


    " Nah itu elu tau jawabannya..!" jawab Aditya.


    " Kalau gua jadi dokter itu mana mau gua di deketin sama elu, mana udah dimarahin di depan umum, mana elu item begitu...hih..sudi gua mah...!" ujar Hendra sambil menatap Aditya.

__ADS_1


    " Ndra..ndra...elu lihat sendiri kan gimana senyumnya dia...maniiiiiis banget...rambut panjangnya yang tergerai, giginya yang rapih...wuih...!"


    Hendra semakin kesal dengan Aditya yang tidak menghiraukan dirinya. Namun semua itu hanya di luar saja, hatinya merasa senang karena sebagai sahabatnya dirinya mendukung penuh jika Aditya jatuh cinta pada seorang perempuan cantik bernama Sita itu. Selama ini Aditya bekerja dengan giat untuk membantu ibunya yang seorang janda, menyekolahkan kedua adik perempuannya hingga mengorbankan kepentingan pribadinya dengan tidak terlibat asmara dengan perempuan di usia nya sekarang.


    " Gua do'akan semoga elu dan dokter Sita bisa bersanding bro...!" ucap Hendra dalam hatinya.


Di sebuah rumah panggung terbuat dari papan bercat biru tampak seorang perempuan cantik tengah membaca sebuah buku di atas meja belajar, rambut panjangnya diikat keatas menggunakan jepitan sehingga leher jenjangnya terlihat jelas. Entah mengapa malam ini tidak ada rasa kantuk sedikitpun, begitupun dengan buku yang dibacanya, tidak ada satupun yang menempel di kepalanya. Wajah seorang pria yang ditemuinya sudah dua hari ini selalu saja menganggu fikirannya dan malam ini wajah itu kembali hadir dan berkelebat hingga membuatnya gelisah.


    " Ada apa denganku Tuhan...kenapa wajah pria itu tidak bisa lepas dari ingatanku ini?!" ucap Sita lirih. Diusapnya berkali-kali wajahnya untuk menghilangkan bayangan pria bernama Aditya itu namun sia-sia, bayangan Aditya selalu hadir dan membuatnya semakin betah membayangkan semua yang pernah dilakukan Aditya padanya. Aditya yang memarahinya, Aditya yang mengguncangkan bahunya sambil menarik stetoskop di lehernya masih terbayang jelas. Namun semua itu tak lantas membuatnya merasa benci pada sosok Aditya, dirinya malah merasa kagum karena faham dengan alasannya.


    " Aditya...." Sita mengucap nama pria itu, jantungnya berdegup kencang mengingat kata rindu yang diucapkan Aditya padanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2