Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 41 ( Akad )


__ADS_3

Aditya menatap dirinya di depan cermin, pakaian pengantinnya yang berwarna merah dengan benang emas terlihat sangat pas di badannya. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan wanita yang sangat dicintainya.


" Ya Robb, Ya Tuhanku, bimbinglah hamba agar tetap di jalan yang engkau ridhoi...aamiin...!" Aditya tak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran acara pernikahannya yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


Dalam adat Palembang akad pernikahan yang dilaksanakan di rumah pengantin wanita disebut Kawin Numpang. Pada mulanya akad akan dilaksanakan di rumah yang di kontrak Aditya tetapi berita di luaran cukup panas. Keluarga Sultan Fatah yang merupakan kedua orang tua Zaini merasa tidak senang dengan pernikahan Sita karena telah gagal dinihai oleh putra mereka. Kerja sama kedua perusahaan Sultan Mahmud Mahsyur dan Sultan Fatah telah dibatalkan sefihak oleh Sultan Fatah karena kecewa. Untuk itulah Sultan Mahmud Mahsyur memutuskan untuk menikahkan putrinya di rumah kediamannya sendiri dengan penjagaan super ketat. Aditya dan keluarga tidak mempermasalahkan semua itu, karena bagi mereka keselamatan lebih penting dibandingkan dengan sindiran masyarakat karena menikah di rumah pengantin wanita.


" Suddah siap nak...?" Bu Fatma menghampiri putranya. Aditya tersenyum menatap ibunya.


" Insha alloh siap bu...!" jawab Aditya sambil tersenyum.


" Baiklah kita berangkat sekarang...!" ujar bu Fatma. Aditya pun mengangukkan kepalanya.


Sultan Mahmud Mahsyur dan keluarga teleh bersiap-siap dengan kedatangan calon mempelai pria. Sebuah ruangan khusus telah pula disiapkan untuk prosesi sakral akad pernikahan putri tercintanya.Sita Alafiah Mumtaz.


" Cik tegang sekali..!" Nyonya Zubaidah berkata sambil mengelap wajah suaminya yang berkeringat karena tegang. Baru kali ini Sultan Mahmud bertindak sebagai wali karena Sita adalah anak perempuan satu-satunya.


Sita duduk di dalam kamar pengantinnya. Hari ini Sita terlihat sangat berbeda, aura kecantikan yang dimilikinya semakin mempesonakan semua orang yang memandangnya. Mak Qayah yang selalu berada di sampingnya tersenyum senang menatap Sita yang akhirnya menjadi pengantin melayu yang sangat cantik dan berseri-seri.


" Calon mempelai pria sudah datang...!" seseorang memberi tahu kedatangan Aditya melalui pengeras suara. Sita merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat mendengarnya.


" Kekasihmu sudah datang nak...tak lama lagi putri mak ini akan jadi Nyonya Aditya Nugraha...!" Mak Qayah menatap Sita sambil tersenyum lebar. " Kau terlihat cemas anakku, berdo'alah ...!"

__ADS_1


" Iya mak..!" jawab Sita pelan.


Di sebuah ruangan telah digelar karpet lebar dengan meja kecil berada di tengah. Keluarga mempelai wanita duduk berhadapan dengan keluarga mempelai pria. Seorang penghulu dan satu orang pencatat pernikahan kini duduk mendampingi mempelai pria dan wali nikah dari mempelai wanita.


" Sebeum memulai akad pertikahannya, ijinkan saya untuk memeriksa kelengkapan administrasinya terlebih dahulu..!" ujar pak penghulu.


" Silahkan...!" jawab Sultan Mahmud yang diikuti anggukan Aditya.


Kedua adik Aditya saling berbisik membicarakan kakak mereka yang terlihat sangat tegang hingga berkali-kali harus mengusapkan tisue ke wajahnya.


" Kak Aditya tegang sekali, lihat wajahnya pucat...!"


" Iya ya, mungkin takut salah membaca kalimah ijab qobulnya kali Kak...!"


Lain halnya dengan kerabat Sita yang baru kali ini melihat sosok Aditya, mereka memuji ketampanan dan kegagahannya dengan pakaian pengantin Palembang yang dinami Aesan Gedeh yang dikenakannya.


" Pantas saja Sita menolak dinikahkan dengan Zaini, yang namanya Aditya ini lebih tampan dan gagah rupanyo...!"


" Tapi tak sekaya Zaini pastinya...!"


" Orang sudah cinta, mau kaya atau tidak tetap saja cinta...!"

__ADS_1


Pak Penghulu telah membacakan ayat suci alquran dilanjutkan dengan doa sebagai pembukaan bahwa acara akad pernikahan akan segera dilangsungkan. Sultan Mahmud dan Aditya kini keduanya saling berhadapan sambil berpegangan tangan sebagai syarat sahnya ijab dan qobul. Keduanya terlihat sangat tegang. Semua pandangan tertuju pada mereka, Nyonya Zubaidah yang duduk berdampingan dengan Bu Fatma juga sama tegangnya.


Aditya yang sedari tadi menundukkan pandangannya kini diminta pak penghulu untuk menatap Sultan Mahmud sebagai wali yang akan menikahkannya dengan putri beliau.


" Silahkan untuk diikuti kata-kata saya...!"


Keduanya kembali mengagukkan kepalanya.


" Bismlilahirrohmaanirrohiim...!" pak penghulu memulakan semuanya dengan mengucapkan basmallah. Suasana menjadi hening dengan seketika.


Di dalam kamar Sita yang mendengarkan prosesi sakral itu tampak mengenggam erat lengan Mak Qayah yang duduk di sampingnya. Bibir kecilnya melafalkan doa agar diberi keselamatan dan kelancaran.


" Saya nikahkan dan kawinkan putri kandung saya yang bernama Sita Alafiah Mumtaz kepada saudara Aditya Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat seratus lima puluh gram dibayar tunai...!" Sultan Mahmud mengucapkan kalimah ijab nya dan tanpa jeda Aditya pun segera membalasnya dengan kalimah qobul.


" Saya terima nikah dan kawinnya putri kandung bapak yang bernama Sita Alafiah Mumtaz dengan mas kawin seperangkat alat solat dan perhiasan emas seratus lima puluh gram dibayar tunai..!" suara Aditya terdengar sangat lantang dan fasih.


" Bagaimana sah...?" tanya pak penghulu pada kedua saksi yang langsung dijawab sah oleh mereka.


" Alhamdulillahhirobbil'alamiin...!" Aditya segera mengucapkan rasa syukurnya. Ketegangan yang sedari tadi dirasakannya kini sirna sudah tergantikan rasa bahagia nya yang teramat sangat. Tak terasa air matanya pun menetes, kini resmi sudah Sita putri dari Sultan Mahmud Mahsyur menjadi istrinya.


Sita menangis di pelukan Mak Qayahnya. rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu manakala pria yang dicintainya itu telah mengucapkan kalimah ijab qobulnya dengan sangat lancar.

__ADS_1


" Kau sudah jadi istri nak Aditya sekarang anakku, kalian berdua telah jadi suami istri...!" ujar mak Qayah sambil mengecup pucuk kepala Sita.


__ADS_2