
RUMAH KONTRAKAN BU TUTI
Sita menceritakan bagaimana dirinya bisa kembali ke Plaju dan apa yang terjadi usai peristiwa pemukulan tempo hari yang dilakukan suruhan ayahnya pada Aditya.
" Begitulah mas ceritanya,,,!" Sita berkata sambil menyenderkan kepalanya di bahu Aditya.
" Kondisi ayahmu sekarang bagaimana...?" tanya Aditya.
" Sudah lumayan membaik, hanya selalu kontrol saja tiap bulan ke dokter spesialis jantung..!"
" Mudah-mudahan segera membaik ya...?" ujar Aditya.
" Aamiin, Oiya mas, ketika di rumah sakit, ayah menanyakan kabarmu...!" Sita memandang wajah Aditya. Dirinya tak sabar melihat reaksi Aditya.
" Syukurlah..!" " Bilang saja kalau aku baik-baik saja..!" tukas Aditya.
" Mas marah sama ayah...?"
" Tidak, tidak marah...!" Aditya berkata sambil tersenyum. Dibelainya wajah Sita dengan kedua ibu jarinya. Sita terkejut mendengar jawaban kekasihnya.
" Sungguh mas tidak marah...?" Sita kembali bertanya untuk mencari jawaban pasti dari pria yang dicintainya. Aditya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Tatap mataku, apa ada kebohongan disana...?" tukas Aditya.
Sita pun terdiam.
" Aku telah menyerahkan semuanya pada Tuhan, kalau memang jodoh kita pasti akan bersatu tetapi kalau tidak biarlah saja hubungan kita menjadi sebuah hubungan abadi walau tidak saling memiliki. Tuhan tidak pernah tidur, kita hanya memiliki sejuta rencana tapi Tuhanlah penentu segalanya. Tidak ada rasa dendam di hatiku ini sayang....ayahmu menginginkan yang terbaik untuk putri tersayangnya ini...!"ujar Aditya dengan lembut.
Sita menetesakan ar matanya mendengar penjelasan dari bibir kekasihnya itu. Sita semakin yakin jika Aditya adalah orang yang tepat untuk menjadi suaminya.
" Maafkan Sita mas, maafkan pula sikap ayah padamu...!" Sita memeluk Aditya dengan erat. Dirinya tak ingin lagi berpisah dengan kekasihnya ini.
" Ssst...tidak ada yang perlu dimaafkan...!" Aditya menghapus buliran air mata Sita yang jatuh membasahi pipinya. Dirinya tak tahan jika wanita yang dicintainya ini mengeluarkan air mata kesedihan. " Anggaplah semua yang telah terjadi kemarin adalah ujian untuk hubungan kita, kini ujian itu telah usai, kebahagiaan kini di depan mata, aku mencintai kamu ...selamanya hingga maut memisahkan...!"
" Trima kasih mas...!" ucap Sita lirih.
" Ehem...!" sebuah suara mengejutkan mereka berdua. Sita segera melepaskan pelukannya.
Suster Reni dan Syaiful tertawa di balik lemari yang memisahkan ruang tamu dengan ruang televisi.
" Selamat datang kembali dokter Sita...!" Reni menghampiri Sita lalu memeluknya hangat. Senyum kebahagiaan terlihat di wajah keduanya setelah sekian lama tidak bertemu dan akhirnya kembali.
" Hei, kemana saja, kok saya baru lihat...?" tanya Sita sambil menatap suster Reni yang sejak kedatangannya tidak terlihat di rumah kontrakannya atapun di Puskesmas.
__ADS_1
Reni memperlihatkan cincin di salah satu jari tangannya. Sita terbelalak seakan tak percaya. " Kalian berdua...????"
" Iya dok, saya dan bang Syaiful telah menikah...!" ujar suster Reni sambil tersenyum.
" Wah, selamat ya..maaf saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian..!" Sita merasa bersalah pada sahabatnya itu.
" Kita berdua maklumi kok, iya kan bang...?" tukas suster Reni sambil menatap Syaiful yang berdiri sambil tersenyum pada mereka berdua. : Jangankan dokter Sita yang jauh di Palembang sana, ini...pak Aditya saja yang atasannya bang Iful, tidak hadir juga...!" kini Reni menatap Aditya yang tersenyum mendengar ucapannya itu.
" Mas, mas tidak menghadirinya...?" Sita merasa heran. Karena biasanya Aditya yang selalu antusias jika mendapat undangan dari orang yang akrab dengannya.
" Mana mungkin aku bisa hadir, berjalan saja aku sulit waktu itu..!" jawab Aditya. Seketika Sita pun menyadari kesalahannya karena telah berprasangka tidak baik pada kekasihnya padahal yang menjadi penyebabnya adalah ayahnya sendiri.
" Duh kenapa jadi haru begini, sudahlah yang penting sekarang, dokter Sita dan pak Aditya sudah bisa ketemu kembali, silahkan lanjutkan kemesraan kalian, maaf kalau Reni dan bang Iful sudah menganggu...!" Reni tertawa kencang melihat wajah Sita dan Aditya yang tampak kemerahan kerena godaan nya. " Hei, benar kan apa yang Reni katakan, bu dokter dan pak Aditya pasti sudah rindu bukan, jadi..monggo dilanjut saja...!"
Sita dan Aditya pun semakin tersipu malu dibuatnya. " Kita berdua permisi ya...?" tukas Reni sambil memeluk suaminya.
Sepeninggal mereka. Sita dan Aditya pun kembali saling berpandangan. Kerinduan yang selama ini sudah menggunung seakan-akan tak lekang walau sudah berjumpa sekalipun, bahkan sedekat ini.
" Dik Sita....!" Aditya berkata sambil menyentuhkan jari tangannya di dagu Sita. Dibelainya lalu diangkatnya perlahan hingga wajah mereka semakin dekat. Sita dapat merasakan hembusan nafas Aditya yang terasa hangat di wajahnya. Aditya terpana melihat kepasrahan kekasihnya itu, bibir Sita yang ranum membuatnya tergoda. Perlahan di sentuhnya bibir indah itu oleh bibirnya lalu kemudian dikecupnya dengan lembut.
" Jujur aku begitu ingin mencium bibir ini, tapi aku takut....aku takut tergelincir karena tak mampu mengontrol nafsuku ini karena bagaimanapun aku ini manusia biasa...!" ucap Aditya perlahan.
__ADS_1
Sita tersenyum bahagia mendengar penuturan kekasihnya ini.