Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 4 ( Pertemuan )


__ADS_3

Aditya mendapat kabar jika Jiman sudah dapat dibawa pulang, dengan senang hati dirinya pergi ke Puskesmas. Hendra tertawa melihat ulah atasannya itu namun tidak pula dicegahnya karena dia tau apa yang diinginkan Aditya di sana.y


    " Maaf pak Aditya, untuk pembayarannya bapak datang kemari lagi karena petugas administrasinya sedang bersama dokter Syarif ke kantor kecamatan...!"


    " Tidak apa-apa sus..saya akan antar Jiman saja dulu ke rumahnya, nanti saya kemari lagi...!"


    " Baik pak...!" jawab suter.


    Aditya membawa Jiman ke rumahnya dimana istri dan anak-anak Jiman telah menyambut kedatangannya dengan suka cita.


    " Bapak...!" ketiga anak Jiman segera menghambur ke pelukan bapaknya sambil menangis haru. Begitupun dengan istrinya yang langsung memeluknya dengan erat saking bahagianya karena suami tercintanya kembali ke rumah mereka dengan keadaan sehat.


    Aditya merasa sangat haru melihat semua itu. Di halaman sebuah rumah tak jauh dari rumah Jiman tampak seorang perempuan tengah memperhatikan dirinya.


    " Pak Aditya...silahkan masuk dulu pak...!"


    " Oh..eh..iya bu...!" Aditya tersadar dari lamunannya mendengar kata-kata  yang diucapkan istri Jiman padanya. Aditya pun masuk ke dalam rumah anak buahnya itu. Rumah Jiman sangatlah sederhana terbuat dari papan sama dengan rumah-rumah lainnya di pedalaman Plaju ini. Namun rumah ini terlihat sangat bersih dan rapih sehingga terasa nyaman untuk ditempati.


    " Ini kopi hitam nya pak silahkan diminum...!" istri Jiman menyodorkan secangkur kopi untuknya.


    " Wah saya malah merepotka ibu...!" ujar Aditya.


    " Tidak sama sekali pak, justru saya dan suami yang merepotkan bapak, tidak seharusnya bapak sendiri yang mengantar kemari, bapak kan atasan bukan pekerja tambang...!" ujar Midah istri Jiman.


    " Sama saja kok bu...saya dan pak Jiman sama-sama bekerja di pengilangan, sama-sama digajih pemerintah...!" ujar Aditya merendah.


    Bu Midah tersenyum mendengar ucapan atasan suaminya itu.


    " Oiya, pak Aditya sendiri sudah berkeluarga...?"


    " Saya punya keluarga bu tapi saya belum menikah...ada ibu dan kedua adik saya...!" jawab Aditya.


    " Walah masa iya orang seperti pak Aditya ini belum menikah..!" tukas bu Midah.


    " Saya kan belum laku, kerjaannya di hutan begini mana ada perempuan yang mau saya dekati bu...he..he..he...!" Aditya tertawa kecil.


    Jiman dan Midah pun ikut tertawa.


    " Oiya, saya lupa..saya harus kembali ke Puskesmas,,,saya pamit dulu...!"


    " Ada apa toh Pak..?" tanya Jiman.


    " Nggak..nggak ada apa-apa....!" ujar Aditya.


    " Pasti mau ketemu sama dokter Sita ya pak...?!" ujar Jiman dengan polosnya. Seketika wajah Aditya pun memerah, dirinya tidak mengira jika Jiman mengetahui maksud hatinya.


    " Walah dokter Sita yang cantik itu toh...dia kan ada di rumah nya pak Usman tetangga kita pak...dokter Sita membantu persalinan istrinya tadi pagi...mungkin masih ada di rumahnya...!" tukas bu Midah.


    Mendengar apa yang diucapkan istri Jiman, Aditya pun terlonjak senang, dengan cepat dirinya beranjak menuju ke luar halaman.


    " Mau saya antar ke rumah pak Usman nya pak...?" tanya bu Midah.


    " He..he...tidak usah bu...!" ujar Aditya sambil tersenyum.


Aditya melangkahkan kakinya menuju rumah yang dimaksud bu Midah, Sita yang baru turun dari tangga rumah pak Usman begitu terkejut melihat sosok Aditya ada di hadapannya.


    " Apa kabar...?" Aditya menujurkan tangannya.


    " Baik..!" jawab Sita sambil menerima uluran tangan Aditya.


    " Pak Aditya...kenapa bapak tidak masuk dulu...?" seorang pria berdiri di ambang pintu sambil membungkukkan tubuhnya melihat kedatangan Aditya yang tidak diketahuinya.


    " Trima kasih pak Usman, lain kali saja saya kembali bertandang...!" jawab Aditya sambil tersenyum ramah.


    " Janji ya pak...kita ngopi-ngopi disini...!" Pak Usman kembali berkata.


    " Siap pak..!" tukas Aditya.


    " Pak Usman, saya pamit dulu...semoga istrinya cepat sehat ...!"


    " Iya bu dokter, terima kasih...!" jawan Pak Usman senang.


Sita berjalan sambil menundukkan kepalanya, jantungnya berdebar-debar karena kini Aditya berjalan di sampingnya. Susana hening, keduanya disibukan dengan isi kepalanya masing-masing.


    " Tadi kemari naik apa...?" Aditya mencoba mencairkan suasana.


    " Diantar pakai sepeda...!" jawab Sita.


    " Sepeda...siapa..?" Aditya terkejut mendengar jawaban Sita.


    " Iya, diantar Rahmat....!" jawab Sita.


    Seketika Aditya merasa gelisah mendengar nama pria yang dikatakan Sita.


    " Sekarang anda akan kembali ke Puskesmas...?"


    Sita menganggukkan kepalanya.


    " Kalau begitu saya antar saja...!" Aditya menawarkan dirinya pada Sita. Sita menolaknya karena dirinya sudah berjanji pada Rahmat kalau dia akan menjemputnya kembali usai mengantarkan ibunya ke pasar.


    " Baiklah kalau begitu, saya akan temani anda menunggu jemputannya...!" ujar Aditya.


    " Jangan..!" tukas Sita cepat.


    " Kenapa...?" tanya Aditya.


    " Memangnya pak Aditya hari ini tidak bekerja...?"

__ADS_1


    " Dari matahar terbit tadi pagi saya sudah bekerja sampai matahari naik ke atas kepala saya masih bekerja, sekarang biarkan saya istirahat sambil menunggu jemputan anda..!" tukas Aditya dengan santainya. Wajahnya terlihat tenang. Sita terdiam seketika.


     Sepuluh menit pun berlalu namun jemputan yang dimaksud Sita tak juga menampakkan hidungnya. Aditya masih berdiri di samping Sita sembari diam-diam mencuri pandang menatap wajahnya. Sita semakin salah tingkah berduaan bersama pria yang selama ini hadir dalam ingatannya.


    " Sebelum saya mengantar Jiman kemari, saya disuruh perawat Puskesmas untuk kembali lagi kesana ukarena harus menyelesaikan administrasinya yang tertunda karena petugannya sedang menghadiri acara di Kantor Kecamatan bersama dokter Syarif, jadi walaupun anda di jemput dengan siapapun saya tetap akan pergi ke Puskesmas, oleh karena itu ijinkan saya mengantar anda dokter Sita...!"


    Tiba-tiba Aditya berkata. Sita seketika menolehkan wajahnya menatap pria di sampingnya.


    " Anda saya antar naik mobil butut saya ke Puskesmas, kalaupun nanti ada orang yang menjeput anda, di jalan kita pasti berpapasan, dan anda bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan saya atau mau turun dan naik jemputannya...gimana...?" Aditya kembali berkata-kata.


    Sita terdiam sesaat namun tak lama kemudian mengangukkan kepalanya menyetujui ajakan Aditya, Aditya menarik nafasnya, hatinya seketika berbunga-bunga karena akhirnya bisa mengajak perempuan cantik berdua bersamanya


    Aditya menjalankan mobil taft nya perlahan-lahan, jalanan tampak berliku-liku karena daerah pedalaman Plaju belum mendapatkan pemerataan infrastruktur sehingga jalanan cukup rawan dan terjal. Diam-diam perempuan cantik bernama Sita pun memperhatikan pria di sampingnya. Wajah Aditya sangat manis dengan tubuhnya yang tinggi  dan tegap, kemeja tangan panjang yang dikenakannya tampak di gulung sampai sikut hingga memperlihatkan otot tangannya yang dihiasi bulu-bulu hitam dan terlihat sangat maskulin dimatanya.


    " Anda asli Palembang dokter Sita...?"


    " Iya pak, orang tua saya asli Palembang..!" jawab Sita. " Pak Aditya sendiri...?"


    " Saya..?" " Saya dari Bandung asli...!" jawab Aditya.


    " Orang Sunda ya...?" tukas Sita sambil tersenyum.


    " Iya...!" jawab Aditya sambil membalas senyuman Sita.


    " Sudah lama disini...?"


    " Sudah hampir setahun, sebelumnya saya ditempatkan di Kalimantan selama satu tahun disana tapi sejak tahun kemarin saya mendapatkan tugas dari pemerintah untuk ditempatkan di Plaju sampai hari ini..!"


    " Betah disini...?"


    " Yah mau gimana lagi, walau cuaca disini sangat panas ditambah lagi pekerjaan saya juga dengan mesin-mesin minyak yang panas...biikin gerah setiap hari..tapi berhubung tugas negara ya harus saya jalani dengan ikhlas saja...!" tukas Aditya.


    " Pak Aditya sendiri lulusan tehnik...?"


    " Iya..saya lulusan tehnik geologi ITB...!"


    " Wah pastinya anda seorang mahasiswa yang luar biasa ya pak Aditya karena bisa lulus dari perguruan tinggi negeri terkenal mana langsung bisa bekerja lagi...!" Sita memuji Aditya.


    " Nggak juga, saya bukan lulusan terbaik kok, masih banyak teman-teman saya yang lulus dengan nilai lebih bagus, hanya saja Tuhan sayang sama saya hingga saya lebih beruntung dengan diterima langsung menjadi pegawai perusahaan negara...!" ujar Aditya.


    Sita tersenyum, diam-diam dirinya merasa kagum dengan kerendah hatian Aditya.Padahal semua orang tau untuk bisa diterima menjadi pegawai perusahaan milik negara ini tidaklah mudah, salah satu syaratnya adalah lulusan terbaik perguruan tinggi negeri.


    " Anda sendiri kuliah di kedokteran Unsri bukan...?" Aditya balik bertanya pada Sita.


    " Iya, tapi saya bukan mahasiswa cerdas seperti anda pak Aditya, saya mahasiswa biasa-bisa saja dengan IPK yang biasa-biasa saja...!" ujar Sita.


    Aditya tertawa seketika mendengar pengakuan Sita.


    " Siapapun yang berkuliah di kedokteran pastinya seseorang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata nona...!" ujar nya.


    " Yang barusan bilang siapa..?" Aditya balik bertanya.


    " Anda..!" jawab Sita mendelik. Aditya pun tersenyum. " Tolong jangan panggil bapak dong, kesannya tua sekali...!"


    "Oiya..maunya dipanggil apa...?" tanya Sita.


    " Apa saja asalkan bukan pak...!" tukas Aditya.


    "  Mm..apa ya...?" Sita mengernyitkan dahinya. " Gimana kalau mas saja karena anda dari pulau Jawa bukan..walaupun sebenarnya orang sunda...?"


    Aditya tersenyum senang " Dengan senang hati saya menerimanya...!" jawabnya.


    Sita pun tersenyum melihat keceriaan di wajah Aditya.


    " Saya akan memanggilmu dik Sita saja..keberatan...?"


    " Tidak...silahkan saja...!" jawab Sita.


    Aditya pun tersenyum senang akhirnya dirinya dan Sita dapat lebih mengakrabkan diri.


    Tak lama kemudian mereka pun tiba di tempat tujuan. Dokter Syarif yang hendak pulang tampak heran melihat Sita dan Aditya turun dari kendaraan yang sama.


    " Slamat sore dok...!"


    " Slamat sore pak Aditya, apa kabar...?"


    " Baik dok...!" jawab Aditya.


    " Kalian dari mana ini kok bisa-bisanya berbarengan begini...?"tanya dokter Syarif sambil tersenyum, hati kecilnya berharap jika Sita dan Aditya dapat menjalin keakraban.


    " Saya mengantar Jiman pulang dan kebetulan ada dokter Sita di sana, jadinya kami kemari dengan mobil saya karena jemputan dokter Sita tidak juga kunjung datang...!" Aditya mencoba menceritakan yang terjadi tadi. " Oiya dok, petugas administrasi nya masih ada...?"


    " Wah sayang sekali pak Aditya, pak Harun sudah keburu pulang, memangnya ada apa...?"


    " Saya belum menyelesaikan administrasinya dok...tadi saya kemari tapi menurut salah seorang suster katanya dokter pergi dengan pak Harun...!"


    " Benar pak, tadi saya ada acara di kantor kecamatan, oiya masalah administrasi, biar besok saja lagi pak Aditya, nggak usah khawatir...!"


    " Tapi dok...!"


    " Sudahlah pak Aditya, selama ini Pak Aditya pun sudah banyak membantu Puskesmas dan masyarakat disini...jangan difikirkan...!" dokter Syarif menepuk bahu Aditya. Sita terdiam menyimak apa yang dibicarakan dokter Syarif dan Aditya.


    " Sita...?"


    " Iya dok...!"


    " Kamu pulang dijemput Rahmat...?"

__ADS_1


    " Iya dok, tapi tadi saya tidak melihatnya lagi...!"


    " Kalau begitu kamu pulang saya antar saja....!" tukas dokter Syarif.


    " Tidak usah dok, biar dokter Sita saya yang antar..!" dengan cepat Aditya menawarkan bantuannya.


    " Ide bagus...!" jawab dokter Syarif.


    " Tapi dok..saya khawatir Rahmat kemari kasihan dia...!" tukas Sita.


    " Masalah Rahmat biar saya suruh Daman pakai motor diantarkan lagi, Sita pulang saja dengan pak Aditya, hari sudah sore, lihatlah..sebentar lagi akan turun hujan sepertinya...!"


    " Yuk, saya antar...!" Aditya menatap Sita dalam-dalam. Seketika senyumnya pun mengembang melihat Sita mengangukkan kepalanya karena menyetujui ajakannya.


    Daerah pedalaman Plaju memiliki medan jalan yang terjal dan berliku, jalan tersebut adalah jalan baru yang dibuka menerobos hutan-hutan belantara. Tanah jalan nya masih merah karena belum mendapatkan aspal laiknya jalan utama. Namun semua itu dilalui Aditya dengan begitu tenangnya, dirinya sudah terbiasa melewai jalanan seperti ini karena pengalaman bekerjanya di daerah-daerah pedalaman Indonesia.


    " Maaf kalau jalan nya mobil ini tidak nyaman, selain kontur tanahnya yang seperti ini juga karena mobil ini diciptakan untuk bekerja di proyek tidak dijalanan protokol...!" Aditya meminta maaf karena mobil yang dikendarainya membuat tubuh mereka berguncang hebat.


    " Tidak apa-apa pak Aditya...!" jawab Sita.


    " Lho kok bilang pak lagi, bukankah dik Sita sudah berjanji untuk memanggil dengan sebutan lain..?!" tukas Aditya. Sita pun tersenyum seketika mendengar keluhan yang dismpaikan Aditya.


    Aditya menyalakan tape mobilnya, sebuah lagu yang dibawakan grup band terkenal negeri ini terdengar mengalun merdu. Tanpa sadar Aditya ikut mendendangkan lagu tersebut.


     Semua kata rindumu semakin membuatku...


     Tak berdaya..menahan rasa


     Ingin jumpaaa...


    Sita tertegun, ditatapnya wajah pria disampingnya dengan takjub. " Suara mas Aditya bagus sekali...!" ucapnya.


    " Masa sih, biasa aja...!"


    " Beneran bagus...saya sendiri tidak menyangka.!" Sita kembali tersenyum. " Lagian orang Bandung itu kaya akan seniman-senimannya juga, banyak sekali artis-artis terkenal lahir dari tanah Parahiangan itu, dan sepertinya mas Aditya diantaranya...!"


    " Ternyata dik Sita pandai juga bergurau, mana ada artis bertampang jelek seperti saya ini...!" ujar Aditya sambil tertawa terbahak-bahak. " Oiya adik pernah pergi ke Bandung...?"


    Sita menggelengkan kepalanya. " Belum " jawabnya.


    " Mau kalau saya ajak kesana...?"


    " Kalau Tuhan menakdirkan saya pergi kesana, saya tidak mungkin bisa menolak..tapi untuk sekarang sepertinya itu sesuatu hal yang tidak mungkin...!" ujar Sita.


    " Kalau saya memaksa gimana...?" tanya Aditya lagi. Dirinya merasa penasaran karena tiba-tiba wajah Sita berubah muram.


    " Apa alasan mas Aditya memaksa saya...?" Sita berkata dengan suara lirih.


    " Karena saya menyukai dik Sita...!" jawab Aditya.


    Sita merasa jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar ungkapan pria bernama Aditya yang tidak disangkanya. Wajah nya seketika merona merah jambu. Aditya menatap tajam padanya, untuk menghindari itu Sita membuka lebar jendela mobilnya dan membiarkan angin bertiup membelai wajahnya.


    Aditya terpana melihat rambut panjang Sita yang tergerai menutupi sebagaian wajah cantiknya, kecantikan alamiah yang dimiliki Sita ini membuatnya semakin jatuh cinta.


    " Salah kalau saya jatuh hati dengan dik Sita...?" Aditya kembali bertanya pada sosok wanita di sampingnya.


    " Entahlah mas, Sita tidak tau...!" jawab Sita sambil menundukkan keplalanya dalam-dalam. Ingatannya pada sosok ayahnya yang bertabiat keras berkelebat dalam ingatannya. Sultan Mahmud Mahsyur, siapa yang tidak kenal dengan sosoknya sebagai seorang bangsawan sekaligus pengusaha kaya raya di kota Palembang. Sebagai putri beliau tidak banyak orang tau jika segala urusannya diatur oleh dengan sangat ketat dan tidak sebebas orang lain begitupula dengan urusan jodohnya. Sultan Mahmdud Mahsyur telah menjodohkannya dengan seseorang bernama  Zaini anak dari sahabatnya.


    Untuk kesekian kalinya Aditya merasa sangat heran dengan perubahan di wajah Sita. Ingin rasanya dirinya menanyakan apa yang terjadi pada dirinya, namun semua itu ditahannya karena tidak ingin Sita menjauh darinya


    Tanpa disadari mobil yang dikendarai Aditya mulai memasuki sebuah perkampungan. Sita menunjukkan sebuah rumah papan bercat biru yang terlihat sederhana yang menjadi tempat tinggalnya selama disini. Aditya menghentikan mesin mobilnya tepat dihadapan rumah yang dimaksud Sita.


    Suasana semakin hening, Aditya dan Sita terpekur dengan isi fikrannya masing-masing.


    " Terima kasih mas, maaf kalau Sita sudah banyak merepotkan mas Aditya...!" Sita berkata sambil menatap Aditya.


    " Sama sekali saya tidak merasa direpotkan, bahkan saya merasa senang karena kini saya jadi tau rumah dik Sita selama disini...!" jawab Aditya.


    " Kalau sudah tau memangnya mas Aditya mau apa...?" tukas Sita.


    " Ya...kalau adik berkenan saya akan  bertandang kembal kemari, tapi kalau adik tidak berkenan juga saya akan tetap kemari...!"


    " Untuk apa....?" tanya Sita penuh selidik.


    " Untuk menyatakan cinta saya setiap hari sampai adik merasa bosan dan akhirnya menerima cinta saya...!" tukas Aditya sambil tersenyum.


    " Ternyata mas Aditya ini pandai merayu juga..!" tukas Sita dengan wajah merah padam.


    " He..he..he....!" Aditya tertawa melihat Sita yang terlihat salah tingkah dibuatnya.


    " Sita pamit mas...!" Sita membuka pintu mobil taft Aditya namun dirinya kembali terkejut, jantugnya berdebar kencang karena tiba-tiba lengannya di sentuh Aditya. Seketika dirinya menolehkan wajahnya.


    " Apakah adik telah memiliki kekasih ..?"


    Sita menggelengkan kepalanya perlahan.


    " Kalau begitu, masih adakah harapan untuk pria jelek seperti saya ini singgah dihatimud dik...?"


    Sita kembali terdiam dan membisu, perjodohan yang dilakukan orang tuanya membuat lidahnya kelu. Ingin rasanya dirinya menceritakan semuanya pada sosok Aditya namun dirinya tak ingin jika hubungan baiknya dengan Aditya akan hancur seketika, karena hatinya jujur berkata jika dirinya pun merasakan jatuh cinta pada pria dihadapannya ini.


    " Dik Sita...?!" Aditya terkejut karena tiba-tiba Sita menteskan air matanya." Kenpa...ada apa...?!"


    " Lain kali Sita ceritakan apa dan siapa perempuan dihadapanmu ini mas, sekarang biarlah Sita yang merasakannya sendiri karena Sita masih ingin bermimpi indah...permisi...!" Sita berkata lalu kemudian keluar dari dalam mobil dan melangkah cepat menuju halaman rumah tempat tinggalnya tanpa melirik kebelakang kembali karena dirinya tau jika Aditya masih menatapnya.


    " Apa yang terjadi denganmu Sita....?!" gumam Aditya sambil menatap rumah panggung bercat biru dimana Sita telah masuk ke dalamnya dan tak lagi menampakkan dirinya. Aditya tidak lantas pergi, dibiarkannya sejenak fikirannya melayang jauh menerka jawaban wanita yang telah membuatnya jatuh hati itu.


    Sita menatap Aditya dari balik jendela, hatinya merasa sangat sakit. Tangisannya semakin mengencang menyadari takdir yang harus dijalaninya.

__ADS_1


__ADS_2