Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 9 ( Merajut cinta )


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu, Aditya mengajak Sita pergi ke suatu tempat untuk makan di sebuah warung nadi di dekat sebuah kolam air terjun yang terletak di desa lain namun masih di kecamatan yang sama. Air terjun itu sangatlah indah , turun deras membasahi bebatuan yang terhampar di bawahnya. Aditya tak melepaskan jemari tangan Sita ke dalam genggamannya, mereka berjalan di atas bebatuan. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya yang kini sedang menikmati pesona keindahan yang ciptakan Tuhan untuk mereka nikmati.


    " Jalan nya hati-hati dik..!"


    " Iya mas...!"


    Aditya mengajak Sita untuk semakin mendekati air terjun. Sita pun menurutinya. Tiba-tiba Aditya menyuruh Sita untuk duduk di sebuah batu besar sedangkan dirinya berjalan ke tengah.


    " Sita....aku mencintai kamu....!" Aditya berkata kencang dibawah air terjun.


    Sita terkejut dengan apa yang dilakukan Aditya. Jantungnya berdegup kencang. Aditya kembali meneriakan kata-kata yang sama sambil menatap dirinya. Tanpa terasa Sita pun meneteskan air matanya, rasa cinta nya pada pria bernama Aditya Nugraha itu semakin hari semakin besar. Namun perjodohannya dengan Zaini selalu saja membayangi dirinya, hingga membuat perasaan gelisah di hatinya.


    " Dik Sita...!" Aditya menghampiri kekasihnya dnegan tubuhnya yang basah.


    " Mas, bisa-bisa nanti mas masuk angin dengan baju basah seperti ini...!"  Sita menatap Aditya dengan perasaan khawatir. Diusapnya wajah kekasih hatinya itu dengan penuh cinta. Aditya dibuat terpukau.Kini keduanya saling bertatapan.


    " Mas, gimana kalau demam...?"


    " Kan ada dokter Sita di sampingku..!" jawab Aditya.


    Sita pun tertawa geli mendengarnya.


    " Aku selalu ingin bersamamu dik, seperti ini..berdua kita menikmati masa-masa indah kita menjadi suami-istri, kita akan memiliki anak-anak yang lucu-lucu, membesarkan mereka dengan penuh cinta, kita tua bersama hingga maut memisahkan ...aamiin...!" Aditya berkata-kata. Sita pun terenyuh mendengarnya.


    " Aamiin mas, Sita pun selalu ingin bersamamu, bawa Sita pergi jauh...kita wujudkan mimpi kita ini...!" ujar Sita sambil menangis knecang. Aditya segera memeluknya, memeluk kekasihnya dengan penuh kehangatan.


    Tiba-tiba langit pun mendung, awan hitam berarak-arak menutupi cahaya sang surya. Hujan turun tanpa mampu dihindari.

__ADS_1


    Aditya dan Sita pun berlarian mencari tempat untuk berteduh hingga akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk tua tanpa penghuni. Petir pun menyambar, Sita duduk disamping Aditya yang kini membuka kaos basah yang dipakainya lalu mengeringkannya di atas sebuah bambu panjang. Sita menundukkan kepalanya melihat dada Aditya. Suasana berubah hening, entah mengapa mereka berdua merasa ada sesuatu yang membuat debaran jantung mereka berdegup kencang manakala kini keduanya duduk berdampingan di sebuah kursi bambu.


    Petir kembali menyambar, hujan belum juga reda. Aditya menyentuhkan tangannya di jemari Sita lalu diremasnya dengan mesra. Sita menundukkan kepalanya.


    " Dik Sita...!" Aditya memanggil nama kekasihnya itu.


    Sita mendongakan kepalanya. Jantungnya kembali berdegup saat matanya saling bersibobrok dengan kedua mata Aditya yang juga tengah memandangnya.


    " Sabarlah sayang, kita berdua akan mampu melewatinya...!" ucap Aditya sambil membelai sebagian rambut Sita yang menutupi wajah cantiknya lalu kemudian menyelipkannya di telinga Sita.


    Sita mengangukkan kepalanya.


   Aditya terksiap, darahnya mendesir melihat bibir Sita yang ranum menggelayut indah dihadapannya. Aditya pun terbawa suasana, di belainya bibir ranum milik kekasihnya itu lalu kemudian dipagutnya dengan lembut. Untuk kedua kalinya Aditya mencium bibirnya, Sita tak kuasa menolaknya, rasa cintanya pada pria bernama Aditya ini membuatnya hanyut dan terbuai ke dalam ciumannya yang begitu lembut dan mesra. Merasakan kepasrahan kekasihnya membuat Aditya ingin meningkatkan kemesraan ciumannya tetapi nuraninya berbisik jika dilanjutkan akan terjadi sesuatu yang akan membuatnya melakukan hal yang belum pantas dilakukan sebelum mereka sah menjadi suami-istri.


    Aditya melepaskan pagutannya. Kembali dibelainya bibir Sita lalu dikecupnya sekilas. Sita tampak salah tingkah, Aditya pun tersenyum memahami apa yang dirasakan Sita.


     " Aku semakin ingin memilikimu...!" ujar Aditya. Sita pun tersenyum bahagia mendengarnya.


    " Ya wajarlah semua orang pasti pernah merasakan ketertarikan dengan lawan jenis..!" jawab Aditya.


    " Tuh kan mas Aditya tidak menjawabnya...!" ujar Sita.


    Aditya tersenyum. " Untuk apa menanyakan masa lalu, kita hidup bukan di masa itu, tapi masa sekarang untuk masa depan...!" ujar Aditya.


    " Sita tau itu mas, bukan itu yang Sita inginkan jawabannya..!" Sita merengutkan wajahnya karena kesal pada Aditya yang tidak langsung menjawabnya.


    " Dulu ketika kuliah aku pernah berpacaran...!" jawab Aditya pada akhirnya.

__ADS_1


    " Siapa perempuan itu...?" Sita bertanya penuh selidik.


    " Teman kuliah tapi lain jurusan...dia anak tehnik pangan...!"


    " Kenapa bisa putus ?"


    " Kami berlainan agama, aku taunya dia seorang nasrani ketika hubungan kita berjalan kurang lebih dua bulan, pada mulanya perbedaan itu tidak akan dijadikan masalah besar namun semakin lama hal itu menjadi masalah besar manakala kami akan melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius, ibu tidak menyetujui begitupun dengan keluarganya dia, akhirnya kita pun memutuskan untuk berpisah baik-baik...sampai aku bertemu dengan seorang perempuan cantik berambut panjang yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama, dan semua orang memanggilnya, dokte Sita..!"


    " Pernahkah mas ingin menemuinya lagi...?" Sita semakin penasaran dengan masa lalu kekasihnya itu.


    " Tidak, tidak pernah dan buat apa, semuanya telah berakhir...!" jawab Aditya.


    " Sekarang mantan pacar mas itu tinggal dimana..?"


    " Tidak tau, ketika wisuda dia sudah menikah dengan pria seimannya..!"


    Sita pun terdiam seketika.


    " Bagaimana dengan mu...?" kini Aditya balik bertanya,dipandanginya wajah kekasihnya.


    " Sita tidak pernah memiliki kekasih, hanya sebatas suka saja dengan teman ketika SMA dulu, entahlah tapi orang bilang kami pacaran tapi Sita tidak merasa demikian, karena kami berdua tidak jalan berdua keluar rumah paling hanya di sekolah saja...!" jawab Sita malu-malu menceritakan masa remajanya dulu.


    " Berkesan sekali pastinya...!" tukas Aditya.


    " Ya dulu, tapi tidak sekarang...! jawab Sita sambil tersenyum.


    " Aqidah kita sama, keyakikan kita sama, cinta kita sama, mimpi kita pun sama, jadi apa lagi yang membuatku ragu padamu dik Sita...?"

__ADS_1


    " Sita juga begitu mas...sosok yang seperti mas Aditya lah yang Sita inginkan selama ini...!"


    Aditya pun tersenyum, kini keduanya saling berpelukan saling menumpahkan rasa bahagia di hati mereka berdua.


__ADS_2