Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 37 ( Sambutan Bu Fatma )


__ADS_3

" Mas, Sita takut...!"


" Apa yang adik takutkan, mmh..?" Aditya meraih jemari tangan Sita lalu kemudian menciumya dengan hangat. Ditatapnya wajah cantik di hadapannya itu.


" Bagaimana kalau Sita tidak diterima oleh ibumu...?" tanya Sita lirih.


" Sayang...dengarkan aku, aku sudah pernah membicarakan hubungan kita ini pada ibu ketika kepulanganku dulu, dan ibu menerimanya, bahkan ibu sendiri yang menasehati supaya aku tidak lupa untuk selalu beroda dan minta agar Tuhan menyatukan kita, apa itu belum cukup sebuah arti penerimaan...?" jawab Aditya.


" Tapi mas, ibu belum melihat Sita, kalau sudah melihat apa tetap bisa menerima...?" Sita kembali bertanya.


Aditya pun tersenyum, dibelainya pipi kekasihnya. Andai saja dirinya dan Sita bukan di atas kereta api, sudah dicium nya kekasihnya itu karena gemas.


" Adik percaya aku...?"


Sita mengaggukkan kepalanya.


" Apapaun dan bagaimanapun penerimaan ibu, aku akan tetap mencintai kamu dan menjadikan mu istri dan ibu dari anak-anakku nanti..percayalah...!" Aditya berkata sambil mencium punggung jemari Sita berkali-kali agar kekasihnnya itu tidak cemas.


Suara roda di atas lintasan kereta terdengar mengiringi perjalanan Sita dan Aditya menuju kota kelahiran Aditya. Kepulangan Aditya kali ini mengajak Sita untuk dikenalkan pada ibunya, Aditya ingin Sita mengenal lebih dekat dengan ibu dan kedua adiknya serta keluarganya yang lain sebelum dirinya menikahi Sita.


   BANDUNG


" Bu..memangnya kak Adit akan jadi datang ya hari ini....?" tanya Nida sambil membantu ibunya memasak makanan di dapur mereka yang bersih dan rapih walau tidak mewah.


" Tadi pagi kakakmu itu menelpon katanya sudah di bandara, mungkin sekarang mereka masih di kereta api atau bis...!" jawab Bu Fatma. Tangan tuanya itu tampak terampil mengolah satu persatu bahan masakan di hadapannya.


" Bu...!"


Nida kembali bertanya pada ibunya, dirinya merasa penasaran dengan sosok calon kakak ipar yang belum dikenalinya itu.


" Apa...?" sahut bu Fatma.


" Nida jadi penasaran dengan pacar kak Aditya itu, seperti apa ya rupanya, sifatnya...apa seperti mantan kak Aditya dulu....!"


" Kamu ini, ya tunggu saja..nanti juga bertemu..!" ujar Bu Fatma.


" Penasaran aja, takutnya malah seperti mantan kak Aditya dulu...!"


" Maksudmu...?!" Bu Fatma mengernyitkan dahinya.


" Cantik sih tapi jutek...!" tukas Nida.


" Benar tuh bu, mantan kakak yang dulu itu jutek, nggak pernah mau jalan sama kita-kita. maunya berduaan saja...aku jadi males kalau begitu, untung saja putus...!" Sofa yang baru datang dari sekolah ikut menimpal obrolan kakaknya. Bu Fatma tersenyum mendengar obrolan kedua putrinya itu. Dirinya bisa memahami apa yang ada di fikiran keduanya, mereka ingin kakaknya itu mendapatkan seorang istri yang sama baik dan perhatiannya.


" Kita berdoa saja, kita serahkan pada Tuhan yang terbaik untuk kita semua...!" Bu Fatma berkata dengan sangat bijak.


Di dalam taxi Sita kembali merasa gelisah, debaran jantungnya berdegup lebih kencang. Bayangan wajah calon ibu mertuanya itu terlintas dalam fikirannya. Di sebuah stopan menuju jalan Gatot Subroto Aditya menyarankan agar supir taxi melambatkan kendaraannya karena tak lama lagi akan sampai ditujuan. Aditya bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan kekasihnya, telapak tangannya yang berada dalam genggamannya itu terlihat basah.


" Stop pak..di depan rumah bercat putih itu...!"


" Baik ...!" jawab si supir taxi.


Setelah membayar ongkos argo taxinya, Aditya menggamit lengan Sita lalu mengajaknya masuk ke halaman rumah kediaman orang tuanya.


" Mas...!" Sita menahan sejenak langkah mereka.


" Jangan cemas, ada aku...!" jawab Aditya.


Nida dan Sofa sedang membaca buku di ruang tengah ketika mendengar ucapan salam.

__ADS_1


" Kakak....!"  keduanya segera melempar bukunya untuk segera membukakan pintu mendengar suara yang sudah mereka hafal.


" Wa'alaikumsalam kak Adit...!" Nida dan Sofa segera memeluk kakak kesayangan mereka." Kakak sendirian...?" Nida bertanya.


" Sita...kemarilah....!"


Sita melangkah sambil mencoba menenangkan hatinya.


" Assalamu'alaikum...!" Sita mengucapkan salam kepada dua orang gadis yang berdiri sambil menatapnya tajam.


" Wa'alaikumsalam...!" jawab mereka.


" Saya Sita...!" Sita menyodorkan tangannya.


" Saya Nida..!"


" Saya Sofa...!"


Sita tersenyum ramah pada kedua adik Aditya itu.


" Ini calon kakak ipar kalian...!" ujar Aditya. Seketika wajah Sita pun bersemu merah.


" Kak Sita cantik sekali...!" Nida memuji calon kakak iparnya itu.


" Adik juga kurang apa cantiknya...!" balas Sita. Nida tersenyum.


" Ibu mana kok tidak kelihatan...?" Aditta celingukan mencari ibu nya. Bayangan wajah bu Fatma selalu saja membuatnya rindu akan kehangatan nya.


" Ibu pergi ke pengajian kak, mungkin sebentar lagi juga pulang...!" jawab Sofa sambil membawakan minum untuk kakak dan calon kakak iparnya itu.


" Masuk yu...!"


Sita mengangukkan kepalanya.


" Kak Sita sendiri sudah selesai kuliah...?" tanya Nida sambil memandang Sita.


" Baru selesai, menunggu wisuda...!" jawab Sita. " Oiya Nida ngambil jurusan apa...?"


" Ekonomi kak, manajemen...!" jawab Nida. " Kakak sendiri...?"


" Saya...saya kuliah kedokteran..!" jawab Sita.


Seketika Nida dan Sofa pun terlonjak kaget mendengar calon kakak iparnya itu adalah seorang dokter.


" Hebat sekali, kak Sita ini dokter...!" ujar Sofa sambil ikut mendekat.


" Tidak juga, hanya kebetukan saja diterima di fakultas itu...!" jawab Sita merendah.


" Ya nggaklah kak, yang masuk fakultas kedokteran itu memang harus orang yang pintar..!" tukas Nida.


" Eit siapa dulu, kakak yang ngajarin...!" Aditya berkata.


" Boong....!" Nida dan Sofa langsung membantahnya sambil melemparkan bantak kursi ke arahnya. Aditya pun tertawa terpingkal-pingkal.


" Oiya, kak Sita bawakan ini untuk kalian...!" Sita membuka tasnya, dikeluarkannya dua buah kotak kecil dari dalam tas itu lalu diberikannya pada Nida dan Sofa.


" Apa ini kak...?" ujar Sofa sambil menatap Sita.


" Buka saja...!" tukas Sita.

__ADS_1


" Aduh kak, terima kasih...!" Nida terlonjak gembira melihat kotak berisi jam tangan pemberian Sita. Saking senangnya tubuh calon kakak iparnya itu dipeluknya erat.


" Sama-sama...!" jawab Sita.


" Kakak..trima kasih...!" Sofa ikut pula memeluknya.


Kini ketiganya saling berpelukan dengan hangat. Seketika ketiganya pun terlihat akrab, mereka terlibat obrolan-obrolan ringan. Aditya tersenyum bahagia.


" Assalamu'alaikum....!" tiba-tiba wanita berusia setengah abad lebih menyapa mereka dengan ucapan salam. Wajahnya terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda namun terlihat pula sangat anggun dengan jilbab biru tua yang dipakainya.


" Bu...!" Aditya segera mendekati ibunya lalu mencium punggung tangan beliau dengan khidmat. Melihat kedatangan bu Fatma, Sita pun segera berdiri dan menghampirinya.


" Saya Sita bu...assalamu'alaikum..!"


" Wa'alaikumsalam...!" jawab Bu Fatma dengan ramahnya. Senyumnya terlihat mengembang menatap wajah calon menantunya itu.


" Apa kabar ibu...?" tanya Sita.


" Alhamdulillah baik nak..!" jawab bu Fatma " Sudah lama...?" bu Fatma menatapnya.


" Belum juga...!" jawab Sita sambil melirik Aditya yang tengah tersenyum padanya.


" Oiya bu, sepanjang perjalanan tadi, calon mantu ibu ini cemas sekali, tangannya saja sampai basah, dia khawatir jika ibu tidak mau menerimanya...!" ujar Aditya tiba-tiba.


" Mas !" Sita mencubit pinggang Aditya karena malu pada bu Fatma. Bu Fatma tersenyum, dibelainya wajah cantik calon mantunya itu. " Tidak ada yang perlu dicemaskan sayang, ibu menerimamu dengan senang hati...!" ujarnya.


Sita terkejut bukan main mendengar jawaban bu Fatma yang sangat diluar dugaannya." Bu..terima kasih,...!" Sita mencium kembali tangan bu Fatma.


" Sama-sama sayang, ibu yang harusnya berterima kasih karena nak Sita mau dengan Aditya, padahal kita ini ya seperti ini tidak ada yang istimewa...!"


" Lebih dari istimewa bu...!" jawab Sita sambil tersenyum lega.


" Bu..lihat ini, aku dan kak Nida diberikan oleh-oleh dari Kak Sita...!" Sofa memperlihakan sebuah arloji di tangannya.


" Bagus sekali, trima kasih nak Sita, kok malah merepotkan...!"


" Tidak bu, tidak apa-apa...!" tukas Sita.


" Oiya kenapa masih disini, kita makan dulu yuk...ibu sudah siapkan masakan untuk kalian semua...!" ujar bu Fatma.


 


Sita hampir saja menitikkan air matanya mendapat penerimaan hangat dari Bu Fatma dan kedua adik Aditya. Dirinya merasa sangat bahagia.


" Kenapa...?" Aditya menatap Sita heran.


" Tidak apa-apa...!" jawab Sita.


" Nggak...pasti ada yang kamu fikirkan...!" ujar Aditya. Dirinya sudah sangat mengenal kekasihnya itu.


" Sita malu sama kamu mas...!" akhirnya Sita membuka suara. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam.


" Malu kenapa ...?"


" Dulu mas pernah mendapatkan perlakuan buruk dari ayah sedangkan Sita....disini ibu menerima kehadiran Sita dengan sangat baik...!" ujar Sita lirih. Aditya terkejut mendengar ucapan Sita. Dirinya tidak menyangka jika kekasihnya itu akan berkata seperti itu tentang peristiwa yang telah dia sendiri lupakan. Ditatapnya dalam-dalam wajah Sita.


" Jangan lihat ke belakang, lihatlah kedepan...semua itu sudah berrlalu...!" " Sekarang tidak ada lagi yang membuatmu ragu bukan....?"


Sita mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


" Trima kasih mas...!" jawab Sita lirih. Aditya pun tersenyum bahagia.


__ADS_2