
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya di Puskesmas namun Sita yang tuk kunjung datang membuat Aditya penasaran. Motor Faizal pun tidak terlihat dan Puskesmas pun tutup karena selain tanggal merah juga karena semua petugas diharuskan menghadiri kegiatan Hari Kesehatan yang dilaksanakan secara gebyar di kota Palembang, dimana dirinya dan Sita sudah berencana pula untuk pergi kesana bersama-sama dengan Reni dan Faizal. Beribu-ribu pertanyaan hinggap dalam fikirannya, mengapa rumah kontrakannya kosong begitupun di sini di Puskesmas, Sita tidak menampakan batang hidungnya. Semakin lama dirinya merasakan kegundahan, Aditya memutuskan untuk kembali ke rumah bu Tuti dimana selama ini Sita tinggal.
Dengan memakan waktu setengah jam dirinya pun tiba di rumah panggung bercat biru, dengan segera dilangkahkannya kakinya menapai tangga demi tangga rumah itu.
" Tok..tok..tok...!" Aditya mengetuk pintunya. Namun tak ada sahutan sama sekali tidak seperti biasanya. Aditya kembali mengetuk pintu dengan sedikit kencang sambil mendekatkan wajahnya ke jendela, tetap saja tak ada sahutan.
" Ada apa ini...?" Aditya berkata sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.
Tiga puluh menitpun berlalu, Aditya masih saja menunggu di sebuah kursi di halaman dengan harapan Sita akan muncul segera. Seorang anak laki-laki bertubuh jangkung berambut ikal sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan Aditya namun dirinya membiarkannya, dirinya tak ingin jika orang baik seperti pak Aditya akan terluka jika mengetahui apa yang terjadi tadi subuh di rumahnya.
Aditya berdiri sejenak lalu menatap langit Plaju yang seakan muram semuram hatinya saat ini, tak lama kemudian dituruninya anak tangga di hadapannya lalu membuka pintu taft miliknya.
" Pak..pak Aditya...!!!"
Aditya menolehkan kepalanya mendengar suara anak laki-laki yang sudah akrab di telinganya. " Rahmat, kamu dari mana, sejak tadi saya menunggu disini, dokter Sita kemana kok saya tidak lihat...?" Aditya memberondongkan banyak pertanyaan pada Rahmat. Rahmat menundukkan kepalanya dalam-dalam seketika.
" Dokter Sita sudah pulang ke Palembang pak ...!" ujarnya lirih menahan tangis,
" Pulang....????!!!" Aditya terkejut.
" Dokter Sita menitipkan ini untuk bapak...!" tiba-tiba Rahmat mengeluarkan sepucuk surat dari saku kemejanya lalu menyerahkannya pada Aditya.
Plaju, 12 November 1992
Teruntuk : Mas ADITYA
Mungkin ketika mas Aditya membaca surat ini, Sita sudah pergi meninggalkan Plaju, meninggalkan daerah yang selama ini menjadi saksi indahnya jalinan cinta kita. Sita minta maaf mas....Sita terpaksa pergi tanpa memberitahumu, ayah dan ibu menjemput Sita dengan paksa. Ayah marah besar karena sekarang ayah sudah tau hubungan kita berdua. Ayah tidak sedetikpun memberi Sita kesempatan untuk berbicara dengan mas Aditya walaupun berkali-kali Sita memintanya....
Semua barang-barang Sita sudah dibawa pulang bersama. Sita tidak tau apakah Sita bisa kembali lagi atau tidak. Sita benar-benar tidak tau.
Mas Adityaku sayang...........
Hadirmu dalam hidup Sita sangatlah berarti, Sita menemukan cinta sejati dari seorang pria seperti mas Aditya, sosok seperti mas Adityalah yang selama ini Sita dambakan, sosok yang perhatian dan melindungi. Sita mencintaimu mas...sangat mencintaimu, tapi inilah takdir hidup yang harus Sita jalani.
__ADS_1
Mas Aditya
Terima kasih mas,
* Sita sudah merasa bahagia bisa mengenal mas Aditya, mengenal arti cinta walaupun mungkin tidak berakhir bahagia. Sita minta maaf......tapi percayalah di kehidupan lain kita akan bersama merajut cinta kita kembali.**
Yang Mencintaimu.
SITA
Aditya melipat surat pemberian Sita lalu diremasnya kencang. Seketika tubuhnya terasa sangat lemas. Aditya duduk dan terdiam, air matanya tak lagi dapat dibendung. Bayangan wajah Sita hadir dalam ingatannya. Sita yang dicintainya dengan sepenuh hati, Sita yang selama ini mengisi hari-harinya hingga terasa sangat berarti kini harus pergi meninggalkannya. Rahmat yang sejak tadi berdiri di sampingnya merasa semakin sedih melihat Aditya yang terlihat sangat terpukul.
Tiba-tiba langit pun mendung, suara petir menggelegar.
" Pak Aditya, kita masuk ke dalam rumah, sebentar lagi turun hujan...!"
Aditya tak bergeming dengan ajakan Rahmat yang memintanya untuk segera masuk kedalam rumahnya. Selang beberapa menit kemudian apa yang dikatakan Rahmat benar adanya, tetesan air hujan mulai turun ke bumi. Aditya masih saja tidak beranjak dan membiarkan tubuhnya basah oleh derasnya air hujan.
" Pak Aditya, masuklah ke dalam untuk berteduh, bapak bisa sakit kalau begini...!" ujar bu Tuti sambil mendekatinya.
" Biar saja bu, saya tidak peduli...!" jawab Aditya lirih.
Bu Tuti pun terdiam sejenak.
" Kalau bapak sakit bagaimana bapak bisa bertemu lagi dengan bu dokter Sita, bu dokter tidak pergi jauh pak, bapak sering pula ke kota, bapak masih bisa bertemu asal bapak yakin dan sehat, maaf kalau saya terlalu mencampuri urusan pribadi pak Aditya, tapi saya yakin jika bu dokter pun tidak mau melihat pak Aditya seperti ini, kehilangan harapan padahal semuanya masih bida diperjuangkan..!" Reni ikut menambahkan ucapan bu Tuti.
Aditya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
" Masuklah dulu ke dalam pak, tenangkan fikiran...Tuhan pasti memberi jalan...!" itu kata-kata yang sering diucapkan dokter Sita jika saya dan beliau sedang berdua membicarakan hubungannya dengan anda pak...!"
Aditya tersontak, apa yang dikatakan Reni kini membuatnya sadar jika semua ini belum benar-benar berakhir. Reni dan bu Tuti pun tersenyum melihat Aditya berdiri dan menaiki tangga rumah.
" Masuk pak, saya buatkan teh hangatnya dulu...!" ujar bu Tuti.
__ADS_1
Aditya duduk di kursi tamu. Dirinya terpaku melihat kursi panjang di dekat jendela. Disitulah untuk yang pertama kalinya dirinya mencium Sita. Wajah cantiknya yang terlihat pucat pasi karena ciuman itu adalah ciuman pertamanya. Sejak saat itulah dirinya merasa yakin jika Sita adalah gadis yang begitu di dambanya selama ini. Selain cantik Sita memiliki akhlak yang sangat baik.
" Pak..pak Aditya...!" suster Reni berkata membuyarkan lamunannnya.
" Eh..iya..!" ujar Aditya.
" Dimun teh hangatnya nanti keburu dingin...!"
" Iya trima kasih ..!" jawab Aditya pendek.
" Ini handuk dokter Sita ketinggalan, bapak mau memakainya...?" Bu Tuti menyodorkan sebuah handuk berwarna merah hati yang bertuliskan nama Sita dengan benang bordir di ujungnya. Aditya segera meraihnya.
" Saya mau ganti pakaian dulu, kebetulan di dalam mobil ada kaos kering, bisa diambilkan Mat...?" Aditya berkata sambil menatap Rahmat.
" Siap pak..!" jawab Rahmat seketika.
Reni, bu Tuti dan Rahmat serta Faizal yang baru datang kini berada di dapur, mereka membicarakan nasib jalinan kasih dokter Sita dan pak Aditya. Mereka berbicara pelan karena tak ingin terdengar di telinga Aditya yang kini sedang melaksanakan sholat Ashar di dalam kamar Sita usai mandi dan berganti pakaian.
Di dalam kamar Sita, Aditya termangu menatap ke sekelilingnya. Ranjang besi sederhana dan sebuah meja belajar serta lemari pakaian di sampingnya. Dirinya membayangkan Sita hadir, senyumnya yang menawan menawarkan sebuah kehangatan duduk di tepian ranjang.
" Sita sayang...!" Aditya memeluknya. Namun segera dirinya tersadar jika semua itu adalah bayangan semata, Aditya segera menggelar sejdahnya, di adukannya kegelisahan hatinya pada sang kuasa hingga menangis meminta petunjuk Nya.
Aditya menolehkan kepalnya sambil mengucapkan salam di rakaat terakhir, sebuah kancing dan secarik kertas teronggok begitu saja diatas lantai. Aditya pun segera memungutnya. di kertas tersebut tertulis angka-angka laiknya nomer telpon. Kemudian Aditya pun mengambil kancing besar berwarna putih, tiba-tiba dirinya teringat ketika dirinya dan Sita bertemu, kancing saku jas dokter Sita terlepas karena stetsokop yang dibawa Sita ditarik kencang olehnya. Dengan cepat Aditya memasukan kancing tersebut ke dalam saku celananya bersama kertas tadi.
Setelah hujan reda, Aditya pun berpamitan pada mereka orang-orang yang selama ini telah dianggapnya sebagai keluarga. Semua orang pun berderai air mata melepas kepergian Aditya yang pergi dengan sejuta rasa sakit di hatinya.
__ADS_1