
Aditya melajukan taft miliknya dengan sedikit kencang menuju Puskesmas. Wajah Sita sudah ingin dijumpainya, rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi. Sesampainya disana yang dicari tidak ditemukan, pintu ruang praktek Sita terkunci.
" Pak Aditya mencari dokter Sita...?" seorang perawat menghampirinya.
" Benar sus, apa beliau ada...?" ujar Aditya.
" Maaf pak Aditya, sudah dua hari ini dokter Sita tidak praktek...!"
" Apa...???!!!" Aditya sangat terkejut mendengar penjelasan suster itu. " Suster tau alasannya...?"
" Tidak pak, saya tidak diberi tau...!"
" Dokter Syarif iya dokter Syarif, beliau ada...?" Aditya mencoba berfikir untuk mencari tau keberadaan Sita.
" Dokter Syarif sendiri tadi pulang cepat karena istri beliau sakit...!" tukasnya kemudian.
Aditya semakin panik, wajahnya pucat pasi.
" Baiklah sus, kalau dokter Sita kembali tolong sampaikan kalau saya mencarinya...!"
" Baik Pak Aditya...!" jawab suster itu.
" Sita..aku rindu kamu sayang...!" gumam Aditya.
Bayangan wajah Sita kembali berkelebat dalam ingatannya. Sita yang cantik tampak tersipu-sipu jika diciumnya. Aditya kembali melajukan mobilnya, kini rumah kontrakan Sita yang menjadi tujuannya.
" Dokter Sita pulang ke Palembang pak Aditya, dua hari yang lalu bu dokter dijemput kemari...!" Rahmat yang sedang menyapu halaman memberi tau nya sesampainya disana. Seketika Aditya merasakan tubuhnya sangat lemas, wajahnya memerah seketika.
" Kapan bu dokter kembali Mat...?"
" Rahmat tida tau Pak, bu dokter tidak bilang ...!" jawab Rahmat.
Aditya pun terdiam seribu bahasa. Perjodohan yang dilakukan orang tua Sita dengan pria bernama Zaini kini ada dalam ingatannya. Aditya tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.
" Saya pamit dulu Mat, tong beri tau saya jika dokter Sita sudah kembali ya Mat...!"
" Tentu saja pak...!" jawab Rahmat.
Aditya mencoba tersenyum lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
" Bawa Sita pergi mas...Sita mencintai mas Aditya...!"
Kata-kata yang pernah diucapkan Sita begitu terngiang-ngiang di telinganya. Kini air mata Aditya pun jatuh membasahi pipinya.
KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR
Zaini sangat terpesona dengan kecantikan Sita yang sekarang ini sedang duduk di hadapannya. Diam-diam dia mencari tau jika calon istrinya itu masihlah seorang gadis suci yang belum pernah dijamah pria. Hal itu semakin membuat Zaini penasaran dan ingin segera melamar Sita untuk jadi istrinya.
" Kamu cantik sekali Sita...!" Zaini berkata sambil duduk mendekati Sita. Sita terdiam lalu menggeserkan posisi duduknya.
" Zaini...?!" tiba-tiba Sultan Mahmud kembali dari kantornya. Melihat kedatangan calon menantunya wajah Sultan Mahmud tampak senang.
" Abah pulang cepat...?" tanya Zaini.
" Iya, kan abah tau akan ada kamu kemari bertandang..!" jawab beliau. Zaini pun tersenyum.
" Abah tinggal dulu kedalam, kamu dan Sita berbincang-bincanglah dulu, kalian sudah beberapa bulan ini tidak bertemu bukan, pastinya saling rindu ...!"
" Iya bah...!" Zaini menyeringai. Dirinya merasa senang karena calon mertuanya itu memberikan ijin untuk berduaan dengan putrinya.
" Sayang...!" Zaini menyentuh tangan Sita. Sita terkejut dengan cepat ditariknya jemari tangannya itu.
" Kenapa, hanya menyentuh tanganmu saja, aku kan tidak mencium bibirmu..!" ujar Zaini.
" Kita belum menikah...nanti saja...!: tukas Sita.
" Sita..orang yang namanya pacaran apalagi segera menikah,wajarlah kalau saling bermesraan begini, kamu tidak perlu takut, aku akan jadi suami kamu...!" Zaini kembali merayunya.
__ADS_1
" Bang Zaini..Sita tau maksudmu, tapi ingat dengan perjanjian kita tempo hari, Sita bersedia dinikahi jika Sita sudah lulus jadi dokter tidak sekarang ini...!"
" Iya aku tau itu, tapi setelah aku pertimbangkan lagi dan aku berikan usul pada abah dan ibu kalau aku akan segera melamarmu saja dulu, kita akan bertunangan, agar kita berdua bisa saling mengenal lebih jauh dan tidak khawatir dan kamu akan semakin yakin dengan cintaku ini...!" tukas Zaini sambil kembali menyentuh tangan Sita. " Kamu bisa fahami apa yang aku maksudkan sayang...?"
" Bang Zaini, tolong jaga sikap abang, jangan berani-berani melakukannya...!" Sita tidak lagi mampu menahan amarahnya karena Zaini mencoba menciumnya.
Zaini pun terkejut melihat reaksi Sita padanya.
" Sekali lagi abang berniat seperti itu, aku tidak segan-segan bilang pada ayah kalau perjodohan kita dibatalkan....!"
" Tidak...tidak...!" Zaini tampak panik." Ok Sita...aku janji, aku tidak akan memaksamu...!" ujar Zaini dengan cepat. Dirinya sadar akibatnya jika perjodohannya dengan Sita batal maka Sultan Mahmud akan pula membatalkan kerjasama perusahaan mereka. Sedangkan pundi-pundi uang sudah ada di depan mata.
" Maafkan aku, aku salah...!" Zaini kembali berkata dan meminta maaf.
" Ingat perjanjian kita, kita akan menikah jika aku sudah memiliki gelar dokter secara sah...!" Sita kembali mempretegas ucapannya.
" Iya...!" jawab Zaini pendek.
Mak Ruqoyah mengintip pembicaraan Sita dan Zaini dari balik lemari besar. Kini dirinya bisa memahami jika Sita menolak perjodohannya dengan Zaini karena sifat nya yang kurang sopan.
KANTOR ADITYA
" Maaf pak Aditya, ada tamu mencari bapak...!" seorang pekerja tambang masuk ke dalam ruangannya memberi tau jika ada tamu untuknya.
" Siapa...?" tanya Aditya.
" Saya sendiri tidak tau pak...!"
" Baiklah, suruh masuk saja...!" jawab Aditya.
Seorang anak laki-laki berambut ikal kemudian masuk ke dalam ruangan. " Slamat siang Pak Aditya...!"
Mendengar suara yang dikenalnya Aditya pun mendongakan kepalanya. " Rahmat...?!"
" Iya pak, saya kemari mau bilang sama bapak kalau bu dokter sudah kembali...!" Rahmat berkata menyampaikan tujuannya datang. Seketika wajah Aditya yang murung pun berubah sumringah.
" Iya pak, Rahmat tidak bohong...!"
" Dimana sekarang bu dokternya.....?"
" Rahmat lihat tadi sih di Puskesmas pak, mobil yang menjemput nya kemarin tadi mengantarnya kembali ke Puskesmas...!" jawab Rahmat.
" Baiklah, kita akan segera kesana Mat, yuk..!" Aditya segera menyambar tas kecil miliknya.
" Tapi pak, Rahmat kesini naik sepeda, bapak pakai mobil bapak saja dan biarkan Rahmat pakai sepedanya...!"
" Nggak..nggak usah, kamu naik mobilku saja Mat. biar sepedamu diantar Jiman pakai mobil bak kantor...!" jawab Aditya sambil menggamit bahu Rahmat.
PUKSESMAS PLAJU
Sita memeriksa pasien-pasiennya yang sudah beberapa hari ini menunggu kedatangannya. Sita tampak sibuk. Aditya memperhatikannya dari jauh, Sita semakin terlihat cantik manakala mengenakan jas putih dokternya.
" Sst...!" Aditya menggelengkan kepalanya pada suster Reni yang sempat melihat kedatangannya. Aditya tak ingin menganggu kekasihnya walaupun rasa rindu di hatinya ingin segera dicurahkannya pada sang kekasih hati.
" Pak..pak Aditya tidak jadi ketemu dengan bu dokternya...?" Rahmat merasa heran melihat Aditya yang tidak langsung menghampiri dokter Sita.
" Jadi dong, tapi biarkan saja dulu, bu dokternya sedang sibuk dengan pasien-pasiennya...!" jawab Aditya. Rahmat pun mengaukkan kepalanya.
Aditya memutuskan untuk menunggu Sita selesai bekerja dengan minum kopi di sebuah kantin bersama Rahmat.
" Bu dokter, maaf menganggu, saya hanya mau bilang kalau selama bu dokter tidak praktek, Pak Aditya selalu kemari mencari bu dokter, setiap hari malah...!"
Sita terkejut mendengar pernyataan suster Hani.
" Memangnya bu dokter tidak beri tau pak Aditya sebelumnya...?" suster Reni mendekati Sita karena mendengar ucaoan suster Hani. Sita pun menggelengkan kepalanya.
" Saya merasa tidak enak hati Ren...!" jawab Sita lirih.
__ADS_1
" Akan semakin tidak enak hati kalau membiarkan pak Aditya menunggu berjam-jam disana...!" suster Reni menujuk ke suatu tempat dimana Aditya sedang duduk sambil berbincang-bincang dengan Rahmat dan si pemilik kantin. Sita pun terkejut dibuatnya.
" Sana dulu dok, kasihan pak Aditya menunggu lama...!" suster Reni mengedipkan sebelah matanya. Suster Hani yang berdiri di sampingnya itu pun ikut tersenyum.
Sita menarik nafasnya dalam-dalam. Langkah kakinya terasa sangat ringan karena kini dirinya dapat bertemu lagi dengan kekasih yang begitu dirindukannya. Dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku jas putihnya, Sita melangkah mendekati Aditya yang tersenyum manis padanya.
" Apa kabar mas...?" sapanya.
" Baik....!" jawab Aditya.
Angin bertiup kencang menerpa tubuh Sita dan Aditya yang kini berdiri saling berhadapan di pelataran belakang Puskesmas.
" Boleh kenalan, namaku Aditya, namamu siapa...?" Aditya menyodorkan tangannya.
" Mas ini ada-ada saja...!" tukas Sita sambil tersenyum malu.
Suster Reni dan suster Hani, bu kantin dan Rahmat tersenyum melihat mereka berdua yang kini melangkah berdua sambil bergandengan tangan.
" Kita mau kemana ini Mas...?"
" Mm...kesuatu tempat dimana hanya ada aku, kamu dan Tuhan...!" jawab Aditya sesaat sebelum mobil taft miliknya melaju.
Sita hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawaban kekasihnya itu.
Rupanya Aditya mengajak Sita ke kota kecamatan, sebuah rumah makan terkenal dengan menu ayam gorengnya menjadi pilihan Aditya. Setelah memesan makanan, Aditya kembali mengajak Sita untuk memilih tempat duduk di sebuah meja di pojok ruangan.
" Aku kangen kamu dik Sita...!" Aditya berkata sambil menatap wajah cantik Sita dihadapannya.
" Sita juga mas...!" jawab Sita pelan dan hampir tak terdengar karena kepalnya di tundukan untuk menghindari tatapan Aditya yang selalu membuat debaran jantungnya ribuan kali lebih kencang.
" Maafkan Sita mas Aditya, Sita tidak beri tahu mas Aditya tentang kepulangan Sita ke Palembang. Sore itu ketika mas Aditya mengantar pulang, Sita ingin beri tahu mas tentang surat dari ibu yang menyuruh Sita pulang, tapi Sita tidak ingin mas bingung dan gelisah karena mas harus pula pergi ke kota yang sama namun berbeda tujuan...!" Sita akhirnya berkata dan meminta maaf pada Aditya. Diceritakannya pula bagaimana dirinya selama di rumah kedua orang tuanya juga tentang Zaini. Aditya tersenyum senang karena Sita ternyata sangat pintar mengatur strategi agar lolos dari jeratan pria bernama Zaini itu.
" Aku jadi ingin bertemu dengan Zaini itu...!"
" Mau apa...?" tanya Sita.
" Mau aku peluk calon istrinya ini dihadapannya...!" jawab Aditya.
" Mas....!" " Sita tidak ingin mas bilang kalau Sita ini adalah calon istri laki-laki brengsek itu...!" tiba-tiba Sita merasa kesal karena Aditya memanggilnya dengan sebutan calon istri.
" Bukankah benar adik Sita ini adalah calon istrinya Zaini...?" ujar Aditya.
" Oh jadi mas sudah mengaku kalah dan mengikhlaskan Sita untuk jadi istrinya Zaini, iya...?" " Baiklah kalau begitu...!" Sita berkata lalu beranjak dari duduknya.
Aditya terkejut dan segera menyadari kesalahannya.
" Dik Sita...aku minta maaf...!" Aditya segera meraih lengan Sita.
" Lepaskan mas...!" Sita berusaha melepaskan tangan Aditya.
" Sita...tolong jangan salah faham dulu, aku benar-benar minta maaf, aku memang sudah keterlaluan...!" " Tolonglah sayang...!" Aditya menarik kembali lengan Sita.
Sita pun menangis seketika. Aditya kembali dibuat sangat terkejut, karena tidak ingin menjadi pusat perhatian orang, Aditya pun memutuskan membatalkan pesanannya dan membawa Sita kembali masuk kedalam taft miliknya. Di dalam mobil tangisan Sita kembali mengencang, Aditya merasa sangat bingung.
" Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu dik..tidak sama sekali...!" " Tapi kalau memang kesalahan aku ini tidak bisa adik maafkan, aku terima..aku salah...!" Aditya berkata sambil melajukan mobilnya. Aditya meremas rambutnya saking kesalnya dengan apa yang dilakukannya tadi, dirinya merasa sangat menyesal.
" Maafkan Sita mas, Sita terlalu emosi...!" tiba-tiba Sita berkata sambil mengusap pipi Aditya yang menatap lurus ke depan memperhatikan jalan. Aditya pun segera menepikan mobilnya, dipandanginya wajah Sita.
" Aku takut kehilangan kamu sayang, aku bisa gila jika tidak ada kamu disisiku...!" ujar Aditya.
" Iya mas, Sita faham...maafkan Sita juga mas Aditya...!"
" Iya sayang...!"
Entah siapa yang memulai, kini keduanya saling merapatkan tubuh mereka lalu berciuman dengan hangatnya.
__ADS_1