
Sita sudah pernah menyampaikan keinginannya untuk menikah hanya secara agama dan adat saja sehingga teak perlu direpotkan dengan resepsi yang memakan biaya yang sangat besar. Namun Sultan Mahmud menolak keinginannya itu karena sebagai pejabat dan juga pengusaha dirinya memiliki banyak kolega yang sudah mengetahui kegagalan pernikahan putrinya dengan putra dari sahabatnya yang kini terlibat perang dingin. Sultan Mahmud ingin menunjukkan bahwa putrinya sudah mendapatkan tambatan hati dengan dinikahi Aditya yang seorang insinyur dai perusahaan bergengsi milik pemerintah.
" Tidak apa, kita turuti saja keinginan ayahmu, insha alloh mas siap untuk membiayainya...!" ujar Aditya saat Sita membicarakan hal ini padanya.
" Tapi mas, merayakan peseta pernikahan di tengah orang yang berkabung itu tidak baik bukan, ini akan membuat hubungan yang tidak baik. Sita memang tidak jadi menikah dengan Zaini tapi bukan berarti harus bermusuhan juga dengan kedua orang tuanya yang tidak bersalah apa-apa. Zaini itu pria labil dan suka main perempuan tapi mereka tidak tahu, mereka menganggap jika Zaini pria baik yang penurut. Kejadian penangkapan Zaini saat itu pastinya membuat shock keluarga besar Sultan Fatah, mereka akan semakin menaruh ketidak simpatian dan akhirnya menjadi sebah dendam, Sita tak mau itu...Sita ingin kita hidup bahagia...!" tukas Sita.
" Mas faham sayang dan mas setuju dengan apa yang kamu ucapkan barusan. Kita akan coba sampaikan pada ayahmu, semoga saja ada jalan keluar terbaik...!" jawab Aditya dengan bijak. Sita tersenyum, sifat Aditya itulah yang membuatnya jatuh hati pada pria berdarah Sunda itu.
" Tidak Sita, kamu ini anak perempuan kami satu-satunya, kamu layak mendapatkan sanjungan dan pujian di pesta pernikahanmu...ayah ingin membuatmu bahagia di hari bahagiamu, ayah ingin menebus kesalahan yang pernah ayah lakukan padamu, terutama pada Aditya...!" Sultan Mahmud tetap pada pendiriannya.
" Ibu rasa wajar kalau ayahmu berkeinginan seperti itu Sita, ini untuk terakhir kalinya kami menikahkan, tak ada lagi bukan...?" Nyonya Zubaidah ikut menambahkan ucapan suaminya.
Sita pun terdiam, apa yang menjadi keputusan orang tuanya kini tidak dapat di bantah. Sita pun menyetujuinya.
PROSESI ADAT PERNIKAHAN PALEMBANG
Selepas membacakan sighat taklik seorang suami dimana merupakan sebuah janji seorang suami terhadap istrinya, acara dilanjutkan dengan pemberian seserahan yang dibawakan oleh Aditya untuk Sita yang sah menjadi istrinya sekarang. Namun sayang, dirinya harus kembali menunggu untuk dapat bertemu dengan kekasih yang sudah amat dirindukannya itu.
Nyonya Zubaidah dan seorang yang dituakan dari fihaknya menghampiri Aditya lalu memasangkan songket motif lepus ke punggung nya sambil ditariknya perlahan menuju sebuah kamar pengantin dimana putrinya telah berada di dalam kamar tesebut menunggu pria yang telah sah mempersunting dirinya. Adat ini yang disebut Gendong anak mantu sebagai lambang bahwa Aditya sudah menjadi bagian dari keluarga mempelai wanita. Sesampainya di pintu kamar seorang dituakan yang disebut tumbu jero itu adalah Mak Qayah. Mak Qayah mengetuk pintu kamar tersebut lalu membuka dan mempersilahkan Aditya untuk masuk ke dalam menemui Sita yang telah sah menjadi istrinya secara agama, adat dan tercatat di negara.
Sita yang tengah duduk di tepian ranjang pengantin kini merasakan debaran di jantungnya saat melihat langkah kaki pria yang telah menjadi suaminya itu. Lama Aditya berdiri menatap wanita berpakaian pengantin berwarna senada dengan dirinya. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi langse sejenis penutup wajah yang berupa untaian benang emas.
Nyonya Julaikha sang juru rias segera mengambil alih prosesi ini.
" Hadirin yang berbahagia, acara selanjutnya adalah buka lengse, pengantin pria boleh membuka lengse mempelai wanitanya...!" " Silahkan nak Aditya...!"
Aditya terlihat gugup dan malu ketika hendak memulainya. Namun dirinya merasa sangat penasaran dengan wajah dibalik langse tersbut. Perlahan disibakannya untaian langse tersebut sehingga memperlihatkan wajah kekasihnya setelah sekian hari tidak bertemu. Seketika senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya, Dipandanginya dengan takjub kecantikan Sita hari ini sebagai seorang pengantin. Jantungnya berdegup kencang karena tidak menyangka jika Sita sangat mempesonakan dirinya. Sehingga tanpa disadari dirinya betah berlama-lama menatapnya.
Tak satupun kata yang keluar dari bibir Sita manakala Aditya membuka langsenya, debaran jantungnya yang sejak tadi tak berhenti berdetak kencang kini semakin mengencang dan membuatnya tersipu malu karena apa yang dilakukan Aditya dilihat oleh semua orang.
" Cantiknya istriku ini...!" ucap Aditya sambil memandang dirinya. Wajah Sita semakin merona mendapat pujian dari Aditya yang telah menjadi suaminya.
Semua orang tersenyum melihatnya.
" Acaranya masih banyak, jadi kalian masih belum bisa berlama-lama di dalam kamar pengantin ini...maaf sekali...!" ujar Nyonya Julaikha kembali. Aditya dan Sita pun tersenyum malu karena gurauan dari juru rias itu.
Acara berikutnya dalah suap-suapan. Seperti halnya tradisi Jawa dan Sunda, Kedua orang tua mempelai menyuapkan nasi kuning pada kedua mempelai sebagai simbol berakhirnya kewajiban mereka sebagai orang tua dalam menafkahi lahir Sita dan Aditya. Dilanjutkan dengan pemberian air setaman yang juga sebagai simbol tanggung jawab yang telah beralih dari ayah dan ibu kepada seorang suami. Prosesi di dalam kamar ini ditutup dengan acara cacap-cacapan, Sulta Mahmud yang pertama kali didaulat untuk mengusap ubun-ubun Aditya dan Sita dilanjutkan oleh bu Fatma dan Nyonya Zubaidah serta mak Qayah.
Setelah selesai kini giliran Sita untuk memberikan sirih panyapo pada Aditya sebagai suaminya sebagai lambang bukti bahwa dirinya menerima dengan ikhlas dan akan patuh pada perintah suaminya dan juga sebagai simbol bahwa sebagai suami Aditya akan bersama sama dalam menjalani hidup berumah tangga dalam keadaan suka maupun duka.
Seorang laki-laki tampak memaksa masuk ke halaman kediaman Sultan Mahmud Mahsyur. Laki-laki itu memberikan sebuah bingkisan yang diterima penjaga yang langsung mengusirnya pergi. Sita dan Aditya yang sudah berada di dalam mobil pengantin sedikit dibuat terkejut karena Sultan Mahmud turun kembali dari mobil yang akan membawa rombongan pengantin menuju sebuah gedung yang telah dipesannya.
" Kamu bawa bungkusan itu jauh-jauh lalu bakarlah...!" Sultan Mahmud memberikan arahan pada para penjaganya.
__ADS_1
" Baik Sultan, laksanakan...!" jawab kedua penjaga keamanaan itu.
Sita tampak gelisah melihat kejadian itu.
" Ada apa ini mas...?" Sita menolehkan wajahnya menatap Aditya.
" Tidak apa-apa, ayah sudah mengatasinya, kamu tak perlu khawatir...!" Aditya mencoba menenangkan Sita dengan mengusap punggungnya. Sita pun tersenyum.
NATUR HALL
Pasangan pengantin ini tak henti-hentinya menebar senyuman pada semua orang saat turun dari mobil menuju ke gedung resepsi. Sahabat-sahabat Aditya telah berdiri menyambutnya sambil tersenyum begitupun dengan sahabat Sita, suster Reni yang datang dengan Syaiful suaminya. Mereka ikut berbahagia pula.
Acara berbalas pantun kembali menyapa semua tamu sebelum akhirnya mempersilahkan sepasang pengantin ini melangkah menuju pelaminan mereka. Dengan bangga Aditya melangkah di samping Sita yang terlihat anggun dan sangat cantik dengan balutan pakaian pengantinnya. Kilatan lampu blitz merekam semua moment indah itu.
" Kas Sita sangat cantik sekali....!" Nida terpekik melihat kakak iparnya yang tampak merangkulkan tangannya di lengan Aditya.
" Mereka serasi sekali...!" ujar Sofa.
Semua orang memandang takjub pada Aditya dan Sita yang terlihat sangat serasi. Tubuh Aditya yang jangkung tinggi besar tampak sangat melindungi Sita yang berdiri sejajar dengan bahunya.
" Benar-benar pasangan serasi..!"
" Iya benar, yang satu tampan dan yang satu cantik...!"
Pujian tak henti-hentinya terucap dari semua orang dan para tamu undangan melihat pasangan pengantin yang kini telah berdiri di atas pelaminan sambil diapit oleh kedua orang tuanya.
Seorang pembawa acara menyebutkan jika acara akan dibuka dengan sebuah tarian yang bernama Tarian Pagar Pengantin. Sita dibawa oleh tukang juru rias untuk bersiap-siap melakukan tarian. Lima orang penari telah berdiri menunggu kedatangannya. Sita pun melangkah menaiki sebuah dulang lalu kemudian menari mengikuti irama alunan lagu Melayu yang terdengar membahana ke seluruh ruangan.
Keluarga Aditya yang bersuku Sunda kembali dibuat takjub dnegan keragaman ada istiadat budaya tanah Melayu, mereka tampak menikmati semua itu dengan penuh suka cita, Mereka berharap sekembalinya ke kampung halaman, semua itu akan menjadi bahan pembicaraan bersama kerabat nya yang lain yang tidak dapat menghadiri pernikahan Aditya.
Aditya tersenyum untuk yang pertama kalinya melihat Sita menari. Walau tidak selincah penari-penari pengiringnya tetapi Sita dapat memukau semua orang dengan gerakan halusnya yang terlihat anggun selaras dengan kecantikan yang dimilikinya.
" Ternyata istrimu pandai menari juga Dit...!" bisik bu Fatma pada putranya. Aditya tersenyum mendengarnya.
" Aditya juga baru tau bu...!" tukasnya.
Sultan Mahmud kembali mendapat laporan jika ada sesuatu hal yang terjadi di luar. Sultan Fatah tampak menyuruh orang untuk memata-matai prosesi pernikahan Sita dan Aditya. Sultan sangat geram dibuatnya, namun hari ini adalah hari bahagia untuk putrinya, dirinya mencoba menahan diri untuk tidak melakukan hal yang kasar pada orang suruhan Sultan Fatah.
Sita dan Aditya mendapat ucapan selamat dari seluruh tamu undangan yang hadir. Dokter Syarif yang datang dengan istrinya tampak naik ke atas pelaminan dan mengucapkan selamat.
" Akhirnya..selamat ya dok ..selamat juga pak Aditya, kalian memang tangguh...!"
Aditya dan Sita pun tertawa mendengar ucapan dokter Syarif yang memang mengetahui awal mula mereka kenal dan akhirnya menjadi pasangan kekasih.
__ADS_1
" Oiya jangan lama-lama bulan madunya, kami semua di Palju sana sudah merindukan kalian berdua...!"
" Siap dok..!" jawab Aditya.
Mereka pun seketika tertawa.
" Bu dokter....!!!" Bu Siti datang bersama Rahmat yang terlihat berbeda dengan kemeja yang dipakainya.
" Bu Siti...terima kasih sudah mau datang...!"
" Sama-sama bu dokter, saya ikut bahagia melihat ibu dan bapak sekarang ini...!" tukas bu Tuti.
Sita pun segera memeluk nya dengan hangat. Kebaikan bu Tuti sebagai pemilik rumah tidak dapat dipungkiri lagi.
" Oiya Rahmat, kamu kelihatan tampan hari ini....!" Aditya memuji Rahmat yang langsung menyeringai mendapat pujian darinya.
" Rahmat sengaja pakai agar terlihat seperti pak Aditya yang gagah dan tampan!" tukas Rahmat.
Aditya da Sita pun tertawa mendengar jawaban Rahmat.
Setelah berfoto bersama kembali mereka melanjutkan dengan makan-makan yang telah disediakan.
Para pejabat dari seluruh intansi pemerintah tampak menghadiri undangan pernikahan yang diberikan Sultan Mahmud pada mereka. Sultan Mahmud menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita dan langsung memperkenalkan Aditya.
" Beruntung sekali putri anda Sultan, pak Aditya ini saya kenal karena kedermawanannya lho...!"
" Oiya...?" Sultan Mahmud terkejut mendengarnya.
" Masyarakat Plaju sana itu sudah banyak dibantu menantu anda ini, beliau menjadi orang tua asuh bagi anak ayatim disana juga pembangungan fasilitas desa yang sudah banyak pula mendapatkan sumbanganyya!"
Sultan Mahmud semakin bangga pada menantunya itu. Namun semua itu tidak lantas membuat Aditya menjadi pongah dan takabur, Aditya tetaplah orang sederhana baik secara fisik maupun sikapnya.
" Selamat Dit, kita semua ikut bahagia...!" Hendra merangkul Aditya.
" Trima kasih Ndra...trima kasih...!" jawab Aditya.
" Selamat ya dok...!"
" Trima kasih pak Joko...!" jawab Sita sambil tersenyum ramah pada sahabat-sahabat suaminya yang pernah dikenalkan Aditya tempo hari. Mereka tampak lucu karena saling berebutan untuk meminta foto untuk mengabadikan moment indah hari ini.
" Pak Aditya, masih ingatkan nasihat saya...?" tanya Joko sambil menatap Aditya.
" Ha..ha...ha...!" Aditya tertawa seketika mengingat semua itu.
__ADS_1
" Bu dok, semalam pak Aditya curhat sama kita-kita kalau pak Aditya sudah tak sabar ingin segera malam pengantin karena sudah banyak teori yang di dapatkan dari kami-kami ini tetapi belum di praktekan...!" Joko kembali menggoda Sita dan Aditya yang seketika merah padam karena godaan mereka. Sita faham dengan apa yang diucapkan dan seketika di cubitnya pinggang Aditya. " Akan aku coba semua teorimu itu Ko...tenang...!" jawab Aditya sambil meringis menahan sakit.