
PLAJU
Aditya tengah memeriksa temperatur mesin bersama dua orang pekerja tambang ketika seseorang memberi tahu jika ada sorang bocah laki-laki bernama Rahmat ingin menemui dirinya. Aditya pun segera turun untuk menghampirinya.
" Mat..Rahmat, kamu kesini untuk memberi tahu kalau dokter Sita sudah kembali kan...?" tanya Aditya sambil tersenyum.
" Bu..bukan pak...!" jawab Rahmat gugup.
" Lalu...?" Aditya berkata sambil mengernyitkan dahinya.
" Mm..ini pak...tadi pagi ada pak kades ke rumah menyerahkan amplop ini, mmh..ini dari dokter Sita untuk pak Aditya bukan...?" Rahmat berkata sambil menyerahkan amplop putih di tangannya pada Aditya. Aditya pun segera mengambilnya. Melihat tulisan tangan di amplop tersebut dirinya yakin jika surat itu memang untuk dirinya.
Palembang, 27 Desember 1990
Teruntuk :
Mas Aditya Nugraha
Apa kabar mas....?
Masih ingatkah mas Aditya pada Sita atau sudah lupa ...?
Kalaupun mas Aditya sudah lupa pada Sita, itu tidak apa-apa, karena Sita sadar jika kita menjadi seperti ini karena Sita yang tidak berani bersikap saat ayah membawaku pergi.
Tapi bagi Sita semua ini sangatlah tidak mudah, tidak sedetikpun Sita bisa melupakan mas Aditya. Semakin hari bayangan wajah mas Aditya selalu terbayangkan.
Masih ingatkah mas Aditya dengan apa yang pernah kita lewati bersama...?
Semua terasa sangat indah dan sulit dilupakan. Sita sangat merindukannya ingin rasanya kembali ke Plaju dan merangkaikan kembali jalinan cinta kita.
Apakah Sita masih ada di hatimu mas...?....atau sudah tergantikan dengan wanita lain....?
Sita disini masih seperti saat kita bersama, mencintaimu dengan penuh ketulusan, mencintai dengan sepenuh hati. Berjuta harapan Sita sampaikan dalam doa-doa agar kita bisa bersama kembali. Tetapi jika hatimu sudah berubah Sita pun akan terima dan mencoba untuk menjalani hidup walau dengan penderitaan.
Sita begitu merindukan mas Aditya, sangat rindu....
SITA
__ADS_1
Aditya membaca satu persatu kata-kata yang tertulis di dalam surat yang dibuat Sita untuknya. Air matanya pun jatuh membasahi pipinya.
" Tidak akan ada wanita lain selain dirimu Sita...!" ucap Aditya lirih. Dilipatnya kembali surat dari Sita lalu dimasukannya ke dalam saku kemejanya.
" Mat, besok Rahmat kembali kesini, bawakan surat balasan dari saya untuk dokter Sita lalu kamu kirim ke kantor Pos di kota kecamatan, pakailah motor saya saja..!"
" Baik pak, besok Rahmat kemari...!" jawab Rahmat sambil tersenyum menatap Aditya.
Aditya pun membalas senyum bocah itu.
KEDIAMAN SULTAN MAHMUD
Sita merasakan sedikit kegembiraaan menakala tanpa sengaja dirinya membuka tas dan menemukan alamat lengkap desa tempat dirinya pernah tinggal di Plaju. Dirinya segera menuliskan sepucuk surat untuk Aditya dan berharap Aditya akan segera menerima surat darinya karena jarak Palembang ke Plaju yang jauh. Namun semua itu tidak lantas menyuruti niatnya untuk menyampaikan kegelisahan hatinya manakala jarak memisahkan dirinya dan Aditya.
" Mak Qayah...!" panggilnya pada sosok wanita tua yang sedang memasak di dapur.
" Syukurlah sudah mau keluar kamar...?" " Mau makan ...?"
Sita menggelengkan kepalanya.
" Lantas maumu apa...?" tanya bu Qayah.
" Kira-kira mas Aditya sudah menerima suratnya apa belum yah Mak...?"
Mak Qayah menarik nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.
" Mak tak tahulah itu, kau yang lebih hafal denga jaraknya...!"
" Tapi Mak nggak lupa kalau suratnya dikrim dengan jasa " kilat' kan ...?"
" Tentu saja, Mak tak lupa itu sayang...!" jawab bu Qayah sambil mencubit dagu Sita yang lancip.
Sita pun tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara langkah yang sudah mereka hafal. Sita pun segera diam seribu bahasa.
" Sita, kau bersiap-siaplah nanti malam, Zaini baru saja kembali dari Jepang, dia akan kemari menemuimu...!" ucap Sultan Mahmud Mahsyur.
Sita diam tanpa menjawabnya.
__ADS_1
" Kau dengarkan apa yang ayah katakan Sita...???!!!!" kini suara Sultan Mahmud pun mengencang.
" Iya, Sita dengar ayah...!' jawab Sita kemudian.
" Bagus...!" Sultan Mahmud pun pergi kembali ke dalam rumahnya.
" Zaini lagi Zaini lagi, apa bisa kalau ayah tidak selalu menyebut nama pria itu...!" Sita berkata dengan ketus dan wajah yang ditekuk karena kesal.
" Sita anakku...mak sarankan agar kau tidak melawan apa yang ayah kau perintahkan, kalau hanya bertemu sajo dengan Zaini, tak apalah...Zaini akan senang melihat kau tampak mau didekati, hatinya akan gembira dan jika sudah tertawan maka apapun yang menjadi keinginanmu akan dia penuhi, cobalah ikuti saran Mak dulu...kau masih ingin bersua dengan Aditya mu itu bukan...?" bu Qayah kembali menasehati Sita.
" Iya Mak, Sita akan coba saran Mak...!" jawab Sita sambil tersenyum.
PLAJU
Plaju, 2 Januari 1991
Untuk : Sita
Sita kekasihku...
Surat darimu sudah aku terima, rasanya sedih namun gembira, karena akhirnya kita dapat bersua walau hanya lewat tulisan dalam surat. Hatiku begitu gembira membaca kata demi kata tentang perasaan cintamu padaku yang tidak pernah berubah. Aku pun seperti itu, cintaku tidak pernah berubah, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan dirimu. Buang jauh-jauh fikiran itu.
Sita, aku telah berjanji jika aku akan memperjuangkan cinta kita selama kita masih memiliki keyakinan. Yakinkan dirimu kalau kita berdua mampu melewatinya. Membayangkan kamu hadir disini adalah satu-satunya caraku menumpahkan rasa rinduku ini. Tidak mudah menerima keadaan kita yang seperti ini, rasanya tak ada gairah hidup, namun apa daya, untuk saat ini mungkin hanya surat yang bisa menyampaikan kerinduan kita berdua.
Sita kekasihku...
Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Percayalah sayang.....
Dari kekasihmu
ADITYA
Aditya tersenyum sambil melipat surat yang akan dikirimkannya untuk Sita. Diciumnya berkali-kali surat itu sebelum akhirnya dimasukan ke dalam amplop surat. Rahmat yang sedari tadi menunggunya sudah siap untuk membawakan surat itu ke kantor Pos.
" ini suratnya Mat, pakai perangko kilat ya...?!"
" Baik pak...!" jawab Rahmat dengan penuh semangat.
Aditya pun tersenyum.
__ADS_1