Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 20 ( Aditya dan Bu Fatma )


__ADS_3

Kepulangan Aditya disambut keluarga dengan penuh suka cita. Bu Fatma memasak makanan kesukaan putra sulungnya itu Makan malam mereka terasa sangat berbeda malam ini karena kehadiran Aditya yang sudah mereka rindukan.  Aditya tersenyum bahagia karena bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya, bu Fatma, Nida dan Sofa.


    " Kak kalau disana makanan khas nya apa....?" tanya Nida adiknya.


    " Empek-empek, tapi kak Aditya juga nggak sering nemu pempek kalau di Pjaju, kalau di kota Palembangnya  banyak yang jual...!" " Hampir di setiap gerai makanan, pempek pasti ada..! jawab Aditya.


    " Memangnya dari Plaju ke kota Palembang itu jauh ya kak...?"


    " Cukup jauh, kita harus lewati jalan tanah dan hutan, kalau hujan apalagi bisa-bisa mobil yang ditumpangi kita ambles ke tanah basah, repotlah pokoknya..!"


    " Wah segitu parahnya...!" Nida terkejut,


    Aditya tertawa mendenegar ucapan Nida adiknya.


    " Tapi kenapa kak Aditya bisa betah disana...?" Sofa ikut nimbrung pembicaraan mereka.


    " Ya kan tugas, iya kan kak...?" Nida menimpali sambil menatap Aditya.


    " Bisa jadi iya, karena tugas dan asyik aja...!" jawab Aditya.


    " a jangan-jangan kak Aditya kecantol wanita cantik di sana ya...?" Sofa mendelik ke arahnya sambil tertawa. Aditya pun tersenyum sambil mengucek kepala adik bungsunya itu.


    Bu Fatma tersenyum mendengar ocehan-ocehan kedua putrinya itu, kerinduan mereka dengan sang kakak terbayarkan sudah.


Aditya duduk di kursi teras rumah, aneka bunga menghiasi lahan yang tidak terlalu besar di rumah kedua orang tuanya itu tetapi mampu membuat halaman rumah mereka terlihat indah dan menarik perhatian orang. Ibunya, Bu Fatma adalah seorang guru di sekolah dasar sedangkan amarhum ayahnya  Pak Akhmad  adalah seorang pegawai negeri di sebuah intansi pemerintah. Mereka hidup sederhana namun sangat bahagia. Ayahnya meninggalkan mereka saat Aditya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas dua sedangkan kedua adiknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, beliau meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas, motor beliau ditabrak seseorang dari belakang,keluarga besar ayahnya ingin mengusut tuntas meninggalnya beliau namun ibunya, bu Fatma melarangnya karena sudah mengikhlaskan kepergian beliau.


    " Dit, belum tidur...?" Bu Fatma menghampiri Aditya sambil membawa teh manis hangat untuk mereka berdua.


    " Belum bu, belu ngantuk...!" jawab Aditya sambil tersenyum menatap ibunya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda.

__ADS_1


    " Bu, apa ibu selalu rindu bapak...?" tanya Aditya.


    Bu Fatma sedikit terkejut mendengar pertanyaan putra sulungnya itu.


    " Tentu saja nak, ibu selalu rindu sama bapakmu itu...!" jawab Bu Fatma sambil membalas senyum Aditya. " Memangnya ada apa kamu kok nanya itu sama ibu...?"


    " Nggak apa-apa bu..!" tukas Aditya.


    Susana berubah hening, semilir angin malam menerpa wajah keduanya.


    " Bu, apa ibu tidak ada keinginan untuk menikah lagi...?"


   Bu Fatma semakin terkejut mendengar ucapan Aditya. " Kamu ini Dit, ada-ada saja...!"


    " Serius bu, Adit tidak akan menghalangi jika ibu memiliki keinginan untuk menikah lagi, dosa jika Adit menghalangi..!:


    " Aditya, dengar....!" " Kalau ibumu ini ingin menikah lagi ya tidak hari ini, mungkin selepas bapak mu meninggal karena ibu waktu itu masih muda, tapi ibu telah berjanji sama bapakmu untuk tidak akan menikah lagi apapun yang terjadi, bapakmu itu kurang apa baiknya, bapak banyak mengajri ilmu agama pada ibu, bapakmu orang yang penyayang dan begitu perhatian, bertahun-tahun ibu menikah dengan bapakmu, belum pernah sekali pun ibu disakiti jasmani maupun rohani ibu, tidak pernah...jadi bagi ibu, janji adalah janji...ibu mencintai bapakmu begitupun dengan bapakmu...mengerti itu Aditya..?!" Bu Fatma menjawab pertanyaan Aditya dengan nada tegas.


    " Apa kamu memiliki kekasih Aditya...?" tiba-tiba bu Fatma berkata seakan-akan mengetahui isi hatinya. Aditya mengangukkan kepalanya. Bu fatma tersenyum menatap putranya itu.


    " Siapa perempuan itu nak...?" tanya bu Fatma


    " Namanya Sita bu, dia wanita asal Pelambang...!" jawab Aditya.     " Oiya bu, ibu keberatan kalau Aditya menikah dengan perempuan berlainan suku dengan kita..?" dengan cepat Aditya bertanya kembali pada ibunya karena khawatir jika keinginannya tidak mendapatkan restu dari ibunya, sama ketika dirinya mengenalkan pacarnya dulu yang berlainan agama dengannya.


    " Lho kenapa memangnya, kalau berlainan suku apa masalahnya...?" tukas bu Fatma.


    " Sungguhkan itu ibu, ibu memberi restu...?" Aditya tersenyum karena bahagia mendengar jawaban ibunya.


    " Kapan kamu akan mengenalkannya sama ibu...?" ujar bu Fatma.

__ADS_1


    " Secepatnya bu, tapi........." Aditya kembali merasa tersontak dengan kenyataan yang kini dihadapinya. Wajahnya berubah sendu.


    " Tapi apa ....?" ujar bu Fatma.


    " Aditya bertemu dengan Sita untuk yang pertama kalinya di Puskesmas tempat dimana Sita sedang praktek ko as disana sedangkan Aditya sedang mengantar karyawan kilang yang kena patuk ular berbisa,..!"


    " Maksudmu, Sita itu seorang dokter...?" tanya bu Fatma.


    " Iya bu, Sita adalah calon dokter, kami berdua saling kenal dan akhirnya jalan berdua dan saling mengenal satu sama lain, Kami berdua merasa cocok, dia lembut sekali orangnya, walaupun berdarah sebrang tapi dia sangat lembut dan penyayang,tak segan dia menolong pasien-pasiennya yang tidak mampu tanpa pamrih, Aditya mencintainya bu, kami seagama dan sama-sama saling mencintai, hanya saja....Sita itu putri seorang bangsawan sekaligus putra pejabat tinggi di kota Palembang, dia putri satu-satunya Sultan Mahmud Mahsyur yang begitu terkenal, dan Sita akan dijodohkan oleh ayahnya itu....!"


    " Subhanalloh....!" BU Fatma menyebut asma Tuhan saat mendengar penuturan putra sulungnya itu. " Dimana Sita sekarang...?"


    " Dia diambil paksa pulang oleh orang tuanya, kami sempat hilang kontak namun tiba-tiba Tuhan memberi jalan keluar, Sita mengirimkan surat begitupun dengan Aditya bu, kami berdua saling berbalasan surat untuk kami menjaga hubungan ini, dan tanpa sengaja Aditya menemukan secarik kertas yang ternyata adalah nomer rumah kediaman Sultan Mahmud, kemarin Adit coba menelponnya dan ternyata Sita yang mengangkat telponnya, akhirnya kami bisa berhubungan lagi bu...walau hanya dengan suara saja tapi sudah membuat hati ini merasa bahagia....!" " Oiya, Sita pun menitipkan salam untuk ibu juga...!"


    " OIya...syukurlah, ternyata Sita itu perhatian juga pada ibu...!"


    " Kan Aditya suka cerita juga tentang ibu, Sita bilang ingin dikenalkan juga, tapi sayang sebelum terlaksana, Sita dibawa pulang bu...!" " Aditya bingung dan takut bu...Adit takut kehilangan Sita...!" tiba-tiba Aditya menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya pun tergenang di pelupuk matanya yang bulat.


    " Bu.....!" Aditya bersimpuh di pangkuan bu Fatma. Tangisannya kini tak mampu lagi ditahannya.


    Bu Fatma mengusap lembut kepala putra sulungnya itu, sebagai seorang ibu dirinya dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Aditya.


    " Sabar nak, jadikan solat sebagai petunjuk semua masalahmu....ibu akan selalu mendoakan agar keinginanmu tercapai...!"


    " Aditya mohon ibu...doakan Aditya,,,anakmu ini sangat mencintainya...!"


    " Tentu saja nak, tanpa kamu minta doa ibu akan selalu ada untukmu, percayalah...!" ujar bu Fatma sambil mengusap air matanya yang menetes.


    " Trima kasih bu...!" jawab Aditya.

__ADS_1


    Kedua adiknya, Nida dan Sofa yang tadi menonton televisi kini mendnegar dengan jelas apa yang diperbincangkan kakak dan ibunya. Kedua nya pun saling melempar pandang, rupanya apa yang mereka bicarakan tempo hari benar adanya, jika kakaknya itu  telah menemukan wanita yang dicintainya.


__ADS_2