
KEDIAMAN SULTAN MAHMUD
Sebuah sedan mewah hitam metalic masuk kedalam halaman rumah kediaman Sultan Mahmud, tak lama kemudian seorang pria muda keluar dari dalam mobil mewah itu sambil merapihkan kancing kemeja jasnya. Sultan Mahmud Mahsur si pemilik rumah segera menyambut kedatangan pria tersebut lalu mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.
" Sita sudah lama menunggumu nak Zaini...!"
" Oiya...?" ujar Zaini sambil tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan calon mertuanya itu.
Sita sedang menonton televisi ketika ayahnya dan Zaini menghampirinya.
" Cantiknyo calon istriku ini, apa kabarnyo...?" Zaini berkata sambil duduk mendekati Sita. Diulurkannya tangannya ke arah Sita.
" Baik..!" jawab Sita sambil menerima uluran tangan Zaini.
Wajah Sita seketika memerah dan melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Zaini yang bermain menggelitii telapak tangannya. Ingin rasanya menyumpahi pria yang duduk di sampingnya ini namun perkataan mak Qayah temapo hari terus diingatnya.
" Oiya ini ada oleh-oleh untuk kamu cantik...!" Zaini mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang dipakainya. Sebuah kotak hitam berpita merah di serahkannya pada Sita. " Bukalah...!"
" Tidak usah, tidak perlu merepotkan...!" Sita menolak pemberiaan Zaini.
" Sita, tidak baik menolak pemberian orang lain..!" Sultan Mahmud yang melihat penolakan Sita segera berucap dan menatap Sita dengan tajam.
Dengan berat hati akhirnya Sita pun mengalah dan menerima kotak hitam tersebut lalu membukanya perlahan. Sebuah jam bermerk terkenal buatan Jepang terlihat berkilau. Mata Sultan Mahmud nampak terbelalak melihat kemewahan jam itu.
" Mau saya pakaikan...?" Zaini menawarkan diri untuk memakainkan jam tangan ke pergelangan tangan Sita.
" Tidak usah, saya bisa sendiri ...!" jawab Sita. Tak ada senyum kebahagiaan yang nampak diwajah cantik Sita saat menerima jam tangan mewah pemberian Zaini. Segala kemewahan yang di tawarkannya tidak secuilpun membuat hatinya tergoyahkan jika cintanya hanya untuk Aditya semata.
" Oiya nak Zaini, sesekali ajaklah Sita ini jalan-jalan, rasa-rasanya dia suntuk selama disini, kerjaannya hanya tidur saja...!"
Zaini tersenyum senang mendengar Sultan Mahmud yang mengizinkan dirinya membawa Sita keluar rumah, ini kesempatan emas karena dirinya ingin Sita lebih dekat dengannya.
" Bagaimana menurutmu Sita...?" tanya Zaini sambil menatap Sita.
__ADS_1
" Saya ikuti apa yang ayah katakan saja...!" jawab Sita.
Zaini merasa sangat lega, karena keinginannya dapat terpenuhi.
KOTA PALEMBANG
Sita merasa bersalah pada Aditya saat dirinya harus berjalan-jalan dengan Zaini, namun semua ini berusaha di jalaninya demi kelancaran hubungannya dengan Aditya. Zaini mengajak Sita berjalan-jalan ke perusahaan-perusahaan miliknya, Sita dibuat berigidik saat masuk ke sebuah tempat hiburan yang menurut Zaini adalah miliknya, lalu kemudian Zaini mengajaknya pula ke sebuah kantor dimana disana terdapat sebuah ruangan yang dirancang Zaini sebagai ruang kerjanya yang dilengkapi tempat bilyar dan bar kecil lengkap dengan minumanannya.
" Kamu mau minum apa Sita...?" tanya Zaini saat mereka berada di ruang kerja Zaini.
" Air mineral saja..!" jawab Sita. Dirinya begitu waspada pada sosok Zaini yang sudah dikenalinya suka bermain perempuan. Sita tidak ingin terjebak dalam permainan nya. Namun rupanya Zaini sudah tau apa yang ada dalam fikiran Sita.
" Aku tidak akan memasukan obat ke dalam minuman kamu Sita, kamu nggak perlu khawatir...!" ucap Zaini. Seketika Sita pun terkejut mendengarnya.
" Aku tau kalau hatimu belum menerima kehadiranku seutuhnya Sita, dari sorot matamu aku tau persis ada kebencian disana, tapi jodohmu adalah aku, aku sudah lama menginginkan kamu jadi istriku bukan selirku yang bisa aku tiduri kapan dan dimanapun, aku begitu memujamu sehingga aku tidak ada niatan menodai kamu gadis ku sayang...!" Zaini berkata sambil mendekatkan tubuhnya ke samping Sita.
" Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan itu...?" tanya Sita.
Sita menarik nafasnya dalam-dalam. Seorang laki-laki muda menghampiri mereka sambil membawakan air minum untuknya dan Zaini.
" Diminum...!" ujar Zaini.
Sita masih saja enggan dan ragu dengan minuman di hadapannya.
" Sini kalau kamu ragu biar aku yang mencicipinya dulu...!" tanpa ragu Zaini segera menuangkan air mineral yang dipesan Sita ke dalam sebuah gelas kosong lalu meminumnya sampai habis.
Sita diam seribu bahasa melihat apa yang dilakukan Zaini.
" Lihatlah, tidak terjadi apa-apa bukan...?" ujar Zaini sambil tersenyum menatap Sita.
Sita pun mengangukkan kepalanya.
" Aku tidak akan menodai kamu Sita, tidak akan...tapi aku hanya ingin kamu lebih mengenalku saja, kamu nggak perlu khawatir...!" Zaini tiba-tiba merangkulkan tangannya di bahu Sita.
__ADS_1
Seketika Sita pun memucat " Ingin saling mengenal bukan berarti harus seperti ini bukan...?" Sita menepikan lengan Zaini.
" Kalau sekedar mencium mu kan tidak apa-apa....!" tukas Zaini sambil kembali merangkulkan tangannya. Sita pun segera berdiri.
" Kenapa, keberatan...?" " Kamu bilang saja tak perlu marah seperti itu...!" Zaini menatap Sita.
" Aku..aku bersedia kita akan lebih saling mengenal tapi tidak dengan saling berdekatan secara fisik bukan..?" " Tadi kamu sudah berjanji tidak akan menodai ku...?"
" Ciuman itu berbeda dengan menodai Sita, ciuman adalah bentuk kasih sayang dari sepasang kekasih bukan berrarti harus di akhiri dengan bercinta...!"
" Aku tau, tapi tidak sekarang, aku belum siap...!" jawab Sita.
Zaini menarik nafasnya. " Ok..tidak apa-apa....!" jawabnya.
" Bukankah kamu ingin aku jadi istrimu...?" tanya Sita kembali.
" Iya..!" jawab Zaini.
" Aku tidak akan menolak jika kita sudah menjadi suami istri tapi tidak untuk sekarang, kalau mau menerimanya saya akan lanjutkan hubungan ini tapi jika tidak, biar kita akhiri saja perjodohan ini...!"
" Eits, sayang...aku akan sabar menunggu itu, tapi tak bisa berlama-lama pula, aku akan minta ayahmu untuk menikahkan aku dengan kekasihku yang cantik ini...!"
" Aku terima itu, tapi berikan aku kesempatan untuk menyelesaikan kuliahku kedokteranku dulu, setelah itu baru kita menikah...!"
" Memangnya berapa lama lagi kuliahmu itu...?"
" Mungkin satu tahun kurang lebih...!" jawab Sita.
" Mm..baiklah, aku setuju...aku akan sabar menunggu, asalkan kamu ijinkan aku untuk selalu ingin bertemu...!"
" Iya...!" jawab Sita pelan.
Zaini pun tersenyum bahagia mendengar uapan Sita yang dirasanya sangat mudah.
__ADS_1