
TEMPAT PENGILANGAN
Seperti biasanya para pekerja tambang kilang minyak bekerja dengan giat dibawah terik matahari dan diantara kepulan asap dan suara mesin-mesi berat. Mereka tampak sudah tebiasa bekerja dengan keadaan seperti itu demi menghidupi keluarga mereka.
Aditya adalah pimpinan mereka, Aditya adalah lulusan perguruan tinggi negeri terkenal di kota Bandung jurusan teknik dengan predikat cum laude sehingga dengan mudahnya dia diterima di perusahaan minyak milik negara dan ditempatkan di pedalaman Plaju Palembang dalam satu tahun terkahir.
Ditemani Hendara sahabatnya yang juga sesama alumnus perguruan tinggi yang sama, dirinya berkeliling melihat tempat pengilangan sambil memastikan semua mesin tambang berjalan dengan baik.
" Gimana mesin yang kemarin diperbaiki Ndra, sudah normal lagi...?"
" Sudah di coba itu...!" Hendra menunjuk sebuah mesin yang sedang digunakan oleh para pekerja
" Mm...suara mesin nya belum mulus, sepertinya masih ada yang harus diperbaiki lagi...!"tukas Aditya.
" Ya...kamu tau sendiri kan Dit, yang namanya mesin usang kalau diperbaiki sekali ya terus diperbaiki lagi..gitu lagi..gitu lagi, maunya yang baru.....!" Hendra berkata sambil menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal.
Aditya menarik nafasnya dalam-dalam, apa yang diucapkan sahabatnya itu dapat difahaminya.
" Aku sudah berkali-kali mengirimkan surat ke pusat untuk membawakan mesin baru tapi kamu tau sendiri Ndra...jawabannya masih...."
" Menunggu...!" jawab Hendra sambil tertawa.
" Yes...!" ujar Aditya terbahak-bahak.
Seorang laki-laki berpakaian long jhon khas pekerja tambang tampak sedang menarik sebuah tali rantai. Aditya yang mengenalinya segera memanggilnya.
" Suf...kemari..!"
Yusuf yang dipanggil atasannya segera menghampiri lalu membuka helmnya sebagai tanda penghormatan.
" Gimana keadaan Jiman...?"
" Mm...tadi pagi saya ke Puskesmas dan saya lihat kondisinya sudah jauh lebih baik dari kemarin...!" jawab Yusuf.
" Sykurlah, kalau begitu kamu bisa antar saya ke Puskesmas sekarang...?" ujar Aditya.
" Boleh pak, sekarang...?" tanya Yusuf heran karena dirinya sedang bekerja tetapi atsannya itu malah mengajaknya pergi.
" Sekarang Suf...yang ditengok kan bukan hanya Jiman, tapi dokter Sita...!" ujar Hendra sambil menepuk bahu Yusuf.
" Siapa bilang...?!" ujar Aditya gugup karena ternyata sahabatnya itu mengetahui maksud hatinya karena sejak pertemuannya dengan perempuan bernama Sita itu, dirinya merasakan rindu yang teramat sangat.
" Tuh kan Suf benar yang aku bilang, atasan kita ini sedang jatuh cinta...!" Hendra kembali menggoda Aditya dengan ucapannya. Aditya semakin salah tingkah, wajahnya merah padam.
" Jangan dengar dia, ayo kita jalan sekarang...!" Aditya berkata sambil berjalan meninggalkan Hendra yang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
PUSKESMAS PLAJU
Aditya menghentikan kendaraan jeep yang ditungganginya di pelataran Puskesmas, Yusuf mengikutinya dari belakang.
" Siang pak Aditya...!" sapa seorang suster.
" Siang sus, bisa saya lihat pasien Jiman...?" ujar Aditya.
" Tentu saja pak, silahkan ikut saya..!" ujar suster itu.
Aditya berjalan mengikutinya, namun kepalanya tidak tinggal diam, matanya berkeliling mencari seseorang yang ingin ditemuinya.
" Silahkan pak...!"
" Trima kasih sus...!"
" Sama-sama pak Aditya, permisi...!"
Aditya mengangguk sambil tersenyum ramah pada suster bernama Reni.
" Man...gimana kabarmu...?"
Jiman yang masih tidur terlentang di atas ranjang tampak tersenyum melihat kedatangan atasannya.
" Sykurlah, saya khawatir sekali melihat kamu kemarin, saya takut terjadi apa-apa sama kamu...dan saya membayangkan istri dan anak-anak kamu...!"
" Iya pak, saya berterima kasih bapak sudah mengantar saya kemari dan langsung ditolong oleh dokter...!"
Aditya tersenyum senang melihat kondisi Jiman yang berangsur-angsur pulih.
" Oiya Suf...kamu tunggu disini sebentar, saya akan menemui dokter Syarif dulu untuk mengetahui kondisi Jiman barangkali obat atau biayanya...!"
" Baik pak...!" jawab Yusuf.
Aditya keluar dari kamar perawatan Jiman, dirinya tampak celingukan mencari seseorang.
" Pak Aditya mencari seseorang..?" tiba-tiba dirinya dikagetkan dengan suara dikter Syarif yang berdiri di belakang tubuhnya.
" Eh dok...mm..anu..saya habis menengok Jiman...dan mau mengucapkan terima kasih pada dokter karena dokter telah menyelamatkan nyawa Jiman...!" Aditya menjawab pertanyaan dokter Syarif dengan terbata-bata.
" Wah kalau begitu anda salah besar jika berterima kasih pada saya, seharusnya pak Aditya berterima kasih pada..." " Sita...sini ada yang mau menemui kamu...!" dokter Syarif membuka pintu sebuah ruangan dimana seorang perempuan cantik berjas putih tengah duduk sambil menuliskan resep.
" Siapa dok...." Sita terkejut melihat kedatangan pria yang diam-diam membuat getaran dalam hatinya.
" Apa kabar...?" Aditya langsung menjulurkan tangannya.
__ADS_1
" Baik..!" jawab Sita.
" Nah berhubung sudah bertemu, kalian lanjutkan pembicaraan kalian...saya masih ada pasien...!" dokter Syarif berkata sambil tersenyum penuh arti pada Aditya dan Sita.
" Mm..." gumam Aditya, seketika suasana pun hening tanpa suara. Sita menundukkan kepalanya dalam-dalam begitupun dengan Aditya yang semakin terlihat salah tingkah dihadapan Sita.
" Saya..saya...mau mengucapkan terima kasih karena berkat anda nyawa Jiman bisa diselamatkan...!" Aditya membuka pembicaraan.
" Sama-sama...anda tidak perlu berterima kasih, bukankah sudah kewajiban saya sebagai seorang yang menurut anda seorang yang pamer stetoskop..!" jawab Sita.
Sontak Aditya merasa sangat malu dengan jawaban Sita yang menurutnya menyindir kesalahannya tempo hari,
" Mm...rupanya anda masih marah ya ...saya sungguh-sungguh minta maaf...suer...!" Aditya mengacungkan telapak tangannya.
Sita tersenyum geli melihat apa yang dilakukan Aditya.
" My God..!" Aditya berguman dalam hatinya melihat kecantikan perempuan dihadapannya yang mempesonakan dirinya dengan senyumnya itu.
" Kalau tidak ada lagi yang akan dibicarakan, saya permisi pak Aditya...!"
" Eh..ada...eh bukan, maksudnya...tidak ada lagi untuk sekarang, tapi besok..besoknya lagi...besoknya lagi lagi...pasti ada...!" jawab Aditya sekenanya.
" Maksud anda...?" Sita mengernyitkan dahinya karena tidak memahami apa yang dikatakan Aditya padanya.
" Mm..boleh kalau saya ingin bertemu anda lagi dokter Sita..?" tannya Aditya malu-malu.
" Kalau tidak sakit untuk apa anda menemui saya lagi,,,?" tukas Sita pelan.
" Oh harus sakit dulu ya kalau ingin bertemu, kalau begitu saya akan bilang sakit dan minta dokter Syarif untuk anda yang memeriksanya...!"
" Kenapa harus saya, saya ini masih ko-as, lebih baik dengan dokter Syarif saja...!"ujar Sita.
" Sakut saya kan lain dokter Syarif tidak akan sanggup mengobati...!" jawab Aditya.
" Memangnya anda sakit apa pak Aditya...?"
" Malarindu...!" jawab Aditya sambil menatap Sita.
Seketika Sita pun terkejut, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar jawaban Aditya.
" Kenapa, ada yang marah kalau saya bilang saya rindu anda dokter Sita...?"
Sita terdiam, Debaran jantungnya berdebar ribuan kali lebih kencang.
" Saya pastikan saya akan kembali menemui anda dokter cantik, akan saya katakan saya rindu berat dengan anda..seperti halnya anda merindukan saya, permisi dan selamat siang...!" Aditya berkata sambil mengedipkan sebelah matanya lalu meninggalkan Sita yang terdiam dengan wajah merah jambu menahan sebuah rasa aneh yang dirasakannya namun membuatnya senang hatinya.
__ADS_1