
tring... tring...
Suara ponsel Ara berdering menghentikan pelukan mereka berdua, muncul nama bang Azka dilayar ponsel nya.
"Assalamualaikum bang"
"Iya tadi pagi kami pulang,dan sekarang baru nyampe rumah"
"Minta tolong apa?"
"Ha,, males banget.Capek bang, baru juga nyampe."
" Ya udah izin dulu sana sama mas Hendri, kalo gak diizinin ya Ara gak bisa." Jawab Ara memberikan ponselnya pada Hendri.
"Assalamualaikum bang" ucap Hendri memberi salam dengan Azka diseberang telpon genggamnya.
"Iya gak papa bang, kami akan kesana."
"Mas."
"he'em..mas izinin,kasian bang Azka nya. Yok mas antar." Ucap Hendri, mereka kembali menaiki mobil untuk pergi kerumah Azka dan sabilah. Padahal mereka baru aja nyampe rumah, rasa lelah pun belum hilang, eh sudah dapat panggilan darurat.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah Azka.
"Assalamualaikum" salam mereka kompak.
"Waalaikumsalam" jawab Azka membuka pintu.
"Makasih ya kalian mau datang. Kalian pasti capek baru nyampe. Maaf merepotkan, sabilah ngidamnya cuma mau masakan kamu dek." Lanjutnya seraya berjalan masuk rumah.
"Gini nih yang bikin sebel, yang hamil siapa yang repot siapa". Jawab Ara kesal. Ia kesal karena badannya sangat capek habis perjalanan jauh, Mala sekarang disuruh masak buat bumil.
"Demi ponakan aunty.." Jawab sabilah . "Kamu mau ponakan mu ileran terus Ra?".
"Au ah males gua"
__ADS_1
Ara menyiapkan perlengkapan memasak didapur dan memulai memasak request dari sabilah, sementara sabilah ia cuma melihat Ara yang menyiapkan masakan.
Dua pria lainnya sedang duduk diruang tamu, berbincang bincang sambil menunggu masakan selesai.
"Gimana bang rasa nya akan menjadi ayah?" tanya Hendri membuka obrolan.
"Jangan ditanya seneng banget lah.Gak nyangka udah mau jadi ayah aja." Jawabnya.
"Kamu nanti juga pasti merasakannya Hen".
"Aamiin, semoga cepat diberi amanah". Ucap Hendri dengan senyum mengembang. Membayangkannya saja ia bahagia,apalagi kalau kenyataan tuhan memberikan amanah seorang anak.Pasti akan sangat bahagia.
Ara menyelesaikan masakannya sekitar satu jam berkutat didapur,ia menghidangkannya dimeja makan, sabilah yang melihat masakan Ara membuatnya mengeluarkan liur dan ingin segera menyantap nya.
"Kita makan bareng ya,gue panggil mereka dulu." ucap Ara seraya pergi keruang tengah memanggil suami dan abangnya.
"Mas, bang, yuk makan, Ara sudah selesai masak."
"Kamu makan yang banyak ya, biar dedek nya sehat." Ucap Azka mengambilkan nasi beserta lauk nya untuk sabilah.
"Ya elah bilah, manja banget lho." Ucap Ara jengkel melihat sikap manja bilah.
"Gue lagi hamil Ra, anak gue pengen disuapin bapaknya."
''Alasan aja lho, anak lho jadikan alasan".
"Lho nanti bakal ngerasain. Mudah mudahan aja lho nanti ngidam lebih parah dari gue" Jawab nya sedikit kesal.
"Dasar" ucap Ara menjulurkan lidah nya.
"sayang..jangan begitu," ucap Hendri melerai.
Selesai makan siang dirumah Azka Ara dan Hendri langsung pulang, sudah tak sabar rasanya ingin merebahkan tubuh diatas kasur, badannya sangat lelah.
Sesampai dirumah Ara langsung bebersih dan mandi,ia keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk melilit tubuhnya.ia tidak mengganti pakaian dikamar mandi karena ia yang lupa membawa pakaian.
__ADS_1
Ia melihat sekeliling kamar apakah ada Hendri atau tidak, selaku Hendri tidak ada ia berani keluar kamar mandi hanya dengan kemben handuk. Ia masih malu jika harus menunjukkan tubuhnya secara langsung pada Hendri.
Saat mengbil pakaian di lemari ada sepasang tangan yang melingkari perutnya dari belakang.Sontak membuat Ara terkejut.
"Kamu wangi banget sayang." Ucap Hendri tepat di telinga Ara membuatnya merinding.
"Mas,, se..sejak kapan mas disini?" tanya nya gugup.
"Sejak kamu keluar kamar mandi".
"Ihh..mas kenapa gak bilang sih, Ara kan malu."
"Kenapa mesti malu? waktu begitu kamu gak malu yang!"
"Ihhh...mas apaan sih. Ya beda konsep lah mas." Ucap Ara membuat Hendri tertawa.
Hendri membalikkan tubuh Ara menghadapnya.kini jarak tubuh mereka sangat dekat merapat, wajah keduanya saat ini sangat dekat,hembusan nafas berasa satu sama lain.
Hendri semakin mendekatkan muka nya,dan mendaratkan bibirnya dibibir Ara. Dia ******* nya dengan lembut dan menuntut. Tangan Hendri juga tidak bisa diam, melepaskan ikatan handuk Ara,dia menjelajah semua tubuh Ara dan terulang lah kisah mereka. Rasa lelah tadi tak terasa karena terbakar gairah.
Hendri menggulingkan badan nya disamping Ara," semoga cepat jadi. Aamiin." ucap Hendri mengelus perut rata Ara.
Hendri memeluk Ara dalam pelukannya dan tidur setelah pergulatan panjang mereka.
.
.
.
🌹🌹
mohon tinggalkan jejak ya kakak🙏🙏
like coment dan vote nya 🥰🥰
__ADS_1