Dokter Tampan, Sarangheo

Dokter Tampan, Sarangheo
47


__ADS_3

Ara merasakan kram diperutnya, ia fikir cuma kram biasa seperti sebelumnya yang hilang dengan sendirinya. Jadi ia membiarkan saja suami nya pergi.


Tak berapa lama perutnya kembali kram tapi berkepanjangan, kramnya semakin sakit, perut bawah nya seperti akan putus.


Ia berteriak memanggil bik Mirna dan tak lama bik Mirna langsung datang.


"Ya Allah non, non kenapa?" tanya nya panik melihat Ara kesakitan.


"Perut ku sakit banget bik".


Ara mencoba menelepon Hendri tapi sudah berkali kali tidak diangkat.untuk yang ke 10 kali nya Ara mencoba menelpon kembali dan diangkat tetapi Vivi yang mengangkat.


"Assalamualaikum mbak"


"Waalaikumsalam" jawab nya ketus


"Mbak tolong kasih ke mas Hendri mbak. Perut aku sakit mbak."


" Hendri lagi sibuk sama temannya, gak bisa diganggu".


"Tolong mbak, perut aku sakit banget, aku takut kenapa kenapa dengan kandungan ku mbak." Ucap Ara menangis menahan sakit perutnya.


"Manja banget sih kamu. Sakit gitu aja manja. Diemin aja ntar juga baik sendiri." Balas nya cuek dan mematikan sambungan teleponnya.


"Ya Allah mbak".Ara merenggangkan telepon ditelinganya karena sudah diputuskan oleh Vivi.


"Mas kamu kemana? sakit banget mas". ucapnya dalam hati.


"Ya udah non, kita kerumah sakit sendiri saja ya, kita tidak bisa menunggu tuan non'. Ajak buk mirna panik.


Ara setuju untuk kerumah sakit, ia takut kalau lama ditangani akan bahaya bagi kandungannya.


Bik mirna memapa Ara turun dan keluar untuk mencari taksi.


**


Disisi lain kedua orang tua Hendri sekarang sedang dalam mobil,mereka keluar untuk makan malam.

__ADS_1


"Pa, mampir dulu rumah Hendri yuk".


"Ngapain mah?" tanya papa tanpa menoleh karena masih fokus menyetir.


"Mama kangen sama Ara pa, mama mau ajakin dia makan malam pa"


"Ya udah". Jawab papa setuju untuk mengajak menantu mereka. Tak butuh waktu lama mobil mereka sudah memasuki komplek rumah Hendri.dan mereka melihat Ara dari jauh.


"Pa itu bukannya Ara sama bik mirna? ada apa ya?". Hatinya tiba tiba merasa tidak enak melihat menantu nya diluar rumah dengan dipegangi oleh bik mirna.


Dan ternyata benar dugaannya. Sampai nya didepan ia kaget melihat Ara. Segera mereka keluar dari mobil dan menghampiri Ara.


"Ya Allah sayang. kamu kenapa?". Tanya mama dan papa panik.


Tanpa banyak bicara papa langsung membawa Ara kedalam mobil dan segera pergi kerumah sakit.


Ara tidak bisa untuk bicara karena rasa sakit diperutnya. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya.


"Papa cepat pa". teriaknya panik karena melihat darah mengalir dibalik gamis Ara.


"Apa yang terjadi bik? mana Hendri?" tanya papa yang masih fokus menyetir.


Bik mirna juga sangat panik melihat keadaan majikannya.


"Sayang..jangan tutup mata nak, buka mata mu nak". Ucap mama menepuk pipi Ara karena Ara seperti akan menutup matanya.


"Sakit banget ma". Ucap Ara lirih hampir tak terdengar suaranya.


"Tetap buka mata mu nak. Ara..araa."mama sangat khawatir melihat Ara yang sudah tidak sadarkan diri.


"Papa cepat pa, Ara pingsan". Ucap mama menangis.


Papa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia benar benar khawatir melihat keadaan menantu nya. Tak sampai 10 menit mereka sampai dirumah sakit.


Papa menggendong Ara memasuki rumah sakit. Bajunya juga basah terkena darah.


"Panggil dokter cepaaat". Teriak nya pada suster yang bertugas disana. Dia mendorong brankar keruang UGD.

__ADS_1


Sampainya mereka didepan ruang UGD dokter kandungan juga sampai disana.


"Dokter cepat tangani menantu saya". Ucap papa mendorong brankar masuk UGD.


"Baik dok, sebaiknya dokter keluar dulu. Kami akan menanginanya." ucap dokter Viona.


Papa mama dan bik mirna menunggu diluar UGD. Papa mencoba menelpon Hendri tapi tetap tidak diangkat. Berpuluh kali ia menelpon nya tetap saja sama tidak diangkat.


"Anak sialan. kemana kau Hendri". umpat nya marah dengan Hendri.


Papa mama dan bik mirna bangkit karena melihat pintu UGD terbuka.


"Bagaimana keadaan mantu dan kandungannya dok?" tanya papa dan mama kompak.


Dokter menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Kandungan buk Ara tidak bisa diselamatkan dok, dan ia harus segera dikuret".


duarrr....


Bagaikan disambar petir papa dan mama mendengar nya. Air mata menetes jatuh begitu saja membasahi pipi sang papa. Cucu yang diharapkannya dan dinantikan kini sudah tidak ada. Kandungan Ara tidak bisa diselamatkan.


Sang papa mencoba menelpon Hendri kembali. Berkali kali sudah ia menelpon nya tapi tetap saja tidak diangkat.


Tak berapa lama ponsel papa berdering, ia melihat nama Hendri yang memanggil. Tanpa basa basi ia langsung mengumpat anak nya.


"Kemana saja kamu ha? kamu enak enakan bersenang senang diluar sementara istri mu bertaruh nyawa di ruang operasi". Ucapnya dengan suara tinggi. Ia sangat marah dengan putra nya.


"Dasar anak kurang ajar". Umpatnya memandangi ponselnya karena panggilan dimatikan secara sepihak oleh Hendri.


.


.


.


🌹🌹

__ADS_1


jangan lupa like coment dan vote nya ya kak 🥰


__ADS_2