
"Ara dengan dokter Hendri lagi apa ya bang? Mereka pasti lagi senang senang. Pergi ketempat tempat romantis, uuuhhh seneng banget pasti tuh Ara." Ucap sabilah yang masih berbaring ditempat tidur dengan lengan Azka sebagai bantalnya.
"Kamu pengen kesana?" tanya Azka membelai rambut sabilah.
"Ya pengenlah lah bang. Selama ini tu bilah pengen banget kekorea, tapi gak pernah dibolehin sama mama papa bepergian jauh sendiri apalagi sampai luar negeri. Kuliah jauh sini aja lantaran ada Ara,kalau tidak pasti gak dibolehin."
"Nanti setelah adek lahir, abang akan bawa kamu dan anak kita pergi kekorea. bahkan kemana pun kamu mau Abang akan bawa." Ucap Azka mengelus perut sabilah.
"Sayang. Dedeknya gerak." Ucap Azka saat merasa bayi nya bergerak saat dia menyentuhnya.
"Iya bang, dedeknya senang mau diajak healing oleh ayahnya." Ucap sabilah tertawa kecil melihat suaminya geger karena merasakan pergerakan bayinya.
"Aku pengen telepon Ara lah, kangen." Ucap sabilah bangun dan mengambil ponselnya.
"Sayang. Pasti mereka masih tidur, disana masih malam ini."
"hmmm...ya udah deh gak jadi." Ucapnya sambil membuka sosial media nya. Ia melihat postingan baru Ara di Namsan dan kereta gantung.
"Wiiihh..keren banget.Lihat deh bang." Ucapnya memberikan ponsel nya pada Azka.
"ini masih baru, berarti dia belum tidur. gue telponlah." gumamnya sambil menekan tombol panggilan ke nomor Ara.
tuuut...tuuut...tuuut...
"gak diangkat bang. Coba lagi lah." Gumamnya kembali mencoba memanggil. Tapi tetap tidak diangkat dan sabilah mencoba lagi namun panggilannya dimatikan oleh Ara.
Sabilah mengerutkan keningnya heran kenapa panggilannya dimatikan. Ia tersenyum membayangkan pemikirannya, sifat jahilnya kembali muncul. Ia terus menerus memanggil namun tetap dimatikan Ara hingga ia mencoba memanggil lagi tapi nomor Ara sudah tidak aktif. Sabila tertawa terbahak melihat ponselnya.
"Kamu kenapa sayang?" Ucap Azka heran melihat istrinya menatap ponsel tertawa terbahak.
"Gak apa bang. ini cuma jahilin Ara." Jawab nya lagi tertawa.
Azka menggelengkan kepala melihat istrinya yang usil.
__ADS_1
"Ayo cepetan wudhu', sudah Azan subuh tu." suruh Azka dan diangguki sabilah.
***
Ara dan Hendri sudah kembali lagi kehotel setelah perjalanan malam mereka. Ara dan Hendri segera bersih bersih sebelum beranjak tidur.
"Mandi bareng yuk yang?" ajak Hendri.
"Ogah, gak mau. Mandi sendiri sendiri aja." tolak Ara.
"Biar cepat yang, irit waktu."
"Bukannya cepat,mala lama nantinya kalau mandi berdua. Ya udah mas duluan sana". ucap Ara mendorong Hendri kekamar mandi.
Tak berapa lama Hendri selesai dan keluar dari kamar mandi.
"Sayang".
"Ya mas. Sudah selesai?" tanya Ara tersenyum melihat suaminya keluar dengan handuk yan melilit pinggang dan menyapu rambut nya dengan handuk kecil, menambah ketampanan suaminya.
"Mas keinget. tadi katanya kamu mau kasih hadiah sama mas. Apa itu?" Tanya nya melangkah mengambil pakaian.
"Ara mau mandi dulu, nanti mas juga tahu hadiahnya." ucapnya langsung ngacir masuk kamar mandi.
Ara menyelesaikan mandi nya dan langsung bersiap dikamar mandi.Ia merias diri dan memakai wewangian. Ia juga memakai lingrie yang dipilihkan sabilah waktu belanja di mall kemarin.
"Ah. Tipis banget nih baju, sama aja dengan gak pake ini mah." ucapnya melihat dirinya dipantulan cermin.
"Tapi gak perlu malu lah ya, suami sendiri kok. Dia juga Uda sering lihat kan. Jadi gak perlu malu lah." monolog nya sendiri sambil memutar badannya melihat cermin.
"huuff.. bismillah". ucapnya dalam hati dan membuka hendle pintu. Ia berjalan mendekati ranjang tempat tidur, dimana Hendri sedan memainkan ponselnya.
"Mas".
__ADS_1
"Hmm.."
Hendri menjawab hanya dengan deheman tanpa melihat Ara saking fousnya mengotak Atik ponsel.
"Mas".. panggilnya sekali lagi.
"Hmm..apa sayang?" jawabnya masih melihat ponsel nya.
"Ihhhh... nyebelin banget sih." ucap Ara kesal dan membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan Hendri.
Hendri yang mendengar istrinya kesal langsung menoleh. Ia melebarkan matanya saat melihat Ara.
Glek
Hendri menelan saliva nya melihat penampilan istrinya. Ia langsung mengejar Ara dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, tunggu". Ucapnya sambil memeluk Ara dari belakang. "Kenapa mas ditinggal?
"Mas nyebelin. Awas mas, Ara mau ganti pakaian." ucapnya mencoba melepaskan tangan Hendri yang melingkar di perutnya tapi tidak bisa.
"Kenapa diganti? bukankah kamu sudah cantik gini untuk mas?" tanya nya sambil mecium tengkuk Ara sesekali ia juga menggigit kecil kuping Ara sehingga membuatnya meremang.
"Ara kesal sama mas, Ara dicuekin. Ya udah Ara mau ganti saja." ucapnya lagi mencoba melepaskan tangan Hendri. Hendri tidak peduli penolakan istrinya. Ia terus mencium tengkuk dan leher Ara dan meninggalkan jejak merah disana. Melihat Ara yang sudah terbakar gairah Hendri langsung menggendong Ara dan membaringkannya ditempat tidur. Hendri mencium bibir Ara dan **********. Hingga bunyi ponsel membuyarkan mereka.
"Sudah biarkan saja.Jangan diangkat." ucap Hendri dan kembali ******* bibir Ara. Tapi beberapa kali ponselnya berbunyi membuat Ara kesal. Ia melihat ponselnya terpampang nama sabilah disana. Ia mematikan panggilannya.
Hendri kembali mengulang adegan nya tadi yang terganggu, tapi baru saja memulai ponsel Ara berdering lagi, membuat Ara kembali melihat ponselnya. Karena kesal Ara menonaktifkan ponselnya. Merasa sudah tidak akan ada gangguan Hendri dan Ara kembali larut dalam kenikmatan surga dunia.
.
.
.
__ADS_1
🌹
jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 🥰🥰