Dokter Tampan, Sarangheo

Dokter Tampan, Sarangheo
48


__ADS_3

Hendri kini sedang berkumpul dengan teman teman alumni kedokteran, dia senang bisa bertemu dengan teman teman yang sudah lama tidak berjumpa.


"Saya ke toilet dulu ya". Permisi nya dengan teman nya. Tak lama Hendri pergi terdengar getaran ponsel disebelah vivi. Ternyata ponsel Henri tertinggal saat ia hendak ke toilet.


Vivi mengambil ponsel Hendri, terlihat nama my honey memanggil. Dia membulatkan mata nya malas melihat siapa memanggil.


"Apaan sih ni cewek, baru ditinggal bentar aja Uda nelponin". Gerutu Vivi dalam hati. ia membiarkan ponsel Hendri berbunyi berkali kali tanpa mau menjawabnya.


Hingga entah keberapa kali panggilan itu akhirnya ia mengangkat nya.


"Assalamualaikum mbak". terdengar suara diseberang sana.


"Waalaikumsalam". jawabnya ketus


"Hendri sedang sibuk dengan temannya, gak bisa diganggu".


"Manja banget sih kamu. Sakit gitu aja manja. Ntar juga ilang sendiri sakit nya. Uda deh jangan manja." ucapnya ketus dan langsung mematikan ponselnya.


Vivi melihat Hendri sedang berjalan menuju ia duduk dan temannya, dengan cepat ia menghapus daftar panggilan dari Ara dan mengubah mode suara nya dengan getar.


Hendri yang hendak mengambil ponselnya tidak jadi karena ada seorang temannya menarik ia untuk bertemu dengan yang teman lainnya.


Mereka mengobrol serta bercanda bersama,sehingga ia lupa dengan ponselnya.


Hendri teringat ia merasa sudah lama ia meninggalkan Ara,ia pamit pada temannya mengambil ponselnya yang tinggal dimeja Vivi beserta yang lain.


Ia hendak menghubungi Ara menanyakan keadaannya. Saat ia membuka ponselnya banyak notifikasi panggilan masuk dari papa nya.


"Papa. banyak banget.ada apa ya". Ucapnya dalam hati sambil mencoba menelpon sang papa kembali.


Tut..Tut...


Lama sambungan nya baru diangkat oleh papa dan langsung menyemprot nya dengan amarah.


"Kemana saja kamu ha? kamu enak enakan bersenang senang diluar sana sementara istrimu bertaruh nyawa di ruang operasi".


Tanpa menjawab papa nya Hendri mematikan ponselnya dan langsung berlari menuju parkiran. ia tidak peduli teriakan Vivi yang memanggilnya.saar ini pikirannya hanya Ara dan calon anak nya.


ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak butuh waktu lama kini ia sudah sampai dirumah sakit. Ia berlari mencari keberadaan orang tuanya.


"Pa ma,Ara?".Tanyanya gugup dan panik, terlihat jelas wajah nya panik dan khawatir dengan istri nya.apalagi saat ia melihat noda darah dipakaian papanya.


plak..


Tamparan mendarat dipipinya oleh sang mama.


"ma a-"


plak..

__ADS_1


Belum sempat bicara sekali lagi tamparan mendarat dipipi nya.


"Kemana kamu ha? kamu meninggalkan istrimu yang sedang hamil sendiri dirumah. Dimana akal sehat mu ha? dan karena kamu mama kehilangan cucu mama." Ucapnya marah dengan tangis


duarr...


Bagai disambar petir mendengar ucapan mama nya. Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya hingga ia ambruk terduduk dilantai. nafas nya seakan berhenti saat itu juga.


Air mata jatuh begitu saja,Isak tangis nya terdengar begitu pilu.Mama yang melihatnya pun merasa tidak tega melihat putranya seperti itu. ia membawa putranya berdiri dan memeluknya memberi kekuatan.


Dia tau disini selain Ara Hendri lah yang paling terpukul. Kehilangan anak yang dinanti nanti.


Mama merenggangkan pelukan nya saat dokter keluar dari ruang operasi. Mereka semua bergegas menghampiri dokter.


"Bagaimana istri saya dok?" tanya Hendri.


"Alhamdulillah istri anda baik dok, tinggal menunggu kesadarannya saja".


"Alhamdulillah " jawab mereka lega.


"Boleh saya melihat istri saya dok?"


"Sebaiknya jangan dulu ya dokter Hendri. Nanti kalau sudah lebih baik anda boleh melihatnya. dan ada yang mau saya sampaikan dengan dokter Hendri bisakah ikut saya keruangan saya?"


Hendei hanya mengangguk mengiyakan.


"Ma, Hendri keruangan dokter Viona dulu ya".


"Papa ikut". Ucapnya menyusul Hendri dari belakang.


"Ada apa ya dok"? Tanya Hendri cemas.


"Begini dokter Hendri, dokter wirawan. ini mengenai hasil pemeriksaan nona ara." Ucap nya ragu.


"Istri saya kenapa dok?"


"Dari hasil pemeriksaan nona ara keracunan sehingga membuat janin dalam kandungannya gugur". Ucap dokter menjelaskan.


deg..


"apa?"


"apa?"


Keduanya kompak kaget mendengar ucapan dokter.


setelah mendengar penjelasan dokter Viona kini Hendri dan papa kembali keruangan tempat istrinya dirawat.


"bik saya mau tanya sesuatu."

__ADS_1


"Tanya apa den?"


"sebelum Ara sakit apa ada yang ia makan atau minum?"


"Ehmm.. ada den, non Ara makan martabak den."


"Martabak?" tanya Hendri dan papa kompak.


"Iya den, tadi ada seseorang datang membawa martabak,katanya dia kurir mengantar pesanan dari den Hendri untuk non Ara den." Jelas bik mirna panjang lebar.


"Ada apa pa, Hen?. Tanya mama penasaran.


"Gak apa ma, nanti saja papa jelaskan sama mama.


"Trus saat Ara sakit kenapa bibi tidak menelpon saya?"


"Uda den, non Ara menelpon den Hendri berkali kali tapi tidak diangkat, dan pas diangkat non Vivi yang angkat ponsel den Hendri."


Hendri melihat ponselnya, tidak ada panggilan masuk dari Ara. Didekat ponsel nya tadi ada Vivi. dia mengaitkan ngaitkan kejadian ini masuk akal juga.


Jika dugaan nya benar, dia tidak menyangka Vivi tega berbuat jahat seperti itu.


"Pa i-".


belum sempat Hendri bicara sudah dipotong oleh papa nya.


"Papa akan cari tau, kamu tenang aja, papa akan urus semuanya. Kamu fokus saja pada istrimu." Ucap papa mengelus punggung Hendri.


"Hen, mama mau pulang sebentar, biar papamu bebersih dulu ganti baju, nanti mama sama papa kesini lagi".


"Iya ma".


"Dan oh ya bik, bibik pulang aja, istirahat dirumah, bibik ikut mama papa ya".


Kini Hendri tinggal sendiri menunggu istrinya diluar ruangan. Ia hanya bisa melihat istrinya dari jauh, dari kaca yang sengaja tidak ditutup agar Jendri bisa melihat istrinya.


"Sayang..maafkan mas ya". lirih nya dalam hati.


.


.


.


.


🌹🌹


jangan lupa like coment dan vote nya ya kak 🥰

__ADS_1


__ADS_2