Dokter Tampan, Sarangheo

Dokter Tampan, Sarangheo
73


__ADS_3

Hendri tahu dimana letak vila keluarga Vivi dan segera menyusul untuk menyelamatkan Ara istrinya dan juga diikuti oleh papa wirawan dan Azka. Saat mereka sampai, tidak menemukan keberadaan Ara. Cuma ada dua orang laki laki yang sedang tidur.


pikiran mereka sangat kalut. Kemana lagi mereka harus mencari.


"Ya Allah dimana istri ku ya Allah". Ucap Hendri dalam hati. Kemudian suara ponselnya berdering. Ia melihat panggilan atas nama Vivi. Dengan cepat ia mengangkat dan mencecar pertanyaan dengan keras.


"Dimana kau membawa istriku?". sarkasnya dengan suara tinggi.


"Hendri, cepat kamu datang kerumah sakit X. Ara sedang dirumah sakit saat ini." Vivi memberi tahu dan langsung mematikan ponselnya.


"Halo..Vivi. Halo". Teriak Hendri saat panggilan terputus.


"Bagaimana Ara Hen? Diamana dia? Apa yang terjadi?" tanya Azka beruntun.


"Ara ada dirumah sakit X bang. Ayo!" Hendri,Azka dan papa wirawan berlari keluar dari vila dan memasuki mobil. Mereka melajukan mobil kerumah sakit yang diberitahu Vivi.


Flashback.


Terdengar derit pintu terbuka. Ara Menajamkan pandangannya ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.Seketika dia syok melihat siapa yang datang.


"M..mbak Vivi".


"J..ja..jadi mbak Vivi yang menculikku?. Batinnya.


"Eh nona." Para pria itu berdiri menyapa melihat siapa yang datang.


"Kalian pasti lelah setelah bekerja keras. Ini makanlah." Ucap nya memberikan minuman dan makanan sambil melirik kearah Ara.


"Terima kasih nona. Kebetulan kami juga lapar."Timpal pria itu.Dua pria itu langsung makan dengan Vivi yang masih duduk didekat mereka.


Ara menatap Vivi dengan penuh amarah dan kebencian. Ia tidak bisa berbicara karena menahan rasa sakit diperutnya.Sesekali ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untu mengurangi rasa sakitnya.


"Ya Allah tolong hamba ya Allah. Mas tolongin Ara". Ucapnya lirih yang lagi lagi merasakan kontraksi.


Dua pria itu terlihat menguap nguap dengan mata yang sangat berat hendak terpejam. Hingga akhirnya mereka pun tertidur. Ternyata Vivi memberikan obat tidur pada dua pria itu. Setelah dirasa pria pria itu benar benar tertidur, Vivi langsung menghampiri Ara dan membuka tali yang mengikat Ara.


"M..mbak". Ucap Ara terbata.

__ADS_1


"Sstt... Kamu pasti berpikiran aku yang menculik mu kan?". Tebak Vivi seakan tahu apa yang Ara fikirkan.


"M..mbak. Aku."Ucapan Ara dipotong oleh Vivi.


"Sudah. Jangan bicara lagi. Ayo kita segera pergi dari sini sebelum mereka terbangun."


Vivi memapa Ara berjalan keluar dan memasuki mobil.Vivi langsung membawa Ara kerumah sakit.


"Kamu sepertinya akan melahirkan Ra. Kita kerumah sakit aja langsung." Vivi langsung melajukan mobilnya.


"Makasih ya mbak." Ucap Ara tulus meminta maaf.


Sesampainya dirumah sakit Ara langsung dibawa diruang periksa.


"Masih pembukaan dua buk. Ibuk bisa berjalan jalan dulu agar pembukaan nya lebih cepat."


"Makasih dokter Luna." ucap Vivi yang melihat name tag dibaju dokter itu.


"Mbak sudah telfon suami mu. Sebentar lagi dia akan sampai."


"Makasih ya mbak.Karena mbak Ara bisa selamat."


"Ara sudah memaafkan mbak sejak lama mbak.Jadi mbak jangan merasa bersalah seperti ini."


"Kamu memang wanita yang sangat baik Ra. Hendri sangat beruntung mendapatkanmu." Ucapnya dengan mata berkaca kaca.


"hisss.." Ara merasakan kontraksinya timbul lagi."


"Kontraksi lagi?" tanya Vivi.


"Ia mbak. dan jaraknya semakin dekat."


Brak..Suara pintu dibuka dengan kasar. Terlihat tiga pria yang masuk keruangan itu.


"Mas."


"Sayang". Ucap Hendri berlari langsung memeluk Ara.

__ADS_1


"Dek".


"Abang." Hendri juga memeluk ara. Ia sangat merasa ketakutan jika terjadi sesuatu dengan adiknya.


"Sayang. kamu gak papa? Apa yang sakit?". Tanya Hendri kala melihat Ara yang meringis.


"Vivi. kamu.." Belum sempat Hendri meneruskan omongannya. Ara menggenggam tangan Hendri dengan kuat.


"Mas..Bukan." Ara menggelengkan kepalanya. Hendri yang paham maksud Ara menjadi diam.


"Bukan mbak Vivi yang culik Ara mas. Justru mbak Vivi yang selamatin Ara. Kalau tidak ada mbak Vivi, mungkin mas gak akan bisa nuin Ara mas." terang Ara,dan meringis menahan sakit.


"Sayang kamu kenapa? Apa yang sakit?" Hendri meneliti tubuh Ara dan juga mengelus perut Ara.


"Bantu Ara berbaring mas." Hendri langsung membaringkan Ara di brangkar.


"Ara tidak apa apa Hen.Dia cuma kontraksi dan akan melahirkan." Vivi menimpali.


"Sayang. Kamu mau melahirkan?". Tanya Hendri panik. Ara hanya mengangguk. Ia tidak kuat harus bicara.


"Terima kasih Vi." Azka mengucapkan terima kasih karena sudah menolong adiknya. Dan Vivi hanya mengangguk.


"Terima kasih nak. Kamu memang wanita baik." Papa menimpali. "Maafin aku pa. Aku sangat jahat. Papa pasti sangat kecewa terhadapku.


"Papa sudah maafin, pap memang marah sama kamu. Tapi tidak bisa lama lama papa marah, karena kamu tetap putri papa." papa wirawan mengelus rambut kepala Vivi. "Terima kasih pa." ucapnya menangis.


**


Dokter kembali memeriksa jalan lahir Ara. "Sudah pembukaan tujuh ya buk." Ucap dokter itu.


Ara sangat merasakan sakit yang luar biasa.Semakin lama jarak kontraksinya semakin dekat dan semakin sakit.Keringat nya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Saat merasakan kontraksi Ara menggenggam Hendri dengan sangat kencang. Hendri tidak tega melihat kondisi istri saat ini.


"Sayang. Apa sebaiknya kamu sesar aja?" tanya Hendri yang tidak tega melihat Ara kesakitan.


"Tidak mas. Selagi masih bisa lahiran normal. Ara mau normal saja."


Dokter kembali mengecek jalan lahir. "Uda lengkap yah buk pak. Sekarang bisa kita coba yah. Ibu ikut arahan saya ya. Tarik nafas buk, hembuskan dan ngedan." intruksi dokter Luna. Ara mengedan sekali, dua kali, tiga kali dan belum keluar bayi nya.

__ADS_1


"Kepalanya sudah terlihat buk.Sedikit lagi yah." Ucap dokter Luna lagi.


"Kamu pasti bisa sayang." Hendri menguatkan dan membisikkan kata semangat.Dan terdengar lah suara jeritan bayi pertama mereka. dan selang lima menit disusul putra kedua mereka.


__ADS_2