
"Mas. Badan ku remuk semua ini." Ucap Ara merasakan sakit seluruh badannya karena digempur Hendri selama dua hari ini. Selama dua hari ini Hendri tidak membiarkan Ara keluar hotel. Dia memesan makanan atau apapun keperluan lain dari pihak hotel.
Ara mencoba bangun untuk kekamar mandi tapi badannya serasa remuk membuatnya malas untuk bangun.
"Biar mas gendong." Ucap Hendri yang langsung menggendong Ara. Ia menyiapkan air hangat dan memberikan wewangian aromaterapi agar membuat Ara lebih rileks.
Ara berendam di bathtub dan benar saja. Dia lebih rileks dan badannya lebih ringan sekarang.
"Uda rapi aja. Mau kemana emangnya?". Tanya Hendri melihat Ara yang sudah berpakaian cantik.
"Mau keluar lah mas, Mas kan sudah janji kita keluar hari ini. Mas jangan coba coba ingkar ya. Ara gak akan pernah maafin mas kalau mas ingkari janji mas." Ucap Ara kesal, ia malas kalau harus dikamar hotel lagi.
"Iya, mas tidak akan ingkar janji. Tapi apa kamu gak capek kalau harus keluar hari ini? Sebaiknya istirahat saja dulu, besok baru kita keluar.
"Ara Uda baikan kok." jawab nya pasti.
"Kalau Uda baikan, bisa dong lagi." Ucap Azka tersenyum dengan menaik turunkan alisnya.
"Mas." Ara melototkan matanya tanda protes.
"Hahaha....." tawa Hendri pun pecah melihat istrinya kesal.
"Mas becanda sayang." Ucap Hendri menangkap pipi istrinya. "Ayo kita pergi. Sebelum mas berubah pikiran." Lanjutnya sambil menggandeng Ara.
Ara memukul lengan Hendri saat mendengar ucapan Hendri. Bukannya marah Hendri mala tertawa.
***
Tak terasa waktu cepat berlalu. Kini Hendri dan Ara sudah berada di bandara internasional Soekarno-Hatta dan mereka sudah ditunggu oleh sopir keluarga wirawan.
"Kita kerumah atau rumah mama mas?" tanya Ara sambil menyandarkan kepalanya didada suaminya.
"Kita langsung kerumah kita yang. Mama dan sabilah juga sudah menunggu dirumah kita." jawab nya sambil mengelus kepala Ara diluar hijabnya.
Sekitar empat puluh lima menit mereka sampai dirumah. Suara klakson mobil membuat penunggu rumah keluar. Ara langsung keluar mobil dan berlari menghampiri keluarganya.
__ADS_1
"Araaa..... akhirnya pulang. Kangen banget." ucap sabilah memeluk Ara.
"Gue juga kangen". balas Ara memeluk sabilah
"Mama. Ara kangen mama." Ara memeluk mama Indri dengan erat dan mama Indri juga membalas pelukan Ara dengan erat.
"Mama juga kangen dengan putri mama yang cantik ini". Ucap mama sambil mengelus punggung Ara. Mama merenggangkan pelukannya dan menangkap pipi Ara dengan sebelah tangannya.
"Gimana kabar mu selama disana nak? baik aja kan?. Mama khawatir sama kamu soalnya kata sabilah kamu tidak bisa dengan udara terlalu dingin."
"Alhamdulillah Ara baik baik saja ma, Ara sehat." jawab Ara.
"Ara baik saja ma. Karena aku selalu memberi kehangatan pada Ara. Jadi mama tidak perlu khawatir." Jawab Hendri yang baru datang menyusul.
"Awww..." Hendri merasa kesakitan saat perutnya dicubit.
Ara mencubit perut Hendri karena kata absurd yang Hendri ucapkan. Ia merasa malu dengan mama mertuanya dan juga sabilah.
Sabilah tertawa mendengar kata absurd Hendri dan Ara yang terlihat kesal.
"Apaan sih lho Ra. gak jelas banget tau gak." Ucap Ara kesal.
"Ya sudah ayo masuk." Mama melerai candaan mereka.
"Abang mana bil? dia gak kesini?". tanya Ara pada bilah. Saat ini mereka berdua sedang dikamar Ara.
"Abang lho sibuk. Tadi abis ngantar gue kesini dia langsung pergi kekantor. Bos nya memberikan kerjaan banyak terus sama bang Azka." Jawab sabilah.
"Gimana kabar nya bang Al ya. Sudah lama gak dengar kabarnya. Semenjak dia menikah kita gak pernah bertemu lagi." Ucap ara.
"Bertemu siapa yang?" Tanya Hendri yang tiba tiba masuk ke kamar.
deg..
"mampus gue, mas Hendri dengar gak ya kaku kami membicarakan bang Al." Ucapnya dalam hati
__ADS_1
"Eh, mas. Ibu sama bapak mas. Ara kangen." Jawab Ara berbohong.
"Nanti kalau mas ada cuti kita kesana ya, atau suruh saja ibu sama bapak kesini." Ucap Hendri menghampiri Ara.
" Makasih ya mas".
"Iya sayang". Cup. Hendri memberikan kecupan dikening Ara, membuat sabilah melotot.
"Ehm..ehm..Dunia serasa milik berdua ya, gak lihat ada orang disekitaran." sindir sabilah.
"Kamu dengar ada suara gak yang?". Ucap Hendri seperti mencari keberadaan sumber suara.
"Ihh... dasar ipar lakcnut." Ucap sabilah melempar bantal pada Hendri. "Kalau bukan suami lho ya Ra. Uda gue lempar kekolam buaya." lanjut sabilah kesal
Ara dan Hendri tertawa melihat kekesalan sabilah.
"Kalau bukan suami gue, emang lho berani lempar ke kolam buaya?". ejeknya.
"Beranilah. Mau coba?". tantang sabilah.
"Hahaha..jangan lah. Janda dong gue nanti." jawab Ara tertawa.
"Kalau lho jadi janda, biar bang Alvian yang nikahin lho." Ucap sabilah langsung menutup mulutnya karena keceplosan membicarakan Alvian.
Ara dan sabilah terdiam merasa takut dengan tatapan tidak suka Hendri.
"hehe..bercanda dokter." Ucap sabilah cengengesan. "Kalau dokter marah kasihan Ara ketakutan. Ntar lari nyari suami lain lho." sambungnya lagi namun menambah amarah dihati Hendri. Melihat aura panas dikamar, sabilah pamit pergi meninggalkan Ara dan Hendri berdua.
.
.
.
🌹
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 🥰🥰