
"Ya Allah sayang hati hati nak. Kamu gak usah ngelakuin apa apa. Kalau perlu sesuatu tinggal minta tolong sama mama atau bik Jum aja." Ucap mama Indri saat melihat Ara mengupas buah untuk membuat jus didapur.
"Ara gak papa kok mah. Ara masih bisa ngelakuinnya, gak mau lah merepotkan semua orang."
"Pokok nya gak boleh sayang. Lalu sampai Hendri lihat dia juga pasti ngomel." Ucap mama tidak mau dibantah.
Hufff.... Ara menghembuskan nafas melihat mertua dan suaminya yang begitu posesif. Mereka melarang Ara buat mengerjakan sesuatu, bahkan untuk mengambil makan saja diambilkan. Ara memang senang diperlakukan bak ratu.Taoi ia juga bosan jika terus terusan.
Saat ini kandungan Ara sudah sampai bulannya. Itulah sebabnya Hendri dan mama Indri melarang Ara melakukan aktifitas berat. Ya meskipun tidak berat menurut Ara.
"Sekarang kamu duduk saja. Biar mama yang buatkan." Ucap mama hendak menuntun Ara jalan.
"Ara bisa jalan sendiri ma. Ara cuma hamil lho, bukan sekarat." Ucap Ara tertawa.
"Sudah, jangan protes. Mama ngeri liat ni perut kamu segini gede nya. Mama yang lihat aja sesak. Apalagi kamu."
"Iya deh ndoro ratu". Ucap Ara tertawa.
Mama Indri kembali melanjutkan mengupas buah dan memblender nya.
"Kasih es yah ma". Pinta ara
"No sayang. Es tidak bagus buat bayi kamu." Ucap mama sambil menyerahkan jus pada Ara.
"Masa dikit aja gak boleh ma. Ara haus". Ucapnya melas.
"Boleh jika kamu sudah melahirkan nanti. Jika kamu minum es bayi kamu bisa sesak."
Ara hanya mengangguk menurut. Ia meminum jus nya hingga tandas.
"Hari ini jadwal kontrol kerumah sakit kan?" Tanya mama Indri.
"Iya ma, mau cek kondisi nya bisa lahiran normal atau tidak."
"Jam berapa perginya?"
"Nunggu mas Hendri jemput nanti baru kita pergi. Mama juga harus ikut ya".
__ADS_1
"iya. Mama mau lihat cucu cucu mama." Ucapnya semangat.
**
Ara, Hendri dan mama Indri sedang berada diruang dokter Mia. Mereka sudah memeriksakan keadaan kandungan Ara.Mereka sangat bersyukur semuanya baik.
"Bagaimana dok? apa bisa normal dok?" tanya Ara.
"Insyaallah bisa nona Ara. Kandungan anda sehat, dan posisi bayi juga bagus dan sangat bisa untuk lahiran normal. Dan juga nona harus banyak bergerak dan jalan agar nanti mempermudah jalan lahir nya." Terang dokter Mia.
"Ia dok makasih ya". Ucap Ara.
"Kapan HPL nya dokter Mia?" tanya Hendri.
"HPL nya dua Minggu lagi dokter Hendri. Tapi bisa saja lebih cepat atau sebaliknya. Sebaiknya anda harus siap siaga dok." Ucap dokter Mia.
"Iya dok. Terima kasih. Kami pamit dulu". lanjut Hendri.
**
"Mas mau apa?". Ara menghindar karena Hendri merapatkan tubuhnya dengan memeluk pinggang Ara.
"Nggak yah mas. Uda sebesar ini juga, masih dijengukin juga." Ara memanyunkan bibirnya.
"Itu salah satu cara memperlancar jalan lahir sayang."
"Masa?".
"Iya."
"Tap". Ucapan Ara terpotong karena Hendri langsung membungkam bibir Ara. ********** dengan lembut hingga pagutannya menjadi lebih panas. Tangannya yang tidak bisa diam, mengabsen seluruh tubuh Ara. Bahkan bibirnya juga meninggalkan jejak di seluruh tubuh Ara.
Ara terkulai lemas karena olahraga malam mereka. Ia tidur memiringkan badannya dan dipeluk oleh hendri dari belakang.
"Terima kasih sayang". Ucap Hendri mengecup kepala Ara,dan ia pun menyusul kealam mimpi.
Ara, Hendri, mama Indri dan papa wirawan sedang menikmati sarapan pagi mereka. Makan dengan diselingi obrolan kecil, canda dan tawa.Karena hari ini hari libur mereka bisa berkumpul hari ini dan menghabiskan waktu weekend bersama.
__ADS_1
Ting nong..Ting nong.. Suara bel berbunyi.
"Biar mama aja yang buka." Ucap mama beranjak dari duduknya.
"Sayang.Lihat siapa yang datang." Ucap mama dengan seorang gadis kecil digendongannya. dan disusul bilah dan Azka dibelakang.
Qila tersenyum dan tertawa seraya menepuk tangannya saat bertemu dengan Ara dan Hendri.
"Halo sayang onty.." Ucap Ara senang hendak mengambil qila dari gendongan mama Indri. Tapi qila nya Mala langsung minta digendong Hendri. Mata Ara melebar melihat tingkah qila.
"Ya Allah qila. Ini suami onty ya, jangan deket deket." ucapnya kesal
Semua orang yang ada disitu tertawa dengan tingkah qila dan kekesalan Ara.
"Anak lho ni bang.bener bener ya. Tau aja sama cowok ganteng".
"Sayang. qila masih kecil lho. Masa dicemburuin."Ucap Hendri
"Sayang. qila gak mau onty nya kesusahan menggendong nya. Lihatlah dia begitu gemoy.kamu pasti kesusahan menggendongnya." Mama menjelaskan.
"Nty..nty..ya..ya.." Ucap qila dengan tertawa menepuk nepuk pipi Ara. "Ha.ha..ha..Tawa qila saat Ara mencium qila dengan gemes.
Ara sedang jalan jalan santai di jalan komplek perumahannya dengan ditemani mama Indri dan sabilah.Sedangkan para pria asyik mengobrol urusan pria. Ntah itu kerjaan,bisnis atau yang lain. Sedangkan qila sedang bermain dengan pengasuhnya dan bik Jum.
"Udah yok Ra. Capek gue liat lho jalan." Ajak sabilah.
"Ntar lagi lah bil. Baru juga beberapa menit." Ucap Ara yang masih berjalan dengan tangan digandeng mama Indri.
"Apa lho gak lelah? gue yang liat lho aja jadi lelah Ra. perut Segede itu juga, gak kebayang gue rasanya."
"Ya jangan dibayangin". jawab Ara singkat.
"Ya udah kita muter balik lagi. Uda lumayan jauh juga kok jalannya." Ucap mama dan diangguki Ara.Mereja jalan balik kearah rumah. Baru beberapa langkah mereka jalan, ada sebuah mobil berhenti di depan mereka.Beberapa orang keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
Mereka bertiga merasa takut melihat orang orang dengan tampang sangar menghampiri mereka.
"Siapa kalian?" Ucap mama Indri.
__ADS_1
Para pria itu langsung menarik Ara dan membawanya masuk kemobil.