
Saat mereja jalan balik kearah rumah. Baru beberapa langkah mereka jalan, ada sebuah mobil berhenti di depan mereka.Beberapa orang keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
Mereka bertiga merasa takut melihat orang orang dengan tampang sangar menghampiri mereka.
"Siapa kalian?" Ucap mama Indri.
Para pria itu langsung menarik Ara dan membawanya masuk kemobil. Ara mencoba melawan untuk melepaskan diri tapi tidak bisa. Mama Indri dan sabilah didorong hingga terjatuh saat hendak menyelamatkan Ara.
"Ara".
Teriak mereka tapi mobil melaju dengan cepat.
"Mama..sabilah". Teriak Ara minta tolong.Ara menggigit tangan pria yang menyekap mulutnya dan hendak melarikan diri tapi mobilelaju dengan sangat cepat. Ia takut jika harus melompat.
"Akkhh..." Jerit pria itu saat tangannya digigit Ara.
Plak.
Sebuah tamparan mendarat dipipi Ara. "Dasar wanita gila". Ucap pria itu
"Kalian yang gila. menculik wanita hamil.Saya gak kenal dengan kalian,untuk apa kalian menculik saya." teriak Ara geram.
"Berisik. Lakukan sesuatu Jo,agar dia diam." Ucap pria yang melajukan mobil.
Pria yang dipanggil Jo itu langsung mengeluarkan sapu tangan dari baju nya dan membekap mulut Ara hingga Ara tak sadarkan diri.
**
Mama Indri dan Sabilah berlari menuju rumah.Nafas mereka memburu hingga membuat mereka sulit bicara.
"Pa".
"Bang". Ucap mereka kompak dengan nafas memburu.
Hendri, Azka dan papa Wirawan heran apa yang menimpa dengan wanita didepannya.
"Ada apa Ma?" Tanya Hendri.
__ADS_1
"Sayang Ada apa?. Azka bertanya pada sabilah.
"A..a..Ara."
"Ada apa dengan Ara ma, bilah?". Hendri bertanya dengan suara sedikit tinggi. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
Mama Indri dan Sabilah menangis. Bertambah lah keyakinan para pria tersebut kalau sesuatu telah terjadi pada Ara.
"Sayang. dimana Ara?". Tanya Azka.
"Bang. A..a..Ara diculik." Ucap sabilah tergagap.
duar....
"Apa? diculik?". Ucap Hendri,Azka dan papa kompak.
"tadi ada mobil berhenti didepan kita. Mereka keluar dan langsung menarik Ara masuk kemobil." Mama menjelaskan dan tangis nya pecah.
Hendri menggusar rambutnya, takut terjadi sesuatu dengan istri dan anak anaknya.
"Ada om, ini." Sabilah memberi ponselnya. Ia tadi sempat memfoto mobil yang membawa Ara.
Papa wirawan mengambil ponsel sabilah. " Ok. Kita akan cari mobil ini."
Papa wirawan langsung menelpon orang orang suruhannya untuk melacak dimana keberadaan mobil itu.
**
Ara tersadar dari pingsannya dan sudah berada disebuah kamar kosong. Dia duduk dikursi dan tangannya diikat dikursi itu.
"Hey kalian. Lepasin gue." Teriak nya pada dua orang pria yang sedang bermain kartu didekat pintu kamar itu.
"Hey tuan.Tolong lepasin gue." Teriaknya lagi namun pria pria itu tidak peduli.
"Tolong...tolong...tolong..." Ara berteriak minta tolong berharap ada yang mendengarnya.
"Hahahha.... " pria pria yang menculik Ara itu tertawa.
__ADS_1
"Hey nona. Kamu pikir akan ada yang mendengarmu teriak teriak minta tolong.Sampai suara kamu hilang pun gak bakal ada yang dengar." Ucap salah satu pria itu.
"Siapa kalian? gue gak ada urusan dengan kalian.Kenapa kalian menculikku?".
"Kami memang tidak ada urusan dengan mu nona. Tapi bos kami yang berurusan denganmu." Ucap pria itu lagi.
"Tolong lepasin gue.Gue mohon. Kenapa kalian tega menculik wanita hamil seperti gue?. Coba kalian bayangin kalo ini terjadi pada istri atau adik kaka kalian? Gimana perasaan kalian." Ucap ara menangis.
"Tolong tuan lepasin gue. Sepertinya gue mau lahiran tuan". pintanya sekali lagi dengan memelas. Ia merasakan perutnya sakit.mungkin ia akan segera melahirkan.Namun tetap pria itu tidak peduli dan meneruskan permainan mereka.
Ara mencoba melepaskan tali yang mengikat tangannya tapi tetap tidak bisa.Talinya sangat terikat kuat. Ia teringat bahwa disaku gamis nya ada ponselnya. Ia mencoba mengeluarkannya dan ponselnya berhasil jatuh dibawah kaki nya.
Ia melirik kedua pria didepannya sedang fokus bermain. Ia mengambil kesempatan untuk menggulir layar ponselnya. matanya terbelalak melihat banyaknya panggilan dari suaminya Hendri. Untung saja ponselnya disilent.Jika tidak sudah pasti ponselnya diambil pria pria itu.
Ia kembali menekan nomer suaminya hingga tersambung dan menutup ponselnya dengan gamis panjangnya.
"Hey tuan". Panggil Ara dan pria pria itu menoleh. "Kalian bilang bahwa tidak akan ada yang mendengar teriakan gue. Memangnya ini dihutan? Masa rumah sebagus ini dihutan." Ucap Ara dengan meringis menahan kontraksi yang sesekali muncul.
"Ini memang bukan hutan nona. Ini adalah istana bos kami yang letaknya sangat jauh dari kota dan pemukiman warga." Jawabnya tertawa. Hingga tawa mereka berhenti kala mendengar suara pintu dibuka.
"Nona". Ucap pria pria itu.
deg...
"Mbak Vivi".
.
.
.
🌹
jangan lupa beri hadiah ya🥰🥰
like, coment dan vote nya ya kak 🥰🥰
__ADS_1