
Hendri yang melihat perubahan sikap istrinya beberapa hari ini merasa curiga kalau sudah terjadi sesuatu dengan istrinya. Apalagi Ara meminta untuk pindah kuliah.
Setelah mengantar Ara kekampus Hendri segera pergi kerumah sakit. Memang jadwal ia dirumah sakit hari ini sedikit. Ia berencana untuk kekampus istrinya, ia ingin mengetahui apa yang menyebabkan istrinya selalu murung dan melamun.
Kini ia menaiki mobilnya untuk pergi kekampus istrinya. Ia mengendarai mobilnya dengan sedikit melaju, entah kenapa hati nya gelisah memikirkan istrinya.Perasaan nya tiba tiba khawatir terhadap istrinya.
Sekitar 30 menit ia sampai dikampus istrinya. Ia bergegas pergi menuju ruang kelas istrinya.Sesampainya ia melihat kelas kosong, ia bertanya pada siswi lain dimana istrinya. Dan betapa kagetnya ia mendengar istrinya dihukum membersihkan seluruh toilet kampus.
Ia segera berlari menuju toilet,dan betapa kagetnya ia melihat istrinya didorong sampai jatuh kelantai.
"Ara"
"Ara"
teriak Hendri dan sabilah kompak merasa khawatir dengan Ara. Hendri berlari menghampiri istrinya.
"Sayang" Hendri langsung mengangkat istrinya dan mendudukkan nya dikursi.
"Sayang, kamu gak papa?ada yang sakit? apa yang kamu rasakan?" tanya nya beruntun khawatir.
Sabilah pun begitu khawatir melihat Ara terjatuh apalagi Ara sedang hamil.
"Sakit mas" jawab Ara meringis memegangi perutnya yang terasa amat sakit.
"Hisss...sakit banget". Desah nya sakit.
"D..da..darah dok" ucap bilah panik melihat darah mengalir dibalik gamisnya.
mata Hendri membola melihat darah mengalir dari balik gamis istrinya.Pikiran nya kacau saat ini, ia bangkit menggendong Ara dan kini tatapannya berhenti dihadapan mela.
"Urusan kita belum selesai. Kamu akan membayar semua ini." Tegas Hendri menatapnya tajam dan marah.
Dengan cepat ia membawa Ara keluar dari kampus untuk kerumah sakit. Sabilah menyusul nya dibelakang dan membukakan pintu mobil .
Hendri mendudukkan Ara di belakang dan sabilah menemani Ara. Hendri memutari mobil dan segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Ia mengemudikan mobil nya dengan cepat, biasanya dari kampus Ara kerumah sakit memakan waktu tigapuluh menit kini ia tempuh dalam limabelas menit.
Mobil nya pun kini sudah sampai dirumah sakit. Ia menggendong Ara dan berlari menuju ruang UGD.
"Siapkan brankar" teriaknya kepada perawat yang ada disana.
Ia mendorong brankar menuju UGD bersama perawat dan sabilah. Sampai di UGD dokter kandungan pun datang.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan istri anda dokter Hendri?" tanya dokter kandungan yang datang
"Tolong istri saya dok, dia terjatuh dan pendarahan." Jawab Hendri cemas.
"Mas..sakit" ucap Ara lirih menggenggam tangan Hendri dengan kuat.
"Sabar ya sayang. Dokter akan menangani" ucap Hendri memenangi mengelus kepala Ara dibalik hijab nya.
*
"Alhamdulillah dokter Hendri, istri anda tidak apa apa,ia hanya mengalami pendarahan ringan akibat benturan, bersyukur kandungan nya juga selamat." Ucap dokter Sonia menerangkan.
"Alhamdulillah.."ucap Hendri bersyukur karena istri dan calon anaknya selamat.
"Tapi kandungan istri anda saat ini sangat lemah. Anda harus menjaga istri anda dengan baik, jangan sampai ia kelelahan atau stres." Ucap dokter mengingatkan.
"Ia dok, makasih ya"
Ara masih tertidur karena pengaruh obat. Hendrimelihat istrinya yang masih memejamkan matanya seraya mengelus perut istrinya.
"Sayang..makasih ya kamu masih bertahan diperut bunda. Ayah akan memberi hukuman dengan orang yang sudah mencelakai mu dan bunda." Ucapnya
pandangan nya beralih ketika mendengar suara pintu dibuka.
"Alhamdulillah mah,pa Ara baik dan janin dalam kandungan Ara selamat."
"Siapa yang melakukannya? tanya papa
"Mela pa".
"Mela adik Vivi?" tanya mama kaget mengetahui
"Ia, dia mengajar di kampus tempat Ara belajar."
"Papa tidak akan diam, papa tidak akan memaafkan siapa pun yang berani mengganggu keluarga kita." Ucap papa menggeram.
**
Disisi lain Mela sedang menangis karena ketakutan. Ia takut kalau Hendri akan menuntutnya.
"Kamu kenapa ceroboh gini sih Mel. Kan sudah kakak peringatkan jangan main kasar. Gini kan hasilnya". Marah Vivi karena Mela tidak mendengar omongannya.
__ADS_1
"Gimana dong kak. Kak Hendri pasti menuntut ku." Ucapnya gugup karena takut.
"Kamu tenang saja. Nanti kakak bicara baik baik sama Hendri."
Tak berapa lama terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah.
"Itu pasti Hendri. kamu tenang aja, rileks, jangan gugup gitu."
Hendri memasuki rumah nya dengan cepat dan langsung menuju ruang tv dimana Vivi dan Mela saat ini.
"Mela aku mau bicara kepadamu." ucap Hendri tegas.
Mela yang mendengar nya sedikit gemetar apalagi melihat tatapan Hendri seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.
"Apa maksud kamu menganiaya Ara? dia tidak ada masalah sama kamu.Bahkan dia juga tidak mengenal mu." Ucapnya emosi.
"Maaf kak". Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Mela.
"Kamu hukum dia membersihkan seluruh toilet hanya karena dia tidak membuat tugas! Padahal kamu sudah tau dari temannya bahwa dia sedang hamil. Tapi tetap saja kamu hukum dia". Ucapnya menggebu karena emosi.
"Maaf kak". Ucapnya lagi seraya menunduk.
"Maaf kamu bilang? segampang itu? setelah semua yang kamu lakukan sama Ara?"
"Kamu bakalan berurusan dengan pihak berwajib." Ucapnya
"Hendri please.. jangan lah perpanjang masalah ini.Dia kan sudah minta maaf" sambung Vivi
"Apa dengan minta maaf selesai?"
"Hen, ingat. Dia adik aku, adik ipar kamu."
"Adikipar? lalu yang disakitinya? dia istriku dan anak ku. Aku hampir kehilangan anak ku."
teriak Hendri sangat emosi.
.
.
.
__ADS_1
🌹🌹
jangan lupa like coment dan vote nya ya kak 🥰