
"Mas. Mas.." Ara menggoyangkan badan Hendri membangunkannya.
"Hemm.." Hendri hanya berdehem karena matanya sangat sulit dibuka.
"Mas ayo bangun".
Hendri bangun dengan mata yang masih tertutup dan sangat berat untuk dibuka karena ia sangat mengantuk.
"Ada apa yang?" tanya nya dengan membuka mata perlahan.
"Lapar mas, pengen nasi goreng." rengek nya.
Hendri melihat jam di meja nakas nya menunjukkan pukul dua dini hari. "Mana ada buka jam segini yang". ucapnya menunjuk kearah jam.
"Bukan beli mas, Ara mau mas yang masakin."Ucap nya manja.
"Mas mana bisa masak."
"Terserah deh, pokoknya Ara mau mas yang masakin. Dedeknya laper nih." Ucapnya menggosok perut ratanya.
"Hmm..baiklah. Akan mas masakin." Ucapnya seraya bangun pergi kedapur dan disusul Ara dari belakang.
Hendri berkutat didapur memasak nasi goreng untuk istrinya. Ara tidak sabar memakan nasi goreng buatan suaminya. Setelah selesai ia siapkan dipiring dan memberikannya pada Ara.
"Bentuknya aneh yang.Sebaiknya jangan dimakan deh." Ia merasa aneh dengan bentuk dan warna nasi goreng yang ia buat. Dari rupanya saja sudah pasti tidak enak.
Ara menyendok nasi goreng dan memasukkannya kedalam mulut. Ia mengangguk dan menyantapnya dengan lahap. Hendri melongo melihat istrinya makan dengan lahap nasi goreng kacau buatannya. Karena penasaran ia mencicipi sedikit.
puft..
Ia memuntahkan nya langsung karena rasanya sangat tidak enak. Ada rasa asin juga manis bercampur.Tapi kenapa istrinya bisa makan dengan lahap tanpa eneg sedikit pun.
"Sayang. ini beneran gak enak. Gak usah dimakan." Ucap Hendri hendak menari piring Ara.
"Mas. Ini beneran enak. Ara suka." Jawab nya menghabiskan nya hingga tandas.
**
__ADS_1
Ara dan Hendri saat ini sedang berada dirumah sakit keluarga wirawan. Lebih tepatnya mereka sedang berada diruang obsgyn untuk memeriksakan kandungan Ara.
Ara berbaring di brankar dan suster mengoleskan gel di perut Ara. Dokter Mia bersiap mengarahkan alat USG nya dengan menggeser kekiri dan kekanan.
"Sudah terlihat ya kantung rahimnya.Usia kandungannya sudah lima Minggu ya dokter Hendri." Ucap dokter Mia menggeser alat USG nya. Hendri dan Ara menatap fokus layar hitam putih didepannya.
"Oh.. ternyata kantungnya ada dua." Dokter Mia menerangkan.
"Maksudnya dok?" tanya Ara serius. Hendri hanya diam melihat layar didepannya. Ia tahu apa yang dimaksud dokter Mia cuma dia masih blank dengan fikiran yang amat bahagia.
"Selamat ya buk, kalian akan mendapatkan bayi kembar." Dokter Mia menjelaskan dengan tersenyum.
"Ke..kembar dok?" tanya Ara kaget dan mengarahkan pandangannya ke Hendri.
"Mas".
"Iya sayang. Bayi kita kembar." Ucap nya dengan mata berkaca seraya mengecup pucuk kepala Ara.
"Dijaga kandungannya ya buk, dok. Trimester pertama sangat rentan, jadi harus dijaga dengan baik apalagi ibu mengandung bayi kembar." Saran dokter Mia dan memberikan kertas resep obat dan vitamin.
"Makasih dokter Mia" ucap Hendri dan Ara bersamaan dan mereka keluar ruangan.
**
"Ia nanti mas ambilkan yah". Ucap Hendri masih bergelut didepan laptop nya.
"Maunya sekarang lho mas." rengeknya manja.
"Baiklah, mas akan kerumah mama." ucap Hendri menutup laptopnya. Ia pergi dengan cepat menuruti keinginan istrinya karena kalau lambat saja Ara pasti akan merasakan sakit diperutnya. Aneh memang. pernah beberapa kali Hendri lamabat memenuhi keinginan istrinya maka ujung ujungnya pasti akan sakit diperutnya. Kadang Hendri merasa apa ini cuma akalan Ara saja mengerjainya.
Usia kandungan Ara kini sudah masuk usia empat bulan. Hendri sangat memperhatikan kehamilan sang istri. Ia heran saat melihat istrinya sedang menangis melihat ponsel. Dengan cepat ia menghampiri sang istri karena merasa khawatir.
"Sayang. kamu kenapa? ada yang sakit?" tanyanya khawatir.
Ara masih saja menangis dan semakin kencang tangisannya tidak menjawab pertanyaan Hendri membuat Hendri semakin khawatir.
"Sayang ada apa?" tanya nya lagi.
__ADS_1
"Apa mas gak cinta sama Ara?" tanyanya yang masih menangis.
"Ha.. Kamu bicara apa? kenapa nanya begitu?"
"Jawab saja mas? Apa mas gak cinta sama Ara?" tanya nya dengan suara kesal.
"Mas cinta sama kamu. Sangat cinta malahan."
"Kalau mas cinta sama Ara kenapa mas tidak mengidam saat Ara hamil?"
"Ha? Maksudnya gimana sayang. Mas gak ngerti." tanya Hendri yang memang tidak mengerti maksud istrinya.
"Dari novel yang Ara baca, suami yang sangat mencintai istrinya ngidam saat istrinya hamil." jawab Ara yang masih menangis.
"Ha? ya Allah ada apa lagi dengan istriku ini!." Ucapnya dalam hati. Ia tahu sekarang maksud Ara. Ia membaca novel yang suaminya terkena hamil panatik dikala suaminya Bucin terhadap istrinya.
"Sayang." Hendri memeluk Ara dan mengelus punggung Ara dengan lembut. "Itu namanya sindrom panatik sayang, dimana suami merasakan hal ngidam menggantikan istri. Dan tidak semua suami yang mencintai istrinya bisa mengalami itu sayang. Hanya jarang terjadi." terangnya dengan hati hati karena ia tahu mood istrinya sangat tidak baik.
"Kenapa tidak terjadi sama mas?" tanyanya yang membuat Hendri melotot.
"Kalau mas kena sindrom panatik mas gak bisa kerja dong. Kasihan dong pasien pasien mas."
"Tapi Ara pengen lihat gimana kalau mas yang mengalaminya." jawab Ara santai.
"Sayang. kamu mau mas sakit merasakan ngidam?"
"He'eh" jawab Ara singkat tapi pasti.
"heh? ya Allah" ucapnya dalam hati mengelus dadanya.
.
.
.
🌹
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 🥰🥰
like, coment dan vote nya ya kk🥰🥰