
Hdwan sedang melihat Ara melalui kaca yang ada diluar ruangan rawat Ara,ia begitu hancur melihat keadaan istrinya didalam sana,calon anaknya juga tidak bisa diselamatkan.Air mata nya menetes jatuh tanpa permisi.
"Maafkan mas sayang, maaf mas lalai menjaga mu dan calon anak kita". Ucapnya lirih.
Tiba tiba seseorang memukul wajah nya. Hendri tersungkur mendapatkan pukulan diwajah nya.
"Bang". Ucapnya kaget melihat siapa yang memukulnya.
Azka yang mendapat kabar dari bik Mirna langsung menuju rumah sakit, ia sangat marah dengan Hendri lalai menjaga adiknya.
Sekali lagi pukulannya mendarat di muka Hendri sehingga hidung dan mulut Hendri mengeluarkan darah.
Hendri hanya diam dan tidak membalas Azka, karena dia merasa dia memang pantas mendapatkannya.
"Bang udah, kasian Hendri nya". Lerai sabilah menghalangi Azka yang hendak memukul Hendri lagi.
"Apa yang terjadi dengan adik gua ha? kenapa bisa seperti ini? dan kenapa lho gak kabari gua?" teriak Azka marah.
"Maaf bang".
Hanya kata maaf yang bisa Hendri sampaikan,dia tidak tau harus bicara apa, pikirannya kacau, pandangannya pun kosong. Azka dan sabilah yang melihatnya pun merasa kasihan dengan Hendri.
"Bang. keadaan dokter Hendri sangat kacau bang.Kasihan dia nya". Ucap sabilah.
"Bagaimana kondisi Ara sekarang?" tanya Azka melunak.
"Sejak tadi Ara belum sadar bang. Dokter bilang keadaan nya baik dan hanya menunggu Ara siuman." Jawab nya dengan air mata yang mengalir membasahi pipi nya. Dengan cepat ia menghapus air matanya.
Azka dan sabilah melihat nya merasa iba.
"Lebih baik kamu istirahat, biar saya yang menjaga Ara disini". Ucap Azka
"Tidak bang. aku akan menjaga Ara, lebih baik Abang aja yang pulang,kasihan sabilah kan sedang hamil."
Azka lantas melihat sabilah,menurutnya ada benarnya juga yang dikatakan Hendri istrinya sedang hamil,pasti butuh istirahat.
"Gak apa bang, bilah pengen jagain Ara disini, sabilah gak papa kok". Jawab nya yang bisa menebak apa yang akan suaminya katakan.
__ADS_1
Kini mereka bertiga menjaga Ara didepan ruangan rawat. Sabilah tertidur dikursi dan bersender di bahu suaminya.tak lama Azka pun menyusul sabilah dialam mimpi.
**
Hendri sedang berada ditempat yang sangat indah, pemandangan indah dan suasana nya sangat nyaman. Dia melihat Ara istrinya bersama dengan seorang gadis kecil yang sangat cantik. Mata nya, hidung nya dan paras gadis kecil itu mirip sekali dengan Hendri. Senyum gadis kecil itu sangat indah.
"ayaaahh..."
Teriak gadis kecil itu berlari kearah Hendri dan memeluk nya.
"Ayah?" ucapnya dalam hati heran. Meski dia tidak mengerti tapi dia tetap memeluk gadis kecil itu, dia memeluknya sangat erat.Seolah dia sangat mengenal gadis kecil itu.
"Ayah, aku sangat menyayangi ayah dan bunda". ucap nya tersenyum memamerkan gigi kecilnya.
"Sayang". Hendri meletakkan sebelah tangannya dipipi Ara dan mengelusnya lembut, ada rasa rindu yang amat dalam dihati Hendri.
Gadis kecil itu turun dari gendongan Hendri.
"Ayah. Aku mau pergi kesana, disana tempatnya sangat indah". Ucap nya seraya berlari kearah yang ditunjuk nya.
"Sayang. Kamu mau kemana? jangan pergi". ucap nya sendu.
"Ara mau menyusul putri kita mas, kasian dia sendirian."
"Sayang. Mas mohon jangan pergi. Jangan tinggalin mas. Mas butuh kamu Ra, mas gak akan sanggup bila tak ada kamu disisi mas."
"Ara lelah mas, tempat ini sangat indah dan nyaman.Ara ingin tenang bersama anak kita,mas jaga diri yah."
Ucap nya melepas genggaman tangan Hendri perlahan. Dan bergegas pergi meninggalkan Hendri yang terpaku sendiri.
"Sayang. jangan tinggalin mas sayang. Araaa...". Teriaknya dan terbangun dari tidurnya. Azka dan sabilah pun terbangun kaget karena Hendri teriak memanggil ara. Bertepatan juga mama dan papa nya juga baru sampai disana. Mereka pun kaget mendengar Hendri teriak.
Mama yang hendak menenangkan Hendri pun terhenti saat dokter dan para suster berlari menuju ruang rawat Ara.
deg..
Oerasaan Hendri sangat tidak baik saat ini. Pikiran buruk langsung menghampiri dirinya.
__ADS_1
"Suster, apa yang terjadi?" tanya Hendri menghalangi seorang suster yang hendak masuk ruangan.
"Pasien kritis dok, jantung nya tiba tiba berhenti." Jawab suster panik dan langsung masuk ruangan.
duar...
Mereka semua syok mendengar apa yang barusan dikatakan suster.
"Hendri menerobos masuk ruangan rawat Ara, ia tidak peduli lagi aturan.
"Ara bangun sayang. Jangan tinggalin mas. Mas mohon bangun lah. Jangan seperti ini Ra. Kenapa kalian tega ninggalin mas." Ucapnya begitu lirih.
Mama papa,Azka dan sabilah yang melihat diluar pun menangis sejadi jadinya. Mereka melihat dokter yang masih memompa jantung Ara tapi tak ada reaksi dari Ara membuat mereka menangis histeris.
"Sayang.. bangun.mas mohon bangun.jangan tinggalin mas".
tiiiiiiiittt......
Alat deteksi jantung Ara berhenti lurus.
deg..
hiks..hiks...
Hendri menangis dengan tangan yang menggenggam tangan Ara dan kepalanya disamping telinga Ara, seraya berbisik lirih.
"sayang jangan tinggalin mas"
.
.
.
.
🌹🌹
__ADS_1