
Sudah 2 bulan berlalu, pernikahan mereka terasa dingin. Sejak pertengkaran malam itu, baik Zeline dan Damian sama-sama diam tak banyak bicara dan tak bertegur sapa walau mereka tinggal satu atap. Zeline yang memutuskan pindah kekamar di lantai bawah dan Damian yang hanya mengacuhkan keputusan Zeline, seolah tak menganggap Zeline lagi. Mereka hanya bersikap manis ketika di depan orangtuanya nya saja.
Hari ini Zeline ada kelas pagi, dia bersiap untuk pergi kekampus setelah tadi sudah membuat sarapan. Ketika keluar kamar, dia mendapati Damian tengah duduk di ruang tengah.
“Mas, sarapan dulu” Ucap Zeline. Zeline selalu memasak dan terkadang mengajak Damian makan bersama, tapi Damian selalu mengacuhkan ajakan Zeline. Alhasil setiap itu pula Zeline selalu menahan tangisnya karna Damian tak mau memakan masakan yang di buatnya, diajak pun dia hanya mengacuhkan. Untung ada Bi Ima yang selalu menemani Zeline. Ya sebulan lalu Damian memperkerjakan ART sesuai ucapannya, meskipun terlambat dari janjinya.
“Gak perlu, saya ada meeting” ucap Damian kemudian pergi. Hati Zeline mencelos, sampai kapan hubungannya dengan Damian seperti ini.
“Non, Tuan gak mau makan lagi ya ?” tanya Bi Ima prihatin. Menyeka matanya, Zeline menoleh dan tersenyum.
“Mas Damie ada meeting pagi bik, gak sempat kalo sarapan katanya. Nanti aja Zeline antar makanan ke kantornya.” Ucap Zeline. Ya, Zeline bertekad untuk memperbaiki hubungan nya. Dia sadar kalo sama-sama keras dan mementingkan ego pasti gak akan ada jalan keluar nya.
“Zeline berangkat dulu ya Bi, makanannya bibi makan aja sama mang ucup kalo udah dateng. Assalamualaikum bi” ucap Zeline seraya pergi. Mang Ucup adalah tukang kebun yang berkerja harian, tak menginap seperti Bi Ima.
__ADS_1
Sampai di kampus Zeline berjalan menuju kelasnya, seperti biasa banyak mahasiswa yang mencoba mencari perhatian Zeline, tapi hanya Zeline acuhkan. Saat akan masuk kelas, tangan Zeline di cekal oleh seseorang, sontak Zeline menoleh.
“Loe jalan sambil ngelamun, di panggil-panggil ga jawab. Sombong loe setelah nikah.” Cerocos Ana orang yang mencekal tangan Zeline.
“Jangan bar-bar deh kalo ngomong, nanti ketahuan gue dah nikah gimana” bisik Zeline kesal.
“Eh.. lupa, maaf atuh neng” cengir Ana
“Bisa gitu ya jalan sambil ngelamun, mikirin apa neng ?” tanya Ana
“Eh tapi mana si Echa, ko tumben gak bareng loe ?” tanya Zeline karna tak mendapati Echa yang biasanya barengan sama Ana.
“Katanya dia disuruh nemenin papanya meeting,” jawab Ana
__ADS_1
“Tumben tuh anak mau, biasanya kan ogah-ogahan kalo masalah bisnis” ucap Zeline seketika mendapat toyotan di kepalanya. Zeline mengaduh.
“Kayak lu enggak aja, Echa kan sebelas duabelas sama lu. Ogah ngurus bisnis, semua di serahin ke kakaknya” sindir Ana. Zeline hanya menyengir kuda.
“Ya kan buat apa anak Sulung kalo bukan untuk melanjutkan bisnis yang turun temurun” ceplos Zeline
Plak ! Ana menepuk lengan Zeline keras.
“Aduh Ana sekarang kasar ih” ucap Zeline sambil menggosok lengannya yang panas.
“Santai banget ngomongnya neng, anak Sultan emang beda ya bahasanya” cibir Ana
“Lah emang kan fakta An, Kok elu yang gak terima” ucap Zeline
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut sambil berjalan masuk kelas. Berceloteh hal-hal yang unfaedah sambil menunggu dosen datang. Melupakan sejenak masalah rumah tangga nya yang kian hari kian rumit.