Dosen Dingin Suamiku

Dosen Dingin Suamiku
70. Dimana ?


__ADS_3

Damian sudah tak sabar ingin mencari keberadaan istrinya, sambil menunggu pengumpulan bukti untuk menepis skandal yang muncul, ia mencoba menelpon orangtuanya dan mertua nya. Barangkali Zeline sedang bersembunyi di sana, pikir Damian.


“Halo Mom, Zeline ada di sana” sahut Damian cepat ketika telponnya sudah terangkat.


“...”


“Ah, Mom sudah tahu rupanya. Hanya aku yang tak tahu” suara Damian lesu.


“...”


“Nothing Mom, nanti Damian kerumah kalo udah beres semua”


“...”


“Okay Mom. Bye”


Damian langsung mencari kontak mertua nya setelah beberapa saat yang lalu selesai menelpon Mommy nya.


“Halo Ibu. Apa Zeline ada di rumah Ibu ?” tanya Damian setelah telpon nya terhubung.


“...”


“Ya. Terimakasih Bu” ucap Damian lesu.


“...”


“Nanti Damian mampir kerumah jika masalahnya sudah beres Bu”


“...”


“Iya Bu, salam untuk Ayah ya Bu”


Damian terduduk lesu. Ia kembali menyugar rambutnya kasar.


“Gimana ?” tanya Ars


“Gak ada” lirih Damian.

__ADS_1


“Di rumah gue juga gak ada ?” tanya Zayn.


Damian menggeleng lemah sebagai jawaban. Zayn berjalan mondar-mandir sambil terus menelpon nomor adiknya, meskipun ia tahu jika nomor itu tak aktif. Sedangkan Ana terisak lirih.


“Gimana nih bang, nomor Zeline juga gak aktif” ucap Ana lirih kepada Zayn.


“Ars. Suruh bodyguard kita buat cari di Zeline seluruh stasiun kereta, terminal bus, dan bandara. Jangan sampai ada yang terlewat” titah Damian.


Ars langsung menghubungi bodyguard nya. Ia juga sudah menginstruksikan apa yang Damian titahkan.


...--- ...


Hari menjelang malam, semua urusan bukti dan yang lain nya juga sudah terkumpul tinggal besok di perjelas saat konferensi pers. Zayn dan Ana sudah pulang sedari tadi. Sekarang hanya tinggal Ars dan Damian yang masih terus mencoba menghubungi Zeline.


“Kamu dimana sih Zel” kata Damian masih menelpon istrinya.


“Ars ini kan udah malem banget. Bisa kan gue pulang ke rumah. Anterin gue” ucap Damian.


“Tapi nanti kalo masih ada reporter gimana ?”


“Haah... Oke ayo gue anter” pasrah Ars menurut.


Mereka berdua berlalu dari apartemen Ars menuju rumah Damian. Seperti yang di perkirakan Damian. Memang masih ada reporter tapi tak berkerumun seperti tadi. Mereka segera melesat masuk ke basement.


“Thanks, loe nginep aja disini” ucap Damian.


“Gue juga berencana gitu. Udah gue bawa juga keperluan kita buat besok”


Damian mengangguk dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.


“Pilih aja kamar yang mau loe tempati. Gue ke kamar dulu” sahut Damian yang terus berjalan cepat menuju kamarnya.


Cklek


Kriet


Hampa. Kesan pertama saat Damian masuk kedalam kamar nya. Ia meneliti setiap isi kamar nya. Pandangan nya tertuju pada satu kotak di nakas yang atasnya terdapat cincin pernikahan istrinya. Benar persis seperti kata Bi Ima di telpon tadi.

__ADS_1


“Sayang jangan gini. Kamu kemana” lirih Damian bermonolog. Ia mengambil dan menggenggam cincin pernikahan itu.


Damian meraih kotak yang ada di sampingnya. Perlahan ia membuka kotak itu. Yang pertama ia lihat adalah sebuah testpack dengan dua garis merah, ia dengan gemetar mengambilnya. Kedua mata nya mulai berembun ketika melihat selembar gambar hitam putih di bawah testpack.


“Apakah ini bayi kita sayang. Ini tak terlihat begitu jelas. Tapi seperti nya dia masih sangat kecil di perut kamu” ucap nya sambil membelai lembut gambar tersebut. Seolah ia bisa merusak nya jika belaian nya terlalu kencang.


“Sayang kamu pergi kemana sama bayi kita. Maafkan aku. Maafkan aku yang bodoh ini. Maaf..” luruh sudah air mata nya. Damian rapuh sekarang. Di tinggal cinta nya pergi membawa serta buah cinta mereka yang sangat ia idamkan selama ini. Ini siksaan terberat yang di berikan istrinya.


Pandangan nya kembali tertuju pada sebuah kertas yang terselip di bagian paling bawah dari semua barang tadi. Di buka nya kertas itu. Air mata nya makin tak sopan turun dengan deras nya membasahi pipi nya saat membaca kalimat yang ada di kertas itu. Istri nya yang berniat memberi nya kejutan malam itu. Tapi dengan lengah nya ia terperangkap jebakan Echa. Sehingga mengakibatkan praha pada rumah tangga nya.


“Maafkan aku sayang, kembalilah. Hiks. Aku suami yang gak becus, aku suami bodoh. Jadi aku mohon pulanglah sayang. Hiks” isak pilu Damian. Tubuhnya yang kekar bahkan sampai terduduk lemas di sisi ranjang dengan kepala menunduk yang terus menumpahkan kesedihan, rasa bersalah, dan kerapuhan yang menjadi satu. Masih terngiang-ngiang apa yang di tulis istri nya di kertas itu semakin membuatnya bersedih dan sangat merasa bersalah.


To : Uli Nampyeon


Selamat sayang, kamu akan menjadi ayah. Impian kita terwujud.


Yes, I’m pregnant. Our baby is growing in my tummy.


Jadilah ayah yang hebat dan baik untuk anak kita ya.


 


Love you,.


.


.


.


.


.


~ Annyeong chinguya... terimakasih atas support nya.. terus dukung dengan kasi Like, Love, Vote untuk author-nim biar semangat terus update karya nya.. 😊


Gomawo chingudeul~ 🙏🏻🙏🏻❤️

__ADS_1


__ADS_2